Volume II No 17 - Mei - Juni 2004
 


e-Sourcing: Jasa Layanan Masa Datang

 

Agar dapat bekerja lebih cepat, pesan-pesan yang bejibun perlu dikelola dengan baik dan tepat. Dapatkah hal itu dijawab dengan menerapkan Unified Messaging?

Meski awalnya digunakan di lingkungan militer, dan kemudian merambah ke kalangan akademis, namun Internet kini telah merasuk dalam kehidupan masyarakat luas, terutama kalangan bisnis. Internet bukan saja menjadi ”alat” baru dalam cara berkomunikasi, melainkan mengubah cara-cara dalam melakukan bisnis.

Selain itu, dengan adanya Internet seolah-olah dunia telah menjadi lingkungan yang sangat dekat dengan kita, dan jarak hampir tak lagi menjadi kendala. Karenanya, tidaklah sukar untuk mencari bukti bahwa Internet telah mengurangi rentang jarak di antara belahan dunia yang satu dengan yang lain. Dalam waktu singkat, berita atau informasi bisnis dapat menyebar ke seluruh dunia, dan itu berkat jasa Internet dan situs web.

Menjamurnya pemanfaatan internet di manapun di seluruh dunia telah memungkinkan para pebisnis untuk melakukan berbagai tindakan radikal dalam menyediakan layanan atau jasa mereka, mulai dari menyewakan berbagai aplikasi komputer hingga menyediakan layanan penyimpanan data sistem jejaring yang sangat dibutuhkan oleh bagian teknologi informasi (TI) suatu perusahaan.

Internet pun kini semakin banyak digunakan untuk keperluan alihdaya jasa atau layanan TI.

Alihdaya

Internet pun kini semakin banyak digunakan untuk keperluan alihdaya jasa atau layanan TI. Semakin jelas bahwa pemanfaatan internet ini terbukti mampu memberikan makna baru mengenai pengalihdayaan (outsourcing), yaitu upaya mencari sumber–sumber lain di luar perusahaan yang lebih murah dibandingkan jika melakukannya sendiri.

Dengan adanya internet, upaya tersebut dapat dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah dibandingkan harga yang ada di pasaran. Lokasi antara perusahaan penerima dan penyedia alihdaya pun menjadi hampir tak terbatas, bisa sama-sama dalam suatu negara atau bahkan mancanegara.

Alihdaya, kini bukan saja menjadi lebih mudah dijangkau, tetapi juga dapat dilakukan baik oleh perusahaan besar maupun kecil. Sekarang ini, hal tersebut tengah mengalami ujian, karena semakin banyak perusahaan yang menjalankannya. Tujuannya jelas, yaitu meringankan sakit kepala para petinggi perusahaan, karena bisnis yang ada sedang berjuang seiring dengan berbagai perubahan yang berlangsung begitu cepat, khususnya dalam bidang hardware maupun software komputer.

Alihdaya, yang terbukti banyak membantu, tidak saja dalam biaya, melainkan juga ketersediaan layanan, semakin meningkat dilakukan dan dengan berbagai saluran komunikasi layanan, termasuk Internet.

Yang banyak dimanfaatkan sekarang ini boleh dibilang sebagai generasi kedua dunia internet. Generasi pertamanya adalah ketika perusahaan – perusahaan membuat kehadiran mereka dalam dunia internet (melalui pembangunan situs web) dengan data dan informasi yang bisa dibaca bersama. Selain itu, penggunaan e-mail telah menjadi suatu alat komunikasi sehari–hari yang semakin meningkat penggunaannya.

Sekarang, pemanfaatannya bahkan lebih jauh dari itu, yakni bagaimana membuat koneksi dengan sistem komputasi dan pengolahan data yang besar, seperti dengan mainframe yang memproses dan menyimpan jutaan bahkan milyaran data dan informasi. Dan, hal itu juga mulai banyak dialihdayakan ke pihak ketiga – perusahaan pengalihdaya.

MENINGKAT: Layanan eSourcing nampaknya akan terus meningkat

e-Sourcing

Di Amerika Serikat, pengeluaran untuk layanan transaksi di internet (e-commerce) merupakan salah satu bidang ekonomi yang pertumbuhannya paling cepat. Dain Rauscher Wessels, sebuah bank investasi, memperkirakan hasil transaksi jasa melalui internet ini bisa mencapai USD 75 milyar dalam beberapa tahun mendatang, karena semakin pesatnya perkembangan dunia bisnis melalui internet tersebut.

