Volume III No 28 - Juli 2005
 

 

Grid Computing
Grid Merambah Enterprise

 

Kalangan perusahaan mulai banyak mempertimbangkan penerapan grid computing. Apa saja kemudahannya dan apa pula hambatannya?

Belum lama ini terbetik kabar bahwa Enterprise Grid Alliance (EGA) mengeluarkan Reference Model penerapan grid computing di enterprise. Referensi ini meletakkan dasar-dasar bagi solusi terstandarisasi, yang memungkinkan perusahaan mengambil banyak manfaat dari grid computing .

Grid computing merupakan teknologi infrastruktur yang memungkinkan penyatuan berbagai sumberdaya TI ke dalam satu set layanan yang dapat digunakan bersama (shared services). Infrastruktur berbasis teknologi ini secara kontinu menganalisis kebutuhan sumberdaya dan menyesuaikan pasokannya sesuai kebutuhan.

Referensi setebal 70 halaman yang dirilis Mei lalu ini menguraikan sejumlah persyaratan untuk mempercepat pengadopsian grid computing di enterprise, serta menyoroti dan mengulas sejumlah masalah teknis, mulai dari pengelolaan dan lifecycle komponen-komponen grid computing hingga contoh penerapannya.

Paul Strong, chairman EGA technical steering committee , yang juga seorang system architect di Sun Microsystems, mengatakan bahwa pihaknya selama ini berupaya untuk mendorong konsensus mengenai pondasi enterprise grid computing .

“Reference Model ini merupakan langkah penting mencapai kesepakatan mengenai penerapan enterprise grid dan menciptakan terminologi bersama untuk mendiskusikan infrastruktur dan proses manajemen berbasis grid,” ujar Strong.

Asia Pasifik Siap Terapkan Grid Computing

Dari hasil riset Oracle Grid Index terungkap bahwa kawasan Asia Pasifik menunjukkan rating yang tinggi dalam kesiapan mengadopsi Grid Computing.

Riset yang dilakukan Oracle bersama Quocirca ini memetakan kesiapan perusahaan-perusahaan dunia untuk mengadopsi Grid computing . Tingkat kesiapannya ditunjukkan dalam indikator-indikator khusus, yakni: return-on investment (ROI), tingkat komitmen terhadap Grid, pemahaman tentang manfaat Grid, tingkat pengetahuan mengenai Grid, tingkat konsolidasi dan standarisasi infrastruktur TI-nya.

Survei dilakukan terhadap 1.356 organisasi di 19 negara tersebar di Amerika Utara, Eropa dan Asia Pasifik. Skor Oracle Grid Index secara keseluruhan adalah 4,41. Untuk Asia Pasifik sendiri adalah 4,37, sementara untuk Amerika Utara 4,50 dan Eropa 4,39. Angka ini memberikan kesan bahwa perjalanan menuju Grid masih terus berlangsung, namun jauh dari tujuan.

Meskipun indeks untuk Asia Pasifik masih di belakang Eropa dan Amerika Utara, Asia Pasifik unggul dalam indeks standarisasi dan konsolidasi, yang merupakan building block dalam membangun infrastruktur Grid.

Indeks Standarisasi kawasan Asia Pasifik adalah 7,0, lebih tinggi dari Amerika Utara (5,6) atau Eropa (5,9). Sementara, untuk indeks Konsolidasi, Asia Pasifik mendapatkan skor 5,9, lebih tinggi dari Eropa (5,3) dan Amerika Utara (5,0). Ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di kawasan ini memiliki infrastruktur IT yang dibutuhkan untuk mulai beralih ke Grid Computing.

Selain itu, kawasan Asia Pasifik juga memiliki tingkat pemahaman yang tinggi terhadap manfaat teknologi Grid, yang ditunjukkan dengan skor indeks 5,2, diatas Eropa (4,6) serta Amerika Utara (4,9).

Selain apresiasi yang tinggi, kawasan ini juga memiliki posisi yang baik untuk melompat mendahului negara-negara lain di kawasan lainnya, untuk menjadi pemimpin di antara para pesaingnya di barat dalam hal ketersediaan infrastruktur ( building blocks ) yang dibutuhkan.

