Menu

Migrasi Infrastruktur Aplikasi: Dari 'Dinosaurus' ke 'Penguin'

Migrasi Infrastruktur Aplikasi: Dari 'Dinosaurus' ke 'Penguin'

Migrasi infrastruktur aplikasi memang tidak mudah. Apalagi jika migrasi itu melibatkan penggantian mainframe “dinosaurus” dengan seratusan server “penguin” yang lebih mungil. Bagaimana Cendant Travel Distribution Service melakukannya?

Dewasa ini, pasar travel merupakan sebuah gelanggang global, tempat dimana para pembeli (biro perjalanan dan publik) dan penjual (hotel, maskapai penerbangan, perusahaan sewa mobil, dll) melakukan transaksi. Berbeda dengan industri consumer product lainnya, bisnis travel sudah cukup lama memanfaatkan teknologi informasi dalam menjajakan dagangannya. Sejak era 70-an, para pengelola biro perjalanan sudah bisa mengakses sistem reservasi penerbangan melalui sebuah sistem yang dinamakan global distribution system (GDS). Reservasi pun dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.

Sebagai sebuah sistem, GDS tetap kokoh sampai sekarang. Sekalipun sering dituding sebagai dinosaurus atau warisan purbakala akibat begitu setianya menggunakan teknologi legacy (misalnya mainframe), GDS tetap dipandang sebagai pelopor B2B commerce di dunia. Kini, ada sekitar 4 pemain besar GDS yang tetap bertahan, yakni Galileo, Amadeus, Sabre dan Worldspan. Di luar itu, masih ada pemain GDS yang lebih bersifat regional, antara lain Abacus (Asia Pasifik), Infini (Jepang), Tapas ( Korea ), dan lain-lain.

Namun, sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, Internet kini muncul sebagai alternatif sistem distribusi informasi travel. Internet merupakan medium yang sempurna untuk menjual paket perjalanan, karena Internet sanggup membawa jaringan supplier yang luas dan basis customer yang besar ke sebuah marketplace terpusat.

Menurut riset comScore, tahun 2004 lalu, sekitar 62 juta pengguna Internet, atau sekitar 40 persen dari 150 juta pengguna Internet di AS secara rutin mengunjungi situs-situs travel. Nilai transaksi booking travel online ini pun dari tahun ke tahun terus meningkat. Menurut riset Jupiter, nilai booking travel online di AS tahun ini diestimasikan mencapai 62 miliar dolar AS, sementara tahun 2009 mendatang diperkirakan mencapai 91 miliar dolar AS.

Hadirnya internet distribution system tak pelak memacu para penyedia GDS untuk berbenah diri. Tak terkecuali Galileo, yang tahun 2001 lalu dibeli oleh Cendant, perusahaan franchiser travel dan hotel terbesar di dunia.

Dari mainframe ke Unix ke Linux
Seperti dialami sistem-sistem tradisional lainnya, pangsa pasar Galileo pelan-pelan mulai tergerogoti. Selama satu dekade belakangan, Galileo kehilangan sekitar 40 persen pangsa pasarnya oleh para pesaing berbasis Internet, yang memiliki biaya pengelolaan infrastruktur lebih rendah dan sanggup memberikan harga lebih murah, baik kepada agen perjalanan maupun para pelancong yang menggunakan jasa agen ini.

Sebagai pemain tradisional GDS, sistem reservasi Galileo travel masih memanfaatkan mainframe serta sistem operasi mainframenya, bernama Transaction Processing Facility (TPF) yang dikembangkan di era 1970-an. Informasi yang diolah Galileo diakses puluhan ribu biro perjalanan di seluruh dunia melalui masing-masing desktopnya.

Namun, infrastruktur purba ini memiliki biaya pemeliharaan yang tinggi, dan semakin sulit bersaing dengan sistem reservasi berbasis Internet yang semakin marak. Apalagi sejumlah brand ternama seperti Expedia, Travelocity dan Orbitz, yang muncul sebagai online channel terkuat saat ini mulai mengancam eksistensi GDS.

