Menu

Ketika Teknologi Informasi Merambah Dunia Balap

Ketika Teknologi Informasi Merambah Dunia Balap

Di dunia balap, penerapan TI sangat penting perannya. Hendrick Motorsport sudah membuktikannya. Kuncinya terletak pada peningkatan performa dan kehandalan melalui aplikasi product-lifecycle management (PLM).

Anda pasti akan merasa ngeri ketika tengah berada di belakang kemudi kendaraan yang melaju sangat kencang tahu-tahu ada bensin menetes di kaki Anda. Apalagi, ketika mobil melaju dengan kecepatan lebih dari 300 kilometer per jam.

Tapi, hal itu pernah dialami juara empat kali NASCAR, Jeff Gordon, pada suatu balapan yang pernah ia lakoni. Begitu mendeteksi ada kebocoran bensin, ia pun memutuskan masuk pit. Para teknisi pun langsung beraksi. Dengan cepat mereka menemukan penyebabnya: fuel gauge yang tidak berfungsi.

Balapan minggu itu memang tidak sukses. Tapi itu tidak mengurangi semangat kru teknisi untuk melakukan perbaikan. Pasalnya, kurang dalam waktu seminggu mereka harus mempersiapkan mobil Gordon untuk seri balap berikutnya.

Dengan menggunakan aplikasi desain Teamcenter, sebuah solusi product life-cycle management (PLM) buatan UGS Corp, para insinyur Hendrick merancang ulang komponen tersebut, memanufakturnya kembali dan kemudian memasangnya. Hasilnya memuaskan. Gordon dan timnya memenangkan kejuaraan Brickyard 400 di Indianapolis.

Kunci kemenangan
Kesuksesan implementasi TI tidak selamanya harus diterjemahkan dalam seberapa besar dampaknya terhadap bottom line perusahaan, seberapa cepat return-on-investment-nya atau seberapa besar pengaruhnya terhadap peningkatan penjualan, seperti lazimnya dipahami sebagian besar perusahaan.

Tapi, bagi Hendrick Motorsports, manajemen tim balap yang menaungi Jeff Gordon, aplikasi TI adalah kunci untuk meningkatkan performa dan kehandalan. Dua kunci penting untuk meraih kemenangan di dunia balap mobil.

”Dalam bisnis kami, sasaran implementasi TI adalah untuk menaikkan performa dan reliability,” tegas Jim Wall, direktur engineering di perusahaan manajemen tim balap yang mempekerjakan sekitar 550 karyawan itu.

Di dunia balap, performa dan reliabilitas adalah dua hal yang membedakan antara kemenangan dan kekalahan, atau gagal finish akibat mesin jebol. Dalam seri balap NASCAR, tulang punggung dari berbagai tim peserta untuk meladeni 36 seri balap dalam setahun adalah mesin mobil itu sendiri.

”Mesin-mesin itu tidak hanya harus sanggup melesatkan mobil sampai kecepatan 200 mil per jam, tetapi juga harus tahan berjam-jam digunakan saat balap,” ujar Wall.

Komponen retak, aus atau terbakar akibat hilangnya pelumas atau panas dan tekanan tinggi adalah hal yang biasa dijumpai dalam balapan ini.

Setiap selesai satu seri balap, kru mesin Hendrick Motorsport langsung membangun kembali (rebuild) mesin-mesin mobil balapnya. Dengan dukungan karyawan departemen mesin yang berjumlah 82 orang, Hendrick membangun kembali sekitar 700 mesin setiap tahunnya.

”Kami memanufaktur mesin itu, mengujinya, menggunakannya untuk balap dan kemudian memanufakturnya kembali,” ungkap Jim McKenzie, manajer aplikasi di Hendrick Motorsport.

