Investasi
TI
tak hanya
tersedianya
perangkat
teknologi,
melainkan juga
meningkatkan
nilai bisnis.
Masalahnya,
bagaimana
mengukurnya?
|
|
Dalam
lingkungan bisnis dewasa ini, pengelolaan pengetahuan dan aset
intangibel
sangat penting, terutama dalam menentukan nilai bisnis (business
value) yang sebenarnya dari suatu perusahaan. Meski ukuran-ukuran
keuangan standar berperan penting dalam penilaian itu, namun
masih belum memasukkan penggerak-penggerak utama yang bersifat
non-keuangan.
Selain itu, segudang informasi yang tersedia, ukuran-ukuran konkrit
yang obyektif, komparasi, indikator-indikator utama yang dapat
diaudit dari nilai bisnis yang sebenarnya belum dimasukkan dalam
ukuran-ukuran eksternal standar.
Karenanya, para pengambil keputusan mengalami kekekurangan informasi
dalam mengevaluasi nilai bisnis yang sebenarnya (real business
value) dan terpojok dalam pendekatan pengambilan keputusan yang
lebih besar risikonya, kurang pasti dan lebih subyektif.
Standarisasi bermanfaat, baik untuk para investor maupun pelaku
bisnis. Meski penting untuk berjalannya pasar modal, namun standar
akuntansi memberikan dasar-dasar pengauditan hasil-hasil keuangan
suatu perusahaan, karenanya semakin meningkatkan kredibilitas
laporan keuangan.
Hanya saja, standar yang dibangun mestinya melampaui ukuran-ukuran
akuntansi yang ada menuju ukuran-ukuran operasional yang digunakan
perusahaan dalam meningkatkan nilai bisnisnya. Hal itu akan memudahkan
pengertian dan menentukan batasan-batasan dalam pembahasan mengenai
kinerja operasional dan kinerja pembanding di antara beberapa
perusahaan atau beberapa departemen dalam suatu perusahaan.
Karenanya, membangun standar pengukuran kinerja menjadi sangat
penting. Sebelum membahas ukuran-ukuran kinerja, sangat penting
menentukan terlebih dahulu dua konsep utama: standar dan non-keuangan.
Standar, sebagaimana banyak difahami, adalah ukuran-ukuran kinerja
yang terdefinisi dengan baik dan digunakan oleh banyak orang
secara konsisten. Sedang non-keuangan merupakan ukuran-ukuran
kinerja yang bersifat non-keuangan.
TCO & TVO
Cara termudah menormalkan pengukuran produktivitas menyeluruh
adalah dengan menggunakan pendapatan per karyawan sebagai
alat ukur utamanya. Dengan membagi pendapatan per karyawan
dengan beban gaji per karyawan akan menghasilkan rasio.
Rasio merupakan nilai rata-rata, “Rasio Produktivitas” untuk
perusahaan secara menyeluruh.
Kalau revenue perusahaan sebesar Rp.10 milyar per tahun
dengan karyawan sebanyak 400 orang dan beban gaji per karyawan
sebesar Rp 500,000, maka rasio produktivitas per karyawan
adalah 50 (Rp.10 milyar/400 karyawan/Rp. 500.000 = 50).
Dengan begitu, dari setiap seribu rupiah biaya yang dikeluarkan
perusahaan untuk membayar karyawannya diharapkan akan menghasilkan
rata-rata pendapatan perusahaan sebesar Rp. 50.000.
Produktivitas merupakan fakta empiris yang mudah dihitung.
Masing-masing perusahaan memiliki alat ukur yang berbeda-beda
dalam menilai rasio produktivitas karyawannya. Perusahaan
asuransi misalnya, cenderung menilai rasio produktivitas
karyawan sangat tinggi, sedang perusahaan jasa sebaliknya.
Namun, rasio yang tinggi tidak selalu menunjukkan indikator “kebagusan”,
melainkan lebih sebagai pembanding yang dapat digunakan
sebagai tolok ukur. Karenanya, membandingkan antar industri
kurang begitu penting, karena masing-masing industri mengunakan
faktor-faktor ekonomi, model bisnis dan nilai kompetitif
yang berbeda-beda.• |
Ukuran-ukuran keuangan ditentukan oleh lembaga akuntansi yang
sah untuk kepentingan pelaporan keuangan ekternal (hasil audit).
Karenanya, ukuran-ukuran non-keuangan merupakan semua ukuran-ukuran
kinerja bisnis lainnya.
Di Amerika Serikat, the Financial Accounting Standards Board
(FASB) menggunakan satu nilai yang sama untuk menentukan apa
yang disebut generally accepted accounting principles (GAAP)
dalam bidang akuntansi. Tetapi, karena perubahan-perubahan yang
mendorong nilai bisnis lebih cepat dari perkembangan FASB dalam
menentukan standar pengukuran penggerak-penggerak tersebut, akibatnya
terjadi kesenjangan pengukuran.
Dengan begitu, dasar-dasar bagi pelaporan eksternal yang dibuat
oleh FASB dan GAAP, merupakan standar-standar yang dikembangkan
untuk mencakup semua ukuran yang menentukan nilai bisnis yang
sebenarnya.
Menurut kalangan analis keuangan, harga pasar saham terutama
ditentukan berdasarkan proyeksi pendapatan masa datang (projected
future earnings). Namun, dalam kenyataannya, pendapatan yang
diharapkan selalu menghadapi situasi yang tak terantisipasi dan
bahkan berubah cepat, sehingga informasi yang banyakpun terkadang
tak mencukupi.
