TANPA
banyak publikasi, apalagi konsultasi publik, pemerintah akhirnya
membuka tender lisensi Generasi Ketiga (3G). Akhir Juli lalu
merupakan batas akhir pengajuan proposal. Rupanya, peminatnya
cukup banyak. Di kantor Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi,
Departemen Perhubungan, sudah menumpuk sepuluh nama pemohon
yang antre. Rencananya, proposal itu akan diproses selama
sekitar tiga bulan hingga penentuan pemenang tender. Artinya,
sebelum akhir tahun 2003, sudah ada pemegang lisensi seluler
3G.
Sejumlah nama operator telekomunikasi terkemuka di dunia turut
andil dalam tender dalam bentuk afiliasi dengan perusahaan
lokal. Antara lain, Vodafone Inggris, Hutchison Hong Kong dan
Telekom Malaysia. Juga ada operator dari Perancis dan Italia.
Sementara operator dari Australia, Singapura dan Jepang kali
ini absen. Mereka biasanya agresif, makanya keabsenan mereka
agak mengherankan. Bagi peminat lisensi seluler 3G, pemerintah
telah menetapkan syarat bahwa afiliasi dengan operator telekomunikasi
internasional setidaknya harus memiliki satu juta pelanggan
aktif.
Tidak jelas benar apa alasan pemerintah membuka tender lisensi
3G. Benarkah Indonesia memang memerlukan teknologi telekomunikasi
canggih ini? Siapa sajakah yang perlu teknologi 3G? Berapa
banyak jumlah mereka? Bagi operator sendiri, apakah pasarnya
memang feasible? Pertanyaan-pertanyaan beruntun ini dilontarkan
Sekretaris Jenderal Masyarakat Telekomunikasi (Mastel), Nies
Purwati. Menurut Purwati, pemerintah sendiri nampak begitu
tergesa-gesa dan menutup-nutupi membuka lisensi ini. “Kalangan
industri terkaget-kaget saat tender 3G diumumkan karena tak
ada konsultasi publik,” katanya.
Ketua Mastel Mas Wigrantoro Roes Setiyadi menimpali. Ia merujuk
proses alur kebijakan yang lazim. Di sejumlah negara maju,
kata Wigrantoro, pemerintah selalu mengeluarkan dahulu draft
kebijakan sebelum mengeluarkan kebijakan yang sangat penting.
Biasanya ada draft dalam bentuk green paper, kemudian dicari
masukan dari masyarakat, setelah itu dikeluarkan lagi white
paper, dan kemudian masukan-masukan dari masyarakat akan dipertimbangkan
oleh regulator dan akhirnya menjadi kebijakan negara. “Proses
demikian membuat masyarakat dapat berpartisipasi dalam proses
formulasi dari kebijakan di negara itu, namun di Indonesia
proses ini tidak terjadi,” katanya.
Mandat agar melibatkan masyarakat dalam perumusan kebijakan
semacam itu diamanatkan oleh UU No. 36/1999 tentang Telekomunikasi.
Tapi, pemerintah tidak mematuhinya. Pemerintah tidak mengumumkan
dulu rencana kebijakan dan pengaturannya secara formal, baik
melalui surat kabar atau website. Menurut UU itu, masyarakat
yang ingin menanggapi, kata Purwati, harus menyerahkan tanggapannya
secara formal dan mengikuti kaidah-kaidah yang ditetapkan.
Dengan demikian tidak timbul kesan ada informasi yang dirahasiakan.
Di sisi lain, regulator dapat memperoleh masukan-masukan yang
berharga dari berbagai kalangan masyarakat bagi sempurnanya
sebuah kebijakan publik.
Suara bernada protes juga muncul dari Senayan. Anggota Komisi
IV DPR RI Rosyid Hidayat mempertanyakan langkah pemerintah
dalam membuka tender penyelenggaraan seluler 3G. “Kesannya
pemerintah ujug-ujug [tiba-tiba] mengeluarkan pengumuman mengenai
tender 3G,” ujar Hidayat. Tapi suara-suara bernada protes
itu dianggap angin lalu oleh Dirjen Pos dan Telekomunikasi,
Djamhari Sirat. Ia menepis anggapan bahwa penerbitan izin seluler
3G berlangsung tiba-tiba. Salah satu bukti bahwa perhatian
industri terhadap seluler 3G sudah cukup besar, menurut Sirait,
adalah jumlah peminat yang mengajukan diri untuk memperoleh
lisensi mencapai 10 kelompok usaha.
