Ke
depan
persaingan di
industri farmasi,
termasuk kalangan
distributor, akan
semakin ketat.
Penerapan TI
diperkirakan
akan menjadi
dukungan
yang sangat
penting dan strategis.
|
|
 |
Drs. Amir Hamzah Pane, MM.,
Pengamat Industri Farmasi |
Kalau
dilihat dari sejarahnya, sebenarnya industri farmasi kita berasal
dari
berkembangnya Pedagang Besar Farmasi dan Importir di masa lalu.
Jadi, kalau kita menyaksikan industri farmasi yang memiliki fasilitas
manufaktur seperti sekarang ini, sebenarnya hal itu baru berkembang
sekitar tahun 1970an.
Kemudian muncul regulasi pemerintah yang membuka kemungkinan
perusahaan-perusahaan, meski tidak memiliki dasar industri farmasi,
dalam arti memiliki fasilitas manufaktur, untuk mendirikan usaha
distribusi atau PBF (pedagang besar farmasi). Hal itu yang kemudian
mendorong berkembang pesatnya jumlah distributor farmasi atau
PBF.
Sementara itu, industri manufaktur farmasi, sesuai dengan regulasi
pemerintah, harus menggunakan jalur PBF ini untuk mendistribusikan
produk-produk farmasinya, khususnya obat-obatan, hingga mampu
menjangkau apotek dan toko obat. Sekarang ini, akibat perkembangan
itu, rasio antara jumlah pabrik obat dan PBF (distributor) sangat
timpang. Jumlah distributor jauh lebih banyak bila dibandingkan
dengan pabrik obatnya.
Dalam industri farmasi ini ada yang sedikit khusus, yakni jumlah
item yang diperdagangkan sangat banyak, yakni mencapai 7000 item,
namun tak ada satu pabrik pun yang memonopoli. Bahkan, ada pabrik
yang hanya memproduksi dua atau paling banyak lima item, sepanjang
produknya bisa menjadi product leader, perusahaan itu sudah dapat
bertahan. Hal ini yang menyebabkan jumlah distributor bertambah
banyak. Belum lagi, distributor juga bisa mengageni produk-produk
yang dipasarkan suatu PBF, atau menjadi sub-distributor. Juga,
ada kecenderungan pabrik-pabrik obat mendirikan sendiri PBF-nya,
sehingga cenderung monopolistik.
Kalau sekarang ini ada perusahaan distribusi yang memiliki jenis
produk farmasi yang banyak, sehingga seperti memonopoli, padahal
keagenan tunggal (sole distributor) sudah dihapuskan, itu lebih
karena ia mampu mendistribusikan obatnya secara efisien. Dukungan
teknologi informasi (TI) yang memungkinkan perusahaan menjalankan
kegiatannya secara lebih efisien, sehingga berbagai informasi
pendistribusiannya dapat diketahui secara online, bahkan oleh
kalangan prinsipal di luar negeri. Hal itu, yang kemudian menumbuhkan
kepercayaan kalangan prinsipal untuk menunjuk perusahaan distributor
dalam pendistribusian obatnya di Indonesia.
Misalnya saja Anugrah Argon Medica (AAM), yang di kalangan prinsipal
dianggap sebagai distributor yang paling efisien. Begitu juga,
(Anugrah Pharmindo Lestari - APL). Mereka ini paling banyak mengageni
jenis-jenis obat yang laris di pasaran Indonesia. Dengan sistem
TI yang diterapkannya mereka bisa memantau jaringan distribusinya,
bahkan kalau ada apotek yang karena belum melunasi pembayarannya
kemudian terjadi penutusan kiriman obat, itu terjadi karena sistemnya
secara otomatis melakukan itu. Hal itu, bukan saja memungkinkan
tingkat persaingan yang lebih tinggi, karena efisien, tetapi
juga akan sangat mendukung peningkatan pendapatan perusahaan,
selain meningkatnya kepercayaan dari berbagai pihak, termasuk
prinsipal.
 |
| "Penerapan TI memungkinkan para distributor
dapat menjalankan kegiatannya secara lebih efisien, dan
efektif." |
Selain itu, dengan dukungan sistem TI itu pula perusahaan prinsipal
juga dapat memantau apakah obat yang didistribusikan di Indonesia
benar-benar berasal dari subsidiari mereka di Indonesia atau
justru diperoleh dari impor paralel, yang sangat mereka takuti.
