Cina
Cina Batasi Software Asing
Pemerintah Cina dikabarkan akan mendorong penggunaan piranti lunak lokal. Untuk itu, pemerintah Cina akan mengeluarkan kebijakan agar kantor-kantor milik pemerintah lokal lebih memilih produk piranti lunak buatan dalam negeri, demikian dilaporkan harian The Financial Times.
Rancangan kebijakan yang dikeluarkan akhir tahun lalu secara garis besar berisi peraturan, yang mengharuskan bagian pengadaan di departemen pemerintahan untuk membedakan antara piranti lunak domestic dan non-domestik “yang diutamakan” ( preferred ). Untuk mendapatkan predikat “domestik”, suatu vendor piranti lunak harus membuktikan bahwa paling sedikit 50 persen pengembangan piranti lunaknya dilakukan di Cina. Sementara untuk jasa piranti lunak, paling sedikit 70 persen cost -nya berbasis di Cina, ujar harian tersebut.
Jika suatu departemen akan membeli piranti lunak non-domestik, mereka harus mendapatkan persetujuan khusus terlebih dahulu. Vendor software yang bersangkutan harus merupakan perusahaan-perusahaan internasional yang telah melampaui target dalam jumlah investasi, tenaga kerja, riset maupun pembayaran pajaknya di Cina, kata FT lebih lanjut.
Negeri tirai bambu itu diketahui telah membuat langkah-langkah untuk membatasi pembelian piranti lunak buatan asing. Pada Agustus 2003 lalu, seorang pejabat di Procurement Center di dewan negara Cina, Gao Zhigang, mengatakan bahwa di masa depan pemerintah Cina hanya akan membeli perangkat keras yang sudah terinstal sistem operasi dan piranti lunak aplikasi domestik. Hal ini dilakukan untuk mendukung industri piranti lunak lokal, dan juga melindungi keamanan informasi negara. cn/aa
India
Industri Mobile Games Marak
Setelah unggul dalam pengembangan piranti lunak dan jasa berbasis TI, India kini mulai menggeliat menjadi salah satu kekuatan dalam industri permainan nirkabel ( wireless-game ) dunia.
Menurut laporan In-Stat/MDR, sampai tahun 2009 mendatang, industri wireless-game atau mobile-games India akan terus mengalami booming dan mencapai pendapatan tahunan sebesar 336 juta dolar AS. Angka ini jelas merupakan lompatan besar dibandingkan pendapatan tahun ini yang diestimasikan sebesar 26 juta dolar AS.
Saat ini, pasar bisnis mobile-game India besarnya 5 persen dari pasar game nirkabel global. Namun, menurut laporan In-Stat/MDR, pasar ini akan terus tumbuh pesat. Saat ini tak kurang dari setengah lusin perusahaan pengembang game besar dan empat service provider yang menawarkan game-game ke para pelanggan jaringan CDMA maupun GSM di India. Jumlah transaksinya pun cukup besar, tak kurang dari 220.000 download per bulannya.
“Pertumbuhan pasar sektor ini telah menarik begitu banyak publisher , pengembang, animator , musisi dan para content provider . Juga merangsang pengembangan model bisnis yang inovatif,” jelas Clint Wheelock, direktur wireless research group , In-Stat/MDR.
Lebih lanjut dinyatakan, karena jasa piranti lunak merupakan bisnis yang booming di India, negeri itu saat ini muncul sebagai pasar kunci untuk mobile multimedia , baik bagi para pengembang piranti lunak maupun konsumen.
Saat ini saja tercatat tak kurang dari 43 juta pelanggan ponsel, dan service provider yang menyediakan layanan bernilai tambah ( value-added ) juga cukup banyak. Ponsel kini tak hanya digunakan untuk komunikasi suara saja, tetapi juga mulai berkembang sebagai piranti entertainment .