Sebetulnya, yang dipersoalkan kalangan yang kurang setuju lebih
tertuju pada gugatan seperti yang dilontarkan oleh Nies Purwati.
Kalangan ini menilai, Indonesia belum saatnya memakai teknologi
telepon seluler 3G. Singapura saja, akhirnya menunda implementasi
3G karena investasi yang dibutuhkan sangat mahal. Dari sisi
teknologi pun, belum banyak negara di dunia yang berhasil menggunakan
3G sebagai sebuah model bisnis yang menjanjikan, apalagi menguntungkan.
Ini persoalan mendasar dalam bisnis.
Sekarang saja, berbagai operator telekomunikasi dunia dengan
penetrasi telepon seluler (ponsel) tertinggi di dalam masyarakatnya
sekalipun masih terus berdebat secara serius dan mendalam apakah
akan langsung menggunakan teknologi 3G sebagai koneksi bergerak
(m-access), atau perlu masuk dulu ke jembatan GPRS (general
packet radio services) atau UMTS (universal mobile telecommunication
system) yang masuk katagori 2,5G. Para operator memang terpesona
oleh keberhasilan DoCoMo di Jepang dengan 3G-nya, yang kini
malah dilanjutkan dengan penelitian serius soal teknologi 4G
(baca: “Jembatan Menuju 3G”; eBizz Asia, April
2003, halaman 54-57).
Tapi sesungguhnya keberhasilan DoCoMo di Jepang dengan fasilitas
akses informasi yang always-on tidak bisa dijadikan patokan.
Sebab, keberhasilan sebuah aplikasi teknologi tidak semata-mata
ditentukan oleh teknologi, tapi juga dipengaruhi oleh budaya
dan kebiasaan masyarakat. Kesuksesan DoCoMo tak bisa dilepaskan
dari minat dan kesukaan membaca yang tinggi. Selain itu, karena
sifat masyarakatnya yang bermobilitas tinggi menggunakan berbagai
transportasi umum pergi dan pulang kerja, memunculkan kebiasaan
untuk mengisi waktu luang mereka dalam perjalanan dengan membaca.
Jika dulu mereka membaca koran atau majalah, kini mereka memain-mainkan
ponsel.
Dari segi investasi dan bisnis, penggunaan teknologi UMTS atau
3G yang bisa mencapai kecepatan 2 Mbps — bandingkan dengan
GPRS yang berkecepatan maksimum 115 Kbps — merupakan
pilihan yang dilematis karena akan punya dampak luas terhadap
proyeksi dan kelayakan bisnis yang akan dikembangkan. Persoalannya
akan kembali pada pertanyaan mendasar, orang seperti apa yang
ingin menggunakan teknologi 3G? Memang, banyak orang yang terpesona
oleh keberhasilan jasa SMS (short message services) oleh teknologi
2G yang kini mencapai 15 juta per hari. Dengan 3G, nantinya
orang akan bisa melakukan aplikasi mulai dari mobile internet
berkecepatan tinggi, location-based service, mobile shopping,
multi-party video conference, video streaming, click2dial,
unified electronic mail, hingga MP3 mobile downloading. “Tapi
siapa dan berapa banyak di Indonesia yang memerlukan akses
berkecepatan hingga 2 Mbps tersebut?,” tanya pengamat
telekomunikasi Indra Gunawan.
Pada saat ini, lalu lintas pesan multimedia (multimedia message
services/MMS) yang terjadi di teknologi 2,5G (GPRS) baru mencapai
20.000 MMS per hari. “Entah kapan MMS akan bisa mendekati
SMS,” tanya Gunawan. Boleh jadi, para operator tergiring
oleh data yang dilansir oleh Ovum, sebuah perusahaan konsultan
dan survei ternama dunia, diperkirakan bahwa pada tahun 2006
jumlah pengguna SMS dunia akan mulai menurun (dari sekitar
1.000 miliar per tahun), sementara pengguna MMS akan naik tajam
(berkisar 350 miliar pesan per tahun) pada tahun yang sama.
