Volume III No 23 - Januari 2005

Agus Pracoyo

Kilas Balik Keamanan TI Tahun 2004, dan Tantangan Tahun 2005

Satu kasus keamanan sistem informasi yang cukup mencuat di tahun 2004 dan mungkin akan selalu ‘dikenang' bangsa kita adalah, kasus bobolnya situs KPU oleh seorang yang mengaku biasa saja, dan mempergunakan cara yang tidak baru-baru amat. Entah benar atau tidak, pengakuan itu merupakan bahan pelajaran bagi pelaksana TI, dan menguatkan pernyataan yang sering didengar, bahwa cara-cara/teknik-teknik ganguan keamanan dapat dengan mudah dilakukan oleh siapapun dan tidak memerlukan keahlian khusus. Kelanjutan dari pernyataan ini adalah pertanyaan: Bagaimana kalau seandainya dilakukan oleh seseorang yang ahli, sehingga jejaknya sulit atau tidak mungkin dilacak dan gangguannya tidak cepat terdeteksi? Bagaimana kalau si- hacker tidak mengubah nama-nama peserta pemilu, tapi ‘hanya' menambah angka perolehan suara satu peserta pemilu yang diambil dari 1% perolehan suara peserta lainnya, misalnya. Ketidaksadaran akan terjadinya gangguan keamanan oleh pemakai TI merupakan topik pembicaraan utama di tahun 2004 yang ditandai dengan maraknya kasus phishing , spyware dan, tentunya, kasus lama, yaitu Virus/Worm/Trojan yang tetap menduduki top chart.

Bob J. Onggo

Matinya Iklan Baris Online

“Iklan online apa yang dapat membantu menjual?”, demikian salah satu pertanyaan yang diajukan kepada saya di sela-sela satu seminar. Memang banyak taktik iklan internet dari dulu hingga sekarang. Tetapi, tidak semua metoda iklan online dapat menjual. Ada banyak iklan online yang sekadar membangun citra ( branding ) perusahaan saja, namun tidak menjual. Ada juga iklan online yang dapat membantu Anda menjual. Salah satunya adalah iklan frase (Adwords). Tetapi, tolong jangan dikacaukan dengan iklan baris yang dikenal populer dengan istilah online classified ads atau disebut juga dengan istilah Free For All (FFA) links.

Indra M. Utoyo

Bisnis Infokom Menyongsong Next Generation Services

Munculnya teknologi IP yang lebih terbuka, mudah, murah, dan tersedia luas, memberi dampak dekonstruksi terhadap bisnis telekomunikasi. Bisnis komunikasi akan tidak lagi mengenal jarak dan tarif yang terus makin murah, sehingga mengancam bisnis incumbent. Perusahan telekomunikasi (Telco) incumbent lahir sebagai perusahaan fixed-line, dan salah satu kekuatan utamanya ada pada jaringan last mile . Pembukaan monopoli incumbent, biasanya dikompensaikan dengan lisensi untuk melengkapi portofolio bisnisnya dengan layanan mobile dan layanan aplikasi, serta konten. Untuk menuju ke Customer Centric, maka kekuatan daya saingnya harus dibentuk antara lain dari konvergensi layanan ( service convergence ), yang hadir baik melalui jaringan tetap maupun jaringan bergerak. Saat ini, seluruh dunia menantikan harapan ini pada inisiatif yang disebut Next Generation Network (NGN).

R. Gatot Prio Utomo

Membangun Sinergi Positif Antara IT dan Unit Bisnis

Departemen TI seringkali mendapat keluhan yang cukup keras dari unit bisnis berkaitan dengan kinerja layanan yang diberikan oleh departemen TI. Keluhan-keluhan unit bisnis, seperti kinerja sistem yang buruk, respon aplikasi yang lambat, service yang seringkali tidak tersedia saat dibutuhkan, dan lain sebagainya muncul begitu saja. Anda pasti berpikir, apa yang salah? Network sudah menunjukkan kinerja yang baik, tetapi kenapa keluhan keras tetap saja muncul. Masalah seperti itu selalu muncul dalam dinamika hubungan organisasi TI dan unit bisnis di manapun. Penyebabnya adalah, adanya kesenjangan dan perbedaan sudut pandang antara departemen TI dan unit bisnis dalam memandang suatu layanan TI. Bagaimana membangun sinergi antara keduanya?

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.