Volume II No 12 - November 2003

HONGKONG

Perbankan Terapkan Metro Ethernet

Ethernet saat ini dikenal sebagai teknologi yang mendominasi local area networks (LAN) karena biayanya yang relatif murah, kapasitasnya tinggi serta mudah penggunaannya. Sifat-sifat inilah yang juga menjadikannya sebagai alternatif yang menarik untuk membangun metro area network (MAN), khususnya perusahaan-perusahaan yang mencari layanan data hemat biaya dan berkapasitas tinggi.

Di Hong Kong, beberapa perusahaan, khususnya yang bergerak di jasa keuangan telah memanfaatkan solusi Metro Ethernet ini, salah satunya adalah Dah Sing Financial Holdings (DSFH).

Sebelum menggunakan Ethernet, DSFH mengandalkan sebuah jejaring frame relay dengan bandwidth sebesar 64Kbps. Namun, dengan akan diluncurkannya program customer relationship management (CRM) yang komprehensif, DSFH merasakan jejaring frame relay-nya yang sudah berusia tujuh tahun dirasakan sudah tidak bisa menyediakan bandwidth dan skalabilitas yang dibutuhkannya.

“Kami ingin menggunakan historical maupun real-time konwledge untuk menyediakan layanan yang lebih baik kepada customer kami melalui channel apa pun dan kapan saja,” ujar Thomas Ng, general manajer divisi TI di DSFH. Sistem semacam ini otomatis akan membutuhkan suatu jaringan berkapasitas tinggi untuk menangani aliran data yang begitu tinggi, lanjutnya.

Selain itu, menurut Ng, tidak seperti bank lain yang membatasi penggunaan program CRM hanya oleh sejumlah kecil user di kantor pusat, DSFH mengimplementasikan program CRM ini diseluruh call centernya. “Ini tentunya membutuhkan bandwidth yang sangat besar,” tegas Ng.

Dengan kebutuhan kapasitas yang lebih tinggi serta jejaring yang lebih scalable, DSFH memutuskan untuk memanfaatkan solusi metro Ethernet untuk menghubungkan ke-43 cabangnya sekaligus beberapa anak perusahaannya. Migrasi ke metro Ethernet berkapasitas ini dilakukan DSFH pada April lalu, dan implementasinya dibantu oleh Cisco dan PCCW. Implementasinya memakan waktu sekitar tiga bulan.

Dalam pelaksanaannya, DSFH tetap menerapkan azas kehati-hatian. “Sebagai sebuah institusi keuangan, kami mengambil langkah ekstra hati-hati untuk menempatkan infrastuktur baru ini. Kami membagi proyek ini dalam beberapa tahapan dan menempatkan jejaring cabang per cabang,” tutur Ng.

Selain itu, masih menurut Ng, pihaknya bisa menghemat biaya pemeliharaan dari peralatan lamanya. Kualitas layanan, dalam hal monitoring dan pengelolaan application service ke kantor-kantor cabangnya, menurut Ng juga lebih baik. “Sistem kami menjadi semakin handal dibandingkan sebelumnya, dan downtime-nya pun bisa kami turunkan menjadi setengahnya,” tutup Ng.•

TAIWAN

Pemerintah Taiwan Tawarkan Source Code Gratis

Pemerintah Taiwan kini terjun ke bisnis software developer support dengan meluncurkan situs web berisi panduan membangun software open-source, demikian sebagaimana dikutip Taipei Times.

Situs web ini berisi kode software gratis untuk browser Web, e-mail, aplikasi office dan piranti database, seluruhnya dikeluarkan pemerintah Taiwan.

Kode gratis ini akan memberikan bantuan bagi pengembang software lokal menulis software untuk berbagai perangkat keras, seperti personal digital assistant (PDA) dan komputer home entertainment.

Pemerintah Taiwan berencana melipatgandakan industri software-nya yang kini bernilai 3,55 juta dolar atau sekitar 35 milyar rupiah dalam jangka waktu lima tahun melalui pengembangan produk-produk open-source, seperti sistem operasi Linux, kata harian tersebut.

Direktur jendral biro pengembangan industri kementrian ekonomi Taiwan, Chen Chao-yi mengatakan bahwa pemerintah menargetkan paling tidak lima persen dari seluruh PC yang ada di Taiwan dan 30 persen dari server di negeri tersebut menggunakan software alternatif berbasis open-source dalam jangka waktu lima tahun.

