
DR. Ir. Richardus Eko Indrajit M.Sc., M.B.A. dilahirkan di Jakarta
pada 24 Januari 1969. Menyelesaikan studi sarjananya di Jurusan
Teknik Komputer Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
pada 1992. Setelah memperoleh gelar insinyur di bidang teknik
komputer, Eko berhasil mendapatkan beasiswa dari Pertamina untuk
melanjutkan studi pasca sarjananya di Amerika. Pada 1993, Eko
diterima di Harvard University dan berhasil mendapatkan gelar
Master of Applied Computer Science pada 1995. Pada saat yang
sama, Eko belajar pula di Boston University dan Massachusetts
Institute of Technology (MIT). Sekembalinya ke tanah air, Eko
bergabung dengan sebuah perusahaan konsultan multinasional sambil
mengambil program jarak jauh Master of Business Administration
di Leicester University, Inggris. Kemudian Eko mengambil program
riset doctoral dari University of the City of Manila dan berhasil
mendapatkan gelar Doctor of Business Administration pada pertengahan
1999. Saat ini, selain bekerja sebagai konsultan independen
yang telah membantu sejumlah perusahaan swasta di berbagai jenis
industri dan institusi pemerintahan dalam merencanakan dan mengembangkan
teknologi informasinya Eko juga aktif mengajar di beberapa universitas
terkemuka di Indonesia, seperti Program Pasca-Sarjana Universitas
Bina Nusantara-Curtin University, Program Sarjana ITS Surabaya
Program Magister Komputer Teknologi Informasi Universitas Indonesia,
dan Institut Kesenian Jakarta. Di samping mengajar Eko berperan
secara aktif sebagai konsultan dan peneliti khusus Kelompok
Kerja Ketahanan Nasional dan Wakil Ketua Kelompok Kerja Sistem
Manajemen Nasional Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Tak
kurang dari 12 buku telah ditulisnya, yang mencakup Teknologi
Informasi, eBusiness, Supply Chain Management (SCM), Linux,
Penuntun Mencari Informasi di Internet, dan lain sebagainya.•
|
| |
 |
|

Bagaimana
Mengelola Logistik Dengan Baik?
Saya
sangat tertarik dengan rubrik Q/A yang Bapak asuh ini.
Saya ingin menanyakan beberapa hal: Bagaimana menangani
logistik yang baik? Apa saja ukuran-ukuran suatu sistem
logistik yang berhasil? Perusahaan sekelas apa saja
yang seharusnya menerapkan sistem logistik?
Andar Krisna,
Manajer Produksi, Bandung
Menurut
Martin Christopher, logistik adalah: “... a process of strategically managing the procurement,
movement and storage of materials, parts and finished inventory
(and
the related information flows) through the organization and
its marketing channels in such a way that current and future
profitability are maximized through the cost-effective fulfillment
of orders”.
Logistik
dianggap sebagai suatu proses yang sangat penting, karena
dengan pengelolaan yang efektif dan efisien akan menjadi
salah satu sumber keunggulan kompetitif yang dapat diciptakan
oleh perusahaan. Dasar-dasar kesuksesan dalam kompetisi di
pasar ada beberapa macam tetapi suatu model sederhana yang
dapat dikemukakan dan cukup masuk akal adalah apa yang dinamakan
sebagai “the triangular linkage of the company” atau “the
Three C’s” yaitu customers, competition dan company
dengan hubungan keterkaitan dibantara ketiganya seperti yang
diperlihatkan pada Gambar
1.
 |
| Gambar 1 |
Penanganan manajemen logistik yang baik akan bermuara
pada terbentuknya keunggulan kompetitif perusahaan.
Sumber dari
keunggulan kompetitif tersebut terletak pertama-tama pada
kemampuan perusahaan membedakan dirinya sendiri di depan
mata konsumen dari para pesaingnya (value advantage). Kedua,
dengan cara bekerja berbiaya rendah yang berarti memperoleh
laba yang lebih tinggi (productivity atau cost advantage).
Productivity
advantage
Biasanya makin besar volume produksi suatu barang, biaya
per satuan barang akan makin kecil karena fixed cost
dibagi lebih merata dengan angka pembagi yang lebih besar.
Sedangkan variable cost per satuan barang akan tetap,
sehingga total cost per satuan barang akan mengecil.
Oleh karena itu, kenaikan market share akan menaikkan
volume produksi dan selanjutnya akan menurunkan biaya
produksi per satu satuan barang. Namun, cara menurunkan
biaya produksi tidak hanya dengan menaikkan market share,
tetapi dapat juga dengan menurunkan biaya logistik.
Value
advantage
Sudah menjadi semacam axioma dalam marketing management
bahwa konsumen tidak membeli “barang” (product)
tetapi mereka membeli “faedah atau keuntungan tertentu” (benefit).
Oleh karena itu, bila perusahaan tidak mampu membedakan
produknya dengan produk kompetitornya, maka barang atau
produknya akan menjadi “barang komoditas” biasa
dan konsumen akan cenderung membeli jenis barang tersebut
yang harganya paling murah. Untuk mendapatkan value advantage
ini, maka perusahaan harus menciptakan nilai tertentu
dan biasanya harus dilakukan pada suatu segmen pasar
tertentu.
Dalam prakteknya, perusahaan-perusahaan yang sukses – tanpa
perduli berskala kecil, menengah, dan besar - ternyata
terus menerus berusaha mencari posisi dalam pasar berdasarkan
kedua-dua advantage itu, yaitu productivity advantage dan
value advantage. Opsi-opsi yang tersedia dalam hubungan
antara value advantage dan productivity advantage adalah
seperti Gambar 2.
 |
| Gambar 2 |
Perusahaan yang merasa menempati kotak bawah kiri dalam
matrix tersebut berada pada posisi paling malang, karena
tidak mempunyai keunggulan apa-apa atau sangat minim. Cara
satu-satunya adalah harus bergerak ke kanan atau ke atas.
Dalam matriks tersebut terlihat bahwa fungsi logistik dapat
membantu banyak untuk meningkatkan, baik value advantage
maupun productivity advantage.
Yang sangat penting diperhatikan adalah bahwa layanan akan
sangat menentukan dalam membedakan antara perusahaan yang
satu dan yang lainnya. Jenis layanan ini (value advantage)
hampir tidak terbatas jenisnya, dari yang memakan biaya
sampai yang sama sekali tidak, atau hanya membutuhkan biaya
yang relatif sangat kecil.
Dapat dikatakan bahwa perusahaan yang berhasil menjadi
market leader adalah perusahaan yang mengusahakan dan berhasil
mencapai dua puncak kesempurnaan, yaitu cost leadership
dan service leadership. • |
|