Menu

Bergerak Lincah dengan Open Source

Bergerak Lincah dengan Open Source

Ketiadaan solusi yang pas dan keterbatasan anggaran membuat Backcountry.com berpaling ke open source untuk membangun aplikasi in-house sekaligus melakukan inovasi untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan lebih besar.

Dalam penggelaran infrastruktur dan aplikasi TI, perusahaan-perusahaan kecil umumnya tidak seberuntung perusahaan-perusahaan skala besar. Keterbatasan anggaran dan sumberdaya manusia, merupakan masalah klasik yang sering menghadang perusahaan-perusahaan kecil ketika mereka ingin menerapkan sebuah strategi TI.

Namun, bukan berarti mereka tidak punya pilihan. Ketika mereka merasa sebuah solusi proprietary bakal menguras kantongnya, sebenarnya mereka bisa melirik opsi-ops solusi berbasis open source. Hal itulah yang ditempuh Backcountry.com, sebuah perusahaan skala kecil yang bermarkas di Park City, Utah, Amerika Serikat.

Sebagai peritel online perangkat outdoor dan olahraga, Backcountry.com terjun bersaing melawan pemain-pemain brick-and-mortar kelas kakap, dengan bantuan berbagai solusi berbasis open source, mulai dari supply chain sampai sistem knowledge managemen. Pendekatan non-konvensional seperti ini membuat perusahaan yang bercita-cita menjadi Amazon-nya perangkat outdoor dan olahraga ini sanggup melipatgandakan pendapatannya tahun 2005 lalu.

Tapi, semua pencapaian ini bukannya tanpa konsekuensi. Untuk menikmati keunggulan open source seperti berbagi source code secara bebas, meng-custom peranti lunak dengan cepat dengan biaya hanya sepersekian biaya peranti lunak proprietary, Backcountry.com harus rela menyiapkan sepasukan programer untuk membangun dan mengelola seluruh aplikasi secara in-house. Suatu pendekatan yang jarang ditempuh bagi perusahaan skala menengah atau besar sekalipun, apalagi perusahaan kecil.

Menghemat biaya, mendorong inovasi

Menyatunya open source di dalam sendi-sendi bisnis Backcountry.com tak luput dari perjalanan perusahaan itu sendiri. Berdiri tahun 1996, awalnya Backcountry.com hanyalah sebuah situs e-commerce sederhana. Kedua pendirinya, bukan pula jagoan teknologi.

Sang presiden, John Bresee hanyalah seorang instruktur ski, sementara Jim Holland, yang kini menjabat CEO, adalah salah satu anggota tim nasional ski AS. Bermodalkan uang 2000 dolar, keduanya membangun sebuah situs Web dengan script shopping-chart sederhana, serta membujuk sejumlah pemasok perangkat outdoor dan olahraga untuk bergabung.

Singkat cerita, mendompleng kepopuleran dotcom, Backcountry.com pun berkembang pesat. Bahkan, pada tahun 2000, perusahaan ini membukukan penjualan bersih sebesar 3 juta dolar AS. Saat itu, Breese merasa bahwa sudah saatnya Backcountry.com menggunakan sistem e-commerce yang lebih komprehensif.

Backcountry.com sempat melirik solusi-solusi WebSphere, Oracle dan sejumlah solusi proprietary lainnya. Hanya saja, karena keterbatasan dana, Bresee mengesampingkan pilihan ini. Alternatif lainnya adalah solusi-solusi buatan vendor-vendor kecil, yang cukup menjamur di era dotcom.

Namun, pada masa-masa itu, kemilau dot-com mulai memudar. Perusahaan-perusahaan peranti lunak debutan satu per satu gulung tikar. Bresee akhirnya menyadari, ia membutuhkan sebuah sistem yang memungkinkan perusahaan mengendalikan secara penuh source codenya. Alternatif open source pun dilirik.

Berbeda dengan sistem proprietary, yang harus ditebus dengan biaya lisensi mahal dan memiliki keterbatasan dalam hal penyesuaian peranti lunak, aplikasi berbasis open-source memungkinkan penggunanya membuat dan mendistribusikan salinan aplikasi tersebut, bebas berbagi source code-nya, dan melakukan perubahan pada peranti lunak sesuai kebutuhan. Semua itu bisa dilakukan dengan biaya jauh di bawah harga peranti lunak proprietary.