Saat ini, baru sekitar 10 persen dari server yang ada di negara tersebut yang menggunakan piranti lunak open source, sedang untuk komputer desktop hampir tidak ada, kata harian tersebut.

Meski para pengamat mengkritik bahwa Taiwan mengabaikan biaya pengembangan platform open source, ada berbagai peluang bagi perusahaan kecil untuk memusatkan perhatian pada pengembangan embedded solutions untuk mendukung industri perangkat keras komputer Taiwan yang sudah mapan, demikian menurut Taipei Times.•

THAILAND

Terapkan SCM dan GIS untuk Pertanian

Di kawasan Asia Tenggara, Thailand dikenal sebagai negara yang memiliki sektor pertanian yang tangguh. Siapa yang tidak mengenal beras Thailand, duren Bangkok, rambutan, jambu dan produk-produk hasil pertanian lainnya? Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat dalam ekspor perdagangan hasil pertanian dunia serta mengantisipasi berbagai regulasi mengenai ekspor bahan makanan, sektor industri pertanian Thailand pun mulai melirik teknologi informasi untuk menjawab tantangan itu. Sebagaimana dilakukan raksasa pemrosesan makanan Thailand, Malee Sampran Plc.

Perusahaan ini menggunakan komputer genggam, sistem GIS dan teknologi GPS di daerah pedalaman timur laut Thailand untuk melacak sumber hasil bumi pertanian yang digunakannya, sekaligus menyertakan informasi ini dalam kemasannya.

Juga untuk menghubungkan data hasil bumi dari ladang pertanian dengan kantor pusat dan basis manufakturnya. Menurut senior vice president manufacturing Malee, Chuabhrom Mahabhol, perusahaan ini telah mengadaptasi teknologi food-traceability yang dikembangkan FXA Group. Aplikasi tersebut meliputi FoodTrace, QualityTrace, ProductionTrace, ShipTrace dan TraceSafe.

Sebelum menggunakan teknologi ini, para pengawas lapangan Malee harus menuliskan terlebih dahulu data lapangan di atas kertas dan kemudian memasukkannya ke komputer untuk diproses. Setelah menggunakan database FoodTrace, kini mereka bisa bekerja lebih efisien di lapangan dengan cukup menyimpan data tersebut dalam PDA kemudian menyelaraskannya dengan database pusat melalui Internet. Data tersebut akan dikirim melalui jejaring Malee untuk diproses di kantor pusat di Bangkok.

Chuabhrom menjelaskan bahwa Malee telah menerapkan dan menguji FoodTrace sejak awal tahun ini dan aplikasi itu kini telah dijalankan di berbagai fasilitas pabrik milik Malee di Sampran, Nakhon Pathom serta di Ban Pae, Nakhon Phanom.

Pabrik Ban Pae adalah basis produksi pengalengan jagung dan Malee membeli bahan mentahnya dari tujuh propinsi di timur laut Thailand. Selain itu, Malee juga menerapkan database FarmTrace yang berisi data persiapan lahan, penyebaran benih, pertumbuhan tanaman dan panen. Kemudian data tersebut diproses lebih lanjut dalam proses yang dinamakan QualityTrace, ProductionTrace, ShipTrace dan TraceSafe. Masing-masing proses bisa melacak asal-usul hasil tanaman sampai ke sumbernya.

Customer pun bisa melacak suatu produk melalui kode yang tertera di label produk. “Kode ini bisa mengidentifikasi proses logistik, tanggal produksi, quality control dan quality assurance dari produk tersebut. Customer bisa mengetahui bahan mentahnya bersumber dari mana, bahkan dari kelompok petani mana bahan itu berasal,” tutur Chuabhrom. “Ini masalah keamanan dan kesehatan makanan, jadi kami memperhatikan masalah ini secara sungguh-sungguh,” lanjutnya.

Mengingat infrastruktur di wilayah timur laut Thailand ini belum begitu memadai, sehingga fasilitas Ban Pae menggunakan link Internet via satelit, bukannya leased line.

