Volume I Nomor 10 - Agustus-September 2003
Call Center
 
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing
Dicky Moechtar, Direktur PT. Multipolar Corporation Tbk

Sebagai penyedia layanan teknologi informasi, Multipolar termasuk vendor yang kerap memberikan solusi bisnis bagi teknologi perbankan di Indonesia. Beberapa bank papan atas, termasuk Bank Indonesia, menjadi kliennya. Bagaimana kecendrungan teknologi perbankan ke depan berikut infrastruktur dan kenyamanan nasabah melakukan transaksi? Dicky Moechtar, Direktur PT. Multipolar Corporation Tbk, menguraikannya kepada Rully Ferdian dari eBizzAsia akhir Juli lalu.

Bagaimana perkembangan teknologi perbankan ke depan?
Internet telah menjelma menjadi sebuah delivery channel yang berpotensi hampir tanpa batas. Ini baru tahap awal dari gelombang perubahan yang dibawanya. Di negara yang lebih maju, inisiatif awal untuk memperkenalkan Internet Banking memang tidak seluruhnya berhasil, kecuali di negara-negara kawasan Skandinavia.

Di Indonesia juga mengalami banyak hambatan, antara lain karena rendahnya penetrasi komputer PC di rumah tangga dan jumlah nasabah yang mengakses Internet.

Tetapi, perlu diingat bahwa Internet Banking, seperti juga electronic delivery channel lainnya, misalnya ATM, EFT/POS, pada awalnya tidak sepenuhnya berdasarkan kebutuhan nasabah. Melainkan karena didorong perkembangan teknologi yang menawarkan banyak kemudahan, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa Internet dapat digunakan untuk melakukan transaksi perbankan. Jika tidak, mereka tidak akan pernah tahu apalagi menggunakannya.

Di sisi lain, M-commerce dan layanan jasa keuangan diperkirakan akan menjadi primadona dalam aplikasi nirkabel. Termasuk layanan perbankan, jual beli saham dan asuransi.

Komunikasi nirkabel yang bersifat mobile (bergerak) ini akan menjadi delivery channel yang sangat penting dalam layanan perbankan di masa depan, karena banyak memberi kemudahan. Nasabah bisa menggunakan waktu tidak produktifnya, misalnya, pada saat menunggu pesawat terbang atau kereta api, untuk melakukan transaksi perbankan atau membayar berbagai tagihan.

Apakah infrasruktur dan SDM-nya sudah memadai?
Menyesuaikan kemampuan teknologi informasi (TI) dan infrastruktur yang mendukungnya dengan strategi bank agar menjadi lebih kompetitif, sangat penting. Masih banyak bank di Indonesia yang infrastruktur teknologinya tidak memadai dalam mendukung strategi yang dijalankan.

Ke depan, infrastruktur yang dibutuhkan seyogyanya dijalankan dalam kerangka n-Tiers IT architecture dengan implementasi middleware dan pemisahan antara database, business logic dan presentation layer.
Cakupan kebutuhan bisnis bank ini sedikitnya meliputi komponen proses, informasi, nasabah, produk dan manajemen distribusi. Hal ini tentunya harus didukung SDM yang handal di bidangnya, yang terus-menerus dapat mengikuti perkembangan, baik melalui pelatihan maupun seminar.

Semuanya ini akan sangat bermanfaat agar perbankan dapat melayani secara lebih efektif dan efisien.

Teknologi apa saja yang akan sangat mempengaruhi kinerja perbankan di masa datang?
Banyak aspek yang akan berpengaruh. Untuk memberikan layanan yang lengkap dan utuh, bank dapat mengadopsi konsep multiple delivery channel, di mana bank memberikan layanan melalui saluran yang dirasakan paling nyaman bagi nasabah. Nasabah yang ingin full service bisa dilayani di cabang, yang ingin melakukan transaksinya sendiri bisa melalui ATM, Phone banking atau Internet. Untuk pembayaran gaji dapat dilakukan secara otomatis.