Akhirnya, Bresee menjatuhkan pilihan pada platform e-commerce Interchange buatan Red Hat. Untuk menggelar Interchange dan membangun basis arsitektur open source, Backcountry.com menghabiskan biaya sekitar 100.000 dolar AS. Menurut hitungan Dave Jenkins, chief technology officer (CTO) Backcountry.com, dengan sistem proprietary, biaya itu bisa lima kali lipat. Sejak itu, Backcountry.com mulai akrab dengan open-source.

Saat ini, hampir seluruh sistem TI di Backcountry.com berjalan di atas open source, mulai dari ERP, email sampai sistem e-commercenya. Menurut Jenkins, Backcountry.com kini menerapkan arsitektur hybrid yang dikenal dengan arsitektur LAMP, yakni Linux untuk sistem operasinya, Apache untuk server web, MySQL untuk database, walaupun sebenarnya Backcountry.com mengaplikasikan PostgreSQL, serta Perl untuk script aplikasinya.

Untuk web browsernya, PC-PC di Backcountry.com menggunakan browser Firefox yang kini tengah naik daun, sementara untuk pengelolaan emailnya menggunakan aplikasi open source buatan Zimbra Inc.

Menurut Jenkins, aplikasi Zimbra ini memudahkan pihaknya mengaitkan email seorang customer dengan sistem order management-nya. Jadi, setiap nomor pesanan barang yang tercantum di email customer akan terhubung langsung dengan sistem order management, sehingga seorang petugas customer service tidak perlu repot-repot membuka aplikasi terpisah.

Menurut Jenkins, rangkaian sistem yang membentuk customer service response (CSR) ini dapat menghemat waktu tiga jam dalam seminggu. Atau, jika diuangkan perusahaan menghemat sekitar 150.000 dolar AS per tahunnya. “Hal seperti ini sulit dilakukan jika menggunakan sistem proprietary, seperti Outlook dan lainnya. Lagi pula, kami cuma mengeluarkan biaya sepersepuluhnya,” tukas Jenkins.

Lebih jauh ia memaparkan bahwa penghematan biaya bukanlah satu-satunya alasan mengapa Backcountry.com merangkul open-source. Ia menegaskan bahwa pada akhirnya yang terpenting bagi perusahaan ini adalah bisa melakukan inovasi-inovasi. “Kami ingin melakukan suatu hal yang berbeda di industri ritel,” ujarnya.

Hal itu memang selaras dengan atmosfir kerja di Backcountry.com sendiri. Setiap karyawan didorong untuk bebas mengemukakan pendapatnya, saling tukar informasi maupun ide. Kultur entrepreneur pun tetap dijaga.

Berbagai gagasan itu tak hanya bebas dilontarkan, tetapi juga tersimpan dan terkelola dengan baik melalui sistem knowledge management Backcountry.com yang dijuluki The Goat. “Inilah jantung dan nafas perusahaan kami,” ujar Jenkins.

The Goat pada dasarnya adalah sebuah wiki, peranti lunak open source yang memungkinkan penggunanya membuat atau mengedit konten dengan browser apapun. Wikipedia ala Backcountry.com ini kini telah berkembang menjadi 6.200 halaman. Setiap proses, setiap pengetahuan yang muncul dari gagasan para karyawan Backcountry.com muncul dan tersimpan di sistem ini.

Menurut Bresee, inilah cara perusahaannya untuk menggali ide, dan hampir seluruh inisiatif perusahaan muncul dari gagasan-gagasan yang terlontar di The Goat.

Contoh paling mutakhir mengenai inisiatif yang muncul dari sistem ini adalah steepandcheap.com. Ini adalah sebuah situs yang dibangun Backcountry.com khusus untuk “cuci gudang”, dengan menawarkan sebuah produk dengan diskon fantastis per harinya. Backcountry.com hanya membutuhkan waktu tiga minggu, sejak konsep ini disetujui, untuk membangun dan meluncurkan steepandcheap.com. Inisiatif ini terbilang sukses. Setelah diluncurkan sekitar Maret tahun lalu, situs ini menarik lebih dari 100 ribu unique visitor setiap minggunya, dan setiap bulannya jumlah ini terus meningkat sekitar 15 persen. Melalui situs ini, Backcountry.com menjual satu jenis produk per hari, dan hampir selalu ludes. Suatu ketika, dalam satu hari situs ini mampu meraup 26.000 dolar AS.

