Volume II No 13 - Desember 2003-Januari 2004
 


TI Bukan Saja Penting,
Tapi Strategis

 

Ke depan persaingan di industri farmasi,
termasuk kalangan
distributor, akan
semakin ketat.
Penerapan TI diperkirakan akan menjadi dukungan
yang sangat penting dan strategis.

Drs. Amir Hamzah Pane, MM.,
Pengamat Industri Farmasi
Kalau dilihat dari sejarahnya, sebenarnya industri farmasi kita berasal dari berkembangnya Pedagang Besar Farmasi dan Importir di masa lalu. Jadi, kalau kita menyaksikan industri farmasi yang memiliki fasilitas manufaktur seperti sekarang ini, sebenarnya hal itu baru berkembang sekitar tahun 1970an.

Kemudian muncul regulasi pemerintah yang membuka kemungkinan perusahaan-perusahaan, meski tidak memiliki dasar industri farmasi, dalam arti memiliki fasilitas manufaktur, untuk mendirikan usaha distribusi atau PBF (pedagang besar farmasi). Hal itu yang kemudian mendorong berkembang pesatnya jumlah distributor farmasi atau PBF.

Sementara itu, industri manufaktur farmasi, sesuai dengan regulasi pemerintah, harus menggunakan jalur PBF ini untuk mendistribusikan produk-produk farmasinya, khususnya obat-obatan, hingga mampu menjangkau apotek dan toko obat. Sekarang ini, akibat perkembangan itu, rasio antara jumlah pabrik obat dan PBF (distributor) sangat timpang. Jumlah distributor jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan pabrik obatnya.

Dalam industri farmasi ini ada yang sedikit khusus, yakni jumlah item yang diperdagangkan sangat banyak, yakni mencapai 7000 item, namun tak ada satu pabrik pun yang memonopoli. Bahkan, ada pabrik yang hanya memproduksi dua atau paling banyak lima item, sepanjang produknya bisa menjadi product leader, perusahaan itu sudah dapat bertahan. Hal ini yang menyebabkan jumlah distributor bertambah banyak. Belum lagi, distributor juga bisa mengageni produk-produk yang dipasarkan suatu PBF, atau menjadi sub-distributor. Juga, ada kecenderungan pabrik-pabrik obat mendirikan sendiri PBF-nya, sehingga cenderung monopolistik.

Kalau sekarang ini ada perusahaan distribusi yang memiliki jenis produk farmasi yang banyak, sehingga seperti memonopoli, padahal keagenan tunggal (sole distributor) sudah dihapuskan, itu lebih karena ia mampu mendistribusikan obatnya secara efisien. Dukungan teknologi informasi (TI) yang memungkinkan perusahaan menjalankan kegiatannya secara lebih efisien, sehingga berbagai informasi pendistribusiannya dapat diketahui secara online, bahkan oleh kalangan prinsipal di luar negeri. Hal itu, yang kemudian menumbuhkan kepercayaan kalangan prinsipal untuk menunjuk perusahaan distributor dalam pendistribusian obatnya di Indonesia.

Misalnya saja Anugrah Argon Medica (AAM), yang di kalangan prinsipal dianggap sebagai distributor yang paling efisien. Begitu juga, (Anugrah Pharmindo Lestari - APL). Mereka ini paling banyak mengageni jenis-jenis obat yang laris di pasaran Indonesia. Dengan sistem TI yang diterapkannya mereka bisa memantau jaringan distribusinya, bahkan kalau ada apotek yang karena belum melunasi pembayarannya kemudian terjadi penutusan kiriman obat, itu terjadi karena sistemnya secara otomatis melakukan itu. Hal itu, bukan saja memungkinkan tingkat persaingan yang lebih tinggi, karena efisien, tetapi juga akan sangat mendukung peningkatan pendapatan perusahaan, selain meningkatnya kepercayaan dari berbagai pihak, termasuk prinsipal.

