Bayangkan
sebuah toko di mana produk-produk yang dijualnya selalu
tersedia kapan saja konsumen membutuhkannya. Bayangkan
pula suatu toko di mana mustahil dijumpai barang-barang
yang sudah kadaluarsa, di mana pengutilan barang sangat
mudah terdeteksi, di mana penghitungan sistem inventaris
Anda klop dengan hitungan inventaris barang secara
fisik, dan di mana proses bisnis dengan mitra dagang
begitu akurat dan terotomatisasi. Bayangkan pula di
mana keberadaan, transparansi dan rantai pasok (supply
chain) barang dibangun berdasarkan informasi supply
dan demand secara real-time. Jual satu, datang satu,
jual satu, datang satu … begitu seterusnya. Bayangkan
juga, berapa besar modal kerja dan inventaris yang
bisa dihemat.
Itulah
gambaran mengenai rantai pasok yang ideal: menyinkronkan
aktivitas di sepanjang rantai pasok, mulai dari titik
penjualan merunut ke belakang sampai penyediaan bahan
mentah. Jika ini terjadi, terciptalah suatu demand
driven and networked economy yang sempurna.
Berbicara angan-angan memang mudah, namun implementasinya
tidak semudah membalik telapak tangan. Ambil contoh industri
ritel apa saja, di mana supply chain berperan sangat
penting. Mungkin kita tidak usah terlalu jauh sampai
ke hulunya. Katakanlah mulai dari pusat distribusinya.
Di tempat ini, setiap paket barang yang datang dari pabrik
harus dibuka dan isinya diperiksa secara manual, baik
kondisi maupun jumlahnya, dan kemudian ditentukan barang
ini akan dikirim ke toko A, toko B dst. Proses ini pun
akan semakin rumit ketika suatu paket terdiri dari beberapa
jenis barang. Ketika barang dikirim ke tempat tujuan,
timbul lagi satu masalah baru, bagaimana kita melacak
keberadaan barang, apakah sudah sampai di tujuan atau
malah nyasar ke tempat lain?
Di toko, gerai, supermarket, hypermarket atau lainnya
yang menjadi tempat interaksi perusahaan ritel dengan
para konsumennya, masalah dan tantangan yang dihadapi
pun tidak sedikit. Seringkali, para peritel tidak selalu
tahu berapa aset yang mereka miliki ataupun keberadaannya
(secara real time). Sebagai kompensasinya, mereka pun
selalu menyetok barang. Solusi semacam ini jelas membutuhkan
biaya yang tidak sedikit, dan tidak seluruhnya memecahkan
masalah. Belum lagi, masalah-masalah yang terkait dengan
ketidakcocokan antara jumlah barang dalam sistem inventaris
dengan hasil pengecekan fisik pada saat proses stock
opname misalnya, baik akibat salah input maupun akibat
pengutilan barang.
Itu baru dari sisi peritel. Nah, bagaimana dengan konsumen?
Mungkin Anda pernah merasakan betapa kesalnya diri Anda
ketika sudah capai-capai datang ke supermarket hanya
untuk mendapatkan rak tempat barang yang Anda cari sudah
kosong melompong. Usaha Anda untuk mencari informasi
ke petugas toko kapan barang akan tersedia pun sia-sia,
karena sang petugas cuma bisa angkat bahu. Kalaupun Anda
berhasil mendapatkan barang yang dicari, ketika akan
membayar Anda harus menghadapi antrean panjang di kasir.
Itu belum seberapa dibandingkan ketika sampai di rumah
Anda mendapatkan barang yang Anda beli sudah melewati
batas kadaluarsa!
Situasi semacam ini hanyalah sebagian kecil dari contoh
masalah dan tantangan yang dihadapi para peritel saat
ini. Selain harus menghadapi inventory chaos, para peritel
juga dihadapkan pada karakteristik konsumen yang terus
berubah. Seperti dilaporkan dalam Shopper Report 2002,
selain keakuratan harga, ukuran terpenting untuk kepuasan
konsumen adalah sistem check-out yang efisien dan ketersediaan
barang.
Selain itu menurut Patrick Medley, Retail and Consumer
Packaged Goods Leader, IBM Business Consulting Services
untuk Asean dan Asia Selatan, konsumen pun semakin pintar,
cenderung tidak loyal pada satu entitas ritel tertentu
dan sangat sensitif terhadap harga, waktu, value dan
informasi. Meski sebagian besar peritel mengetahui masalah
ini dan berusaha menghadapinya, namun konsumen selalu
menuntut lebih. Tetapi, para peritel kini boleh sedikit
menarik napas lega, karena beberapa solusi yang konon
cukup menjanjikan mulai bermunculan.