Di sisi lain, aplikasi open source juga membantu Backcountry.com mengontrol biaya promosinya. Sebagai peritel online, Backcountry.com pun memanfaatkan pay-per-click advertising. Untuk ini, perusahaan itu menggunakan aplikasi keyword bid management, sebuah peranti penting untuk menjaring calon pembeli melalui pencarian Web (Web search). Untuk ini, Backcountry.com menggunakan aplikasi Atlas Search buatan aQuantive Inc. Jenkins memperkirakan keyword-search marketing menyumbang 30 persen dari penjualan.

Namun, dengan 80.000 SKU (stock keeping unit), dan begitu banyak keyword untuk masing-masing SKU, pengelolaannya tidaklah mudah. Jika tidak hati-hati, kami tetap membayar keyword untuk pay-per-click advertising untuk produk-produk yang tidak lagi kami jual atau habis, ujar Jenkins. Agar hal itu tidak terjadi, tim TI Backcountry.com membuat sebuah script Perl yang memantau inventori dan mengaitkannya dengan keyword bid management. Dengan program ini, begitu stok suatu jenis produk habis, keyword yang mendeskripsikan produk tersebut akan dicabut dari bidding pool.

Dari aplikasi script ini saja, Backcountry.com bisa menghemat ratusan ribu dolar dari jutaan dolar yang dikeluarkan untuk online advertising. Menurut Jenkins, hal ini memperlihatkan bagaimana open-source bisa memberikan nilai ketika tak satu pun produk siap pakai tersedia untuk memenuhi strategi bisnis Backcountry.com.

Bencana di annual sale

Di sisi lain, open source tidak saja membantu Backcountry.com menghemat biaya dan melakukan inovasi, tetapi juga beradaptasi dengan kebutuhan bisnis yang terus berubah.

Di industri peralatan outdoor dan olahraga, masa-masa menjelang liburan, baik musim panas maupun musim dingin adalah saat yang tepat untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Tapi, di luar itu, saat lain yang tak kalah penting adalah ketika para vendor memangkas harga-harga merchandise lamanya, baik ketika masa liburan telah usai, atau ketika akan muncul produk baru. Biasanya, di saat-saat ini pula para peritel melakukan annual sales.

Bagi Backcountry.com, saat annual sale biasanya jatuh pada bulan Februari. Di saat itulah perusahaan ini harus menerapkan strategi diskon pada sekitar 25.000 produk dari 250 merk yang terpajang di situs webnya. Tapi, penerapan diskon ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Di masa lalu, satu-satunya jalan untuk menerapkan strategi ini adalah secara manual, mengubah halaman per halaman situs Web.

Bagi Jenkins, masa annual sale Februari 2006 lalu adalah masa pembuktian. Pembuktian bahwa annual sale tidak lagi identik dengan kerugian besar bagi Backcountry.com akibat hilangnya peluang penjualan.

Annual sale tahun lalu, tepat sebelum Jenkins bergabung pada bulan Maret 2005, berakhir dengan “bencana.” Akibat kekurangan staf, Backcountry.com tidak sanggup membentuk tim khusus untuk menganalisis produk-produk mana yang harus didiskon, dan seberapa besar diskonnya. Akhirnya, perusahaan pun terpaksa menerapkan strategi pukul rata, menerapkan besaran diskon sama untuk setiap produk di inventorinya.

Langkah ini harus dibayar mahal. Jenkins memperkirakan sekurangnya Backcountry.com kehilangan peluang sales senilai 400.000 dolar. Bukan jumlah kecil bagi perusahaan senilai 52 juta dolar.

Backcountry.com kehilangan peluang penjualan untuk produk-produk populer yang dengan diskon kecil pun pasti laris manis. Pun sebaliknya, perusahaan ini lagi-lagi kehilangan peluang menjual produk-produk yang seharusnya bisa terjual kalau saja mereka memberlakukan diskon lebih besar.

