Volume II No 19 - Agustus 2004
 

Tak Ada Jalan untuk Mengelak

 

Perkembangan teknologi dan munculnya berbagai model bisnis baru distribusi musik (dan film) online merupakan tren besar ke depan. Siapa mau ikut?

Dampak suatu teknologi kadang tidak terduga. Internet misalnya, ketika pertama kali diperkenalkan tahun 70-an, orang tidak menduga bahwa perkembangannya akan seperti sekarang ini. Cukup lama teknologi ini untuk bisa menyebar secara luas. Namun, begitu dikenal luas, dan ditambah munculnya eforia dotcom di pertengahan 90-an, Internet kini tampil dengan “wajah” yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Apalagi, kini, Internet mendapatkan momentum dengan hadirnya teknologi broadband , yang memberi Anda kecepatan akses. Yang juga tidak pernah terbayangkan oleh para pengguna modem ketika akses Internet pertama kali diperkenalkan secara komersial.

Berbicara broadband , Amerika Serikat dan beberapa negara di Asia Pasifik seperti Jepang, Korsel, Cina, Hong-Kong dan Taiwan boleh dibilang yang terdepan dalam penetrasi dan pertumbuhan aksesnya. Di AS, rata-rata pelanggan broadband menggunakannya untuk jaringan TV kabel, sementara di negara-negara Asia Pasifik, teknologi broadband yang populer digunakan adalah digital subscriber line (DSL), TV kabel, jaringan metro ethernet dan FTTH ( Fiber to the Home ) yang sudah menjangkau sampai rumah-rumah.

Di Jepang misalnya, DSL sudah merupakan teknologi yang mapan. Kecepatan aksesnya pun jauh di atas rata-rata akses broadband di belahan dunia lain. Dengan tetap memanfaatkan jalur telepon standar, pelanggan Yahoo BB misalnya, yang pada awalnya sudah dimanjakan dengan kecepatan akses jauh di atas rata-rata dunia (8-12Mbps), kini sudah bisa menikmati kecepatan akses sampai 26Mbps. Bahkan, belum lama ini, kecepatan itu sudah digenjot hingga 45Mbps!

“Hal ini tidak terlepas dari konstruksi jejaringnya sendiri,” ujar Kirk Boodry, direktur pasar modal, Dresdner Kleinwort Wasserstein di Tokyo. “Di negara ini, kabel serat optik sudah jauh menembus ke daerah-daerah tempat pelanggan berada. Jarak kabel tembaga dari exchange point ke masing-masing rumah kini jauh lebih pendek.”

Hanya saja, teknologi DSL ini memiliki kelemahan, yakni kapasitas yang bisa diberikannya sangat tergantung pada jarak. Semakin pendek jaraknya, semakin tinggi bandwidth yang bisa diberikan. “Menurut IEEE, secara teoritis Anda bisa mendapatkan kapasitas transmisi 50Mbps jika lokasi Anda kurang dari satu kilometer dari feeder point ,” lanjut Boodry.

Di Jepang sendiri, NTT (semacam Telkom) telah menggelar feeder point serat optik dalam jarak satu kilometer dari 80 persen lokasi yang dilayaninya. Sehingga tidak heran jika operator broadband, seperti Yahoo BB dengan mudah dapat memberikan kecepatan tinggi pada para pelanggannya.

Dari segi harga akses pun terbilang murah. Dengan hanya membayar sekitar 4.000 yen atau sekitar Rp 400.000 per bulan, Anda sudah merasakan broadband berkecepatan 45Mbps di Yahoo BB. Di negara-negara Asia lainnya pun harga akses broadband relatif terjangkau, sekitar 20–30 dolar atau 180 sampai 270 ribu rupiah, sekalipun kecepatannya relatif jauh di bawah yang diberikan Yahoo BB.

Di negara jiran, Malaysia, misalnya, dengan membayar RM 88 atau sekitar 250 ribu rupiah, Anda sudah bisa mendapatkan akses 512Kbps unlimited . Jangan bandingkan dengan broadband yang ada di tanah air. Jika menggunakan jaringan TV kabel misalnya, Anda harus membayar sekitar 550 ribu per bulan untuk akses 64Kbps. Dengan menggunakan DSL 512Kbps, Anda harus merogoh kocek lebih dalam lago, yakni sekitar 2,5–4 juta rupiah untuk akses unlimited . Mana tahaan!