Jika impor paralel yang terjadi, maka subsidiari di Indonesia
akan rugi. Karenanya, prinsipal-prinsipal di luar negeri memiliki
preferensi yang lebih besar kepada kalangan distributor yang
telah menerapkan sistem TI dalam peredaran obatnya. Dengan kata
lain, prinsipal akan memberi pertimbangan khusus dalam memenunjuk
keagenan berbagai produknya kepada distributor di Indonesia yang
telah menerapkan TI.
Sebaliknya, di Indonesia, tidak ada penelitian atau riset yang
mendorong munculnya obat-obat baru, melainkan selalu muncul dari
luar negeri. Karenanya, kalangan distributor Indonesia selalu
berlomba-lomba untuk mendapatkan keagenan obat-obat baru dari
luar negeri itu. Tak jarang kalangan PBF menghadiri berbagai
peluncuran obat baru di mancanegara dengan harapan perusahaannya
akan ditunjuk langsung oleh prinsipal untuk mendistribusikan
obat baru tersebut.
Umumnya perusahaan yang mendapatkan kesempatan itu lebih karena
mereka mampu mendistribusikan obat-obatan secara efisien, dan
itu karena perusahaannya didukung oleh sistem TI. Dengan begitu,
terlihat bahwa penerapan TI pada suatu distributor berperan sangat
strategis bagi perkembangan bisnisnya.
Selain itu, transparansi pendistribusian obat yang didukung penerapan
TI ini semakin memungkinkan terjadinya kontrol terhadap kemungkinan
beredarnya obat-obatan palsu, karena baik prinsipal maupun subsidiari
dapat memantau inventori atau penjualannya. Misalnya jika dilakukan
checking on the spot, untuk mengetahui mutasi produk-produk yang
dijualnya, dimana suatu apotek mengalami overstock, padahal ia
tak pernah melakukan re-order, maka kemungkinan itu berasal dari
obat-obatan palsu.
Selain itu, mengapa penerapan TI di suatu perusahaan distributor
menjadi pertimbangan penting prinsipal atau pabrik obat di luar
negeri, tidak saja terkait dengan distribusi, melainkan juga
jika terjadi ada efek samping dari obat-obat yang diproduksi.
Karena, jika hal itu terjadi, maka mereka dapat dengan cepat
mengetahuinya dan bahkan dapat mendiskusikannya ke seluruh dunia
dengan jaringan yang dimilikinya guna mendapatkan masukan bagaimana
mengatasinya atau tindakan penting apa yang akan diambilnya.
Di sisi lain, sebenarnya kalangan PBF ini pun telah menawarkan
kemungkinan kalangan pengusaha apotek untuk juga menerapkan TI,
sehingga mereka bisa online. Namun, tak banyak apotek yang memanfaatkannya,
terutama jika pertimbangannya skala ekonomis. Tak jarang, jika
hanya bertumpu pada atu apotek saja, sistem TI tak berjalan efisien.
Tetapi, jika dikembangkan sebagai suatu jaringan, misalnya sejumlah
apotek, maka ia akan sangat efektif, dan sekaligus mendorong
apotek-apotek menjadi lebih kompetitif.
Tampaknya, ke depan, pola-pola jaringan ini akan banyak digunakan
kalangan apotek, terutama yang terkait dalam suatu grup usaha,
apalagi yang terkait dengan PBF. Begitu juga, meski banyak juga
rumah sakit yang sudah menerapkan TI, namun sayangnya mereka
tidak online dengan PBF. Atau sebaliknya, mereka juga belum terkoneksi
dengan berbagai rumah sakit lainnya, sehingga bisa lebih efisien
dan murah dalam penyediaan obatnya.
Jadi, saya kira, tak lama lagi penerapan TI di kalangan industri
farmasi, distributor dan apotek ini akan berkembang. Karena bukan
saja hal itu sangat penting, melainkan juga sangat strategis
dalam meningkatkan daya saing mereka dalam era yang sangat kompetitif
sekarang ini.
Peningkatan daya saing, berarti secara internal akan semakin
meningkatkan efisiensi dan efektivitas setiap kegiatan di dalam
perusahaan. •TI
Foto-foto: Muflihun |