Seperti halnya perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan TI, Hendrick pun dihadapkan pada masalah manajemen data. Di masa lalu, perusahaan ini menyandarkan diri pada data-data komponen yang tersimpan di berbagai database terpisah dengan format yang berbeda-beda pula. Alhasil, ketika salah satu mobil balapnya mengalami kegagalan komponen, para mekanik pun kesulitan melacak data-data historis mesin, laporan-laporan kegagalan komponen di masa lalu maupun informasi lainnya.

Tapi, adanya solusi PLM membuat proses penyempurnaan komponen lebih cepat dan sekaligus meningkatkan reliabilitasnya. Begitu sebuah kegagalan komponen ditemukan, para teknisi Hendrick di lapangan langsung memeriksa latar belakang komponen itu dengan laptopnya. Berbekal informasi itu, para teknisi tim bisa mempelajari kesalahan-kesalahan dan merancang ulang komponen dengan cepat untuk digunakan di balapan berikutnya.

”Teamcenter memungkinkan kami mempercepat respon kami ketika menghadapi masalah,” ujar Wall. ”Selain itu, solusi ini juga memungkinkan kami membangun komponen upgrade dengan waktu sesingkat mungkin.”

Dimulai dari aplikasi CAD
Selain tim balap, solusi PLM juga banyak digunakan produsen otomotif, produsen peralatan berat, industri dirgantara dan industri lain yang memroduksi produk-produk yang sering mengalami perubahan teknis.

Biasanya, solusi ini meliputi beberapa jenis aplikasi, antara lain computer-aided design (CAD), computer-aided manufacturing (CAM) dan product-data management (PDM). Selain itu, solusi juga mencakup product-life cycle tracking, yang memantau sebuah produk dari konsep sampai akhir masa operasinya

Hendrick sendiri telah menggunakan peranti lunak CAD buatan UGS sejak tahun 1997 untuk merancang komponen mesin. Hasil rancangan CAD dan spesifikasinya kemudian dikirim ke salah satu dari delapan mesin CNC buatan Haas Automation, yang akan membuat komponen itu.

Menurut Wall, saat itu sebenarnya Hendrick juga telah memiliki database yang menyajikan informasi komponen itu digunakan di mesin mana dan di balapan apa, selain juga telah menggelar sistem work-order dan inventori.

”Tapi kami belum menatanya dengan baik. Yang lebih parah, data-data itu formatnya berbeda-beda,” ujar Wall.

Barulah pada tahun 2004, Hendrick menyatukan informasi mengenai mesin dan performanya ke dalam platform UGS Teamcenter. Hal itu merupakan langkah penting bagi sebuah tim balap. Pasalnya, para insinyur membutuhkan berbagai informasi seperti performa mesin dan historinya, kegagalan komponen dan penggantiannya dengan cepat.

”Bagi kami, data produksi adalah data mengenai desain komponen dan performa, serta set-up dan konfigurasi mesin,” ujar Wall.

Saat ini, semua data itu diambil para teknisi lapangan yang selalu menyertai tim di pit. Berbekal laptop, mereka memasukkan informasi itu secara online melalui jaringan milik Hendrick.

Begitu ada kegagalan komponen, para teknisi lapangan itu melaporkan masalah dalam bentuk deskripsi teks lengkap dengan link komponen yang bermasalah. ”Mereka kemudian memasukkan laporan itu ke sistem workflow di dalam PLM dan meneruskannya ke para insinyur di kantor pusat untuk langsung ditindaklanjuti,” jelas Well.

PLM pun memungkinkan Hendrick mengatasi masalah teknis secara lebih efektif. Para insinyur di Hendrick kini memiliki akses ke berbagai data mesin yang bersifat kritikal sebagai dasar untuk merancang ulang komponen dan membangun ulang mesin dengan lebih cepat.

”Tadinya kami menghabiskan 40 persen dari waktu kami hanya untuk mencari data. PLM memberikan kami keuntungan dengan membuat seluruh informasi tersebut tersedia di satu tempat, sehingga kami bisa mengelolanya dengan mudah,” ujar McKenzie.

