
Seputar
e-Procurement
Apa
bedanya aplikasi e-Procurement, sistem
e-Procurement, dan sistem aplikasi e-Procurement? Bisakah
Bapak jelaskan secara rinci.
Sebelumnya saya ucapkan terimakasih.
Widhi
Antara,
Business Development, Jakarta
e-Procurement
merupakan suatu mekanisme pembelian masa kini – atau
dapat dikatakan sebagai teknik pembelian moderen – dengan
memanfaatkan sejumlah aplikasi berbasis internet dan perangkat
teknologi informasi terkait lainnya sebagai enabler dalam
menjalankan proses tersebut. Dalam konsep ini, dikenal sejumlah
istilah yang kerap dipergunakan oleh para praktisi bisni
dan teknologi informasi. Memang karena sekilas terlihat sama,
sejumlah istilah tersebut sering diputarbalikkan (tergantung
dengan konteks yang ada), namun pada dasarnya masing-masing
istilah tersebut memiliki definisi dan ruang lingkup arti
yang cukup berbeda, seperti:
- Aplikasi e-Procurement – merupakan perangkat lunak
atau software yang dipergunakan untuk mengaplikasikan konsep
e-Procurement dalam perusahaan.
- Sistem e-Procurement – merupakan kumpulan dari sejumlah
komponen-komponen atau entitas-entitas di dalam perusahaan,
yang saling terkait satu dengan lainnya, yang memiliki fungsi
untuk menjalankan konsep e-Procurement di dalam perusahaan.
Adapun yang dimaksud dengan komponen terkait misalnya: perangkat
keras (hardware), perangkat lunak (software), sumber daya
manusia (brainware) dan pemakai atau pengguna (users), kebijakan
(policy), tata kelola (governance), proses (business process),
dan infrastruktur perusahaan.
- Sistem Aplikasi e-Procurement – merupakan kumpulan
dari sejumlah komponen-komponen atau modul-modul aplikasi
(sejumlah sub-program dan database), yang saling terkait
satu dengan lainnya, untuk membentuk suatu aplikasi holistik
(utuh) dan terintegrasi dengan fungsi utama mengaplikasikan
konsep e-Procurement dalam perusahaan.
Biasanya istilah “aplikasi e-Procurement” dipergunakan
dalam konteks penyusunan portofolio proyek perencanaan dan
pengembangan aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan perusahaan,
sementara “sistem e-procurement” dipakai jika
ingin membahas konsep pembelian moderen dimana terjadi hubungan
yang erat antara strategi bisnis dan strategi sistem dan
teknologi informasi, sementara “sistem aplikasi e-Procurement” akan
mengemuka dalam penyusunan technical blueprint untuk membuat
perangkat lunak (software engineering).•
Makna Total Value of Ownership
Saya
ingin bertanya kepada Pak Eko. Selain istilah
TCO (total cost of ownership) ternyata ada istilah
lain TVO (total value of ownership). Bagaimana
kita menempatkan istilah dalam analisis yang kita lakukan
dan apa kriteria penilaiannya?
Apa perbedaannya yang signifikan? Terima kasih.
Rizky Bahctiar,
Mahasiswa
STIKOM, Bandung
Secara
prinsip, konsep TVO merupakan kebalikan dari TCO. Dalam konteks
teknologi informasi, jika TCO didefinisikan
sebagai
biaya total yang harus dikeluarkan oleh perusahaan semenjak
yang bersangkutan mengadakan atau membeli sebuah produk teknologi
informasi sampai dengan proses implementasi dan pemeliharaannya,
maka TVO didefinisikan sebagai keseluruhan potensi manfaat
dirasakan atau diperoleh perusahaan karena diterapkannya
sebuah produk teknologi informasi. Konsep yang biasa dipergunakan
untuk memperbandingkan antara TCO dan TVO biasa disebut sebagai “Cost-Benefit
Analysis” (CBA).
Pendekatan dalam menerapkan konsep CBA dalam ilmu teknologi
informasi cukup berbeda dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya
mengingat bahwa banyak sekali faktor biaya (cost) dan faktor
manfaat (value) yang bersifat intangible dan unquantifiable.
Oleh karena itulah dikenal beragam teknik, mekanisme, dan
metodologi CBA dalam dunia teknologi informasi, seperti:
Return-On-Investment, Multi-Objective Multi-Criteria Method,
Boundary Values, Return-On-Management, Information Economics,
Value Analysis, Experimental Methods, dan lain sebagainya.
Kriteria yang dipergunakan dalam TCO tidak serumit TVO. Secara
prinsip keseluruhan kriteria yang dipergunakan oleh TCO dapat
dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu: biaya investasi – yaitu
uang yang harus dikeluarkan untuk membeli produk atau solusi
teknologi informasi, biaya implementasi dan operasional – yaitu
biaya yang harus dikeluarkan untuk menerapkan, memelihara,
dan mengembangkan sistem, dan biaya lain-lain – menyangkut
pengeluaran seperti pelatihan SDM, biaya sosialisasi sistem
baru, dan lain sebagainya.
