Menu

FoKo Aplikasi B2B yang Dipakai Whole Foods: Mirip Instagram?

FoKo Aplikasi B2B yang Dipakai Whole Foods: Mirip Instagram?

Adakah pasar untuk versi B2B dari Instagram? Tampaknya ada. FoKo, sebuah aplikasi pembagi-foto untuk kalangan bisnis yang baru dirilis satu tahun lalu berhasil menggandeng Whole Foods sebagai salah satu kliennya.

Jaringan supermarket ini mulai menggunakan FoKo awal tahun ini. Dalam 90 hari, 1.000 karyawan di 12 matranya menggunakan aplikasi ini. Perusahaan itu berharap dapat mengumpulkan informasi dari foto-foto yang dapat digunakannya di seluruh perusahaan. Misalnya, jika sebuah outlet Whole Foods lokal memiliki display yang menarik, perusahaan akan menggunakan FoKo untuk membuat replikanya di lain tempat. Ketika dibuka toko-toko baru, jaringan supermarket itu juga bisa mendokumentasikan dan membagikan detil-detil uniknya. 

Jaringan supermarket ini sudah pernah bereksperimen dengan Instagram, tetapi mendapati bahwa karakter publik pada platform itu tidak dapat memenuhi tujuan-tujuan bisnisnya.  “Team media sosial kami mengakui bahwa Instagram memang lebih nyaman digunakan oleh karyawan-karyawan kami, tetapi membagi ide-ide visual kami di ruang publik bukanlah cara yang ingin kami tempuh,” kata Ryan Amirault, manajer program media sosial senior untuk Whole Foods Market, seperti dikutip dalam sebuah postingan di blog. “Sebelumnya kami mencari cara yang dapat membuat karyawan-karyawan kami bekerjasama dengan mudah, tanpa harus membocorkan rahasia-rahasia persaiangan. Di dalam industri supermarket yang kompetitif, hal-hal seperti ide-ide merchandising baru dapat memberikan keuntungan tersendiri.”

FoKoEric Sauve, mitra-pendiri sekaligus CEO FoKo, menolak mengatakan berapa yang Whole Foods bayar— jika ada—untuk menggunakan aplikasi itu. FoKo menawarkan sebuah model freemium yang meminta bayaran untuk fitur-fitur tambahan, seperti notifikasi-notifikasi tentang foto-foto yang tidak sesuai. Sauve tidak mengungkapkan detil-detil harganya.

Yang diharapkan adalah bahwa FoKo akan membawa photo-sharing ke tempat kerja. "Hampir tidak ada orang yang mengambil gambar saat sedang bekerja,” katanya. "Kami ingin membuangnya dan membuatnya menjadi sesuatu yang lumrah dalam kehidupan profesional kalangan pekerja, seperti lazimnya dalam kehidupan pribadi mereka."•••

back to top