Triple play

Perkembangan broadband tidak sekedar ditopang teknologi infrastruktur saja, tetapi juga konten dan aplikasi. Kini, dengan kapasitas bandwidth lebih besar, para operator broadband menawarkan apa yang mereka namakan triple play, yaitu data, voice dan video.

Tawaran ini pun serasa pas karena teknologi broadband hadir dan mulai populer di tengah maraknya konvergensi teknologi, dimana aplikasi-aplikasi komputer menyebar ke perangkat-perangkat lainnya (misalnya ponsel dan pesawat TV) atau sebaliknya (misalnya komunikasi suara melalui komputer).

Di dunia hiburan, baik film maupun musik, berbagai perusahaan mulai meluncurkan model distribusi online , yang memungkinkan para pelanggan men download film maupun musik dari Internet. Akses broadband juga sangat penting bagi keberhasilan pasar ini.

Karakteristik Standar MPEG

MPEG-1

Bagi penggemar audio video, MPEG-1 video dan audio (termasuk di antaranya MP3) merupakan pilihan format terbaik jika Anda ingin berbagi konten dengan orang lain karena sifatnya yang universal. Dengan mengombinasikan perbandingan kompresi dengan kualitas tinggi, dan bisa digelar di PC, format ini merupakan basis revolusi multimedia pada PC. Awalnya, MPEG-1 dirancang untuk aplikasi-aplikasi CD- interactive dan video-on-demand , dan kini masih sangat populer dalam bentuk VideoCD (VCD).

MPEG-2

MPEG-2 merupakan standar audiovisual yang paling luas digunakan untuk aplikasi-aplikasi video entertainment . Standar ini memungkinkan terwujudnya televisi digital dan DVD. Saat ini ada beberapa ratus juta decoder MPEG-2 yang ditanam dalam set-top box digital satellite dan cable , pemutar DVD dan PC. Format ini lebih bertenaga dibandingkan MPEG-1, dan mampu mencapai perbandingan kompresi lebih tinggi serta sudah mendukung interlaced video . Proses decoding dan encoding -nya pun lebih bersifat CPU- intensive dibanding MPEG-1, khususnya untuk bagian video.

MPEG-4

MPEG-4 merupakan standar multimedia global generasi baru, yang sanggup memberikan stream audio dan video berkualitas profesional melalui rentang bandwidth yang luas, mulai dari ponsel sampai broadband dan di atasnya. Standar ini juga mendukung obyek 3D, teks dan jenis media lainnya.

Inti coding untuk audio dalam MPEG-4 adalah Advanced Audio Coding (AAC). Dibanding pendahulunya, MP3 misalnya, AAC memberikan kualitas output yang lebih tinggi dengan data rates yang lebih rendah. Contohnya, audio yang dikompres dengan AAC pada 96kbps menghasilkan kualitas melebihi audio yang dikompres dengan MP3 pada 128kbps. Selain itu, AAC mendukung audio multikanal, dengan menyediakan sampai 48 full frequency channels , dan memberi resolusi audio lebih tinggi, dengan sampling rates sampai 96kHz. Format ini digunakan Apple untuk meng- coding lagu-lagu yang dijual melalui iTunes.

Sementara untuk videonya, MPEG-4 menggunakan spesifikasi H.264, atau Advanced Video Coding (AVC), yang dikembangkan MPEG bersama International Telecommunication Union (ITU). H.264/AVC merupakan video codec yang sangat bertenaga, yang sanggup memberikan kualitas sempurna di seluruh spektrum bandwidth , mulai dari HDTV sampai video conferencing dan 3G mobile multimedia . Kualitas high definition yang diberikan sanggup disalurkan dengan data rate setengah dari MPEG-2, sehingga bandwidth -nya pun lebih hemat.

ntuk coding video yang akan didistribusikan lewat Internet dikenal pula format DivX. Format ini dibuat berdasarkan standar MPEG-4, dan sering disebut-sebut sebagai MP3-nya video. Dengan teknologi DivX, Anda bisa memampatkan sebuah konten VHS sampai seperseratus ukurannya atau kalau DVD, sepersepuluh ukurannya. Kompresi DivX begitu efisien sehingga seluruh konten di dalam satu keping DVD muat di dalam CD data biasa tanpa pengurangan kualitas yang berarti.

Layanan distribusi online yang diluncurkan perusahaan-perusahaan film dan rekaman musik memungkinkan pengguna men- download sebuah single atau trailer film dengan harga yang cukup atraktif. Ketika penetrasi broadband semakin tinggi, potensi pasar terhadap layanan-layanan semacam ini akan semakin luas.