Optimisme akan perkembangan pasar mobile-games di India juga datang dari kalangan pemain lokal. Seperti dikatakan Anurag Khurana, CEO Paradox Studios , perusahaan pengembang game yang bermarkas di Mumbai, sejalan dengan meluasnya penggunaan ponsel, para pengguna pun kini semakin terbiasa dengan produk-produk maupun layanan mobile . “Dengan kondisi seperti itu, industri mobile-gaming India dengan mudah dapat tumbuh 200 persen setahunnya dalam beberapa tahun mendatang,” ujarnya optimis. cn/aa.
Filipina
Call Center Ciptakan Ratusan Ribu Lapangan Kerja Baru
Kiprah Filipina dalam percaturan industri call center dunia, patut dicermati. Bersama India, negeri tersebut belakangan tumbuh menjadi kekuatan utama industri call center dari wilayah Asia. Selain sebagai penyumbang devisa sektor layanan berbasis TI, industri call center Filipina diharapkan bisa menjadi mesin penyerap tenaga kerja yang cukup besar. Setidaknya, dalam lima tahun ke depan, industri ini diharapkan sanggup menciptakan 250.000 lapangan pekerjaan baru.
Menurut ketua komite senat dalam bidang perdangan dan ekonomi Filipina, senator Manuel Roxas, sampai tahun 2009 mendatang industri call center akan tumbuh 250 persen dalam hal jumlah seat call center, dari sekitar 40.000 seat menjadi 140.000 seat . Saat ini, tak kurang dari 60.000 orang bekerja di perusahaan-perusahaan penyedia jasa call center yang tersebar di Metro Manila, Clark, Cebu, Dumaguete, Baguio dan Davao.
Ia mengatakan bahwa industri call center Filipina sudah cukup matang, sehingga tantangannya bukan lagi menjual kapabilitas orang-orang Filipina ke pihak luar, tapi lebih pada pengembangan infrastrukturnya.
Lebih lanjut, Roxas menjelaskan bahwa pemerintah Filipina saat ini tengah fokus mengembangkan industri call center- nya, berpatokan pada rencana strategis yang menitikberatkan pada lima hal: infrastruktur, pengembangan sumberdaya manusia, kebijakan, insentif keuangan dan pengembangan bisnis.
Dari segi infrastruktur, khususnya komunikasi, Roxas mengklaim sudah bukan masalah lagi, karena bandwidth tersedia melimpah di hampir sebagian besar wilayah negeri itu. Yang menjadi perhatiannya justru nyawa dari industri call center itu sendiri, yaitu sumberdaya manusianya. Sekalipun bahasa Inggris merupakan bahasa kedua di Filipina, Roxas mengakui masih kurangnya calon tenaga kerja baru yang memiliki tingkat kefasihan bahasa Inggris memadai untuk mengisi kebutuhan itu. Menurut perkiraannya, hanya satu dari 10 pelamar yang memenuhi kualifikasi. Akibatnya, sejumlah perusahaan call center mulai melirik kawasan perkotaan di luar Metro Manila seperti Cebu, Davao, Baguio dan Dumaguete.
Untuk memecahkan masalah itu, pemerintah telah memperbaiki kurikulum pendidikan dengan menambah titik berat pada bahasa Inggris, sains dan matematika pada tingkat sekolah dasar dan menengah. Pada tingkat perguruan tinggi, sejumlah sekolah dan universitas telah menggulirkan program kursus bahasa Inggris tambahan, yang dinamakan Advanced Communication for International Business , yang bertujuan untuk meningkatkan kefasihan berbahasa Inggris para lulusannya. cw/aa
Malaysia
Malaysia Incar Pasar ICT Cina
Perusahaan-perusahaan TI Malaysia mulai giat melebarkan usahanya di pasar TI terbesar di Asia, Cina. Belum lama ini, Multimedia Development Corporation (MDC), institusi pengelola Multimedia Super Corridor (MSC) Malaysia membuka kantor perwakilannya di Dalian Software Park (DLSP), untuk memfasilitasi lebih banyak peluang bisnis di antara kedua negara. Kantor perwakilan ini merupakan yang pertama dibuka di negeri tirai bambu tersebut.