Untuk memangkas biaya pemeliharaan dan mencoba untuk mendiferensiasikan Galileo dari rival-rival GDS-nya, para petinggi Galileo memutuskan untuk memperbarui inti dari infrastruktur Galileo yang mulai menua, yakni aplikasi pricing tiket pesawat udara bernama Galileo 360 Degree Fares. Dan tugas ini pun jatuh ke pundak Mickey Lutz, CIO for Global Agency Solutions, Cendant Travel Distribution Services.

Meski aplikasi ini terbilang populer di era tahun 70-an, Fares mulai kesulitan menghadapi perubahan zaman. Sebagai contoh, sekalipun aplikasi ini dapat mengakses mainframe dan menarik informasi penerbangan dengan cepat, aplikasi ini tidak bisa secara otomatis berbagai aturan terhadap harga tiket penerbangan, misalkan penerapan diskon pada kondisi-kondisi atau waktu-waktu tertentu. Yang terjadi sekarang, para staf TI Galileo harus mencocokkan aturan tersebut dengan jadwal penerbangan dan memasukkan datanya secara manual ke dalam sistem. Padahal, jumlah data yang harus dimasukkan bisa ribuan setiap harinya.

Perbaruan sistem ini diharapkan bisa menghapus seluruh proses kerja manual dan kesalahan yang diakibatkannya. Informasi mengenai harga tiket terkini pun dapat dipasok ke para agen perjalanan dalam sekejap. Selain itu, upaya perbaruan sistem ini dapat membuat Galileo selangkah lebih ke depan, setidaknya untuk sementara, dibandingkan para kompetitornya, yang juga tengah berbenah untuk memperbarui peranti lunaknya.

Pada saat itu, Lutz juga melihat peluang untuk mengurangi biaya infrastruktur di belakang aplikasi Fares dengan menggantinya dari mainframe ke Unix. Unix dipandang Lutz cukup matang untuk menangani volume dan kecepatan yang dibutuhkan Fares.

Lutz sebenarnya juga melirik Linux sebagai alternatif, namun ia menolak opsi tersebut. Kinerja perangkat keras maupun peranti lunak yang bisa diberikan Linux dipandang Lutz belum bisa memenuhi kebutuhannya. Apalagi, keraguan mengenai dukungan nyata untuk penerapan Linux di enterprise dan kelangsungan hidup model open source secara jangka panjang diakui Lutz masih menghantui pikirannya.

Beruntung, penulisan ulang peranti lunak Fares agar bisa berjalan di atas Unix membutuhkan waktu yang cukup lama. Pada tahun 2003, pandangan mengenai Linux pun telah berubah secara dramatis. Ketika itu, Linux bisa beroperasi di atas sistem yang lebih besar, sementara server-server berbasis Intel sudah jauh lebih kencang. Selain itu, IBM, yang selama ini menjadi penyedia data center Galileo muncul menjadi salah satu vendor terkemuka yang mendukung platform Linux.

Kehandalan perangkat keras dan peranti lunak berbasis Linux tak pelak membuka mata dan pikiran Lutz. Secara pribadi, ia mulai merasa nyaman dengan apa yang bisa diberikan Linux. Apalagi ketika itu semakin banyak perusahaan yang bermigrasi ke Linux, dan dukungan vendor terhadap Linux juga semakin kuat. “Open source memungkinkan penghematan yang cukup signifikan, dan peluang ini terlalu penting untuk diabaikan,” ujar Lutz.

Lutz menilai manfaat yang diberikan Linux bisa menutupi risiko yang dihadapinya. Akhirnya, Lutz memutuskan untuk beralih ke Linux. Padahal, ketika itu, proses transisi aplikasi Fares ke Unix sudah 25 persen selesai, namun Lutz menghentikannya. Red Hat Linux pun menjadi pilihan Lutz untuk menggerakkan sekitar 100 server IBM xSeries 440 dan xSeries 445.