Maraknya aktivitas audio dan video di dunia maya ini juga tak terlepas dari kemajuan teknologi kompresi. Sekalipun ini bukan hal baru bagi dunia audio video, namun dampak evolusinya pada pasar telekomunikasi dipandang sangat luar biasa. Audio/video codec, atau standar format yang menggunakan piranti lunak canggih untuk memampatkan konten multimedia, semakin matang beberapa tahun belakangan ini.

Di sisi lain, tentu Anda sudah cukup familiar dengan format audio MP3, yang dibangun berdasarkan spesifikasi open standard MPEG1. Standar, yang juga menjadi basis video CD ini kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi MPEG2, yang menjadi dasar format digital versatile disc (DVD). Kini, hadir pula MPEG4, yang memiliki efisiensi codec audio dan video lebih tinggi, sehingga memungkinkan penyedia layanan telco dapat memanfaatkan lebih jauh kapasitas dari infrastruktur yang sudah ada.

Di luar MPEG2 dan MPEG4 yang open standard , ada pula codec lain yang bersifat proprietary , antara lain Windows Media yang dilansir Microsoft dan Real Video 9 keluaran RealNetworks.

Hadirnya berbagai teknologi kompresi, yang memungkinkan pengiriman paket multimedia melalui Internet menjadi lebih efisien dan tetap berkualitas tinggi, semakin mendorong munculnya tren music sharing . Kegilaan para netter pada aktivitas tukar menukar musik digital melalui dunia maya ini semakin marak ketika Shawn Fanning meluncurkan Napster, aplikasi komputer peer-to-peer, yang memungkinkan file-file MP3 di- share secara gratis kepada siapa saja yang menggunakan aplikasi itu.

Tak pelak, Napster pun langsung populer dan menyedot minat jutaan orang di dunia. Industri rekaman dan kalangan artis pun meradang dibuatnya, sehingga buru-buru mereka mengajukan gugatan ke pengadilan di AS. Setelah sempat bertahan kurang lebih dua tahun, akhirnya Napster pun ditutup tahun 2001.

Walau begitu, aktivitas lalu lintas musik digital tak semakin surut, malahan semakin marak. Namun, kini ada kecenderungan baru dimana aktivitas tersebut tampil dengan wajah yang lebih “beradab” dan “legal.” Setidaknya, kini, ada dua model download musik digital yang secara legal berjalan, yaitu pay-per-download dan subscription-base .

Model pay-per-download tersukses saat ini adalah yang digelar Apple dengan iTunes Music Store -nya. Setelah layanan ini digelar pada 28 April 2003 lalu, tak kurang dari 100 juta lagu lebih telah di download (per Juli 2004). iTunes menggunakan teknologi kompresi AAC ( advanced audio compression ), yang dipandang lebih efisien dibanding MP3. Karenanya, dengan bit rate yang lebih rendah, kualitas audionya tetap mendekati CD, bahkan melebihi MP3 yang ber- bit rate lebih tinggi. Bit rate yang rendah ini ekivalen dengan penggunaan bandwidth yang lebih hemat, sehingga memang cocok untuk didistribusikan melalui Internet.

Sementara itu, para penyedia distribusi musik digital lainnya lebih memilih model subscription base , yang mematok harga langganan rata-rata sekitar 10 dolar per bulan. Dengan harga itu, pengguna bisa menikmati ratusan ribu lagu yang berada dalam database si penyedia, dan dapat menyimpannya di masing-masing harddisk selama masa berlakunya langganan.

Tapi, jangan gembira dulu, lagu-lagu tersebut tidak bisa di- burn ke CD, apalagi lagi disimpan dalam pemutar portabel. Pasalnya, file-file tersebut sudah diproteksi sedemikian sehingga hanya bisa disimpan dalam harddisk dan dinikmati melalui PC saja. Ketika masa berlangganan habis, file-file tersebut pun tidak bisa dinikmati lagi. Yang melakukan model seperti itu antara lain Rhapsody dan Napster wajah baru, yaitu Napster 2.0, yang kini dikelola dan dimiliki Roxio Inc.

Sajian video

Aplikasi broadband dalam dunia hiburan bukan terbatas pada musik saja. Gagasan video-on-demand dan high-definition TV (HDTV) yang dulu rasanya tidak mungkin dilakukan karena keterbatasan infrastruktur, kini dengan mudah diwujudkan.