Derek Williams, Executive Vice President Oracle untuk Asia Pacific Division menegaskan bahwa hasil riset ini sangat penting. “Oracle memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan kepada para penggunanya apa yang dapat Grid Computing tawarkan. Kami komit untuk mengurangi hambatan-hambatan pengadopsian dan menunjukkan contoh nyata bagaimana perusahaan dapat mengambil manfaat dari Grid Computing,” tambah Williams. aa

Sementara itu, pada bulan yang sama, suatu konsorsium yang beranggotakan kalangan periset grid computing dan vendor TI bernama Globus Alliance merilis development tools Globus Toolkit 4.0. Piranti ini memungkinkan perusahaan mengembangkan aplikasi, yang dapat berjalan di beberapa komputer yang terpisah.

Apa yang dilakukan kedua organisasi ini menunjukkan semakin gencarnya upaya untuk lebih mendorong penerapan grid computing di ranah enterprise. Sebelumnya, memang lebih dikenal di kalangan akademis dan ilmuwan, dimana aplikasi grid sudah digunakan selama bertahun-tahun.

Selama itu pula, sebagian besar masih menganggap grid computing sebagai suatu aplikasi yang lebih condong untuk kepentingan ilmiah. Anggapan itu mungkin tidak sepenuhnya salah, karena ekspose terbesar memang lebih banyak pada inisiatif atau proyek-proyek sains, mulai dari riset genetika, fisika dan mungkin yang paling glamour adalah proyek mencari kehidupan di luar bumi, yang dikenal dengan proyek SETI ( Search for Extra Terrestrial Intelligence ).

Persepsi inilah yang menjadi hambatan besar diterimanya gagasan grid computing di kalangan bisnis. Padahal, ia berpotensi sanghat mempengaruhi kepentingan bisnis, misalnya mengatasi permasalahan operasional sehari-hari yang dihadapi departemen TI perusahaan. Mulai dari system maintenance , penambahan dan pengurangan aset TI, memaksimalkan penggunaan perangkat keras, sehingga anggaran yang tersedia bisa dialokasikan ke hal lain, sampai menjaga pengguna agar tetap senang. Dari konteks kepentingan bisnis inilah orang mulai mengenal Enterprise grid .

Enterprise grid merupakan tahap lanjut dalam evolusi arsitektur computing . Kalau Anda mengenal konsep seperti virtualisasi server dan clustering , dan menambah sejumlah otomatisasi sehingga physical server bisa dialokasikan ke atau dicabut dari beban kerja berbeda tanpa atau dengan intervensi manual minimal, maka kita akan mendapatkan dimensi processing power dari enterprise grid . Apabila Anda menerapkan otomatisasi yang sama untuk storage dan database , maka Anda mendapatkan dimensi data dari enterprise grid . Dengan pengalokasian perangkat keras maupun lunak, yang dilakukan secara otomatis maupun semi-otomatis, berdasarkan perubahan kebutuhan, setidaknya Anda tidak perlu bersusah payah mengeset kembali server dan aplikasi Anda.

Kapabilitas semacam ini memungkinkan layanan yang lebih responsif kepada pengguna, sambil mengeliminir kesulitan, overhead cost pengoperasian TI-nya. Jika Anda bisa memindahkan server-server kecil dalam jumlah banyak dengan cepat ke tempat yang dibutuhkan, Anda tidak perlu lagi membesarkan server-server tertentu hanya untuk mengatasi lonjakan beban kerja. Contoh sederhana, jika satu aplikasi tengah mengalami “beban puncak”, sementara aplikasi lain mengganggur dan sebaliknya, sistem enterprise grid cukup memindahkan sumberdaya yang dimiliki kedua aplikasi itu sesuai kebutuhan.

Secara teoritis, apa yang bisa diberikan grid computing untuk kepentingan bisnis memang cukup menjanjikan. Dan, untungnya, persepsi kalangan bisnis terhadap grid computing pun mulai berubah.

Langkah menuju grid computing

Ada tiga langkah yang perlu diperhatikan ketika akan mengubah arsitektur TI-nya ke grid computing :

•  Konsolidasi perangkat keras, aplikasi dan informasi yang di- share di satu atau lebih data center.

