Volume II No 14 - Februari 2004
 


GOING WIRELESS
Pilih Wi-Fi atau Ada yang Lain?

 

Meski Wi-Fi hotspot
kini tersedia di ribuan lokasi di seluruh dunia,
namun tantangan
berat masih menghadang.
Akankah teknologi berstandar 802.11x ini akan menjadi pilihan pengguna?

Tak terbayangkan oleh Arman, bahwa sambil santai di teras rumahnya yang asri di kawasan Bintaro, ia dapat membaca beberapa artikel manajemen terkini dan sekaligus mengirim surat-surat elektronik (e-mail) kepada beberapa temannya yang kini mukim di mancanegara. Tak terbayangkan pula kini ia dapat membaca beberapa koran pagi yang terbit di sejumlah negara dengan mudah dan gratis lagi. Alangkah mahalnya seandainya hal itu harus dilakukan tanpa memanfaatkan akses Internet.

Seringkali, sekembalinya dari kantor, Arman mampir di salah satu kafe kesukaannya di bilangan Plaza Senayan. Sambil minum kopi dan berbincang-bincang dengan temannya, Arman pun masih sempat mengakses Internet dan membalas atau mengirim e-mail, baik kepada teman maupun relasi bisnis. Hal itu dapat dilakukannya dengan mudah, tak hanya dengan menggunakan laptop, melainkan juga PDA (personal digital assistant) yang dimilikinya.

Minggu lalu, ketika menunggu pesawat setelah pertemuan bisnisnya di Singapura, Arman memanfaatkan waktu singkatnya di lingkungan bandara Changi untuk menyelesaikan bahan presentasinya untuk suatu seminar dan mengirimkan ke sekretarisnya di Jakarta. Betapapun Arman harus pergi ke luar negeri, namun Arman tetap dapat bekerja dan berkomunikasi layaknya ketika sedang berada di kantor. Akses data melalui jaringan Intranet perusahaannya pun dapat dilakukan dengan mudah.

Sedang di kantornya, yang berada di bilangan jalan Sudirman, akses Internet pun dapat dengan mudah dilakukan karena tersedia akses broadband 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu sepanjang tahun. Selain dari ruang kantornya, Arman pun masih dapat berkomunikasi dengan kliennya dari ruang-ruang lain, seperti ruang pertemuan, conference room dan lainnya. Boleh dibilang, mobilitasnya tak menghalangi Arman melakukan berbagai kegiatan, baik di dalam maupun di luar kantor.

Tuntutan bisnis lah yang sebenarnya lebih banyak mendorong Arman berkepentingan melakukan banyak hal dengan berbagai perangkat teknologi canggih, baik itu di kantor, maupun di luar kantor. Namun, hal itu dengan senang hati dilakukannya, selain karena manfaatnya juga akan terkait dengan posisinya sebagai seorang profesional, dan juga memberikan pengalaman baru yang menarik.

Selain itu, jaringan mancanegara membuat Arman merasakan menjadi bagian dari dunia yang luas, yang ke manapun ia pergi, komunikasi dan kegiatan bisnisnya masih tetap dapat dilakukan dengan baik. Sesuatu yang tak mungkin dilakukannya beberapa tahun yang lalu. Tapi, kini, hal itu semakin mudah dilakukan karena tersedianya teknologi wireless local area network (W-LAN) yang lebih dikenal dengan Wi-Fi (wireless fidelity).

Teknologi berstandar IEEE 802.11b, yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dengan kecepatan transfer data 11 Mbps, ini kini semakin banyak digunakan, baik dalam lingkungan rumah, perusahaan dan bahkan di tempat-tempat umum, seperti kafe, lobi hotel, restoran, executive lounge bandara dan sebagainya.

Teknologi yang mendapat tanggapan banyak orang ini, memang bukan satu-satunya alternatif teknologi akses tanpa kabel. Masih ada yang disebut, wireless MAN (Metropolitan Area Network) yang memiliki cakupan lebih luas (bisa mencapai radius 30 mil), dan ada juga WiMax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) yang berskala dunia.

Namun, Wi-Fi bukan saja semakin popular di kalangan pengguna publik personal, berbagai perangkat yang Wi-Fi enabled pun kini semakin banyak tersedia di pasar, baik itu laptop, PDA maupun ponsel, dan gadget lainnya. Yang menarik, perusahaan-perusahaan kecil, terutama jika dibandingkan dengan Cisco, berpeluang bersaing dalam membuat perangkat yang Wi-Fi enabled.

Sementara dalam lingkungan Wi-Fi pun masih ada standar lainnya, misalnya Wi-Fi 802.11a yang berkemampuan lebih besar (54 Mbps) dan bekerja di frekuensi 5 GHz, maupun yang belakangan ini muncul, yakni 802.11g. Standar ini bukan saja memungkinkan kecepatan transfer data 54 Mbps, melainkan ia bekerja di frekuensi 2,4 GHz, kompatibel dengan standar 802.11b dan dengan tingkat keamanan yang lebih baik. Namun, perangkatnya masih mahal dan belum banyak tersedia.

Wi-Fi publik, yang sekarang ini mulai merebak, sebenarnya masih menghadapi kendala pengembangnya, terutama dalam mencari model bisnis yang pas untuk. Meski di sejumlah negera, ambil contoh Amerika, layanan semacam ini sudah tersedia di ribuan tempat, namun belum memunculkan model bisnis yang teruji yang memungkinkan penyediaannya menarik secara bisnis.

Beberapa pakar dan praktis, memang ada yang pesimis, tapi tak kurang banyaknya yang optimis. Namun, kalau dilihat dari perkembangan dan tersedianya berbagai perangkat yang tersedia, yang di kalangan vendor masih akan terus mengembangkannya khususnya berstandar 802.11b, kemungkinannya menjadi lebih besar.

Namun, akhirnya memang penggunalah yang lebih menentukan, apakah mereka tertarik untuk memanfaatkannya atau tidak, apakah layanannya akan menjadi profitable business atau tidak. Hanya saja, laporan riset Pyramid Research, bahwa pengguna Wi-Fi dunia pada tahun 2008 mendatang, berarti empat tahun ke depan, akan mencapai 707 juta pengguna. Akankah hal ini terjadi, wait and see. •Insa

Foto-foto: istimewa
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.