Ia pun memerintahkan lima orang anggota tim internalnya untuk memporting aplikasinya agar bisa berjalan di atas Linux. Setelah selesai, mereka masih harus memastikan bahwa data bisa mengalir dengan lancar dan server-server itu bisa menangani kecepatan dan volume transaksi yang diharapkan. Menurut Robert Wiseman, CTO for Global Agency Solutions, Cendant Travel Distribution Services, jika platform Linux ini bisa bertahan, potensi penghematan biayanya sangat besar, 90 persen lebih hemat ketimbang menggunakan Unix.

Namun, uji coba ini terbilang berisiko. Arsitektur Linux ini memiliki konsekuensi aplikasi dan data harus didistribusikan ke 100 server lebih. Dengan kondisi seperti ini, tim TI Lutz tidak bisa membangun lingkungan model simulasi produksi yang secara akurat memprediksikan bagaimana sistem ini bekerja. Model pengujian seperti ini dipandang mahal dan memakan waktu lama.

Sempat mengalami downtime
Uji coba pun dipersingkat. Bulan Juni 2003, setelah tiga bulan uji coba, Cendant memindahkan sistem produksi Fares ke platform Linux. Tak lama sesudah itu, masalah pun mulai muncul ketika secara misterius sistem mulai terasa lambat.

Rupanya tim TI Cendant tidak pernah membayangkan seberapa besar intensitas aplikasi Fare mengolah data yang tersimpan di berbagai server storage. Lutz mencontohkan, ketika agen perjalanan meminta sistem Fare menampilkan informasi harga tiket pesawat dari dua kota besar, misalnya Boston dan Denver , mereka memicu rentetan kalkulasi yang rumit. Menurut Lutz, jumlah kemungkinan kombinasi penerbangan dan harga untuk seluruh maskapai penerbangan yang melayani kedua kota itu diestimasikan mencapai 10 30 kombinasi! Peranti lunak Fares menarik jutaan kombinasi yang berbeda itu dari kompleks storage Galileo dan menghitung harganya dalam hitungan detik.

Tingginya permintaan Fares terhadap data yang tersimpan di storage server menurut Wiseman dengan cepat membuat sejumlah storage server kewalahan. Kondisi ini membuat kinerja server-server storage melambat, yang pada akhirnya juga mempengaruhi kinerja server aplikasi.

Dampak penurunan kinerja aplikisi ini sangat luas. Sekitar 44.000 biro perjalanan di 116 negara tidak bisa mengakses Fares. Lebih parah lagi, sistem ini juga digunakan untuk menangani sistem reservasi tiket salah satu maskapai penerbangan terbesar di AS, United Airlines. Akibatnya, para karyawan pun tidak bisa mengakses informasi penting mengenai penerbangan dalam waktu-waktu tertentu. Dan kejadian itu berulang selama empat hari. Bisa dibayangkan seberapa besar kerugian finansial bagi United maupun Galileo sendiri akibat downtime tersebut.

Setelah server yang bermasalah ditemukan, sebuah tim darurat yang terdiri dari para insinyur IBM, Red Hat dan Cendant mulai dapat mengendalikan keadaan dengan memasang lebih banyak server ke dalam platform baru ini.

Wiseman pun menuding keterbatasan waktu uji coba sistem, khususnya server storage, sebagai biang keladi kegagalan sistem tersebut. Menurut dia, pihaknya terlalu memokuskan pada pengujian kinerja Linux pada masing-masing server, dan tidak melibatkan seluruh server dalam pengujian untuk memprediksi beban pada server storage.

Meski demikian, kejadian ini tidak membuat Lutz dan timnya mengambil langkah mundur kembali ke platform lama. Mereka pun jalan terus, meski sempat mengalami beberapa kali downtime dalam beberapa hari berikutnya.

Untuk memastikan sistem baru tetap stabil dalam jangka panjang, tim TI Cendant memutuskan untuk merancang ulang arsitektur sistemnya. Mereka pun membangun selusin klaster, yang masing-masing terdiri dari 12 server, sehingga total terdapat 144 server. Setiap klaster menggunakan arsitektur network-attached-storage baru yang sebelumnya tidak pernah digunakan.

