Volume II No 13 - Desember 2003-Januari 2004
 



Bagaimana Mengukur Nilai Bisnis TI?

 

Investasi TI tak hanya
tersedianya perangkat
teknologi, melainkan juga meningkatkan
nilai bisnis. Masalahnya, bagaimana mengukurnya?

Dalam lingkungan bisnis dewasa ini, pengelolaan pengetahuan dan aset intangibel sangat penting, terutama dalam menentukan nilai bisnis (business value) yang sebenarnya dari suatu perusahaan. Meski ukuran-ukuran keuangan standar berperan penting dalam penilaian itu, namun masih belum memasukkan penggerak-penggerak utama yang bersifat non-keuangan.

Selain itu, segudang informasi yang tersedia, ukuran-ukuran konkrit yang obyektif, komparasi, indikator-indikator utama yang dapat diaudit dari nilai bisnis yang sebenarnya belum dimasukkan dalam ukuran-ukuran eksternal standar.

Karenanya, para pengambil keputusan mengalami kekekurangan informasi dalam mengevaluasi nilai bisnis yang sebenarnya (real business value) dan terpojok dalam pendekatan pengambilan keputusan yang lebih besar risikonya, kurang pasti dan lebih subyektif.

Standarisasi bermanfaat, baik untuk para investor maupun pelaku bisnis. Meski penting untuk berjalannya pasar modal, namun standar akuntansi memberikan dasar-dasar pengauditan hasil-hasil keuangan suatu perusahaan, karenanya semakin meningkatkan kredibilitas laporan keuangan.

Hanya saja, standar yang dibangun mestinya melampaui ukuran-ukuran akuntansi yang ada menuju ukuran-ukuran operasional yang digunakan perusahaan dalam meningkatkan nilai bisnisnya. Hal itu akan memudahkan pengertian dan menentukan batasan-batasan dalam pembahasan mengenai kinerja operasional dan kinerja pembanding di antara beberapa perusahaan atau beberapa departemen dalam suatu perusahaan.

Karenanya, membangun standar pengukuran kinerja menjadi sangat penting. Sebelum membahas ukuran-ukuran kinerja, sangat penting menentukan terlebih dahulu dua konsep utama: standar dan non-keuangan. Standar, sebagaimana banyak difahami, adalah ukuran-ukuran kinerja yang terdefinisi dengan baik dan digunakan oleh banyak orang secara konsisten. Sedang non-keuangan merupakan ukuran-ukuran kinerja yang bersifat non-keuangan.

TCO & TVO

Cara termudah menormalkan pengukuran produktivitas menyeluruh adalah dengan menggunakan pendapatan per karyawan sebagai alat ukur utamanya. Dengan membagi pendapatan per karyawan dengan beban gaji per karyawan akan menghasilkan rasio. Rasio merupakan nilai rata-rata, “Rasio Produktivitas” untuk perusahaan secara menyeluruh.

Kalau revenue perusahaan sebesar Rp.10 milyar per tahun dengan karyawan sebanyak 400 orang dan beban gaji per karyawan sebesar Rp 500,000, maka rasio produktivitas per karyawan adalah 50 (Rp.10 milyar/400 karyawan/Rp. 500.000 = 50). Dengan begitu, dari setiap seribu rupiah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk membayar karyawannya diharapkan akan menghasilkan rata-rata pendapatan perusahaan sebesar Rp. 50.000.

Produktivitas merupakan fakta empiris yang mudah dihitung. Masing-masing perusahaan memiliki alat ukur yang berbeda-beda dalam menilai rasio produktivitas karyawannya. Perusahaan asuransi misalnya, cenderung menilai rasio produktivitas karyawan sangat tinggi, sedang perusahaan jasa sebaliknya.
Namun, rasio yang tinggi tidak selalu menunjukkan indikator “kebagusan”, melainkan lebih sebagai pembanding yang dapat digunakan sebagai tolok ukur. Karenanya, membandingkan antar industri kurang begitu penting, karena masing-masing industri mengunakan faktor-faktor ekonomi, model bisnis dan nilai kompetitif yang berbeda-beda.•
Ukuran-ukuran keuangan ditentukan oleh lembaga akuntansi yang sah untuk kepentingan pelaporan keuangan ekternal (hasil audit). Karenanya, ukuran-ukuran non-keuangan merupakan semua ukuran-ukuran kinerja bisnis lainnya.

Di Amerika Serikat, the Financial Accounting Standards Board (FASB) menggunakan satu nilai yang sama untuk menentukan apa yang disebut generally accepted accounting principles (GAAP) dalam bidang akuntansi. Tetapi, karena perubahan-perubahan yang mendorong nilai bisnis lebih cepat dari perkembangan FASB dalam menentukan standar pengukuran penggerak-penggerak tersebut, akibatnya terjadi kesenjangan pengukuran.

Dengan begitu, dasar-dasar bagi pelaporan eksternal yang dibuat oleh FASB dan GAAP, merupakan standar-standar yang dikembangkan untuk mencakup semua ukuran yang menentukan nilai bisnis yang sebenarnya.

Menurut kalangan analis keuangan, harga pasar saham terutama ditentukan berdasarkan proyeksi pendapatan masa datang (projected future earnings). Namun, dalam kenyataannya, pendapatan yang diharapkan selalu menghadapi situasi yang tak terantisipasi dan bahkan berubah cepat, sehingga informasi yang banyakpun terkadang tak mencukupi.

