Di masa datang, perusahaan-perusahaan modern semakin menghadapi tantangan sulit. Era perdagangan bebas, persaingan yang ketat, marjin yang tipis, dan konsumen yang semakin “peka” terhadap mutu produk dan layanan, menuntut bisnis untuk memiliki kelincahan, kemampuan menangani peluang bisnis baru, mengembangkan dan meluncurkan produk dan ide-ide baru, dan pola interaksi baru yang cepat. Teknologi informasi, baik infrastruktur maupun aplikasi, sudah lama dimanfaatkan untuk mencapai tuntutan itu.
Namun, yang cukup mengejutkan adalah peringatan yang dilontarkan Gene Phifer, vice president dan seorang analis handal Gartner Inc. Menurut Phifer, sebagian besar infrastruktur perusahaan saat ini tak sanggup menangani tuntutan bisnis di masa datang.
“Bahkan, seringkali TI menjadi halangan kelincahan bisnis ( business agility ). Sistem dan infrastruktur TI-nya sangat tidak fleksibel, dan membutuhkan waktu lama bagi perusahaan untuk menggelar kanal, produk dan strategi-strategi baru,” ungkapnya.
Menurut dia, kondisi itu harus diubah. Pendekatan arsitektur infrastruktur dan aplikasi, dan cara menggelar teknologi untuk menangkap peluang bisnis baru harus diubah. Hal itu membutuhkan tingkat operabilitas dan kapabilitas baru untuk pengintegrasian dan pengadopsian service oriented architectures, utamanya guna membangun dan merancang solusi sistem yang lincah. “Suatu layanan harus bisa di- assemble dan reassemble sesuai kebutuhan guna memenuhi tujuan bisnis atau peluang bisnis,” tegasnya.
Tetapi, bukan berarti infrastruktur lama disingkirkan. Menurut Phifer, investasi teknologi yang sudah dibuat harus dipertahankan, sementara infrastrukturnya harus fokus pada kapabilitas berorientasi layanan. “TI akan memanfaatkan web services sebagai salah satu cara meningkatkan operabilitasnya, dan memperpanjang penggunaan aplikasi-aplikasi yang lama, cukup dengan menambahkan fleksibilitasnya,” ujar Phifer.
Mengisi gap
Kendala klasik yang dihadapi perusahaan ketika menggelar infrastruktur dan solusi TI adalah anggaran. Diakui Phifer, dua tahun belakangan ini bukanlah tahun yang “mengenakkan” dalam hal belanja teknologi, paling tidak dari sudut pandang vendor. Namun, Phifer melihat tahun 2005 sebagai tahun perubahan, dimana perusahaan-perusahaan akan meningkatkan investasinya, tidak hanya untuk perawatan, tetapi juga kapabilitas, teknologi dan aplikasi baru. Tapi, anggaran itu harus dimanfaatkan secara cerdik. “Pertama, karena jumlahnya tidak banyak. Kedua, selain bisa memberikan benefit jangka panjang, juga harus bisa memberi value jangka pendek yang terukur,” ujarnya.
Dia menyarankan agar perusahaan fokus ke jenis kapabilitas aplikasi tertentu, yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan bisnis. Dari perspektif infrastruktur, perlu dilihat bagaimana perusahaan bisa menjadi lebih lincah, misalnya berorientasi layanan, yang bergantung pada web services . Phifer menyarankan agar investasi dimanfaatkan untuk membangun aplikasi-aplikasi komposit ( composite application ), sehingga aplikasi yang sudah ada dan logika bisnis baru bisa dibangun kembali dengan cara baru dan kreatif, guna memberikan business value yang dapat segera diwujudkan.
Mengenai waktu pengembalian investasi, Phifer mengingatkan bahwa tuntutannya sekarang ini bukanlah investasi yang hasilnya baru bisa dilihat 5 tahun dari sekarang, melainkan 12 sampai 18 bulan yang akan datang. “Aplikasi yang memenuhi kriteria itu disebut sebagai aplikasi-aplikasi gap atau gap apps . Gap apps itu berada di antara aplikasi-aplikasi tradisional seperti ERP, CRM, SCM atau partner relationship management , termasuk pula aplikasi lama buatan sendiri,” jelas Phifer.
Gap apps ini menjadi sumber investasi terbesar pada tahun 2004, begitu juga 2005 dan 2006. “Disinilah aplikasi-aplikasi komposit berperan, karena dalam banyak kasus, ia menjadi gap apps . Sifatnya bisa horizontal, misalnya manajemen proyek atau kepegawaian. Juga vertikal, misalnya retail support .”
Business driven
Pemanfaatan TI dalam bentuk penerapan aplikasi bisnis sudah cukup lama diterapkan perusahaan. Namun, sistem dan infrastruktur TI yang ada tidak fleksibel dalam menghadapi tuntutan perubahan bisnis. Tak jarang, suatu aplikasi TI diposisikan bak menara gading, tidak in-line dengan bisnis yang dinaunginya, dan jika perlu bisnislah yang harus menyesuaikan diri.