Masing-masing klaster dirancang untuk bisa menangani transaksi pada beban penuh. Namun, jika permintaan akan sebuah fungsi tertentu meningkat, tugas itu tidak lagi ditangani sendirian oleh sebuah server. Bersama-sama, klaster-klaster itu dirancang untuk menangani beban puncak terbesar yang pernah dialami aplikasi Fares, dengan menyisakan 25 persen kapasitas untuk mengantisipasi terjadinya situasi-situasi khusus seperti misalnya perang diskon.

“Hal terpenting dari lingkungan seperti adalah stabilitas dan ketersediaan yang tinggi,” ujar Wiseman. “Kami merancang sistem ini sedemikian rupa sehingga kecil kemungkinan klaster-klaster itu down secara bersamaan.”

Sekalipun harus merancang ulang arsitektur platform Linux ini, Wiseman mengakui bahwa kombinasi Linux dan server Intel ini masih lebih hemat 90 persen dibandingkan Unix. Seperti diungkapkan Lutz, biaya platform untuk Fares selama tiga tahun (dimulai tahun 2001) pun bisa ditekan dari 100 juta dolar jika menggunakan mainframe, menjadi sekitar 25 juta dolar jika menggunakan Unix, sampai akhirnya 2,5 juta dolar ketika menggunakan Linux.

Biaya tak terduga
Namun, biaya perangkat keras dan peranti lunak belum sepenuhnya menggambarkan biaya sebuah perubahan infrastruktur. Menurut Lutz, siapapun yang membuat komitmen terhadap teknologi baru, tidak cuma menghitung biaya proyeknya saja, namun juga biaya keseluruhan ke depan.

“Jika Anda memiliki proyek senilai 2 juta dolar untuk mengimplementasikan sistem Linux, setidaknya Anda membutuhkan dana 10 sampai 15 juta dolar karena Anda mengubah seluruh arah pengembangan TI Anda, mulai dari training, support dan pengembangan aplikasi,” ujar Lutz.

Migrasi ke Linux di lingkungan Cendant diakui Lutz membawa dampak ke 50 persen staf TI-nya yang berjumlah 380 orang. “Open source mendorong kami untuk mengadopsi Java dan cara baru untuk membuat program,” ujar Lutz.

Menurut Lutz, tidak semua staf TI-nya bisa menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Bagi para staf, baik para pengembang aplikasi maupun system administrator, yang bisa menyesuaikan diri pun dituntut untuk lebih agresif dan intuitif dalam mencari sendiri solusi atas masalah yang mereka hadapi.

“Tim kami harus memiliki skill teknis maupun problem solving yang jauh lebih baik daripada sebelumnya,” ujar Lutz. Apalagi, menurut dia, belum tentu Red Hat memiliki solusi untuk setiap masalah yang mereka hadapi, karena Red Hat tidak mengontrol core development dari Linux.

Penghematan biaya proyek yang cukup signifikan dari arsitektur baru ini membuat Cendant mempertimbangkan proyek migrasi ke Linux yang lebih ambisius. Aplikasi dan infrastruktur Fare hanya merepresentasikan 10 persen dari seluruh platform computing Galileo. Sisanya adalah koleksi aplikasi yang memuat informasi penerbangan setiap maskapai, setiap rute di seluruh dunia, dan semunya masih ditulis dengan bahasa mainframe Transaction Processing Facility (TPF) peninggalan era 70-an. Wiseman sendiri belum memiliki perkiraan berapa server “penguin” yang diperlukan untuk menggantikan mainframe-mainframe yang tersisa. Namun, ia tetap mempertimbangkan kemungkinan itu.

Sementara bagi Lutz, yang pasti Linux telah membuktikan diri sebagai alternatif sistem operasi proprietary yang layak dipertimbangkan. Dan Cendant Travel Distribution Services pun cukup puas dengan kinerja handal serta kekonsistenan uptime yang bisa diberikan sistem berbasis Linux. Di tempat ini, si penguin bisa juga menang bertarung dengan dinosaurus. cio/aa

back to top

More Publishing