Para analis yang sudah mengikuti perkembangan dunia ini sejak lama telah mengatakan bahwa kita tengah menuju ke dalam era ekonomi berbasis alihdaya (outsourced economy), dimana segala macam aplikasi software dan jasa–jasa akan tersedia bagi berbagai kegiatan bisnis melalui intenet.

Lepas dari janji-janji dan munculnya hype, sangat jelas bahwa perkembangan bisnis melalui internet ini tidak secepat yang diperkirakan orang. Tidak hanya bisnis yang menggunakan internet sebagai alat pemasarannya menghadapi kerumitan dan kesulitan, tetapi juga ada kebutuhan terhadap kapasitas bandwith yang lebih besar dan lebih cepat untuk kepentingan aplikasi–aplikasi bisnis berkapasitas besar. Boleh dikatakan, ini merupakan suatu pekerjaan yang rumit, terutama karena mempertimbangkan banyaknya kemungkinan kesalahan dalam pengoperasian web perusahaan.

Pasar e-sourcing (alihdaya jasa melalui internet) ini termasuk juga 2,8 juta bisnis kecil yang melakukan usahanya melalui internet. Semua ini menunjukkan adanya permintaan yang semakin meningkat untuk berbagai jasa dan produk melalui website. Tampaknya e-sourcing ini cenderung meningkat kebutuhannya.

Namun, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab kemudian adalah, bagaimanakah tipe–tipe jasa tertentu akan mengalami perubahan? Apa batasan–batasan e-sourcing dan apa yang masih tertinggal dalam suatu perusahaan ketika segala sesuatunya telah dialihdayakan?

Suatu perusahaan e-sourcing dapat diartikan sebagai perusahaan yang menyediakan jasa–jasa termasuk konsultasi, disain, integrasi sistem, dan dukungan, yang kesemuanya ini dapat diakses melalui jejaring privat (private network) atau jejaring publik (public network).

Jasa–jasa online ini masih harus berjuang keras untuk meningkatkan, baik dalam persepsi maupun teknologinya. Survei yang baru–baru ini dilakukan oleh konsultan TI, Forrester Research, mengungkapkan bahwa 64% pengguna awal menilai bahwa para pemasok mereka jelek atau sangat jelek dalam hal penggunaan internet.

Temuan ini kemudian dipertegas lagi oleh perusahaan–perusahaan publik atau non-publik yang disurvei. Dari sekian banyak perusahaan-perusahaan non-publik 10% di antaranya menyatakan untung, sementara perusahaan publik 62% yang menyatakan untung. Tetapi, kebanyakan dari perusahaan–perusahaan ini hanya berumur beberapa tahun saja. Satu dari empat perusahaan yang didirikan tahun 1998, hanya satu saja yang menyatakan untung.

Pasar ASP

Ujung tombak ekonomi baru berbasis internet ini adalah ASP (Application Service Provider) yang menyewakan aplikasi–aplikasi yang sangat penting bagi perusahaan seperti keuangan, akuntansi, dan sumberdaya manusia. Suatu sistem ASP menampung aplikasi–aplikasi internal suatu perusahaan dan mengirimkannya secara langsung kepada para klien perusahaan tersebut, baik melalui jejaring mereka sendiri atau sewaan. Hal ini cukup membantu perusahaan–perusahaan dari beban untuk merawat dan mengurusi aplikasi–aplikasi tersebut.

Pasar ini kelihatannya sangat potensial, namun masih belum menunjukan perkembangan positip, terutama dikarenakan belum memadainya infrastruktur yang ada dan penggunannya masih relatif rendah. Menurut IDC (International Data Corporation), pasar ASP tahun lalu hanya sekitar USD 300 juta. Diharapakan nilainya akan mencapai USD 7,7 milyar sampai akhir tahun 2004.

Kalau layanan alihdaya, khususnya untuk mendukung kegiatan bisnis yang berbasis web ini sudah begitu marak di Amerika, bahkan saat ini mereka tengah mencari berbagai terobosan baru dalam melayani kalangan bisnis, namun di Indonesia masih relatif kecil pasarnya. Beberapa ASP memang menunjukkan perkembangan yang semakin baik dan dengan jasa layanan yang bervariasi, misalnya untuk kegiatan perbankan.