Terjadinya penurunan pendapatan yang tiba-tiba mengakibatkan
terjadinya kehilangan pekerjaan dan bisnis, serta menggoyah kepercayaan
pelanggan. Knowledge management dan pengelolaan aset intangibel
telah diukur secara kurang memadai oleh standar-standar keuangan,
sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan pengukuran.
Tahun 1998, terjadi keadaan dimana 80 persen nilai pasar perusahaan
S&P 500 tak terjelaskan statusnya berdasarkan GAAP. Terbukti,
kesenjangan pengukuran menyebabkan ketidakpastian dan mendorong
eksekutif perusahaan menggunakan ukuran-ukuran yang belum teraudit
(non-audited), subyektif dan sementara untuk digunakan sebagai
basis penciptaan nilai bisnis suatu perusahaan.
Karena ketidakpastian meningkatkan risiko, maka citra pemegang
saham (perceived shareholder value) menjadi negatif. Semakin
tinggi ketidakpastiannya, semakin rendah nilai saham perusahaan.
Karenanya, memahami dampak pengukuran non-keuangan standar terhadap
nilai sebenarnya sangat penting guna meningkatkan daya tahan
perusahaan dalam menghadapi ekonomi global sekarang ini.
Modal intelektual (intellectual capital), infrastruktur teknis
dan metodologi yang ada selama ini memungkinkan hal itu terjadi.
Kini, banyak metodologi dan organisasi (misalnya, Balanced Scorecard,
Supply Chain Council, Total Quality Management, European Foundation
for Quality Management and Six Sigma) telah menjangkau di luar
ukuran-ukuran akuntansi tradisional.
Keuntungan TI
dan Bisnis
Dalam setiap investasi TI ada dua hal yang
sangat perlu diperhatikan, yakni : Keuntungan TI dan Keuntungan
Bisnis. Keuntungan TI dilihat dari nilai TCO (total cost
of ownership). Belakangan nilai TVO (total value of ownership)
juga menjadi pertimbangan penting.
Kalau TCO lebih memperhatikan kinerja operasional penggunaan
TI, sedang TVO bagaimana nilainya terhadap keuntungan bisnis.
TVO sendiri memiliki tiga unsur yang harus diperhatikan,
yakni analisis cost/benefit, proses manajemen dan kematangan
dalam pengambilan keputusan.
Perhatikan contoh berikut. Sebuah perusahaan dengan penghasilan
10 milyar rupiah dan karyawan 400 orang mengeluarkan biaya
untuk TI sebesar 5% (500 juta rupiah) setiap tahun. Dengan
begitu, setiap penurunan 1% dari TCO TI-nya akan menghemat
keuangan perusahaan sebesar 5 juta rupiah. Akan tetapi,
dengan meningkatkan 1% produktivitas 400 karyawannya, perusahaan
akan mampu meningkatkan nilainya sebesar 100 juta rupiah.
Karenanya, dalam memutuskan investasi TI yang sangat perlu
diperhatikan adalah kedua dimensi tersebut, yakni biaya
dan bisnis. Tantangannya, adalah bagaimana mengukur dampak
penerapan TI terhadap produktivitas karyawan. Dan, setiap
perusahaan memiliki ukuran yang berbeda-beda mengenai produktivitas
ini. • |
Dengan diotomatisasikannya transkasi bisnis dalam bentuk aplikasi
piranti lunak, seperti enterprise resource planning (ERP) dan
customer relationship management (CRM), ukuran-ukuran kinerja
di semua tingkatan manajemen tersedia. Tetapi, ratusan indikator
kinerja (KPI, key performance indicators) yang disediakan sistem
justru menciptakan masalah pemrosesan bagi manajemen. Karena
para manajer hanya dapat menangani beberapa indikator saja secara
terus-menerus, maka manajemen akan mendapatkan informasi yang
berlebihan dan harus berkonsentrasi hanya pada beberapa ukuran
saja.
Karenanya, sangat penting memilih ukuran-ukuran yang merupakan
indikator utama pengukuran kinerja keuangan. Begitu juga, memvalidasi
hasil pengukuran tersebut dan menggunakannya sebagai dasar pengambilan
keputusan. Benchmark dan standarisasi merupakan kunci penting.
TQM (total quality management), European Foundation for Quality
Management dan Six Sigma telah memfasilitasi pengidentifikasian
ukuran-ukuran operasional non-keuangan yang dapat dijadikan sebagai
indikator utama dalam hasil-hasil keuangan.
Untuk perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk, Supply
Chain Council telah menetapkan serangkaian ukuran-ukuran kinerja
kolaboratif guna memastikan bahwa efisiensi dapat terjaga ketika
fungsi-fungsi bisnis ditransfer keluar. Misalnya, SLA (service-level
agreements) yang memfasilitasi penilaian mengenai nilai yang
disediakan (penyedia jasa atau produk) dan yang diterima (perusahaan
atau pelanggan).
Selain itu, virtual enterprises membutuhkan ukuran-ukuran kinerja
non-keuangan yang secara umum diterima di antara kalangan perusahaan,
sehingga perbandingan dan keputusan dapat diambil segera. Tak
hanya ukuran-ukuran standar harus dibuat, pemahaman bagaimana
memadukan hal itu untuk membangun framework kinerja bisnis yang
efektif, juga sangat penting.
Karenanya, mengukur aspek-aspek non-keuangan dari kinerja bisnis,
termasuk kemampuan perusahaan berinovasi sekaligus mengelola
permintaan, pasokan dan layanan-layanan lainnya dengan menggunakan
alat ukur standar yang obyektif dan yang dapat diaudit merupakan
sesuatu yang sangat penting dalam meningkatkan nilai bisnis yang
sebenarnya. •TI/AA-GM.
Foto-foto: dok. ebizzasia |