Pendirian perwakilan MDC di Cina ini diharapkan dapat mendorong tingkat kerjasama antara MDC dengan DLSP di sektor teknologi infokom (ICT), selain juga sebagai basis perusahaan-perusahaan TI Malaysia, yang sudah mendapatkan status MSC untuk ekspansi usahanya ke Cina.
Menurut MDC, melalui kantor ini, selain akan memperkokoh hubungan bilateral, pihaknya juga akan memromosikan produk-produk, jasa dan pelatihan ICT, khususnya aplikasi-aplikasi TI unggulan dan Shared Services & Outsourcing (SSO) yang disediakan perusahaan-perusahaan MSC.
“Kami berencana menarik lebih banyak technopreneur Cina yang memfokuskan dirinya pada riset dan pengembangan untuk menggunakan fasilitas infrastruktur kelas dunia milik MSC sebagai test bed global berbagai aplikasi ICT-nya, serta memanfaatkan MSC sebagai hub operasi usahanya di Asia Tenggara,” jelas Mohamed Arif Nun, CEO MDC.
Perusahaan-perusahaan TI Malaysia berstatus MSC yang telah menandatangani kerjasama dengan perusahaan-perusahaan Cina, antara lain IGuanaMobile, Nusuara Technologies, Inavigate dan Cyber Village.
Setelah Cina, MDC merencanakan memperluas jangkauannya ke negara-negara Timur Tengah dengan mendirikan kantor perwakilannya di Jeddah, Arab Saudi. cn/aa.
Singapura
Universitas Singapura Gelar Grid Computing
National University of Singapore (NUS), belum lama ini, menggulirkan proyek grid computing berskala kampus. Penggelaran ini bertujuan mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk proses-proses kalkulasi ilmiah yang rumit.
Inisiatif bernama Tera-Scale Campus Grid itu dibangun bekerja sama dengan perusahaan penyedia jasa teknologi, Singapore Computer System (SCS), dan pada tahap awal akan menyatukan sumber daya dari sekitar 800 komputer milik universitas.
Konsep grid computing sendiri memungkinkan suatu perusahaan atau institusi menyatukan dan secara dinamis berbagi processing power , storage dan sumberdaya computing lainnya. Dengan memanfaatkan computing power dari 800 PC desktopnya, sistem grid computing NUS ini diharapkan sanggup mencapai kinerja kecepatan kalkulasi secara teoritik sebesar 2 sampai 6 teraflop , atau setara dengan satu trilyun kalkulasi per detik.
“Kapabilitas semacam ini memungkinkan para periset NUS mengeksplorasi bidang-bidang riset baru, memperluas cakupan risetnya, ataupun memperoleh hasil kalkulasi yang lebih cepat dan akurat,” jelas profesor Tan Chorh Chuan dari NUS.
Menurut dia, grid ini akan digunakan untuk bidang-bidang bioinformatika, life science , simulasi keuangan maupun penelitian-penelitian yang membutuhkan program-program yang dijalankan serentak dengan variabel berbeda-beda.
Inisiatif NSU ini merupakan wujud nyata dari komitmen yang dibuat sebelumnya oleh negeri pulau itu untuk mengembangkan grid computing . Bulan Nopember lalu, National Grid Office (NGO) Singapura memperkenalkan National Pilot Grid Platform , suatu inisiatif untuk mendorong universitas-universitas maupun badan-badan riset lokal untuk melakukan resource sharing . Juli lalu, pihak otoritas pengembangan infokom negeri itu, IDA ( Infocomm Development Authority of Singapore ), bersama vendor TI, Oracle sepakat menginvestasikan dana sekitar 15 juta dolar AS untuk membantu perusahaan-perusahaan TI lokal mengembangkan solusi-solusi enterprise grid .
Investasi yang dikeluarkan untuk menggelar grid computing ini sekitar 300.000 dolar AS, dan ditanggung bersama oleh NUS dan SCS. Bahkan pihak SCS sendiri juga berhak menikmati processing power sebesar 100.000 CPU hours selama kurun waktu dua tahun.
