Menu

Teknologi Artificial Intelligence Bakal Kuasai Mesin Pencari di Web

Teknologi Artificial Intelligence Bakal Kuasai Mesin Pencari di Web

Tak hanya di Indonesia, di Amerika pun orang sangat menyukai boks pencarian Google. Mereka mengetikkan kata-kata kunci pencariannya hampir tanpa berpikir lagi, dan terus menerus memperbaiki pencarian-pencarian mereka.

Semua berjalan seolah itu adalah hal yang alamiah. Tetapi, di masa yang akan datang, barangkali kita akan bergantung kepada antarmuka-antarmuka tambahan untuk mencari informasi di internet, yaitu dengan mengucapkan kata-kata dan dengan mengambol gambar benda-benda di sekitar kita.

Kelompok-kelompok besar komputer di cloud saat ini mampu memahami kata-kata dan kalimat-kalimat yang kita diktekan ke dalam ponsel kita dan mengidentifikasi benda-benda yang tampil di foto-foto. Dan Baidu —penyedia layanan pencarian web terbesar kedua di dunia, dengan basis pengguna terbanyak di negeri asalnya China— sudah cukup lama mulai mempersiapkan sistemnya untuk suatu masa ketika teks hanya akan menjadi salah satu opsi untuk entri pencarian, dan tidak mesti menjadi default.

“Dalam lima tahun, kami prediksikan 50 persen pencarian akan dimasukkan dalam bentuk kata-kata yang diucapkan dan gambar-gambar,” Andrew Ng, kepala ilmuwan Baidu dan kepada Baidu Research, mengatakan minggu lalu dalam sebuah rapat Gigaom.

Sebagai salah satu jenis AI (artificial intelligence), pembelajaran mendalam melibatkan sistem-sistem pelatihan yang disebut jejaring-jejaring syaraf palsu (artificial neural networks) pada begitu banyak dan begitu beragam informasi yang diambil dari audio, gambar-gambar, dan input-input lainnya, dan kemudian mempresentasikan sistem-sistem itu dengan informasi-informasi baru dan menerima tafsiran-tafsiran tentang informasi-informasi itu sebagai tanggapannya.

Teknologi ini menarik minat banyak orang di perusahaan-perusahaan yang menangani begitu banyak konten, seperti Facebook, Netflix, Spotify, dan Twitter, juga debutan-debutan seperti Nervana dan Skymind. Tetapi sebelum semua perkembangan itu muncul, para penyedia layanan pencarian web seperti Google, Microsoft, dan Baidu telah membuat sejumlah kemajuan untuk mengintegrasikan pembelajaran mendalam ke dalam bermacam-macam aplikasi.

Di Baidu khususnya, pembelajaran mendalam telah memperkaya pengenalan dan pemahaman tuturan, pencarian gambar, web ranking, dan sistem-sistem periklanan, kata Ng, yang bergabung dengan Baidu dari Google sejak awal tahun ini. Membuat jejaring-jejaring syaraf Baidu lebih akurat—fokus kunci bagi Ng saat ini—dapat menghasilkan pencarian-pencarian yang lebih efektif filsafat ilmu negara-negara di mana tingkat buta-aksara di kalangan penduduknya masih relatif tinggi.

“Tuturan dan gambar-gambar, dalam pandangan saya, adalah cara berkomunikasi yang jauh lebih alami [ketimbang teks],” kata Ng. Terbukti, satu dari 10 pencarian yang Baidu terima datang melalui tuturan lisan, kata Ng. Dan mendekatkan sebuah kamera ponsel pintar ke sebuah tas tangan, misalnya, tentu merupakan cara yang lebih cepat dan lebih mudah untuk mengidentifikasi suatu model tas tertentu ketimbang menggambarkannya dalam kata-kata tertulis di boks pencarian.

Seperti kata Ng, “Lebih mudah memperlihatkan sebuah gambar pada kita”. Tetapi, apapun cara konsumen untuk mencari di web, sepertinya teknologi yang melandasinya akan sangat menentukan. “Saya kira siapapun yang menguasau AI akan menguasai internet,” kata Ng.•••

back to top