 |
| Dicky Moechtar, Direktur PT. Multipolar
Corporation Tbk |
Sebagai
penyedia layanan teknologi informasi, Multipolar termasuk
vendor yang kerap memberikan solusi bisnis bagi teknologi
perbankan di Indonesia. Beberapa bank papan atas, termasuk
Bank Indonesia, menjadi kliennya. Bagaimana kecendrungan
teknologi perbankan ke depan berikut infrastruktur dan kenyamanan
nasabah melakukan transaksi? Dicky Moechtar, Direktur PT.
Multipolar Corporation Tbk, menguraikannya kepada Rully Ferdian
dari eBizzAsia akhir Juli lalu.
Bagaimana perkembangan teknologi perbankan ke depan?
Internet telah menjelma menjadi sebuah delivery channel yang
berpotensi hampir tanpa batas. Ini baru tahap awal dari
gelombang perubahan yang dibawanya. Di negara yang lebih
maju, inisiatif awal untuk memperkenalkan Internet Banking
memang tidak seluruhnya berhasil, kecuali di negara-negara
kawasan Skandinavia.
Di Indonesia juga mengalami banyak hambatan, antara lain
karena rendahnya penetrasi komputer PC di rumah tangga dan
jumlah nasabah yang mengakses Internet.
Tetapi, perlu diingat bahwa Internet Banking, seperti juga
electronic delivery channel lainnya, misalnya ATM, EFT/POS,
pada awalnya tidak sepenuhnya berdasarkan kebutuhan nasabah.
Melainkan karena didorong perkembangan teknologi yang menawarkan
banyak kemudahan, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa
Internet dapat digunakan untuk melakukan transaksi perbankan.
Jika tidak, mereka tidak akan pernah tahu apalagi menggunakannya.
Di sisi lain, M-commerce dan layanan jasa keuangan diperkirakan
akan menjadi primadona dalam aplikasi nirkabel. Termasuk
layanan perbankan, jual beli saham dan asuransi.
Komunikasi nirkabel yang bersifat mobile (bergerak) ini akan
menjadi delivery channel yang sangat penting dalam layanan
perbankan di masa depan, karena banyak memberi kemudahan.
Nasabah bisa menggunakan waktu tidak produktifnya, misalnya,
pada saat menunggu pesawat terbang atau kereta api, untuk
melakukan transaksi perbankan atau membayar berbagai tagihan.
Apakah infrasruktur dan SDM-nya sudah memadai?
Menyesuaikan kemampuan teknologi informasi (TI) dan infrastruktur
yang mendukungnya dengan strategi bank agar menjadi lebih
kompetitif, sangat penting. Masih banyak bank di Indonesia
yang infrastruktur teknologinya tidak memadai dalam mendukung
strategi yang dijalankan.
Ke depan, infrastruktur yang dibutuhkan seyogyanya dijalankan
dalam kerangka n-Tiers IT architecture dengan implementasi
middleware dan pemisahan antara database, business logic
dan presentation layer.
Cakupan kebutuhan bisnis bank ini sedikitnya meliputi komponen
proses, informasi, nasabah, produk dan manajemen distribusi.
Hal ini tentunya harus didukung SDM yang handal di bidangnya,
yang terus-menerus dapat mengikuti perkembangan, baik melalui
pelatihan maupun seminar.
Semuanya ini akan sangat bermanfaat agar perbankan dapat
melayani secara lebih efektif dan efisien.
Teknologi apa saja yang akan sangat mempengaruhi kinerja
perbankan di masa datang?
Banyak aspek yang akan berpengaruh. Untuk memberikan layanan
yang lengkap dan utuh, bank dapat mengadopsi konsep multiple
delivery channel, di mana bank memberikan layanan melalui
saluran yang dirasakan paling nyaman bagi nasabah. Nasabah
yang ingin full service bisa dilayani di cabang, yang ingin
melakukan transaksinya sendiri bisa melalui ATM, Phone banking
atau Internet. Untuk pembayaran gaji dapat dilakukan secara
otomatis.