Di sisi lain, bank bisa menurunkan biaya per transaksi dengan mengalihkan transaksi ke channel swalayan berbasis teknologi. Misalnya, balance inquiry yang biasanya dilayani Customer Service sekarang bisa dilayani Interactive Response System; penarikan tunai dapat dilakukan melalui ATM dan transfer atau pembayaran tagihan telepon dapat dilakukan melalui Internet Banking.

Bank dituntut untuk bisa mengelola dan mempertahankan service level di semua delivery channel ini. Setiap ada layanan baru, harus juga bisa dinikmati di semua channel. Untuk itu diperlukan arsitektur TI yang sesuai.

Apakah para nasabah bank menyadari perubahan layanannya?
Secara keseluruhan, minat untuk mencoba transaksi perbankan melalui layanan elektronik masih rendah, kecuali penggunaan ATM. Tetapi, bagi kalangan karyawan dan profesional minatnya semakin meningkat ini sangat dirasakan. Data jumlah pemakai dan frekuensi penggunaan layanan elektronik dalam 3 tahun belakangan ini naik dengan pesat. Hal ini dapat dimengerti karena segmen inilah yang paling banyak bersentuhan dengan teknologi berupa telepon selular maupun PC dengan akses internet.

Bagaimana idealnya komunikasi antar-cabang?
Sebaiknya dilakukan dengan protocol IP dan dikelola secara terpusat sehingga memudahkan pengaturannya. Dengan IP based communication dimungkinkan penggabungan komunikasi data dan suara di jalur yang sama, sehingga meningkatkan efisiensi.

Apakah lebih mahal bila menggunakan teknologi yang lebih maju?
Teknologi yang lebih maju biasanya memberikan total cost of ownership (TCO) yang lebih murah. Pertama, memungkinan menyediakan kapasitas yang lebih besar dan dapat di sharing oleh lebih banyak pemakai, misalnya data storage. Kemampuan proses sebuah komputer juga semakin besar dengan harga yang relatif lebih murah.

Kedua, perawatannya lebih sederhana karena adanya penggabungan fungsi, misalnya, sistem jaringan data dan suara dapat digabung melalui satu jaringan sehingga biaya perawatannya menurun.

Ketiga, teknologi baru cenderung lebih andal, sehingga biaya perawatannya dapat ditekan.

Keempat, pasar yang semakin terbuka membuat vendor mampu memberikan nilai lebih. Secara tidak langsung mengontribusi terhadap TCO.

Kelima, teknologi Internet memungkinkan entry-cost yang lebih rendah bagi perusahaan yang memerlukan aplikasi melalui outsourcing atau ASP (Application Service Provider). Cukup dengan membayar biaya bulanan jaringan Internet dan aplikasi yang dibutuhkan.

Bagaimana dengan Solusi Disaster Recovery?
Kami menawarkan solusi bisnis disaster recovery dalam ruang lingkup yang menjadi kompetensi, yaitu Teknologi Informasi. Disaster recovery di bidang TI ini akan mencakup banyak sekali aspek.

Secara garis besar terkait dengan infrastruktur disaster recovery (disaster recovery center) dan prosedur atau rencana penerapan disaster recovery (disaster recovery plan).

Infrastruktur disaster recovery mencakup fasilitas data center, wide area network (WAN) atau telekomunikasi, local area network (LAN), hardware, dan aplikasi. Dari tiap bagian ini kita harus menentukan strategi disaster recovery yang paling tepat agar dapat memberikan solusi yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan perbankan itu sendiri.•

RELATED ARTICLES:

Implementasi TI: Taruhan Besar Perbankan
Dengan Teknologi Menggaet Nasabah

Dari Back-Office ke Front-Office
Pentingnya Standarisasi TI
Integrasi Sistem Demi Efisiensi


© 2003 eBizzAsia. All rights reserved