Identifikasi otomatis
Hampir semua industri ritel memanfaatkan teknologi pengidentifikasi
otomatis atau automatic identification (Auto-ID) untuk
melancarkan proses dalam supply chain-nya, apakah itu
dengan barcode atau smart card. Rentang aplikasinya luas,
mulai dari sistem akses dan keamanan sampai sistem pelacak
barang, manajemen inventaris dan menyederhanakan check-out
dari toko ritel. Auto-ID sendiri sebenarnya juga bukan
barang baru, karena pengembangan enabling technology-nya,
yaitu barcode dan Universal Product Code (UPC) sudah
dimulai sejak pertengahan tahun 50-an sampai 70-an.
Electronic
Product Code (EPC)
Electronic Product Code (EPC) adalah identifikasi
produk generasi baru, mirip dengan UPC (Universal
Product Code) atau barcode. Seperti halnya barcode,
EPC terdiri dari angka-angka yang menunjukkan kode
produsen, produk, versi dan nomor seri. Namun,
EPC memiliki digit ekstra untuk mengidentifikasi
item yang unik. Ukuran bit EPC yang mencapai 96-bit
memungkinkannya secara unik mengidentifikasi lebih
dari 268 juta produsen, masing-masing memiliki
lebih dari satu juta jenis produk. Sementara sisanya
masih mencukupi untuk melabel seluruh produk individualnya.
EPC inilah informasi yang tersimpan dalam chip
RFID. |
UPC dan barcode yang sudah digunakan di mana-mana
menimbulkan dampak yang dramatis terhadap industri
consumer packaged
goods (CPG), yang meliputi produsen dan pengecer consumer
goods. Menurut Accenture, sampai tahun 1997, total
penghematan yang dicapai dari seluruh bagian value
chain industri
CPG di Amerika Serikat – mulai dari produksi sampai
barang tiba di rak toko – mencapai 17 miliar
dolar AS.
Pengembangan dan pemanfaatan Auto-ID kini mulai memasuki
babak baru. Munculnya teknologi baru, khususnya electronic
product codes (EPC) dan tag atau label radio frequency
identification (RFID) diharapkan akan meningkatkan penghematan
lebih nyata di berbagai industri. Menurut EPCglobal -
organisasi pembuat standarisasi dan pengawas implementasi
identifikasi dalam supply chain - teknologi baru ini
meningkatkan kemampuan identifikasi obyek secara otomatis
yang dimiliki UPC maupun barcode. Yakni, dengan memberikan
data yang lebih akurat, spesifik dan tepat waktu, sekaligus
mengurangi kebutuhan tenaga kerja untuk membaca informasi
Auto-ID.
Informasi berkualitas lebih tinggi ini memungkinkan perusahaan
melacak masing-masing barang secara individu sepanjang
value chain, meningkatkan efisiensi masing-masing proses,
memperbaiki utilisasi aset, meningkatkan akurasi forecast,
dan meningkatkan fleksibilitas perusahaan dalam merespon
perubahan kondisi supply dan demand. Berbeda dengan barcode
yang digunakan sekarang. Barcode memang bisa menyediakan
identifikasi suatu produk, namun tidak secara individu,
dan masih membutuhkan intervensi manusia dalam mengambil
datanya.
 |
| Pengadaan barang lebih
akurat dengan otomatisasi supply chain. Rak pajang
pun tidak akan pernah kosong. |
Terkesan futuristik dan berlebihan? Tidak juga, karena
beberapa pemain besar ritel, baik di Eropa maupun di
Amerika Utara sudah mengambil ancang-ancang untuk memanfaatkan
solusi ini. Ambil contoh Metro Group. Meski baru sebatas
proyek percontohan, salah satu grup dagang terbesar dunia
yang bermarkas di Duesseldorf, Jerman ini meluncurkan
apa yang dinamakan toko masa depan atau Future Store
Initiative bulan April 2003 lalu.
Konsep toko masa depan ini dirancang untuk menguji
RFID dan teknologi ritel lainnya dalam kondisi nyata
untuk
melihat bagaimana kinerja dan respon konsumen terhadap
teknologi tersebut. “Kami tidak sekedar membangun
sebuah toko,” tukas juru bicara Metro, Albrecht
von Truchsess, “namun juga membangun visi ritel
untuk masa depan.”
