Menu

Mengapa Konsumen Jepang Batalkan Pesanan iPhone 7 Plus?

Mengapa Konsumen Jepang Batalkan Pesanan iPhone 7 Plus?

Beberapa konsumen membatalkan pesanan iPhone 7 Plus mereka di Jepang. Bukan karena tidak sabar menunggu smartphone canggih itu tiba, tetapi karena ada ‘kekurangan’ pada mesin besutan Apple itu. Ternyata, iPhone yang dijual di Jepang (dan di Korea) sudah ‘dikutak-katik’ untuk disesuaikan dengan pasarnya.

Dan sekali lagi, ini bukan kelebihan, melainkan sebuah kekurangan.  Sejak iPhone 3GS tiba di Jepang pada tahun 2008, mengambil foto dan bahkan screenshot pas selalu disertai dengan suara ‘wajib’ shutter kamera—sesuatu yang pengguna iPhone di tempat-tempat lain pasti langsung dimatikan. Suara shutter kamera itu bahkan masih ada ketika ponsel berada pada posisi bisu atau senyap—membuat tak nyaman orang-orang yang suka memotret diam-diam. 

Suara-suara shutter seperti itu sudah menjadi bagian dari ponsel-ponsel-berkamera di Jepang bahkan sejak pertama kali hadir enam belas tahun lalu. Jepang adalah negara pertama yang menjual ponsel-berkamera yang bisa mengirim foto secara elektronis. Kyocera VP-210 saat itu menjadi ujung tombak dengan sensor 0,11 megapiksel, menandai dimulainya era ponsel-kamera.  

Di Jepang, seolah ada aturan hukum yang mewajibkan setiap kamera dan ponsel-kamera mengeluarkan bunyi shutter saat mengambil gambar. Padahal tidak. ‘Kesepakatan diam’ ini  muncul sejak awal 2000an ketika kasus voyeurisme jadi marak sejalan dengan meluasnya penggunaan kamera dan ponsel-kamera seperti ini. Banyak perempuan menjadi korban pengambilan gambar dan video voyeuristik yang gambarnya kemudian disebar ke mana-mana.

NTT Docomo mengatakan bahwa ada ‘kesepakatan diam’ itu diterapkan ‘untuk mencegah pengambilan gambar-gambar semacam itu secara diam-diam’. Ini ditegaskan oleh seorang jurubicara SoftBank: "Ketika untuk pertama kalinya kami menawarkan ponsel-kamera dan layanan ‘sha-mail’ (email) sekitar tahun 200, kami mewajibkan pihak pabrikan untuk membuat bunyi shutter terdengar jelas, bahkan pada mode senyap sekalipun. Ini dilakukan agar ponsel-ponsel berkamera tidak digunakan dengan cara yang akan menyinggung moral public, dan itu kami berlakukan hingga kini”.  

Sejak itu semua pabrikan dan carrier ponsel ikut memastikan bahwa semua ponsel yang dijual di Jepang mengeluarkan bunyi khas shutter untuk setiap pengambilan gambar, baik itu still foto, still video, maupun screenshot, dengan tetap memastikan bahwa mereka tidak akan dituntut secara hukum oleh siapapun yang merasa dilecehkan atau foto-fotonya disebarluaskan tanpa ijin.•••

back to top