“Aplikasi harus selalu digerakkan oleh bisnis,” tegas Phifer. “Sayangnya, secara historis, banyak aplikasi yang didorong oleh TI. Seringkali, aplikasi-aplikasi itu gagal atau hanya berhasil sebagian. Suatu aplikasi harus dimiliki dan didorong oleh bisnis.”
Menurut dia, tren ini cukup terlihat selama beberapa tahun terakhir, sementara TI harus berjuang menyelaraskan dirinya dengan bisnis. Dalam beberapa kasus, TI dianggap sebagai enabler untuk aplikasi-aplikasi jenis ini. Di kasus lain, TI dipandang sebagai penghambat ( inhibitor ). “Dalam konteks kelincahan, bisnis perlu lincah dan memerlukan TI yang lincah juga agar bisa memberikan solusi teknologi yang tepat untuk mendukung bisnis,” tukas Phifer.
Selain itu, Phifer juga mengungkapkan perkembangan menarik, mengenai pergeseran peran pelaku bisnis maupun software developer dalam mengembangkan aplikasi bisnis. Para analis bisnis secara aktif terlibat dalam pengembangan aplikasi komposit dan proses baru. “ Para analis bisnis akan menjadi bagian dari proses, duduk bersama dalam membuat business requirement . Di sini, kita melihat peran analis bisnis yang berbeda,” ujar Phifer. Bahkan, dengan maraknya arsitektur service oriented dan web service , ditambah development tool yang terus berkembang, para analis bisa membangun sendiri proses baru dan melakukan proses reengineering tanpa meminta bantuan seorang pengembang.
Tetapi, para pengembang tetap berperan penting. Karena, merekalah yang membuat komponen dan layanan inti dari aplikasi dan sistem lini bisnisnya. Namun, perakitan berbagai aplikasi itu akan didorong oleh para analis bisnis.
“Ini perubahan besar dalam cara kita menangani bisnis, dan saya pikir perubahan ini akan disambut hangat. Namun, sebagian departemen TI akan melihatnya sebagai ancaman. Karena, itu merupakan suatu pendekatan yang sangat berbeda dalam membangun dan menggelar proses dan aplikasi bisnis, baik perubahan bisnis maupun TI harus ditangani secara hati-hati,” tutur Phifer panjang lebar.
Pergeseran peran itu, menurut dia, menyebabkan perubahan kebutuhan keahlian TI di masa depan. Para analis bisnis memiliki tanggung jawab lebih besar untuk membangun proses dan aplikasi. TI akan memokuskan waktu dan energinya untuk membangun susunan transaksi dan layanan, yang kemudian bisa dimasukkan ke dalam proses inti bisnisnya. Para pengembang akan membangun proses itu menggunakan teknologi BPM ( business process management ), dan kemudian akan diberikan ke analis bisnis untuk diperluas dan di- reengineer , selain juga membuat yang baru.
Di masa depan, ketrampilam pemrograman Java, C++ dan C# masih dibutuhkan. Namun, satu hal baru yang mungkin berbeda adalah service orientation . “Para pengembang TI perlu mempelajari konsep orientasi layanan, dan memastikan metodologinya dan menyertakan desain dan pengembangan aplikasi berorientasi layanan. Mereka juga akan mempelajari BPM, dan belajar lebih banyak mengenai aspek bisnisnya, karena mereka membantu para analis bisnis membangun proses-proses bisnis yang penting,” tuturnya.
Peran teknologi berbasis web
Ke depan, Phifer juga melihat semakin pentingnya peran teknologi berbasis web. Web telah menjadi user interface atau UI paling dominan selama beberapa tahun belakangan. Portal enterprise berbasis web menjadi cara umum dalam sharing konten, informasi dan menjadi front-end aplikasi. Para vendor software aplikasi pun me- web-enabled -kan teknologinya, dan membangun versi portal enabled dari aplikasi-aplikasinya. Saat ini, portal menjadi teknologi web terdepan untuk menyediakan akses ke konten dan aplikasi, serta proses bisnis dan human resources .
Namun, evolusi web seperti itu belum seluruhnya. Web service – kemampuan memberikan fungsionalitas aplikasi yang dikemas dalam satu standar layanan yang bisa diakses dari berbagai tempat – adalah tren besar berikutnya. Aplikasi-aplikasi tidak perlu lagi berjalan di atas infrastruktur yang sama. Para pengembang tidak direpotkan membuat application programming interface (API) untuk bisa mengakses suatu aplikasi. Standar-standar seperti SOAP, UDDI dan WSDL digunakan untuk menentukan titik-titik temu di antara berbagai layanan. Web service bisa digunakan web server, portal, rich client maupun mobile client , dan bisa disediakan dari berbagai jenis platform .