Sementara kriteria yang dipergunakan
oleh TVO cukup beragam karena banyak sekali teori manajemen
yang menawarkan konsep mengenai value. Beberapa praktisi
manajemen dan teknologi informasi menyarankan untuk menggunakan
TVO bersama-sama dengan konsep Balanced Scorecard yang diperkenalkan
oleh Robter Kaplan dimana value dapat dilihat dari 4 (empat)
aspek utama, yaitu: keuangan, kepuasan pelanggan, performa
proses internal, dan pertumbuhan usaha. Contoh lain adalah
menggunakan sejumlah teori Michael Porter dimana value dari
implementasi teknologi informasi dapat diperoleh sejauh produk
tersebut dapat membantu perusahaan dalam menciptakan produk
dan jasa yang unik (differentiation) atau murah-cepat-baik
(cost leadership); atau value yang diciptakan dalam bentuk
pencegahan para kompetitor utama untuk dapat bersaing dengan
perusahaan tersebut (seperti dikemukakannya dalam teori “Five
Forces in Competition”).•
Knowledge Management: Bagaimana
kita melihatnya?
Terima
kasih sebelumnya. Saya ingin mengajukan pertanyaan sebagai
berikut. Bagaimana kita sebaiknya melihat Knowledge Management
(KM) dalam perusahaan. Apakah itu berarti setiap pengetahuan
yang ada di kelola sedemikian rupa menjadi milik perusahaan
dan apa saja kriteria
pengetahuan yang layak dimasukkan dalam aspek KM?
Budi Harjono,
Manager Business,
Jakarta
Perusahaan terkemuka Accenture mendifinisikan “knowledge
management” sebagai:
“A systematic process for creating, acquiring, synthesizing,
sharing, using, and distributing information, insights
and experiences to achive the organisational goals…”
Konsep ini lahir setelah terjadinya sejumlah fenomena unik
di dalam era ekonomi baru (new digital economy) dimana faktor
4M (Money, Machines/Methods, Materials, dan Men) saja tidak
cukup untuk dapat bersaing di dalam bisnis global tanpa dimilikinya
faktor produksi penting kelima yaitu “knowledge” atau
pengetahuan. Berbagai kasus membuktikan dimana ada perusahaan
yang telah menguasai 4M namun gagal dalam berbisnis karena
tidak melakukan pengelolaan yang baik terhadap knowledge yang
dimiliki dan diperlukan untuk menjalankan usahanya; sementara
di pihak lain ada perusahaan yang berhasil walaupun hanya memiliki
sumber daya “knowledge” semata dengan berbagai
keterbatasan sumber daya 4M lainnya yang dimiliki.
Secara teori, ada dua jenis knowledge yang terdapat di dalam
perusahaan, yaitu explicit knowledge dan tacit knowledge. Explicit
Knowledge merupakan pengetahuan yang tersimpan di dalam sejumlah
media penyimpan data dan/atau informasi seperti dokumen, arsip,
laporan, bukti transaksi, notulen pertemuan, grafik profil
usaha, foto-foto atau gambar-gambar, video dan audio, files/database,
email, dan lain sebagainya. Sementara Tacit Knowledge adalah
pengetahuan yang “tidak terlihat” karena keberadaannya
yang tersebar dan embedded dalam berbagai bentuk, seperti:
pengalaman seseorang, percakapan antar individu, dialog, diskusi
formal maupun informal, intelejensia individu, mekanisme pengambilan
keputusan, pemikiran-pemikiran, dan lain sebagainya.
(Diagram
Platform Knowledge Management in pdf)
Dalam kerangka ini, seluruh pengetahuan yang berasal dari fakta,
data, dan/atau informasi terkait dengan proses atau aktivitas
bisnis perusahaan sehari-hari menjadi milik perusahaan -dalam
arti kata diciptakan dan perlu disebarluaskan kepada seluruh
manajemen, karyawan, dan stakeholders perusahaan sesuai dengan
hak, wewenang, tugas, dan tanggung jawabnya. Tentu saja dari
keseluruhan pengetahuan tersebut ada yang relevan bagi kepentingan
usaha dan ada yang tidak dipergunakan sama sekali. Oleh itulah
maka diperlukan suatu manajemen khusus untuk mengelola sumber
daya knowledge ini. Biasanya knowledge yang dianggap perlu
untuk diciptakan dan didistribusikan adalah yang secara langsung
terkait dengan penciptaan value bagi bisnis, seperti: profil
pelanggan, portofolio keuangan, skenario pengambilan keputusan,
prosedur kerja bermutu, sistem manajemen kualitas, dan lain
sebagainya. Pokoknya berbagai pengetahuan yang dapat meningkatkan
level “intelegensia” para individu di dalam perusahaan
- sehingga dapat meningkatkan level kehandalan dari perusahaan
(enterprise intelligence) - harus dikelola sebaik-baiknya.
Oleh karena itulah maka teknologi informasi dan komunikasi
hampir selalu dilibatkan di dalam setiap inisiatif pengembangan
knowledge management karena kemampuannya untuk dapat menciptakan,menyimpan,menstrukturkan,mensintesakan,
dan menyebarkan/mendistribusikan informasi secara efektif dengan
cara yang efisien.•
|