Sekitar 3-4 tahun kemudian, jumlahnya diperkirakan akan sama. “Saya
tidak yakin itu bisa terjadi di Indonesia dalam waktu yang
sama,” kata Gunawan.
Di tingkat dunia, suara pesimis sudah lama terdengar. Nicholas
Negroponte, bapak cyber space itu pernah mengatakan bahwa pelanggan
seluler akan cukup puas dengan GPRS yang mampu memberikan kecepatan
data maksimal 115 Kbps dan komunikasi yang selalu “on”.
Memang agak susah membayangkan pelanggan yang bisa nyaman menjelajah
Internet di terminal berlayar kecil dan beresolusi rendah seperti
sekarang, meski sudah tersedia bandwidth data lebar seperti
yang ditawarkan 3G. Di luar itu, banyak hal masih harus disiapkan
agar inter-operabilitas antar operator dan antar pengguna ponsel
dengan berbagai platform bisa dilakukan dengan mulus dan lancar.
Kerja sama roaming antara operator baik di tingkat nasional,
regional, maupun internasional, misalnya, menjadi salah satu
prasyarat yang penting.
Masalahnya, soal-soal “administratif” inilah perdebatannya
panjang, dan kita sering ketinggalan. Salah satunya soal penarifan.
Memakai pengguna MMS pada GPRS dengan tarif yang masih diskon
(Rp 20/kb) sebagai patokan bisa saja menyesatkan. “Pemanfaatan
MMS dan teknologi 3G memang membutuhkan banyak prasyarat,” kata
Andreas Fasbender, Direktur Sony Ericsson Cyberlab Singapura.
MMS tidak akan banyak diminati bila tidak tersedia penyedia-penyedia
content yang menarik untuk para pengguna. Teknologi itu pun
tidak akan bisa dimanfaatkan bila infrastruktur jaringannya
juga tidak memadai. “Kita juga jangan lupa dengan kemampuan
handset itu sendiri, karena bagaimana spesifikasi handset juga
sangat menentukan untuk bisa menggunakan MMS dan memanfaatkan
jaringan GPRS secara maksimal,” papar Fasbender.
Namun, kelompok yang optimistis bukan tidak ada. Mereka umumnya
menganggap penggelaran 3G secara massal hanya tertunda. “Suara
dan teks saja kini sudah tidak cukup. Orang membutuhkan gambar
dan berbagai paket informasi dan hiburan yang sekaligus menampilkan
ketiganya, suara, teks, dan gambar,” kata Jan Wereby,
Corporate Executive Vice President sekaligus Head of sales
and Marketing Sony Ericsson. Sekarang, kata Wereby, teknologi
sudah memungkinkan dengan berkembangnya layanan MMS, serta
jaringan untuk pengirimannya baik itu GPRS (General Packet
Radio Service), UMTS, maupun CDMA (Code Division Multiple Access)
2000 atau WCDMA (Wideband CDMA).
Fenomena ini disadari betul oleh pabrikan pembuat ponsel. Selain
Sony Ericsson, pabrikan Nokia, Siemens, Panasonic, dan banyak
lagi produsen ponsel lainnya pun memasarkan produk terbaru
mereka dengan spesifikasi hampir serupa. Masing-masing pabrikan
itu menawarkan produk yang menyajikan berbagai fasilitas layanan
kepada calon pemakainya, mulai dari melakukan pembicaraan telepon
biasa, menikmati musik MP3, memotret dan kemudian mengirimkan
obyek atau gambar hasil pemotretan, sampai pengiriman dan pengambilan
data dengan kecepatan tinggi dari situs-situs Internet, bahkan
bermain game dengan lawan dari tempat yang tidak kita kenal
sebelumnya.