"Penerapan TI memungkinkan para distributor dapat menjalankan kegiatannya secara lebih efisien, dan efektif."
Selain itu, dengan dukungan sistem TI itu pula perusahaan prinsipal juga dapat memantau apakah obat yang didistribusikan di Indonesia benar-benar berasal dari subsidiari mereka di Indonesia atau justru diperoleh dari impor paralel, yang sangat mereka takuti. Jika impor paralel yang terjadi, maka subsidiari di Indonesia akan rugi. Karenanya, prinsipal-prinsipal di luar negeri memiliki preferensi yang lebih besar kepada kalangan distributor yang telah menerapkan sistem TI dalam peredaran obatnya. Dengan kata lain, prinsipal akan memberi pertimbangan khusus dalam memenunjuk keagenan berbagai produknya kepada distributor di Indonesia yang telah menerapkan TI.

Sebaliknya, di Indonesia, tidak ada penelitian atau riset yang mendorong munculnya obat-obat baru, melainkan selalu muncul dari luar negeri. Karenanya, kalangan distributor Indonesia selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan keagenan obat-obat baru dari luar negeri itu. Tak jarang kalangan PBF menghadiri berbagai peluncuran obat baru di mancanegara dengan harapan perusahaannya akan ditunjuk langsung oleh prinsipal untuk mendistribusikan obat baru tersebut.

Umumnya perusahaan yang mendapatkan kesempatan itu lebih karena mereka mampu mendistribusikan obat-obatan secara efisien, dan itu karena perusahaannya didukung oleh sistem TI. Dengan begitu, terlihat bahwa penerapan TI pada suatu distributor berperan sangat strategis bagi perkembangan bisnisnya.

Selain itu, transparansi pendistribusian obat yang didukung penerapan TI ini semakin memungkinkan terjadinya kontrol terhadap kemungkinan beredarnya obat-obatan palsu, karena baik prinsipal maupun subsidiari dapat memantau inventori atau penjualannya. Misalnya jika dilakukan checking on the spot, untuk mengetahui mutasi produk-produk yang dijualnya, dimana suatu apotek mengalami overstock, padahal ia tak pernah melakukan re-order, maka kemungkinan itu berasal dari obat-obatan palsu.

Selain itu, mengapa penerapan TI di suatu perusahaan distributor menjadi pertimbangan penting prinsipal atau pabrik obat di luar negeri, tidak saja terkait dengan distribusi, melainkan juga jika terjadi ada efek samping dari obat-obat yang diproduksi. Karena, jika hal itu terjadi, maka mereka dapat dengan cepat mengetahuinya dan bahkan dapat mendiskusikannya ke seluruh dunia dengan jaringan yang dimilikinya guna mendapatkan masukan bagaimana mengatasinya atau tindakan penting apa yang akan diambilnya.

Di sisi lain, sebenarnya kalangan PBF ini pun telah menawarkan kemungkinan kalangan pengusaha apotek untuk juga menerapkan TI, sehingga mereka bisa online. Namun, tak banyak apotek yang memanfaatkannya, terutama jika pertimbangannya skala ekonomis. Tak jarang, jika hanya bertumpu pada atu apotek saja, sistem TI tak berjalan efisien. Tetapi, jika dikembangkan sebagai suatu jaringan, misalnya sejumlah apotek, maka ia akan sangat efektif, dan sekaligus mendorong apotek-apotek menjadi lebih kompetitif.

Tampaknya, ke depan, pola-pola jaringan ini akan banyak digunakan kalangan apotek, terutama yang terkait dalam suatu grup usaha, apalagi yang terkait dengan PBF. Begitu juga, meski banyak juga rumah sakit yang sudah menerapkan TI, namun sayangnya mereka tidak online dengan PBF. Atau sebaliknya, mereka juga belum terkoneksi dengan berbagai rumah sakit lainnya, sehingga bisa lebih efisien dan murah dalam penyediaan obatnya.

Jadi, saya kira, tak lama lagi penerapan TI di kalangan industri farmasi, distributor dan apotek ini akan berkembang. Karena bukan saja hal itu sangat penting, melainkan juga sangat strategis dalam meningkatkan daya saing mereka dalam era yang sangat kompetitif sekarang ini.

Peningkatan daya saing, berarti secara internal akan semakin meningkatkan efisiensi dan efektivitas setiap kegiatan di dalam perusahaan. •TI

Foto-foto: Muflihun
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.