Menurut direktur NUS Computing Center, Tommy Hor, penggunaan piranti lunak grid ini akan memberikan penghematan kebutuhan perangkat keras yang nilainya setara dengan 1,2 sampai 1,8 juta dolar AS. Lebih lanjut Hor mengatakan bahwa dalam dua tahun ke depan, NUS akan menambah jumlah node menjadi lebih dari 1.000 buah. cn/aa
IDA Keluarkan Standar Industri untuk BPO
Sebagai upaya untuk menjadikan Singapura negara tujuan utama untuk layanan business process outsourcing (BPO) berkualitas high-end , pemerintah negara itu mengembangkan program sertifikasi baru untuk membantu meningkatkan kualitas layanan business continuity dan disaster recovery .
Standar industri baru yang diklaim sebagai benchmark pertama di dunia untuk layanan business continuity/disaster recovery ini dikembangkan oleh Infocomm Development Authority of Singapore (IDA) dan Business Continuity/Disaster Recovery (BC/DR) Working Group of the Information Technology Standards Committee .
Standar industri baru ini menetapkan persyaratan yang cukup ketat, meliputi ketentuan-ketentuan untuk pengoperasian, pemantauan, pemeliharaan dan menjaga layanan BC/DR yang ditawarkan kepada para klien. Standar ini berfungsi mendiferensiasikan para penyedia jasa dan memandu para end user dalam memilih vendor yang paling sesuai dengan kebutuhannya.
Menurut pihak IDA, ada sekitar 15 sampai 20 penyedia jasa BC/DR di Singapura. IDA sendiri mengatakan sudah ada tujuh perusahaan penyedia jasa yang telah menerima sertifikasi ini, antara lain Hewlett-Packard, IBM, NCS dan Singapore Computer Systems untuk kategori business continuity. Equinix, SingTel Expan dan StarHub untuk kategori fasilitas disaster recovery . “Beberapa perusahaan lainnya sudah mendaftar untuk mendapatkan sertifikasi,” ujar juru bicara IDA.
Program sertifikasi ini mendukung tujuan pemerintah Singapura untuk meningkatkan kualitas penyediaan jasa BPO dengan menyediakan jaminan yang sangat dibutuhkan perusahaan-perusahaan asing, ketika mereka menempatkan operasi perusahaannya atau melakukan kegiatan bisnis di negeri pulau itu.
“Pembentukan standar industri untuk BC/DR ini merupakan batu pijakan yang sangat penting untuk lebih memperkokoh posisi Singapura sebagai hub infokom yang terpercaya,” ujar menteri negara senior untuk informasi, komunikasi, kesenian dan kesehatan Singapura, Dr. Balaji Sadasivan.
Menurut dia, perusahaan-perusahaan multinasional (MNC) telah memilih Singapura sebagai lokasi usahanya, karena negeri itu menawarkan lingkungan bisnis yang sangat aman dan stabil. “Tidak heran jika bank-bank asing, seperti Citigroup, memilih Singapura sebagai pusat pemrosesan regional untuk cash dan securities settlement dan claim processing ,” ujarnya.
Menurut IDA, Singapura kini lebih siap untuk menyediakan dukungan untuk aktivitas BPO kelas hi-end seperti fungsi-fungsi treasury dan manajemen proyek, yang membutuhkan kondisi aman, infrastruktur telekomunikasi handal dan ketersediaan SDM infokom terampil yang siap pakai.
Untuk meningkatkan kapabilitas industri BPO lokalnya, IDA menginvestasikan tak kurang dari 7,3 juta dolar AS untuk dua tahun mendatang. Sebagian besar investasi ini digunakan untuk pelatihan sekitar 1000 profesional infokom guna penyediaan jasa BPO sampai 2006 mendatang. Selain itu, IDA juga akan mendukung riset dan pengembangan teknologi outsourcing dan membantu perusahaan lokal dalam inovasi penyediaan jasa BPO. Dengan dukungan itu, setidaknya perusahaan-perusahaan lokal diharapkan mampu menggaet 20 proyek BPO senilai 6,1 juta dolar AS selama dua tahun ke depan. cn/aa
|