Menikmati sajian film pun kini bisa anda lakukan di mana pun
selama jaringan telekomunikasi nirkabelnya tersedia (video
on demand). Fungsi dari ponsel tidak lagi sebatas alat untuk
berkomunikasi, tetapi juga media untuk mencari ilmu pengetahuan,
bertukar pikiran, sekaligus sebagai alat hiburan. Jika pada
waktu lalu bentuk dari hiburan itu hanya sebatas game yang
sudah terinstal di dalam ponsel, di era 3G game itu bisa kita
ambil dari situs-situs Internet, bahkan kita pun bisa menghibur
diri dengan mengirimkan klip video kita kepada orang yang kita
sayangi.
Inilah yang membuat banyak pakar telekomunikasi sependapat
bahwa aktivitas mobile Internet akan mengubah kehidupan umat
manusia di berbagai belahan dunia secara drastis. Internet
bergerak ini membuat manusia lebih mudah beraktivitas, sehingga
diyakini penggunaan Internet bergerak akan semakin meningkat
seiring dengan kemampuan teknis dalam peranti ponsel yang semakin
tinggi dan lebih banyak lagi layanan inovatif diperkenalkan
ke masyarakat.
Jika pada awal tahun 1980-an, analis pasar memperkirakan pengguna
ponsel akan mencapai satu juta orang pada tahun 2000. Sekarang,
angka pengguna ponsel di seluruh dunia berkisar satu miliar
dengan tingkat pertumbuhan rata-rata per hari sekitar 1,3 juta
pengguna baru. Tidak heran bila pada tahun 2001 lalu, jumlah
pengguna ponsel di seluruh dunia diperkirakan sudah melampaui
jumlah pengguna telepon tidak bergerak (fixed line).
Pada milenium ketiga ini, teknologi telekomunikasi nirkabel
memang menunjukkan kecenderungan yang semakin mengerucut. Dua
ekstrem besar teknologi jaringan digital nirkabel kini tengah
diupayakan untuk bisa dijembatani, yaitu antara teknologi GSM
yang kemudian semakin maju dengan teknologi GPRS, dengan teknologi
CDMA yang berkembang dengan CDMA 2000 dan WCDMA. Idealnya,
para vendor bisa menyediakan semuanya sekaligus sehingga konsumen
bisa memiliki pilihan yang banyak. “Tetapi kami juga
memahami, investasinya memang tidak murah dan mungkin pasar
di suatu daerah pun belum tentu bisa menyerap semuanya,” kata
Jan Wereby. Namun, ia cenderung melihat teknologi GPRS yang
akan lebih berkembang di masa depan, karena 70 persen teknologi
seluler yang dipakai di seluruh belahan dunia berbasis GSM.
Keyakinan akan lebih unggulnya penggunaan jaringan GPRS juga
disampaikan pimpinan Nokia Mobile Phone, Matti Alahutta. Menurut
dia, kehadiran MMS, layar berwarna, Java dan kode xHTML baru,
merupakan kebutuhan yang sudah lama dinanti-nantikan konsumen.
Akhirnya semua terserah kita, apakah akan memanfaatkan berbagai
kemudahan yang ditawarkan itu, tentunya dengan imbalan biaya
yang harus kita bayarkan lebih besar pula. Konsumen Indonesia
boleh menepuk dada bahwa tidak lama lagi mereka akan bisa menikmati
teknologi 3G. Namun, isu mendasarnya tetap pada soal tarif.
Seperti yang terjadi di banyak negara Asia lainnya, para operator
jaringan cenderung sangat berhati-hati untuk mengembangkan
jaringannya dan menyerap teknologi 3G. Alasannya, selain soal
investasi yang besar, pengembalian investasi itu pun sangat
tergantung dari kesiapan pihak-pihak lain di luar operator
itu sendiri.
Ketersediaan jaringan 3G tanpa didukung para pengembang content,
misalnya, akan membuat investasi yang mahal itu tidak termanfaatkan
secara maksimal. Begitu juga dengan kesiapan masyarakat penggunanya.
Jika konsumen di Indonesia merasa belum memerlukan ponsel sebagai
alat untuk mencari data dan informasi, serta alat hiburan,
maka ketersediaan teknologi 3G hanya akan menjadi beban biaya
bagi operator. •KI
|