Layanan jasa ASP ini masih terkendala oleh masih lemahnya ketersediaan layanan infrastruktur komunikasi dalam menjangkau kawasan yang luas dan dengan kapasitas yang memadai. Meski diakui layanan komunikasi ini bisa disediakan dengan berbagai alternatif, namun hal itu cenderung cukup mahal biayanya. Belum lagi, adanya kekurangpercayaan kalangan bisnis untuk memberikan sebagian dari kegiatan bisnisnya untuk dilakukan oleh para penyedia alihdaya atau ASP, apalagi bila menyakut data dan informasi tertentu.

Hambatan psikologis semacam ini (karena untuk teknologi telah tersedia berbagai macam upaya pengamanan transfer data dan informasi), bukan tanpa alasan. Praktik-praktis bisnis yang curang, seringnya terjadi penjiplakan dan atau pembajakan tanpa perlindungan hukum yang jelas dan tegas, lemahnya hak-hak konsumen untuk mendapatkan pelayanan yang baik (sesuai SLA) yang terlindungi dengan baik, semakin menambah kekurangpercayaan itu, meski tak hanya tertuju pada ASP saja.

Namun, beberapa kalangan bisnis alihdaya mengakui bahwa kebutuhannya akan terus meningkat. Beberapa ASP, terutama di negara-negara lain, malah tengah berkembang menjadi inkubator bisnis, sehingga tak hanya mengalihdayakan kegiatan bisnis tertentu para klien mereka.

Taktik Bertahan

Dalam era pasar bisnis yang ketat sekarang ini, alihdaya terbukti merupakan suatu taktik bertahan yang baik. Menggunakan fasilitas bisnis online, menyadari penghematan biaya dan kecepatan masuk pasar merupakan hal-hal yang sangat penting bagi perusahaan berbasis internet. Dan, sebenarnya, alihdaya ini merupakan suatu solusi yang bukan saja kompetitif dari segi biaya, melainkan juga strategis dari sisi pengelolaan usaha. Dengan alihdaya, sumberdaya perusahaan dapat lebih dikonsentrasikan untuk berbagai kegiatan inti perusahaan dan melayani pelanggan mereka secara lebih baik.

Hasil riset Forrester Research mengungkapkan bahwa 62% bisnis yang di survei berniat akan menggunakan jasa alihdaya internet pada tahun ini, yang berarti naik 44% tahun 1998.

Karena transaksi melalui web mengurangi ongkos transaksi, perusahaan–perusahaan akan mengandalkan mesin fax dan telepon sebagai tambahan pada sistem ini. Majalah Red Herring mengungkapkan bagaimana perusahaan–perusahaan aerospace, energi dan health care mulai menggunakan jasa–jasa ini agar dapat bersaing lebih baik lagi. Bahkan ada sebuah grup baru penyedia ASP yang bersaing dalam bidang bisnis health care ini, yaitu dalam penyediaan manajemen health care, manajemen kesehatan, pengumpulan data, dan manajemen klaim.

Dalam suatu wawancara dengan Christopher McCleary, Chairman dan CEO USinternetworking, perusahaan penyedia jasa ASP, mengatakan bahwa “menyatukan segala sesuatunya ternyata lebih sukar dari yang pernah kita bayangkan sebelumnya”. Kemudian ia menambahkan “bidang TI merupakan proses yang sangat rumit, karena kita baru belajar mengenai proses distribusi, karenanya kita harus bekerjasama dengan perusahaan–perusahaan TI.

Namun, Tom Stein, dari perusahaan modal ventura Whisper, mengatakan bahwa dia sangat yakin model ASP ini akan menjadi sarana baru bagaimana dan di mana software–software akan dijual dan dibeli. Untuk itu, Tom menginvestasikan modalnya sekitar USD 235 juta dalam bisnis ASP tahun lalu. Dan, pada tahun berjalan sekarang ini dia sudah menginvestasikan sekitar USD 354 juta, menurut Venture Economic, sebuah perusahaan riset yang mengikuti perkembangan kegiatan VC Whisper.

Dengan antusiasme dan modal yang terus meningkat, tampaknya ekonomi berbasis alihdaya (outsourced economy) ini tak hanya akan mengubah bisnis, melainkan juga pola pikir kita mengenai layanan. Insa

foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.