B R O A D B A N D
Tahun 2005 tampaknya akan menjadi era broadband, era yang akan menandai berakhirnya periode awal Internet (dial-up), yang berkembang sejak 20 tahun lalu. Ke depan, akses Internet akan semakin banyak menggunakan broadband, sehingga tahun 2005 dianggap sebagai titik balik perkembangan Internet dunia dengan digunakannya secara luas akses Internet broadband.
Berbeda dengan era sebelumnya, dimana akses Internet, bukan saja tak cepat, kapasitasnya juga relatif kecil, sehingga berbagai konten yang berkembang juga masih terbatas. Namun, dalam era broadband, yang justru akan banyak berkembang adalah aplikasi-aplikasi baru yang membutuhkan bandwidth yang besar (new bandwidth-intensive applications), seperti video dan music-on-demand, multi-player online games, voice dan video communications, serta online shopping and learning . Layanan-layanan yang sebelumnya sulit berkembang, diperkirakan akan mendapatkan momentum baru perkembangannya ke depan.
Tetapi, di sisi lain, para ahli memperkirakan era tersebut tak akan berlangsung lama, paling-paling sekitar 5 tahun dan kemudian akan tergantikan dengan era yang lebih baru, yang disebut BOD (bandwidth-on-demand). Pada era baru itu, kebutuhan bandwidth akan semakin mudah didapat dan berkapsitas jauh lebih besar. Ibarat air, bandwidth nantinya akan mengalir seperti air yang keluar dari kran air. Tersedia kapan dibutuhkan dan biaya sesuai dengan besarnya kapasitas yang digunakan.
Dengan begitu, semakin banyak konten yang akan berkembang dan, pada saat yang sama, akan memicu ledakan informasi, kreasi dan berbagai inisiatif baru, dari konten pengetahuan, bisnis hingga hiburan.
Perkembangan broadband, boleh dikata, berjalan sangat cepat. Jumlah pelanggannya di seluruh dunia meningkat tajam, dari hanya sekitar 100 juta akhir 2003, pertengahan 2004 telah mencapai 123 juta dan akhir 2004 mencapai 145 juta. Kemudian, pada tahun 2008, sebagaimana diprediksi Yankee Group, jumlah akan meningkat hingga sekitar 325 juta pelanggan.
Namun, dari sisi teknologi, perkembangannya akan berjalan tanpa terjebak dalam mempertentangkan antara DSL vs cable modems atau fixed-line vs wireless . Meski, perkembangan nirkabel menuju layanan 3G atau 4G, juga tak kalah seru. Ke depan, pilihan yang tersedia sangat banyak, mulai dari sambungan kabel hingga nirkabel, mulai dari ADSL, ADSL2+, VDSL, VDSL2, Ethernet, hingga Wi-Fi, 802.16 (WiMAX), dan FTTH atau FTTB. Nantinya, juga akan berkembang ke MBWA. Selain WiMAX, masih ada jalur lainnya, yang akan menjadi pesaingnya, yakni Flash-OFDM.
Di sisi lain, harus diakui bahwa kehadiran teknologi ADSL menjadi berkah bagi incumbent, karena dengan mengandalkan jaringan kabel yang dimiliki, mereka mendapat peluang baru untuk meraih kurva baru pertumbuhan bisnisnya dengan meningkatkan kapasitasnya menuju broadband, juga tambahan investasi. Namun, peningkatan akan berjalan lebih cepat dan akan terus meningkat.
Melihat perkembangan seperti itu, layaklah majalah eBizzAsia yang ada di tangan Anda para pembaca, mengupas masalah tersebut dalam “The Headline” edisi ini.
Ke depan, broadband diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang signifikan, karena semakin luas digunakan, baik oleh pengguna pribadi, kalangan pemerintahan maupun bisnis di seluruh dunia.
Ada banyak teknologi yang dapat digunakan untuk membangun layanan broadband atau value-added broadband . Perlu kejelian tersendiri dalam memenentukan pilihan dan menerapkannya.
Broadband diperkirakan akan terus berkembang, namun ketersediaan infrastruktur harus dibarengi dengan pengembangan jenis layanan dan konten.
Saat ini, broadband bukan saja menjadi perbincangan luas, melainkan juga telah diterapkan dan digunakan oleh puluhan bahkan ratusan juta orang di seluruh dunia. Ratusan negara di dunia berlomba-lomba mengembangkan jaringan broadband, baik melalui kabel maupun nirkabel, yang dari waktu ke waktu kapasitasnya terus meningkat. Kemampuan yang meningkat itu, pada saat yang sama, memungkinkan broadband digunakan tidak hanya untuk komunikasi suara, melainkan juga data dan video secara lebih baik. Akibatnya, jenis penggunaannya pun semakin bervariasi, yang kemudian juga membuka peluang baru pengembangan berbagai konten secara luas.
Online game berhasil memicu bisnis bernilai miliaran dolar. Bagaimana keberhasilan itu juga akan mendorong konten-konten lainnya?
Dampak teknologi kadang tak terduga, bahkan, boleh dibilang, cenderung absurd, seperti dijumpai pada layanan broadband di Korea Selatan.
Pelanggan Internet broadband di Thailand meningkat pesat. Kalau pada 2003 jumlahnya hanya 12,000, maka akhir 2004 jumlah itu membengkak menjadi 250,000 pelanggan. |