Menu

Kim Reed Perell, CEO di Adconion Direct

Kim Reed Perell, CEO di Adconion Direct

Setelah usaha awalannya bangkrut, CEO ini terus bergerak membangun sebuah perusahaan senilai USD 100 Juta.

Begitu lulus sarjana, Kim Reed Perell bergabung ke dalam jajaran startup that blew up (pemula yang luarbiasa berhasil). Lalu dengan tak kalah cepat usahanya ambruk. Setelah mengetahui apa yang seharusnya tidak boleh dilakukannya, Perell mulai lagi. Kali ini dengan mentriger sebuah perusahaan jasa iklan digital senilai USD 100 juta dari dapur kerjanya di Hawaii.

Di usia 23, sukses sudah dalam genggaman Kim Reed Perell.
Begitu lulus dari pendidikan college-nya, Perell langsung bekerja sebagai perintis Xdrive Technology sekaligus sebagai Direktur Pemasaran dan Penjualan, selama beberapa tahun yang penuh tantangan. Selain masa kerja yang sangat singkat di Wall Street, Reed Perell sama sekali tidak memiliki pengalaman. Meskipun demikian ia bekerja dalam tim yang secara agresif mengejar target dan menghasilkan banyak sekali uang melalui iklan.

Sejak itu Xdrive tumbuh menjadi sebuah perusahaan yang memiliki 200 karyawan. Akibatnya tentu menghabiskan banyak biaya operasional, dari USD 120 juta yang berhasil mereka kumpulkan dalam beberapa putaran antara tahun 1999 dan 2000. Selain itu biaya penyimpanan data melambung selama satu dasawarsa. Reed Perell terpaksa memberhentikan begitu banyak karyawan yang sudah dianggapnya sebagai “teman-teman terkasih”. Xdrive mengalami kemunduran yang sangat parah dan nyaris tinggal nama ketika terpaksa merumahkan sebagian besar karyawannya pada tahun 2001 sebelum akhirnya benar-benar bangkrut.

Setelah bangkrut, Xdrive masih berusaha bergerak hidup-mati ketika perusahaan itu didanai kembali oleh salah satu investor pertamanya dulu. Perusahaan dan asset-asetnya yang sudah sekarat itu akhirnya dibeli oleh AOL, yang tidak lain adalah investor pertama yang akhirnya benar-benar menutup perusahaan itu.

Setelah diberhentikan pada tahun 2001 Reed Perell pindah ke Los Angeles.
“Saat itu adalah saat-saat paling berat dalam hidup saya,” katanya. “Dulu Xdrive sungguh mengagumkan dan merupakan masa-masa yang sangat indah, tetapi terpaksa harus berakhir dengan kebangkrutan”. Tetapi, “menjadi seorang wirausahawan adalah jiwa dan darah daging saya,” kata Perell.

Terlahir sebagai anak dari seorng ayah yang seorang pengembang real estat dan ibu yang menjalankan usaha konsultasi komunikasi di Oregon, Reed Perell mengatakan bahwa dirinya tumbuh dengan berpikir tentang segala hal dari sudut pandang wirausaha. Kemudian, kekasihnya ingin kembali ke tempat asalnya di Hawaii. “Saya rasa kalau saya bisa memulai bisnis di Hawaii, maka tentu saya bisa memulai bisnis di manapun”, katanya. Jaman keemasan Xdrive yang cemerlang tetapi singkat itu telah mengajarinya beberapa hal, “terutama tentang pentingnya memelihara fokus yang terus menerus pada saldo akhir total neraca usaha dan factor-faktor penentu lainnya dan belajar untuk selalu bangkit lagi setiap kali kalah”, katanya. “Ada nilainya ketika kita mengalami betapa segala sesuatu bisa berubah buruk, karena itu kita harus ulet dan selalu bangkit lagi dengan cepat.” 

Perlu kembali lagi dari yang paling mendasar
Dia pun memulai usaha barunya bernama Frontline Direct, sebuah perusahaan marketing yang berkedudukan di Hawaii. Dia harus sering bekerja sepanjang malam dan menjawab panggilan telepon pada jam 4 hingga 5 pagi. “Semua orang di sini meninggalkan pekerjaan mereka begitu mereka ingin berselancar”, katanya sambil tertawa.

Frontline Direct meraup hampir dua kali lipat penerimaan setiap tahunnya sejak didirikan pada tahun 2003 dan sangat menguntungkan secara keseluruhan. Dalam waktu dua tahun, perusahaan itu menyentuh titik USD 3.5 juta dalam hal penerimaan dengan 63 klien dan lima karyawan. Kemudian tumbuh hingga lebih dari USD 100 juta pada 2010, dengan 380 klien, dan 74 karyawan.

Iklan lintas-saluran pada dasarnya berarti membangun sebuah peta tentang audiens sebuah brand melintasi beragam website dan perangkat-perangkat yang berbeda-beda, yang terbentuk dari situs-situs yang bersangkutan, juga plus jumlah klik dan tindakan-tindakan lainnya, sehingga memungkinkan mereka untuk menyampaikan iklan yang tepat untuk orang yang tepat.

“Tiap-tiap saluran memberikan kepingan-kepingan pengetahuan dari seorang pengguna, dan bila digabungkan secara bersama-sama informasi-infomrasi itu menciptakan profil-profil yang lebih lengkap tentang kalangan pengguna suatu brand, dan dengan demikian, terciptakan sebuah profil yang lebih lengkap lagi untuk membeli media atau audien,” kata Reed Perell.

Pada tahun 2008 Reed Perell menjual Frontline kepada Adconion Media Group seharga USD 20 juta, plus sejumlah keuntungan yang signifikan.

Frontline digabungkan untuk menciptakan Adconion Direct dan Reed Perell tetap menjadi CEO-nya. Kini, berbasis di Santa Monica Adconion Direct menciptakan pertumbuhan penjualan iklan tahunan sebesar 70%. Perell bersikeras bahwa para pendirinya kini, di tengah gelembung teknologi lainnya yang mungkin harus berpikir keras untuk mengambil pendanaan dari luar dan memfokuskan perhatian mereka pada membangun bisnis yang menguntungkan benar-benar dari dasar.

“Hal itu akan selalu memakan waktu dua kali lebih lama dan biaya yang dua kali lipat lebih banyak dibanding perkiraan kita,” pungkasnya.•••

back to top