Pembaca yang budiman, kemampuan mentransfer data dan informasi dalam jumlah besar dan berkecepatan tinggi, kini bukan lagi hayalan. Selain hal itu sudah menjadi kenyataan, media dan cara mengomunikasikannya pun beragam, dari yang menggunakan komputer, laptop, ponsel, hingga televisi dan berbagai perangkat personal lainnya. Begitu juga jaringannya, dari yang mengandalkan kabel tembaga, serat optik, yang bersifat tetap, hingga yang bersifat bergerak menggunakan teknologi nirkabel tetap (fixed-wireless), bergerak tetap (fixed cellular) atau sepenuhnya bergerak (cellular).
Teknologinya pun terus berkembang, dimana persoalannya tak hanya bagaimana menyediakan komunikasi suara atau data saja, melainkan bagaimana suara, data dan gambar atau video dapat dikomunikasikan dengan menggunakan, misalnya kabel yang sama, atau menggunakan teknologi nirkabel atau seluler dengan medium udara dan berbasis Internet Protocol (IP).
Ke depan, selain kapasitas dan kecepatan hantarannya jauh lebih besar, misalnya kalau Internet dial-up hanya menghantarkan pada kecepatan 40-50 Kbps, maka sekarang ini akan masuk minimal di kecepatan 512 Kbps. Nantinya, hal itu akan terus bergerak bukan saja dalam hitungan kilobits, melainkan Megabits, bahkan, Gigabits. Saat ini kecepatan 512 Kbps sudah tersedia, dan untuk kasus-kasus tertentu, yang berkapasitas Mbps juga sudah tersedia. Namun, secara umum, ya yang 384 Kbps dan 512 Kbps, yang dikategorikan sebagai broadband .
Saat ini, di mana-mana orang banyak membicarakan mengenai broadband, yang meski secara teknologi bukanlah sesuatu yang baru, tetapi dari segi layanan yang berbasis kapasitas besar, broadband baru mulai sekarang ini. Kapasitas pita lebar dan kecepatan yang tinggi, di Hong-Kong misalnya, kapasitas minimal broadband 1 Mbps, mendorongkan banyak aplikasi atau pemanfaatan yang semakin beragam, mulai dari video on-demand , pay TV interaktif, video conference dan lain sebagainya.
Broadband bukan saja akan memberikan layanan yang lebih “powerful” kepada para pengguna, atau pelanggan Internet misalnya, melainkan juga akan mengubah peta industri telekomunuikasi dunia, yang selama ini hanya berbasiskan pada layanan telepon. Ke depan, mereka tak lagi mampu bertahan di layanan telepon saja, melainkan harus masuk ke layanan Infokom, termasuk multimedia di dalamnya, yang didentifikasi sebagai 3G, 4G dan berbagai G lainnya. Dan broadband akan menjadi andalan utama.
Namun, yang pasti, jaringan pita lebar alias broadband ini akan menjadi jalan raya informasi yang luar biasa potensialnya untuk pengembangan berbagai aplikasi dan konten elektronik atau digital. Ibarat jalan raya, broadband merupakan jalan raya bebas hambatan. Namun, bagi Indonesia, yang menjadi hambatan pengembangannya adalah, kalau jalan raya yang lebar, yang memungkinkan kendaraan berjalan dengan cepat, apapun jenisnya, justru tak dapat dimanfaatkan secara optimal, karena kita tak memiliki kendaraan yang sesuai untuk melintasi jalan raya tersebut.
Karenanyalah, liputan utama - “The Headline” eBizzAsia edisi ini mencoba menyoroti perkembangan broadband ini, baik dalam konteks Indonesia maupun terutama pacuan-pacuan yang terjadi di banyak negara di dunia, termasuk yang dianggap sebagai “ground zero”, Korea Selatan. Selamat membaca!
Tharsikin Insa
Editor-in-Chief |