Sayang, aplikasi web service belum matang. Sekalipun konsep service orientation sudah ada sejak pertengahan 90-an, implementasinya belum terlalu bagus. Menurut dia, kini saatnya layanan itu diwujudkan. Pasalnya, setiap vendor kini telah mengadopsi pendekatan dan mengacu pada standar web service .
“Seluruh vendor berbicara dengan bahasa yang sama mengenai pendekatan web service dalam penyediaan fungsionalitas aplikasi, baik dari perspektif aplikasi maupun infrastruktur. Web service akan menjadi wilayah pertumbuhan dan investasi yang besar, dan mungkin akan menjadi sasaran investasi terpenting dalam beberapa tahun mendatang,” jelas Phifer.
Agility akan diberikan melalui penggunaan aplikasi-aplikasi berorientasi layanan, web service, dan aplikasi-aplikasi komposit. Pendekatan berorientasi layanan ini diperlukan guna memfasilitasi interoperabilitas dan memenuhi kebutuhan bisnis baru.
Sementara itu, Phifer juga menjelaskan bahwa self-service , sebagai bagian dari penggelaran enterprise portal, sangat berdampak di banyak perusahaan. Tempat dijumpainya proses paper-based atau people based , dimana seseorang berinteraksi dengan orang lain untuk melakukan transaksi, ada peluang untuk menerapkan self-service . Hal itu berlaku ketika orang pertama harus mengisi formulir (baik online maupun paper-based) , kemudian informasi itu diberikan ke orang kedua, yang kemudian memindahkannya ke sistem. Dari sisi bisnis, dampak self-service dapat mengurangi kebutuhan staf back-office . Waktu mereka sebagian besar dihabiskan untuk mengolah formulir dan memindahkannya ke sistem, atau mengolah formulir online dan memindahkannya ke sistem lain. Ketika self-service diterapkan secara efektif, staf back office tidak perlu melakukan proses transkrip.
Namun, ada situasi dimana self-service tidak dianjurkan. Misalnya, ketika pelanggan membutuhkan komunikasi personal dan satu-satu. Contohnya call center , dimana interaksi manusia terkadang masih perlu dipertahankan. Phifer menyarankan agar self-service hanya digelar sebagai suatu saluran alternatif, tidak harus menjadi pengganti dari saluran interaksi yang ada. “Jadi, seimbangkan saluran self-service dengan saluran tradisional yang ada, dan pindahkan sebanyak mungkin transaksi dari jalur termahal ke jalur termurah,” sarannya.
Return on Investment
Pengukuran business value selama ini menjadi tantangan bagi para CIO sejak teknologi pertama kali digelar. Karena tekanan anggaran dan kondisi ekonomi belakangan ini, tuntutan untuk memberi business case yang solid, nilai yang jelas, dan return on investment (ROI) yang terukur, semakin tinggi. CIO bertanggung jawab jika ROI yang sudah diproyeksikan tidak terwujud. Untuk membangun business case dengan ROI yang pragmatis, terukur dan bisa diwujudkan, menurut Phifer ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
Pertama , seperti disebutkan di atas, dampak self-service bisa jadi substansial. Solusi yang mengeliminir sekian orang di back office bisa dihitung dengan uang - manfaat terukur yang bisa diwujudkan dalam pengelolaan perusahaan Anda.
Kedua , dampak sasaran aplikasi, misalnya otomatisasi tenaga penjualan. Kini Anda bisa melihat tak hanya produktivitas para tenaga penjual, melainkan juga meningkatnya jumlah panggilan telepon, interaksi dengan klien dan peningkatan penjualan.
Ketiga , Anda harus menempatkan proyek potensial ini sangat berorientasi bisnis agar bisa memilih prioritas proyek potensial lainnya, mengukur dan mewujudkan nilai aplikasi yang sesungguhnya. “Estimasi dampak penerapan portal, content tool atau aplikasi tertentu terhadap proses. Kemudian, setelah Anda menerapkan teknologi itu, ukur hasilnya. Perhatikan, apakah Anda bisa benar-benar mewujudkan dampak itu dalam hal orang, uang, revenue atau market share . Tempatkan dalam konteks bisnis. Jika tidak, Anda tidak bisa memahami nilai sesungguhnya dari penerapan solusi dan teknologi itu,” jelas Phifer.
Terakhir, lebih baik mencari lebih banyak kemenangan kecil. Perusahaan tidak bisa lagi berhadapan dengan proyek tahunan. Perusahaan mencari hasil yang lebih cepat, ROI yang lebih cepat dan banyak kemenangan kecil ketimbang satu kemenangan besar. Singkatnya, “for anything you do from an IT perspective, make sure it is done in support of specific business goals and objectives,” tutup Phifer. gartner/broadvision/aa
Foto: istimewa
|