Meski
Wi-Fi hotspot
kini tersedia di
ribuan lokasi di
seluruh dunia,
namun tantangan
berat masih
menghadang.
Akankah teknologi berstandar 802.11x ini akan menjadi
pilihan pengguna?
|
|
Tak
terbayangkan oleh Arman, bahwa sambil santai di teras rumahnya
yang asri di kawasan Bintaro, ia dapat membaca beberapa artikel
manajemen terkini dan sekaligus mengirim surat-surat elektronik
(e-mail) kepada beberapa temannya yang kini mukim di mancanegara.
Tak terbayangkan pula kini ia dapat membaca beberapa koran
pagi yang terbit di sejumlah negara dengan mudah dan gratis
lagi. Alangkah mahalnya seandainya hal itu harus dilakukan
tanpa memanfaatkan akses Internet.
Seringkali,
sekembalinya dari kantor, Arman mampir di salah satu kafe kesukaannya
di bilangan Plaza Senayan. Sambil minum kopi dan berbincang-bincang
dengan temannya, Arman pun masih sempat mengakses Internet
dan membalas atau mengirim e-mail, baik kepada teman maupun
relasi bisnis. Hal itu dapat dilakukannya dengan mudah, tak
hanya dengan menggunakan laptop, melainkan juga PDA (personal
digital assistant) yang dimilikinya.
Minggu lalu, ketika menunggu pesawat setelah pertemuan bisnisnya
di Singapura, Arman memanfaatkan waktu singkatnya di lingkungan
bandara Changi untuk menyelesaikan bahan presentasinya untuk
suatu seminar dan mengirimkan ke sekretarisnya di Jakarta.
Betapapun Arman harus pergi ke luar negeri, namun Arman tetap
dapat bekerja dan berkomunikasi layaknya ketika sedang berada
di kantor. Akses data melalui jaringan Intranet perusahaannya
pun dapat dilakukan dengan mudah.
Sedang di kantornya, yang berada di bilangan jalan Sudirman,
akses Internet pun dapat dengan mudah dilakukan karena tersedia
akses broadband 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu sepanjang
tahun. Selain dari ruang kantornya, Arman pun masih dapat berkomunikasi
dengan kliennya dari ruang-ruang lain, seperti ruang pertemuan,
conference room dan lainnya. Boleh dibilang, mobilitasnya tak
menghalangi Arman melakukan berbagai kegiatan, baik di dalam
maupun di luar kantor.
Tuntutan bisnis lah yang sebenarnya lebih banyak mendorong
Arman berkepentingan melakukan banyak hal dengan berbagai perangkat
teknologi canggih, baik itu di kantor, maupun di luar kantor.
Namun, hal itu dengan senang hati dilakukannya, selain karena
manfaatnya juga akan terkait dengan posisinya sebagai seorang
profesional, dan juga memberikan pengalaman baru yang menarik.
Selain itu, jaringan mancanegara membuat Arman merasakan menjadi
bagian dari dunia yang luas, yang ke manapun ia pergi, komunikasi
dan kegiatan bisnisnya masih tetap dapat dilakukan dengan baik.
Sesuatu yang tak mungkin dilakukannya beberapa tahun yang lalu.
Tapi, kini, hal itu semakin mudah dilakukan karena tersedianya
teknologi wireless local area network (W-LAN) yang lebih dikenal
dengan Wi-Fi (wireless fidelity).
Teknologi berstandar IEEE 802.11b, yang bekerja pada frekuensi
2,4 GHz dengan kecepatan transfer data 11 Mbps, ini kini semakin
banyak digunakan, baik dalam lingkungan rumah, perusahaan dan
bahkan di tempat-tempat umum, seperti kafe, lobi hotel, restoran,
executive lounge bandara dan sebagainya.
Teknologi yang mendapat tanggapan banyak orang ini, memang
bukan satu-satunya alternatif teknologi akses tanpa kabel.
Masih ada yang disebut, wireless MAN (Metropolitan Area Network)
yang memiliki cakupan lebih luas (bisa mencapai radius 30 mil),
dan ada juga WiMax (Worldwide Interoperability for Microwave
Access) yang berskala dunia.
Namun, Wi-Fi bukan saja semakin popular di kalangan pengguna
publik personal, berbagai perangkat yang Wi-Fi enabled pun
kini semakin banyak tersedia di pasar, baik itu laptop, PDA
maupun ponsel, dan gadget lainnya. Yang menarik, perusahaan-perusahaan
kecil, terutama jika dibandingkan dengan Cisco, berpeluang
bersaing dalam membuat perangkat yang Wi-Fi enabled.
Sementara dalam lingkungan Wi-Fi pun masih ada standar lainnya,
misalnya Wi-Fi 802.11a yang berkemampuan lebih besar (54 Mbps)
dan bekerja di frekuensi 5 GHz, maupun yang belakangan ini
muncul, yakni 802.11g. Standar ini bukan saja memungkinkan
kecepatan transfer data 54 Mbps, melainkan ia bekerja di frekuensi
2,4 GHz, kompatibel dengan standar 802.11b dan dengan tingkat
keamanan yang lebih baik. Namun, perangkatnya masih mahal dan
belum banyak tersedia.
Wi-Fi publik, yang sekarang ini mulai merebak, sebenarnya masih
menghadapi kendala pengembangnya, terutama dalam mencari model
bisnis yang pas untuk. Meski di sejumlah negera, ambil contoh
Amerika, layanan semacam ini sudah tersedia di ribuan tempat,
namun belum memunculkan model bisnis yang teruji yang memungkinkan
penyediaannya menarik secara bisnis.
Beberapa pakar dan praktis, memang ada yang pesimis, tapi tak
kurang banyaknya yang optimis. Namun, kalau dilihat dari perkembangan
dan tersedianya berbagai perangkat yang tersedia, yang di kalangan
vendor masih akan terus mengembangkannya khususnya berstandar
802.11b, kemungkinannya menjadi lebih besar.
Namun, akhirnya memang penggunalah yang lebih menentukan, apakah
mereka tertarik untuk memanfaatkannya atau tidak, apakah layanannya
akan menjadi profitable business atau tidak. Hanya saja, laporan
riset Pyramid Research, bahwa pengguna Wi-Fi dunia pada tahun
2008 mendatang, berarti empat tahun ke depan, akan mencapai
707 juta pengguna. Akankah hal ini terjadi, wait and see. •Insa
Foto-foto: istimewa |