•  Standarisasi server, storage dan sistem operasi; menggunakan layanan infrastruktur bersama seperti provisioning dan identity management ; standarisasi layanan aplikasi, misalnya Web services; standarisasi sumber informasi dan metadata

•  Otomasi, dalam hal penyediaan dan pengalokasian sumberdaya TI secara otomatis.

(sumber: Oracle)

Elemen-elemen Teknologi Grid Computing

Ada sejumlah teknologi utama yang membentuk arsitektur grid computing , yakni:

•  Blades – Sistem komputasi yang meliputi prosesor dan memori dalam satu board tunggal, namun sumber lain, seperti tenaga, sistem pendingin, akses jaringan dan storage semuanya di- shared . Blades dirancang untuk dapat dibongkar pasang dengan mudah dan biasanya berbentuk lebih kecil ketimbang rack-optimised server .

•  Clustering – Menghubungkan bersama-sama dua komputer atau lebih sedemikian rupa sehingga nampak sebagai satu sumberdaya computing tunggal. Clustering digunakan untuk pemrosesan paralel, load balancing dan fault tolerance.

•  Provisioning – Penyediaan atau pengalokasian sumberdaya TI yang dibutuhkan

•  Service Oriented Architecture (SOA) –adalah satu set layanan yang bersifat independen, fungsionalitas suatu piranti lunak yang dikemas tersendiri dan dapat diakses melalui sebuah jaringan menggunakan berbagai platform dan execution environment berbeda-beda.

•  Virtualisation – Teknik mengelola dan menampilkan fungsionalitas perangkat storage dan resource lainnya, tanpa memperhatikan tata letak fisik maupun lokasinya.

(sumber: Oracle)

Dari studi bertajuk Oracle Grid Index, yang dilakukan Quocirca dan Oracle untuk mengukur tingkat kesiapan perusahaan-perusahaan dunia dalam menerima grid computing , terungkap bahwa tingkat kesadaran atau awareness perusahaan boleh dibilang cukup tinggi. Secara global, tingkat kesadaran itu digambarkan dengan indeks skor 5,6 pada skala 0 sampai 10, dimana O menunjukkan “sama sekali tak kenal” dan 10 menunjukkan “cukup faham.”

Yang paling menggembirakan, wilayah Asia Pasifik termasuk wilayah yang paling siap untuk berpacu dalam penggelaran grid computing . Wilayah ini memiliki indeks standarisasi dan konsolidasi yang tinggi, dimana kedua faktor itu merupakan prasyarat untuk membangun lingkungan TI berbasis grid (lihat boks, “Asia Pasifik Siap Terapkan Grid Computing.”)

Dari studi itu pun terungkap tingginya minat berbagai perusahaan untuk segera menerapkan grid computing , setidaknya dalam 12 bulan mendatang. Sebagian besar perusahaan yang disurvei memperlihatkan minatnya untuk menerapkan grid computing untuk aplikasi-aplikasi yang penting, seperti ERP, CRM dan SCM.

Namun, indikator-indikator ini bukan berarti grid computing siap tinggal landas. Melainkan, masih banyak kendala yang menjadi penghambat investasi dalam teknologi grid computing , mulai solusi grid yang dianggap belum matang sampai kurangnya sumberdaya manusia yang kompeten untuk menanganya.

Sementara itu, di kalangan knowledge leaders perusahaan, yang diharapkan menjadi penggerak inisiatif grid computing di perusahaan, juga merasa kesulitan untuk membangun business case yang solid untuk menjastifikasi penerapannya di perusahaan.

Belum lagi masalah hambatan kultural, seperti keengganan berbagi sumber daya TI di antara departemen di dalam perusahaan. Tidak seperti kalangan akademisi, berbagai divisi di perusahaan besar memang tidak terbiasa berbagi sumberdaya perangkat keras maupun data dengan divisi-divisi lainnya.

Walhasil, seperti diwanti-wantikan Wolfgang Gentzsch, yang dulu pernah memimpin pengembangan solusi grid di Sun Microsystem, bahwa grid computing tidaklah semata terkait dengan teknologi, melainkan juga perubahan budaya. “Dan itulah yang terberat,” ujarnya. aa

foto: ade grafis: gunawan

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.