Infokom merupakan perpaduan dari informasi dan komunikasi. Bisnis dasar Telco adalah komunikasi (akses). Namun, bisnis akses atau komunikasi segera menjadi komoditas dan nilai terus ditekan semakin murah, seperti yang kita saksikan pada bisnis komunikasi suara VoIP, yang terus berkembang dengan tarif flat tidak mengenal batas geografis untuk komunikasi SLJJ maupun SLI.
Munculnya teknologi IP yang lebih terbuka, mudah, murah, dan tersedia luas, memberi dampak dekonstruksi terhadap bisnis telekomunikasi. Bisnis komunikasi akan tidak lagi mengenal jarak dan tarif yang terus makin murah, sehingga mengancam bisnis incumbent
Era infokom mengindikasikan bahwa kemampuan penyediaan layanan secara bundling antara akses dan konten menghasilkan Nilai Informasi (Value of Information) yang sesuai dengan karakter komunitas pasarnya, sehingga akan memberi model bisnis yang menjanjikan. Selanjutnya, tumbuhnya konten yang menarik semakin membutuhkan akses broadband untuk mendukung aplikasi dan konten yang semakin kaya. Pelanggan perlu dilayani bukan sekedar dengan bandwidth yang lebih lebar, tetapi kelak juga kualitas yang sesuai tuntutan layanan dan fleksibilitas untuk berinteraksi.
Tren memperlihatkan bahwa nilai informasi (akses dan konten) terus meningkat sejalan dengan nilai manfaat informasi bagi komunitas penggunanya. Misalnya saja transfer antar bank, transaksi kartu kredit, pembayaran billing telepon, listrik, pembayaran tiket, pembayaran konten infotainment sebagai konten premium, dan lain sebagainya, yang semuanya memperlihatkan nilai fee transaksi yang menjanjikan ketimbang biaya aksesnya.
Perusahan telekomunikasi (Telco) incumbent lahir sebagai perusahaan fixed-line , dan salah satu kekuatan utamanya ada pada jaringan last mile . Pembukaan monopoli incumbent , biasanya dikompensaikan dengan lisensi untuk melengkapi portofolio bisnisnya dengan layanan mobile dan layanan aplikasi, serta konten. Untuk menuju ke Customer Centric, maka kekuatan daya saingnya harus dibentuk antara lain dari konvergensi layanan ( service convergence ), yang hadir baik melalui jaringan tetap maupun jaringan bergerak. Saat ini, seluruh dunia menantikan harapan ini pada inisiatif yang disebut Next Generation Network (NGN).
Indra M. Utoyo • Praktisi Telekomunikasi & Infrastruktur
Artikel selengkapnya dapat Anda dapatkan di majalah eBizzAsia volume III nomor 23 Januari 2005. Untuk informasi berlangganan, Anda bisa hubungi Bapak Hamdani / Ibu Lilik di nomor telepon (021) 7193264 / 66 / 69 faks (021) 7193261 |