Dari waktu ke waktu, Hendrick pun terus menyempurnakan proses reproduksi komponen mesinnya. Hasilnya pun terbilang luar biasa. Kalau pada tahun 2004 tim ini masih membutuhkan waktu seminggu untuk menggelar komponen baru, dua tahun belakangan prosesnya dapat ditekan menjadi dua hari saja. Bahkan dalam waktu sesingkat itu, Hendrick sanggup meremajakan (retrofit) armada balapnya yang mencapai 30 mobil dengan komponen rancangan baru.
Menekan variasi performa mesin

Selain masalah komponen, Hendrick juga dihadapkan pada masalah performa mesin yang tidak merata. Padahal, jenis mesin yang terpasang di seluruh mobil balap Hendrick sama.

Pada dasarnya, mobil-mobil balap NASCAR memiliki dua jenis mesin. Yang pertama adalah versi mesin yang menggunakan unit restrictor plate untuk membatasi pasokan udara dan rating horsepower mesin, serta mesin yang tidak memiliki hambatan pasokan udara sehingga tenaganya lebih besar.

Proses rebuild mesin yang tidak seragam membuat variasi tenaga yang dihasilkan begitu lebar. Perbedaaan bisa mencapai 20 persen antara mesin-mesin sejenis. Untuk mesin dengan restrictor plate, variasinya bisa mencapai 80 hp, sementara untuk open units bahkan bisa berbeda 160 hp.

Tentu saja hal ini menjadi keluhan para pembalap. Dan, manajemen tim tidak menghendaki hal itu terjadi. ”Mereka menginginkan performa mesin yang seragam,” ujar Wall.

Nah, disinilah PLM kembali menunjukkan perannya. PLM membantu tim overhaul mesin untuk memastikan setiap mesin di-rebuild atau dibangun ulang secara identik dan di-tune up untuk menghasilkan keluaran tenaga yang nyaris sama.

Kuncinya, tim overhaul itu harus menggunakan komponen mesin yang dibuat secara presisi. ”Oleh karena itu kami harus mencari cara untuk mereproduksi komponen mesin dengan toleransi sekecil mungkin,” ujar Wall

Untuk itu, tim engineering Hendrick pun memanfaatkan kapabilitas solid-modelling and analysis yang sudah terintegrasi pada solusi PLM buatan UGS. ”Dengan memasukkan data desain ke dalam perangkat manufaktur, kami bisa mereproduksi komponen dengan akurat,” imbuh Wall.

Alhasil, kini Hendrick mampu mengurangi ketidakseragaman dalam perakitan mesin dan variasi performa masing-masing mesin pun bisa ditekan sampai 1 persen saja.

”Semua tim balap di bawah Hendrick kini memiliki performa mesin seragam. Semua ini diperoleh dengan bantuan peranti lunak,” ujar Wall. Bahkan, tahun ini Hendrick menargetkan perbedaan itu cuma 0,5 persen saja.

Tak pelak, implementasi PLM membawa perubahan besar pada nilai kompetitif Hendrick Motorsport sebagai sebuah manajemen tim balap. Namun, Wall mengakui untuk mencapai itu tidaklah mudah.

Salah satu tantangan terberat adalah bagaimana mendorong pengadopsian sistem PLM ini. Kesulitannya lebih pada budaya SDM. Para kru Hendrick, seperti halnya sebagian besar insinyur dan teknisi di dunia balap, adalah individu-individu yang independen. Mereka, menurut Wall, cenderung suka menerabas pakem-pakem yang ada. Implementasi PLM setidaknya membuat mereka kini lebih harus mematuhi workflow dan praktik bisnis yang lebih rapi.

Namun, ada satu praktik bisnis yang tidak akan berubah di kalangan kru Hendrick Motorsports, yakni meraih kemenangan di arena balap. Setidaknya, kini mereka memiliki dukungan teknologi canggih sebagai modal untuk menghadapi seri-seri balap NASCAR berikutnya. cin/aa

back to top