Terjadinya penurunan pendapatan yang tiba-tiba mengakibatkan terjadinya kehilangan pekerjaan dan bisnis, serta menggoyah kepercayaan pelanggan. Knowledge management dan pengelolaan aset intangibel telah diukur secara kurang memadai oleh standar-standar keuangan, sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan pengukuran.

Tahun 1998, terjadi keadaan dimana 80 persen nilai pasar perusahaan S&P 500 tak terjelaskan statusnya berdasarkan GAAP. Terbukti, kesenjangan pengukuran menyebabkan ketidakpastian dan mendorong eksekutif perusahaan menggunakan ukuran-ukuran yang belum teraudit (non-audited), subyektif dan sementara untuk digunakan sebagai basis penciptaan nilai bisnis suatu perusahaan.

Karena ketidakpastian meningkatkan risiko, maka citra pemegang saham (perceived shareholder value) menjadi negatif. Semakin tinggi ketidakpastiannya, semakin rendah nilai saham perusahaan. Karenanya, memahami dampak pengukuran non-keuangan standar terhadap nilai sebenarnya sangat penting guna meningkatkan daya tahan perusahaan dalam menghadapi ekonomi global sekarang ini.

Modal intelektual (intellectual capital), infrastruktur teknis dan metodologi yang ada selama ini memungkinkan hal itu terjadi. Kini, banyak metodologi dan organisasi (misalnya, Balanced Scorecard, Supply Chain Council, Total Quality Management, European Foundation for Quality Management and Six Sigma) telah menjangkau di luar ukuran-ukuran akuntansi tradisional.

Keuntungan TI dan Bisnis

Dalam setiap investasi TI ada dua hal yang sangat perlu diperhatikan, yakni : Keuntungan TI dan Keuntungan Bisnis. Keuntungan TI dilihat dari nilai TCO (total cost of ownership). Belakangan nilai TVO (total value of ownership) juga menjadi pertimbangan penting.

Kalau TCO lebih memperhatikan kinerja operasional penggunaan TI, sedang TVO bagaimana nilainya terhadap keuntungan bisnis. TVO sendiri memiliki tiga unsur yang harus diperhatikan, yakni analisis cost/benefit, proses manajemen dan kematangan dalam pengambilan keputusan.

Perhatikan contoh berikut. Sebuah perusahaan dengan penghasilan 10 milyar rupiah dan karyawan 400 orang mengeluarkan biaya untuk TI sebesar 5% (500 juta rupiah) setiap tahun. Dengan begitu, setiap penurunan 1% dari TCO TI-nya akan menghemat keuangan perusahaan sebesar 5 juta rupiah. Akan tetapi, dengan meningkatkan 1% produktivitas 400 karyawannya, perusahaan akan mampu meningkatkan nilainya sebesar 100 juta rupiah.
Karenanya, dalam memutuskan investasi TI yang sangat perlu diperhatikan adalah kedua dimensi tersebut, yakni biaya dan bisnis. Tantangannya, adalah bagaimana mengukur dampak penerapan TI terhadap produktivitas karyawan. Dan, setiap perusahaan memiliki ukuran yang berbeda-beda mengenai produktivitas ini. •
Dengan diotomatisasikannya transkasi bisnis dalam bentuk aplikasi piranti lunak, seperti enterprise resource planning (ERP) dan customer relationship management (CRM), ukuran-ukuran kinerja di semua tingkatan manajemen tersedia. Tetapi, ratusan indikator kinerja (KPI, key performance indicators) yang disediakan sistem justru menciptakan masalah pemrosesan bagi manajemen. Karena para manajer hanya dapat menangani beberapa indikator saja secara terus-menerus, maka manajemen akan mendapatkan informasi yang berlebihan dan harus berkonsentrasi hanya pada beberapa ukuran saja.

Karenanya, sangat penting memilih ukuran-ukuran yang merupakan indikator utama pengukuran kinerja keuangan. Begitu juga, memvalidasi hasil pengukuran tersebut dan menggunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan. Benchmark dan standarisasi merupakan kunci penting.

TQM (total quality management), European Foundation for Quality Management dan Six Sigma telah memfasilitasi pengidentifikasian ukuran-ukuran operasional non-keuangan yang dapat dijadikan sebagai indikator utama dalam hasil-hasil keuangan.

Untuk perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk, Supply Chain Council telah menetapkan serangkaian ukuran-ukuran kinerja kolaboratif guna memastikan bahwa efisiensi dapat terjaga ketika fungsi-fungsi bisnis ditransfer keluar. Misalnya, SLA (service-level agreements) yang memfasilitasi penilaian mengenai nilai yang disediakan (penyedia jasa atau produk) dan yang diterima (perusahaan atau pelanggan).

Selain itu, virtual enterprises membutuhkan ukuran-ukuran kinerja non-keuangan yang secara umum diterima di antara kalangan perusahaan, sehingga perbandingan dan keputusan dapat diambil segera. Tak hanya ukuran-ukuran standar harus dibuat, pemahaman bagaimana memadukan hal itu untuk membangun framework kinerja bisnis yang efektif, juga sangat penting.

Karenanya, mengukur aspek-aspek non-keuangan dari kinerja bisnis, termasuk kemampuan perusahaan berinovasi sekaligus mengelola permintaan, pasokan dan layanan-layanan lainnya dengan menggunakan alat ukur standar yang obyektif dan yang dapat diaudit merupakan sesuatu yang sangat penting dalam meningkatkan nilai bisnis yang sebenarnya. •TI/AA-GM.

Foto-foto: dok. ebizzasia
© 2003 - 2004 eBizzAsia. All rights reserved.