Belajar dari kejadian tersebut, tentu saja Jenkins tak ingin mengalami bencana ini kembali terulang. Setidaknya saat ia menjabat CTO. Ia pun memberikan tantangan kepada tim programernya, sanggupkah mereka membangun sebuah script yang secara otomatis menghitung harga diskon terbaik berdasarkan catatan penjualan masing-masing produk dan ketersediaannya di inventori.

Para programer menyanggupinya. Dalam waktu enam minggu tim programer Backcountry.com berhasil membangun sebuah program untuk mengotomatisasikan seluruh proses pengaplikasian diskon. ”Program ini memangkas waktu yang dibutuhkan staf TI untuk menginput diskon dari empat minggu menjadi empat hari,” ungkap Jenkins.

Alhasil, Backcountry.com pun luput dari bencana. Bahkan, annual sales tahun ini terbilang sukses, dengan meraup pendapatan sebesar 1 juta dolar AS. Tak hanya itu, program baru ini pun membantu Backcountry.com melakukan penyesuaian harga secara bulanan, harian bahkan hitungan jam. Diakui Jenkins, open source-lah yang telah membantu pihaknya membangun sebuah script yang kompleks dengan waktu singkat. Dan, tentunya dengan biaya lebih murah.

Konsekuensi: in-house programming

Dengan hanya mengandalkan channel online, memang sulit membayangkan Backcountry.com bisa meraup pangsa pasar yang signifikan di dunia ritel perangkat outdoor dan olahraga yang membutuhkan physical presence. Berjualan buku atau CD secara online, jelaslah berbeda dengan menjual perangkat outdoor dan olahraga, dimana sebagian besar konsumen ingin mencoba perangkat itu sebelum membelinya.

Namun, untuk ukuran peritel online, perusahaan ini sanggup membukukan prestasi tersendiri. Tahun lalu saja pendapatan perusahaan ini meningkat hampir dua kali lipat, menjadi 52 juta dolar, dari 27 juta dolar di tahun 2004. Bahkan, perusahaan ini pun memperkuat supply chain-nya dengan membangun fasilitas gudang seluas 210.000 kaki persegi di Salt Lake City, setengah jam perjalanan dari kantor pusatnya.

Dibandingkan peritel brick-and-mortar, seperti Cabela’s Inc dan Recreational Equipment Inc. yang rata-rata membukukan sales di atas 1 miliar dolar tahun lalu, Backcountry.com yang setia pada jalur online memang terbilang kerdil. Namun dengan penerapan strategi TI yang tepat, Backcountry.com mampu bertahan dalam persaingan ini. Dalam hal ini, opens source menjadi kuncinya.

Seperti dikatakan Eric von Hippel seorang pakar entrepreneurship dari MIT Sloan School of Management, open source adalah cara terbaik bagi sebuah perusahaan kecil yang berambisi membangun platform TI canggih, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifiknya, dan meraih keunggulan kompetitif dari situ. Dan semua itu diperoleh dengan biaya murah ketimbang sistem proprietary.

Pencapaian Backcountry.com ini bukannya tanpa konsekuensi. Membangun peranti lunak secara in-house memang lebih murah ketimbang membeli lisensi peranti lunak proprietary. Tapi, konsekuensinya mereka harus mengelola sebuah tim besar in-house developer.

Ketika tahun lalu perusahaan ini melipatgandakan karyawannya dari 130 menjadi 260, sekitar 10 persennya adalah para developer open source yang didedikasikan khusus untuk in-house programming. Sebuah langkah yang rata-rata enggan dipraktikkan sebagian besar perusahaan, apalagi ketika pilihan outsourcing atau model hosted software begitu banyak.

Jenkins mengakui, dalam hal ini, pihaknya memang tidak memiliki pilihan. Ia pun tidak pernah membayangkan bakal memiliki banyak developer, pun tak berniat menjadikan perusahaan ini sebagai perusahaan teknologi. ”Kami tak punya pilihan lain. Sejujurnya kami tidak akan mengembangkan in-house software kalau saja ada pihak yang menawarkan solusi yang sesuai kebutuhan kami, namun tetap cost effective,” ujarnya.

Akhirnya open source pun menjadi jalan keluarnya, dan dengan open source pula Backcountry.com dapat bergerak lincah, dimana sistem TI-nya dapat beradaptasi dengan kebutuhan bisnis yang terus berubah.••• aa

back to top