Malee adalah perusahaan pertama di sektor industri makanan yang menerapkan teknologi GIS (geographic information system) untuk memantau dan mengontrol tanaman pangan. Selain itu, Malee juga menerapkan teknologi GPS (Global Positioning System) untuk memetakan daerah mana paling optimal untuk menanam, yang memungkinkan Malee merencanakan volume produksinya.•

SINGAPURA

Bangun Ekosistem e-SCM untuk Industri FMCG

Otorita pengembangan infokom Singapura, IDA, bekerja sama dengan Singapore Article Number Council (SANC) dan badan standarisasi, produktivitas dan inovasi Singapura, SPRING Singapore meluncurkan proyek senilai 20 juta dolar untuk membangun ekosistem e-Supply Chain Management (e-SCM) bagi industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods). Ekosistem ini dibangun berdasarkan e-Business Messaging Standard yang dikeluarkan EAN International. Selain itu, akan dibangun pula semacam katalog produk nasional elektronik, yang terhubung ke dunia internasional.

Proyek berjangka waktu dua tahun ini akan diujicoba di beberapa supermarket berikut pemasoknya di Singapura. Saat ini, para pemasok harus menghabiskan waktu cukup banyak hanya untuk mengisi formulir dan kode-kode untuk memroses pemesanan. Dengan sistem baru ini, semua proses ini akan distandarkan dan seluruh pemasok nantinya akan saling terhubung. Sistem ini akan menghilangkan ketidakefisienan yang terjadi di sepanjang rantai pasok (supply chain) dan meningkatkan produktivitas dan penjualan, serta keuntungannya. Dalam jangka panjang, ekosistem e-SCM ini akan mendorong posisi Singapura sebagai hub e-Business untuk industri wholesale dan ritel.

Tiga jaringan supermarket utama Singapura, Cold Storage (yang dioperasikan Dairy Farm), NTUC FairPrice dan Shop & Save, kini tengah mengembangkan software-nya sendiri untuk terhubung dengan infrastruktur e-SCM ini. Diperkirakan dengan penerapan ini, jaringan supermarket tersebut mendapatkan tambahan keuntungan sekitar 2 persen.

Kementrian Informasi, Komunikasi dan Seni Singapura, Dr Lee Boon Yang berharap bahwa proyek ini bisa menjadi contoh penerapan teknologi informasi untuk mendorong keuntungan bisnis. Selain itu, proyek ini diharapkan juga akan mendorong penggunaan TI di sektor-sektor industri lainnya.

Singapura akan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang menerapkan standar messaging e-Business, yang melibatkan lebih dari 1.000 pemasok di industri FMCG, serta menggunakan standar XML e-Business global, yang dikembangkan EAN International.•

Operator Seluler Hentikan Layanan Pager

Semakin berkurangnya jumlah pelanggan penyeranta (pager) memaksa operator seluler lokal MobileOne (M1) untuk menghentikan layanan paging. Langkah ini merupakan yang pertama dilakukan operator seluler lokal.
Layanan tersebut akan dihentikan mulai 31 Desember mendatang, dan para pelanggan yang ada, sekitar 22.000 pelanggan, akan diberikan opsi untuk berpindah ke layanan GSM, yang khusus disediakan untuk mereka. Nomor pagernya pun juga dipertahankan sebagai nomor ponsel mereka.

“Menciutnya permintaan layanan pager di Singapura memaksa kami untuk mengalihkan layanan (ke ponsel),” ujar CEO M1, Neil Montefiore. Sebagai perbandingan, biaya untuk berlangganan layanan ponsel berkisar antara 8 sampai 16 dolar Singapura (sekitar 40 sampai 80 ribu rupiah). Sedangkan biaya berlangganan pager berkisar antara 35 ribu sampai 70 ribu rupiah.

Menurut catatan IDA (Infocomm Development Authority) Singapura, pelanggan pager menurun drastis dari 1,12 juta pelanggan pada bulan April 1997, ketika M1 meluncurkan layanan ini, menjadi 242.700 pelanggan pada bulan April tahun ini. “Penurunannya mencapai 80 persen,” ujar Montefiore.

Murahnya harga handset dan layanan, serta teknologinya yang lebih memberikan kenyamanan, seperti adanya layanan SMS dan MMS dipandang sebagai penyebab mulai matinya layanan pager, demikian menurut Montefiore.