Hong-Kong merupakan negara pertama di Asia , bahkan di dunia yang menggelar layanan video melalui broadband . Adalah PCCW, salah satu operator telko incumbent wilayah bekas koloni Inggris itu, yang pertama kali meluncurkan layanan video-on-demand komersial pertama di dunia, iTV di akhir 90-an. Layanan tersebut, pada akhirnya, menimbulkan kesulitan bagi PCCW, baik dari sisi teknologinya maupun pasarnya yang memang belum matang. Akhirnya, PCCW tahun lalu secara resmi mencampakkan iTV, untuk kemudian mempromosikan portal web multimedia now.com.hk.

Ketatnya persaingan akses di Hong-Kong, yang ditawarkan dengan berbagai platform seperti ADSL, VDSL, nirkabel broadband dan Metro Ethernet menjadikan layanan broadband video ini sebagai pilihan untuk melakukan diferensiasi layanan. “Bagi operator broadband , ini merupakan evolusi yang alami,” ujar Andrew Chetham, principal analyst dari Gartner . “Mereka sudah mencurahkan begitu banyak dana untuk membangun jaringannya dan kini saatnya mereka memetik manfaat dari investasi itu dengan menggulirkan layanan yang lebih banyak.”

Contoh lain bahwa hiburan juga menjadi atraksi menarik dari broadband adalah apa yang terjadi di Korea Selatan. Tahun 2001 lalu, SBSi, divisi interaktif dari Seoul Broadcasting System meluncurkan layanan menonton serial opera sabun dan program-program video streaming lainnya. Dengan menarik bayaran sebesar 500 won atau sekitar 4.000 rupiah, layanan ini berhasil menarik 1,8 juta registered user , dan 4.000 orang melakukan sign-up setiap harinya. Bahkan, SBSi pernah menarik sekitar 1,6 juta pemirsa dalam satu tayangan drama yang disajikannya. Kini, ada sekitar 10.000 pengguna membayar setiap harinya untuk menyaksikan tayangan ulang drama tersebut di PC mereka.

Seperti halnya musik, hadirnya teknologi kompresi video yang lebih baik di masa depan juga akan membuat layanan video, baik streaming maupun download melalui broadband diperkirakan akan semakin marak.

Standar-standar kompresi baru itu terbukti berdampak langsung dan positif bagi para penyedia layanan, kata Michelle Abraham, analis senior dari In-Stat MDR . “Berbagai codec baru ini jelas akan membantu ( service provider ) dalam penyediaan video, khususnya melalui jalur kabel tembaga yang panjang,” ujarnya. Mungkin salah satu kemajuan yang ditunggu-tunggu adalah perangkat yang mendukung H.264, suatu standar coding video baru dan termasuk dalam spesifikasi MPEG4, yang memangkas bandwidth HDTV, tanpa mengorbankan kualitasnya.

Keunggulan Janus

Janus merupakan penerus teknologi Windows Media Digital Rights Management yang sudah ada yang dirancang untuk bisa berfungsi di perangkat apa pun dan mendukung layanan langganan musik (sekalipun teknologi ini juga mendukung konten streaming audio/video lainnya). Janus akan menambahkan semacam hacker-resistant clock ke pemutar musik portabel untuk file-file yang di- encode dalam format Windows Media Audio (WMA). Fasilitas ini memungkinkan penyedia layanan berlangganan musik digital seperti Napster 2.0, yang membolehkan pelanggannya menaruh lagu-lagu yang disewanya ke dalam perangkat portabel, sesuatu yang sekarang ini masih belum dimungkinkan. Jika masa berlangganan habis, file-file yang ada dalam perangkat portabel sekalipun akan di- timeout , sehingga tidak bisa dinikmati lagi.

Teknologi ini tidak bergantung pada sistem operasi tertentu (bisa dijalankan pada set-top box berbasis Linux misalnya), dan kompatibel dengan teknologi Windows Media DRM yang kini sudah berusia lebih dari lima tahun. Microsoft berencana menawarkan Janus ke berbagai produsen perangkat keras, produsen chip , penyedia konten dan calon-calon pemegang lisensi lainnya, kata Matthias.

Saat ini model berlangganan musik online cukup sukses di pasaran, tetapi beberapa eksekutif industri musik mengatakan bahwa mereka percaya Janus akan membuat model penyewaan musik menjadi lebih menarik bagi konsumen, dan, lebih dari itu, berpotensi menyulitkan iTunes Music Store, yang dikembangkan Apple, dalam merebut pasar.

