Sandra Solihin, bukan nama sebenarnya, sudah lebih dari 8 tahun bekerja pada perusahaan dimana dia berkarya: PT Agro Indra Pratama (AIP). Ia kini menjadi salahsatu manajer-menengah dengan tanggung jawab di seputar administrasi dan pelaporan. Perusahaan yang bergerak di bidang ekspor agribisnis ini ikut menikmati windfall profit dari naiknya nilai-tukar US $ lima tahun yang lalu. Cepat mengambil manfaat dari peluang ini, manajemen AIP memutuskan untuk melakukan ekspansi pasar dan meningkatkan kapasitas ekspor mereka. Organisasipun didorong untuk menjadi lebih “dangkal”: sejumlah staf bawah mengalami eskalasi tugas dan ditambah tanggung-jawabnya. Mereka diberi sejumlah tunjangan yang sifatnya temporer dengan kemungkinan perpanjangan tiap triwulanan, namun tidak dipromosikan. Sandra termasuk salahsatu karyawan yang mendapatkan tugas tambahan di bidang order processing. Pekerjaan yang dikerjakan sebelumnya, administrasi dan pelaporan, dikurangi secara drastis dengan mengalihkannya ke unit dan karyawan lainnya.
PT AIP, yang mengoperasikan sebuah sistem informasi yang cukup canggih, berhasil melakukan transisi organisasi dengan cukup baik, tanpa mengalami riak-gelombang yang signifikan. Para karyawan, termasuk Sandra, menghadapi perubahan-perubahan di tempat kerja mereka dengan cukup baik, bahkan diiringi antusiasme yang tinggi. Juga, kesediaan pihak manajemen puncak untuk terus membuka saluran komunikasi tatap-muka dengan para karyawan yang memerlukan dialog langsung dengan pimpinan. Pelatihan yang diperoleh oleh Sandra untuk dapat melaksanakan tugas-tugasnya yang baru dilaksanakan melalui kombinasi pola formal dengan struktur kelas dan pola on-the-job training dengan struktur magang.
Transformasi yang dialami PT AIP ini banyak disebut sebagai flattening atau horizontalization, dimana jumlah lapisan hirarki berkurang dan rentang kendali bertambah lebar. Pemberdayaan para karyawan melalui peningkatan tanggung-jawab setelah pembekalan dan pelatihan memberikan dampak yang positip bagi perusahaan. Perubahan semacam ini jamak terjadi pada perusahaan-perusahaan yang beralih ke pola ekonomi baru, dimana kemampuan kewirausahaan (entrepreneurship) menjadi sesuatu yang penting, bukan saja untuk berekspansi, melainkan juga untuk bertahan dalam peralihan ekonomi global. Kemampuan ini bukan saja diperlukan pada peringkat perusahaan, melainkan juga pada setiap pimpinan dan manajer perusahaan tersebut. Secara perorangan, kemampuan seperti ini akan menciptakan shareholders value dalam konteks yang seringkali lebih bersifat intra-preneurial, ketimbang entre-preneurial. Tentunya semua ini perlu tertata dalam pranata yang dikelola dengan baik.
Transformasi ini kebetulan juga mengetengahkan dilema yang sering dihadapi karyawan yang menyangkut remunerasinya: apakah ia akan mementingkan job security ataukah besarnya gaji. Bagi Sandra, kondisinya jelas: ia diberi pilihan untuk mengambil risiko. Akankah ia lebih mementingkan job security dengan tetap berkarya di bagian administrasi dan pelaporan, ataukah ia memilih tambah pendapatan dengan diberdayakan sebagai petugas temporer di bagian order processing namun mungkin tidak dapat kembali lagi ke bagiannya yang lama karena posisi tersebut barangkali telah terisi dengan solusi lain. Risiko-risiko seperti ini sangat relevan dalam perubahan-perubahan menuju tatanan usaha dalam ekonomi baru.
Jos Luhukay • Pengamat dan Praktisi Ekonomi Baru.
Foto-foto: dok. ebizzasia
Artikel selengkapnya bisa Anda jumpai di majalah eBizzAsia volume II nomor 17 bulan Mei-Juni 2004. Untuk mendapatkannya Anda bisa hubungi Ibu Liliek di (021) 7193264 |