Menu

Microsoft CEO Satya Nadella: Windows 10 Itu Layanan, Bukan Sistem Operasi

Microsoft CEO Satya Nadella: Windows 10 Itu Layanan, Bukan Sistem Operasi

Jika Anda ingin memahami bagaimana CEO Microsoft Satya Nadella melihat masa depan perusahaan yang dipimpinnya.

Mungkin tidak ada sumber yang lebih baik selain pernyataan-pernyataannya untuk para pegawai di LinkedIn pekan lalu. Menyusul pengumuman mengejutkan bahwa Microsoft sepakat untuk membayar USD26 milyar tunai untuk layanan jejaring sosial profesional itu, Nadella menyapa pegawai LinkedIn dalam sebuah pertemuan.

Yang paling mengejutkan dari semua pernyataannya barangkali adalah  bahwa Nadella memandang perusahaannya dibangun di atas sebuah sistem operasi yang sudah mendominasi jaman PC selama puluhan tahun, dan kini, berkaitan dengan rilis yang terbaru, perusahaan akan mencoba berpikir berbeda tentang peran Windows ini mengubah dunia teknologi.

“Kami tidak akan membangun dan mengembangkan sebuah sistem operasi untuk satu piranti saja, bahkan ketika kami berpikir tentang Windows 10; cara kami mengkonseptualisasikannya adalah: kami sedang membangun sebuah sistem operasi untuk pengguna, apapun pirantinya”, kata Nadella. “Ini adalah sebuah layanan, begitulah saya memikirkannya. Update Windows barangkali adalah layanan terbesar yang kami punya karena menyentuh 1,5 milyar mesin setiap harinya, dan tujuan kami adalah benar-benar mengubah definisi sebuah sistem operasi, dan sistem-sistem operas untuk komputasi personal selalu adalah tentang menemukan dan mengembangkan perubahan besar berikutnya dalam input/output”.

Bahkan yang lebih menarik, ketika bicara tentang transisi-transisi ke era-era komputasi yang berbeda, Nadella mengakui kegagalan nyata Microsoft  untuk menjadi pemenang di bidang mobile, “Dan tak diragukan lagi bahwa kami benar-benar ketinggalan di ladang mobile, dan karenanya kami memahaminya, kami memiliki sikap khusus di bidang itu sekarang; kami perlu melakukan usaha yang lebih keras, keamanan, managemen, dan produktiifitas yang lebih baik, dan kami akan fokus pada semua itu, tetapi kami juga sedang menuju ke sesuatu yang lebih besar”. 

Lalu apa sesuatu yang lebih besar itu?

“Idenya adalah kami bisa menyatukan  AR dan VR ke dalam satu kontinuum dari apa yang kami bicarakan sebagai realitas campuran dan kami  tidak sabar ingin mewujudkannya”, kata Nadela. Ini akan seperti sebuah medan pandangan yang menjadi sebuah display tak bertepi di mana apa yang dilihat pengguna bukan hanya sebuah dunia tiruan, tetapi sebuah dunia di mana pengguna bisa menempatkan artefak-artefak digital. “Ini adalah satu medium yang sama sekali baru; inilah HoloLens”, tandasnya.•••

back to top