Salah satu supermarket dari jaringan supermarket Extra
milik Metro di kota Rheinberg telah dilengkapi dengan
rak pintar, sistem kasir-mandiri berbasis RFID, timbangan
pintar, dan teknologi ritel canggih lainnya. Supermarket
ini terbuka untuk umum, dan konsumennya tetap bisa memilih
berbelanja dengan sistem baru atau dengan cara tradisional.
RFID merupakan teknologi terpenting yang diujicoba, karena
teknologi ini digunakan untuk melacak barang-barang dari
pemasok sampai ke pusat distribusi hingga gudang supermarket,
dan berakhir di rak pajangan. Tujuannya untuk menguji
apakah sistem ini bisa mengurangi out of stock.
Di pusat distribusi barang, alat pembaca RFID memindai
tag atau label yang menempel pada dus maupun palet berisi
produk. Label ini bisa diprogram untuk menyimpan Global
Trade Identification Number (GTIN) dan nomor seri. Informasi
inilah yang dibaca ketika barang yang berlabel melewati
pintu palka gudang dan di titik-titik pengeluaran/pemasukan
barang. Palet dan dus dipindai untuk memberikan data
pengiriman dan inventaris yang akurat, dan kemudian ditransfer
ke sistem back-end Future Store tersebut.
| RFID – Radio
Frequency Identification (RFID) Teknologi RFID bergantung pada transmisi data
nirkabel melalui medan elektromagnetik. Jantung
teknologi ini adalah perangkat yang dinamakan
RFID tag: sebuah label identifikasi berisi
chip yang dapat diprogram, dilengkapi dengan
sebuah antena mini. RFID tag bisa dibaca dengan
sebuah reader yang dikendalikan komputer tanpa
harus membutuhkan direct line-of-sight seperti
halnya pembaca barcode. Jangkauan reader ini
bisa mencapai satu meter.
Supaya informasi yang tersimpan di chip bisa
dibaca, reader memancarkan medan frekuensi
elektromagnetik yang diterima oleh antena mini
di RFID tag. Melalui hubungan elektronis ini,
data yang tersimpan bisa dibaca, diproses dan
diedit. Tenaga chip terintegrasi ini dipasok
melalui medan frekuensi radio yang dipancarkan
oleh reader, sehingga RFID tidak membutuhkan
sumber tenaga yang terpisah. |
Beberapa pemasok seperti Gillette misalnya, memberi label
RFID pada setiap unit produk alat cukurnya, yang kemudian
ditempatkan ke dalam rak pajang pintar (smart shelves).
Alat pemindai yang ada di rak akan terus memantau jumlah
produk yang dipajang, sehingga ketika jumlah produk tinggal
sedikit, rak akan mengirim peringatan kepada petugas
supermarket untuk segera mengisinya. Selain itu, beberapa
produk kosmetik dan makanan juga diberi label RFID untuk
memberikan data inventaris secara real time dan notifikasi
ketika barang sudah kadaluarsa.
Troli belanja pun tidak luput diberikan label RFID. Di
pintu supermarket terpasang pemindai RFID, sehingga jumlah
troli yang keluar masuk bisa terpantau manajer supermarket.
Jika ada peningkatan lalu lintas troli, jumlah kasir
yang dibuka pun bisa ditambah, sehingga mengurangi antrian
di kasir.
Dr. Gerd Wolfram, Project Manager METRO Group Future
Store Initiative, mengaku cukup puas dengan uji coba
Extra Future Store ini. “Dengan menggunakan teknologi
ritel mutakhir, ketersediaan barang menjadi lebih reliable.
Belanja pun semakin mudah dan nyaman. Dengan cara ini,
kami berharap bisa meningkatkan loyalitas pelanggan dan
mendongkrak penjualan. Pada saat yang sama, juga mengoptimalkan
proses dan mengurangi biaya,” ujarnya.
Kolaborasi antar vendor
Jumlah penggunaan RFID memang belum masal. Untuk
kasus Future Store saja, jenis produk yang berlabel
RFID
sampai ke tingkat item hanya segelintir, misalnya
Gillette, Procter & Gamble dan Kraft, sementara
pemasok lain belum menerapkannya. Namun, Metro telah
menerapkan pelabelan RFID untuk tingkat dus dan palet,
yang meski tidak serinci tingkat item, tetap memungkinkan
dapat memperbaiki proses pelacakan dan manajemen
inventaris.