Di sisi lain, bank bisa menurunkan biaya per transaksi dengan
mengalihkan transaksi ke channel swalayan berbasis teknologi.
Misalnya, balance inquiry yang biasanya dilayani Customer
Service sekarang bisa dilayani Interactive Response System;
penarikan tunai dapat dilakukan melalui ATM dan transfer
atau pembayaran tagihan telepon dapat dilakukan melalui Internet
Banking.
Bank dituntut untuk bisa mengelola dan mempertahankan service
level di semua delivery channel ini. Setiap ada layanan baru,
harus juga bisa dinikmati di semua channel. Untuk itu diperlukan
arsitektur TI yang sesuai.
Apakah para nasabah bank menyadari perubahan layanannya?
Secara keseluruhan, minat untuk mencoba transaksi perbankan
melalui layanan elektronik masih rendah, kecuali penggunaan
ATM. Tetapi, bagi kalangan karyawan dan profesional minatnya
semakin meningkat ini sangat dirasakan. Data jumlah pemakai
dan frekuensi penggunaan layanan elektronik dalam 3 tahun
belakangan ini naik dengan pesat. Hal ini dapat dimengerti
karena segmen inilah yang paling banyak bersentuhan dengan
teknologi berupa telepon selular maupun PC dengan akses
internet.
Bagaimana idealnya komunikasi antar-cabang?
Sebaiknya dilakukan dengan protocol IP dan dikelola secara
terpusat sehingga memudahkan pengaturannya. Dengan IP based
communication dimungkinkan penggabungan komunikasi data
dan suara di jalur yang sama, sehingga meningkatkan efisiensi.
Apakah lebih mahal bila menggunakan teknologi yang lebih
maju?
Teknologi yang lebih maju biasanya memberikan total cost
of ownership (TCO) yang lebih murah. Pertama, memungkinan
menyediakan kapasitas yang lebih besar dan dapat di sharing
oleh lebih banyak pemakai, misalnya data storage. Kemampuan
proses sebuah komputer juga semakin besar dengan harga yang
relatif lebih murah.
Kedua, perawatannya lebih sederhana karena adanya penggabungan
fungsi, misalnya, sistem jaringan data dan suara dapat digabung
melalui satu jaringan sehingga biaya perawatannya menurun.
Ketiga, teknologi baru cenderung lebih andal, sehingga biaya
perawatannya dapat ditekan.
Keempat, pasar yang semakin terbuka membuat vendor mampu
memberikan nilai lebih. Secara tidak langsung mengontribusi
terhadap TCO.
Kelima, teknologi Internet memungkinkan entry-cost yang lebih
rendah bagi perusahaan yang memerlukan aplikasi melalui outsourcing
atau ASP (Application Service Provider). Cukup dengan membayar
biaya bulanan jaringan Internet dan aplikasi yang dibutuhkan.
Bagaimana dengan Solusi Disaster Recovery?
Kami menawarkan solusi bisnis disaster recovery dalam ruang
lingkup yang menjadi kompetensi, yaitu Teknologi Informasi.
Disaster recovery di bidang TI ini akan mencakup banyak
sekali aspek.
Secara garis besar terkait dengan infrastruktur disaster
recovery (disaster recovery center) dan prosedur atau rencana
penerapan disaster recovery (disaster recovery plan).
Infrastruktur disaster recovery mencakup fasilitas data center,
wide area network (WAN) atau telekomunikasi, local area network
(LAN), hardware, dan aplikasi. Dari tiap bagian ini kita
harus menentukan strategi disaster recovery yang paling tepat
agar dapat memberikan solusi yang efektif dan sesuai dengan
kebutuhan perbankan itu sendiri.•
RELATED ARTICLES:
Implementasi TI: Taruhan
Besar Perbankan
Dengan Teknologi Menggaet Nasabah
Dari Back-Office ke Front-Office
Pentingnya Standarisasi TI
Integrasi Sistem Demi Efisiensi
|