Sampai saat ini, masih ada beberapa operator Singapura yang melayani layanan pager, seperti perusahaan telekomunikasi terbesar Singapura SingTel, serta penyedia jasa paging dan SLI, Sun Page. Terjunnya SunPage, perusahaan yang awalnya murni bergerak di layanan pager, ke bisnis SLI juga menunjukkan semakin menurunnya minat pelanggan jasa tersebut.•

MALAYSIA

Kartu ATM Berbasis Chip

Kantor berita Malaysia, Bernama melaporkan bahwa mesin-mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di negeri itu hanya akan menerima kartu-kartu berbasis chip (chip-based) mulai awal bulan Oktober lalu.

Kartu berbasis chip ini, menurut Malaysian Electronic Payment System (MEPS) lebih baik dibandingkan kartu magnetik yang lazim digunakan dewasa ini. Kartu baru tersebut diklaim menawarkan tingkat keamanan lebih baik dan juga bisa digunakan sebagai kartu pembayaran tunai (cash card).

Berbagai lembaga keuangan di negeri jiran tersebut telah melakukan langkah-langkah konversi sejak kartu ini diluncurkan Februari lalu. Diperkirakan akan ada sembilan juta kartu yang dikeluarkan untuk menggantikan kartu lama.

Saat ini, ada lebih 8000 merchant yang menerima kartu tunai untuk pembayaran dengan debet langsung dan lebih dari 2500 yang menerima layanan transfer dana secara elektronis.

Langkah konversi kartu ATM merupakan salah satu upaya negeri itu untuk memopulerkan teknologi kartu berbasis chip. Seperti diketahui, sejak April 2001 lalu, pemerintah Malaysia meluncurkan smart ID card, MyKad. MyKad semacam kartu pintar serba bisa yang memiliki berbagai fungsi, seperti data processing, storage dan file management. Kartu ini berisi data warga, seperti nomor kartu identitas, informasi paspor, surat izin mengemudi dan kartu kesehatan dalam sebuah microchip berkapasitas 64K. Kartu ini juga menjanjikan akses yang aman ke aplikasi-aplikasi seperti ATM dan layanan online dari pemerintah.•

KOREA

Berpaling ke Open Source

Pemerintah Korsel mengumumkan rencana untuk menggantikan software-software di berbagai PC dan server yang jumlahnya cukup signifikan dengan alternatif software open-source pada tahun 2007.

Menurut sumber di kementrian informasi dan komunikasi Korea, sistem operasi Microsoft Windows dan aplikasi Office di ribuan komputer di berbagai kementrian, organisasi milik pemerintah dan universitas di Korsel rencananya akan digantikan dengan alternatif software open source.

Dua puluh persen software desktop dan 30 persen software server akan diganti dengan software open source, kata seorang juru bicara di kementrian tersebut.

Sebagai langkah pertama, beberapa organisasi, termasuk Industry Promotion Agency dan Korea Association of Information and Telecommunication akan menggunakan software-software open source, seperti sistem operasi Linux dan browser web Mozilla baik untuk PC maupun server-nya.

“Jika perubahan ini berhasil, paling tidak kami bisa berhemat kurang lebih 300 juta dolar per tahun. Selain itu, kami juga bisa menjamin keamanan dan inter-konektivitas sistem,” lanjut jubir tersebut.

Langkah pemerintah Korea ini mengundang skeptisme dari kalangan pakar industri, yang mengatakan bahwa developer software negeri itu tidak cukup memiliki sumberdaya untuk mendukung Windows dan Linux sekaligus.

Pihak Microsoft Korea pun berkomentar bahwa software komersial tidaklah semahal yang diduga. Menurut direktur pemasaran Microsoft Korea, Kwon Chan, meskipun software open source pada awalnya mungkin terlihat murah, namun pada akhirnya biayanya akan lebih besar, ketika biaya pemeliharaan dan manajemennya diikutsertakan

Namun, pemerintah Korsel mengatakan bahwa pihaknya mengambil langkah ini juga untuk mendorong kompetisi. “Kami akan memungkinkan siapa saja yang menggunakan software open source untuk mengakses layanan berbasis-web. Setelah lingkungan semacam ini siap, kompetisi sesungguhnya akan terjadi,” ujar seorang jubir pemerintah Korea.

Saat ini, para pengguna Linux tidak bisa memanfaatkan beberapa layanan berbasis web Korea. Misalnya, banyak portal yang dimiliki berbagai bank dan badan pemerintah hanya mendukung sistem operasi Windows dan browser Internet Explorer (IE) Microsoft.•
 
 
© 2003 eBizzAsia. All rights reserved