Seorang analis dari META Group, Gene Alvarez mengatakan
bahwa penggunaan label RFID sampai setingkat item memang
belum akan meluas dalam waktu dekat ini. Namun, keterlambatan
ini menurutnya tidak berdampak pada tingkat penyerapan
teknologi dan keuntungan yang dihasilkannya.
 |
| Otomatisasi supply
chain memungkinkan SDM perusahaan ritel lebih
diberdayakan untuk melayani dan lebih dekat ke
konsumen. |
“ Pemberian label RFID sampai tingkat item
cocok untuk barang yang label harganya cukup besar,” ujar
Alvares. Jadi, label RFID sampai tingkat palet dan
rak, ditambah beberapa produk tertentu yang menggunakan
RFID sampai setingkat item sementara ini sudah cukup
memadai. “Tidak perlu memaksakan diri sampai
teknologi ini benar-benar matang,” lanjutnya.
Alvarez menambahkan bahwa untuk implementasi RFID apapun,
kerjasama antar berbagai penyedia teknologi lumrah
adanya. “Implementasi RFID lebih merupakan pengaturan
simfoni dibandingkan hanya sekedar membeli teknologi,” ujarnya.
Untuk kasus Future Store Metro saja sudah melibatkan
beberapa rekanan utama, seperti SAP (aplikasi enterprise),
IBM (middleware RFID via MQSeries, integrasi sistem,
dan kios otomatis), Intel (pemindai RFID, infrastruktur)
serta puluhan vendor lainnya.
Besarnya dukungan para vendor terhadap inisiatif Future
Store Metro ini juga tidak terlepas dari besarnya minat
dan keyakinan akan masa depan RFID. SAP misalnya, perusahaan
piranti lunak terbesar kedua dunia, yang beberapa tahun
belakangan aktif menggarap pasar supply chain management
(SCM) ini termasuk salah satu pihak yang aktif mendukung
penerapan RFID.
“ RFID saat ini merupakan inovasi teknologi
paling nyata dalam sektor supply chain,” tandas Henning Kagermann,
CEO dan Chairman SAP. “Teknologi RFID generasi
baru ini akan membuka jalan penghematan biaya inventori
sampai 80 persen dan mengurangi kerugian akibat hilangnya
barang sampai 69 miliar dolar AS setahunnya,” ujarnya.
Sementara petinggi SAP lainnya, Claus Heinrich mengungkapkan
keyakinannya bahwa pasar RFID akan tumbuh secara fenomenal
dalam waktu dekat ini, dan pihaknya siap menghadapinya
dengan meng-RFID enabled-kan produk-produk SCM-nya.
Sementara itu, beberapa peritel selain Metro, seperti
Wal-Mart dari AS dan Tesco plc dari Inggirs, juga menunjukkan
komitmen untuk menerapkan RFID, meski lebih banyak
yang menunjukkan sikap wait and see. Wal-Mart misalnya,
meski sempat maju mundur dalam implementasi RFID, belum
lama ini mensyaratkan ke-100 pemasok utamanya untuk
melabelkan dus dan palet barang yang dikirimnya dengan
RFID mulai Januari 2005, sementara pada tahun 2006
diharapkan seluruh pemasok Wal-Mart sudah RFID compliance.
Pertunjukan sudah digelar. RFID mungkin tidak lama
lagi menjadi faktor utama bagi peritel untuk bertahan
hidup. “Situasi tekanan persaingan sudah terasa,” ujar
Alvarez. “Marjinnya sudah begitu tipis sehingga
pengendalian inventori, eksekusi supply chain, pemenuhan
pesanan dan menjaga produk untuk tetap tersedia di
rak toko akan menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan
sebuah perusahaan ritel.”
Hal yang sama pun berlaku bagi para pemasok, apalagi
sekarang era perdagangan bebas. Bukan mustahil, suatu
saat perusahaan ritel mancanegara yang memasuki pasar
lokal akan mengambil langkah yang sama dengan apa yang
telah dilakukan Wal-Mart. Jika pemasok lokal tidak
waspada, tidak mustahil pula mereka hanya bisa gigit
jari menyaksikan pangsa pasarnya digerogoti pemasok
asing. • aa
Foto-foto: Metro AG & Muflihun |