“Bagi kami, Janus akhirnya menyediakan suatu platform dimana kami bisa memberikan pengalaman baru bagi konsumen kami,” ujar Zack Zalon, presiden Virgin Digital, divisi musik online milik konglomerat asal Inggris. “Kami kira inilah yang akan konsumen inginkan. Kami ingin menjadi pelaku utama dalam mengubah sikap konsumen terhadap bagaimana menikmati musik di masa depan.”

Melindungi hak cipta

Semakin meluasnya pengguna broadband , teknologi coding yang semakin maju, serta digitalisasi konten yang memungkinkan konten tersebut diduplikasikan dan disimpan di mana pun, tak serta merta disambut baik kalangan industri rekaman maupun artisnya.

Industri rekaman AS misalnya, tahun 2003 lalu menempuh dua cara untuk memaksa konsumen membayar untuk musik online yang dinikmatinya – dengan memikat konsumen menggunakan layanan web baru yang berlisensi atau mengajukan tuntutan hukum yang berat. Namun, toh industri rekaman AS tetap “kalah” menghadapi serbuan program-program file-sharing populer. Sekalipun pelopor song-swapping, Napster, sudah ditutup sejak tahun 2001, industri label rekaman kini menghadapi jaringan song-swapping baru, yang bahkan menarik lebih banyak peminat.

Lebih dari 60 juta orang di AS sendiri telah men- download lagu-lagu dari Internet menggunakan program-program file sharing seperti Kazaa, Grokster dan LimeWire, yang tidak memiliki perjanjian lisensi untuk mendistribusikan lagu-lagu yang dikuasi the Big Five label rekaman – Universal, Sony, BMG, Warner dan EMI.

Tersebar luasnya PC rumah yang dilengkapi dengan CD-drive recordable juga dianggap memiliki dampak. Teknologi ini memungkinkan hampir setiap orang membuat sendiri CD yang hanya berisi lagu-lagu pilihannya. Bagi kebanyakan konsumen, mereka tidak perlu lagi membayar 18 dolar AS untuk membeli CD, yang mungkin hanya berisi dua atau tiga lagu yang benar-benar mereka sukai.

“Para konsumen yang sudah terbiasa mengelola koleksi musiknya dari suatu perpustakaan digital di dalam PC-nya kemungkinan enggan meninggalkan praktik itu, sama halnya kalau kita secara sukarela diminta menukar TV berwarna kita dengan TV hitam putih,” ujar Phil Leigh, seorang analis yang menulis laporan bertajuk "Online Music Starts Rocking.''

Situasi semacam itu bukannya luput dari perhatian para penyedia teknologi. Microsoft misalnya, selama ini menyertakan piranti Digital Rights Management (DRM) dalam format Windows Media 9-nya. Dengan piranti ini, file-file digital di- protect untuk tidak bisa dibakar ke CD atau dipindahkan ke perangkat portabel. Namun, dalam waktu dekat, raksasa piranti lunak ini akan merilis versi terbaru dari DRM-nya, yang diberi kode Janus.

Namun, para pendukung subscription model berargumen bahwa konsumen yang akrab dengan Kazaa dan jaringan file-swapping lainnya sudah terbiasa menggenggam ribuan file musik di tangannya. Hanya layanan yang bisa menyediakan konten sebanyak itulah – tanpa harus membayar ribuan dolar tentunya – yang bisa mengalihkan penikmat musik digital ini dari jaringan file swapping ilegal.

Para analis memperkirakan layanan berlangganan ini popularitasnya tetap berada di belakang pay-per-download , mengingat konsep sewa lagu ini terbilang masih asing.

David Card, seorang analis media digital dari Jupiter Research memperkirakan bahwa Janus tidak akan mendorong pertumbuhan dramatis dalam model berlangganan musik secara online . Kalaupun ya, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa menjadi penantang serius penjualan CD secara konvensional maupun pay-per-download .

“Saya kira munculnya teknologi ini bagus, namun ia belum bisa dikatakan sebagai senjata pamungkas,” ujar Card.

Senjata ampuh atau tidak, yang jelas kini industri film dan rekaman musik sudah dihadapkan pada kenyataan bahwa seluruh lanskap industri akan terus berubah. Adanya teknologi-teknologi baru, yang bisa memungkinkan distribusi konten secara lebih adil, dan memberikan win-win solution . Paling tidak, hal itu juga akan membuka harapan bahwa masa-masa paling berat dan menyakitkan bagi industri rekaman bakal berakhir. Namun, ke depan, sepertinya tak ada lagi jalan untuk mengelak, sebaliknya mengikuti tren perkembangan ini pun tak juga mudah. aa

Foto-foto: Muflihun; Grafis: Shu Cian Tow

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.