|
 |
Volume I Nomor
10 - Agustus-September 2003 |
|
|
Tak terbayangkan, ketika suatu saat Anda mendapatkan berpuluh-puluh
e-mail yang sama sekali bukan karena membalas surat yang
Anda kirimkan
ke seseorang atau suatu institusi. Anda pun tak
tahu dan tak kenal siapa pengirimnya, kecuali alamat e-mailnya
saja. Anda pun tak pernah meminta untuk dikirimi surat atau
informasi mengenai suatu produk atau jasa atau apapun informasi
lainnya. e-mail itu dikirim karena si pengirim mengetahui
alamat e-mail Anda. Orang menyebut kiriman surat-surat elektronik
semacam itu sebagai spam atau kumpulan junk mail.
Spam tampaknya telah berkembang sedemikian cepatnya dan dikirimkan
dengan berbagai tujuan oleh si pengirimnya. Gartner Inc. (www.gartner.com),
perusahaan riset ternama dunia, memperkirakan bahwa span telah
meningkat jumlah enam belas kali lipat dibandingkan dua tahun
yang lalu. Brightmail Inc., perusahaan pembuat piranti lunak
yang dapat menaham masuknya spam (www.brightmail.com), menyatakan
bahwa jumlah e-mail saat ini antara 10%-30% dari seluruh trafik
online. Dan, sebagian besar adalah spam!
Betapapun berbagai upaya sudah dilakukan, termasuk dengan menyediakan
berbagai piranti lunak antispam, namu para pengirim spam (spammers)
seperti tak kehilangan akal untuk tetap mengirimkan e-mail
spam mereka. Mereka, dari hari ke hari, terbukti lebih canggih
dan lebih pintar. Untuk mendapatkan alamat e-mail dari Internet,
mereka dapat menghimpunnya dengan mengirimkan electronic feelers.
Yang lainnya menggunakan komputer untuk membuat jutaan kombinasi
dari nama dan alamat e-mail. Spammers juga menyembunyikan asal
usul pesan mereka dengan mengirimkan pesan tersebut dari server
di luar negeri atau masuk ke suatu komputer (hacking) milik
orang lain dan mengirimkan e-mail spam mereka ke mana saja
dari komputer tersebut.
Hari-hari ini spam tampaknya telah membuat para pengguna internet
tak lagi nyaman. Bukan saja karena jumlah yang banyak, melainkan
juga e-mail yang dikirim pun sangat bervariasi mulai dari tawaran
penjualan berbagai produk dan jasa, gambar-gambar atau situs
porno, penawaran kredit instan atau peluang kerja rumahan.
Selama ini para spammers tampak menikmati sekalgi kegiatannya
mengirimkan berbagai e-mail spam. Bagi mereka, kegiatan itu
dianggap sebagai peluang penawaran baru kepada sasaran (yang
mungkin kurang tepat atau tidak tepat sama sekali) dari ‘bisnis’ yang
mereka lakukan atau diminta untuk dilakukan oleh seseorang
atau suatu lembaga.
Karenanya, bagaimana membuat mereka jera dan tak mengirimkan
lagi e-mail spam semacam itu? Dapatkah dampak spam tersebut
dikembalikan ke para spammers sebagai ‘ongkos’ yang
harus mereka bayar karena kegiatan yang mereka lakukan?
Lebih dari itu dapatkah mereka dijerat pasal-pasal hukum? Di
kalangan pengguna Internet, ada yang tampaknya pasrah dan menerima
kenyataan menerima e-mail spam setiap hari. Sebaliknya, banyak
juga yang jengah, tapi tak tahu apa yang mesti dilakukan. Menggunakan
program antispan, juga tak berjalan efektif.
Dalam situasi itu malah ada yang berpikir bagaimana jika kalangan
ISP (Internet Service Provider) dapat mendefinisikan layanan
yang mereka berikan sedemikian rupa dengan ketentuan-ketentuan
hukum yang kuat dan menuntut para penggunanya yang menyimpang
dari ketentuan tersebut. Namun, apakah hal itu akan berjalan
efektif tanpa mengganggu kegiatan bisnis mereka?
Sebenarnya, dampak spamming tak melulu berakibat pada si penerima spam. Kalau
dihitung-hitung ribuan mungkin juga jutaan e-mail spam menyebabkan masalah teknis
di kalangan ISP karena mereka harus menyediakan mesin yang lebih besar untuk
menampung e-mail spam tersebut.
Para pengirim spam juga membebani jaringan dengan beban yang sangat berat. Berdasarkan
sejumlah kejadian para operator penyedia jaringan mengungkapkan bahwa mereka
setidaknya harus membeli sekitar 40% lebih banyak perangkat untuk menanangani
e-mail spam yang datang.
Yang lebih parah, ketika sejumlah e-mail spam datang, jika terlalu banyak maka
ia akan memenuhi mailboxe kita, dampaknya e-mail yang sebenarnya sangat terkait
dengan kita, denganbisnis kita, tak dapat masuk. Hal, boleh jadi, akan sangat
merugikan kita. Dan, masih ada sederet dosa-dosa spamming yang dapat kita jejerkan.
Sayangnya, yang mereka pikirkan adalah ‘urusan’ mereka saja , tapi
mereka tak pernah mau tahu ‘masalah’ yang diakibatkannya terhadap
orang lain. Ironis, memang!• |
|
 |
|