Volume I Nomor 10 - Agustus-September 2003
Call Center
Kalau sebelumnya sistem yang dimiliki masih terpisah-pisah, kini kalangan perbankan terus berupaya mengintegrasikan-nya. Bagaimana mereka melakukannya?
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing
Wellianto Halim, Head of Information Technology LippoBank

Dalam pemanfaatan teknologi informasi (TI), boleh dibilang industri jasa keuangan dewasa ini merupakan yang terdepan. Perbankan misalnya, membutuhkan TI sebagai driver untuk mendukung proses bisnis, kegiatan operasi, dan customer service.

Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan nasabah, yang umumnya sangat membutuhkan layanan yang convenience, yakni tersedianya channel access yang banyak, aman, nyaman dan layanan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu sepanjang tahun.

Kalau pertengahan 80-an teknologi perbankan yang digelar umumnya berupa otomatisasi administrasi back office dan pemrosesan transaksinya bertujuan cost saving dan high transaction volume handling, maka di era 90-an penggelaran TI lebih ditujukan untuk mendekati customer. Ini dilakukan dengan menambah jumlah channel access yang bisa berupa cabang maupun ATM (automated teller machine), Internet banking dan phone banking yang semuanya memanjakan customer, sehingga dapat melakukan transaksi perbankan di mana saja dan kapan saja.

Dewasa ini, penggelaran teknologi lebih ditujukan untuk membantu para eksekutif bank untuk membuat keputusan yang lebih akurat dan cepat. Tentunya hal ini membutuhkan penerapan Management Information System (MIS) dan Risk Management System yang handal.

Selain itu, TI juga digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas relasi dengan para nasabah, misalnya dalam bentuk Customer Relationship Management (CRM) maupun Contact Center.

Bagaimana di Indonesia?
Di Indonesia, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Jika diperhatikan, penggelaran TI perbankan sangat terkait dengan penyediaan infrastruktur komunikasinya. Misalnya LippoBank, ketika pertama kali melakukan komputerisasi cabang-cabang tahun 1985, infrastruktur komunikasi yang tersedia waktu itu boleh dibilang masih payah.

“ Memperoleh leased line 1200 bit sampai 2400 bit dari Telkom ketika itu orang bisa ketawa, itu pun nggak semua daerah punya,” ujar Wellianto Halim, Head of Information Technology LippoBank.

Namun sejalan dengan membaiknya infrastruktur telekomunikasi, LippoBank beralih menggunakan mini sistem IBM AS/400, dan ketika itulah cabang-cabang sudah bisa online. Hanya saja, ketika itu online-nya baru bersifat regional, dengan data center yang regionalized.

Misalnya, data center di Surabaya khusus menangani cabang-cabang yang berada di Jawa Timur. Bahkan menurut Halim, saat itu untuk wilayah Jawa Tengah data center-nya ada dua, di Semarang dan Solo. Kemudian di Jakarta ditempatkan switching dengan menggunakan perangkat keras Stratus, yang ketika itu juga mulai digunakan untuk menangani ATM.

Setelah tren regionalized data center, dan melihat infrastruktur telekomunikasi dari Telkom juga semakin baik, pada tahun 1999 bank milik Grup Lippo ini akhirnya menerapkan centralized data center, dimana seluruh data center regional ditarik ke Jakarta.

“ Kalau dulu kami memiliki 7 data center, maka sejak tahun 1999 tinggal dua, satu di Menara Asia sebagai production, sedang satunya lagi di Gatot Subroto sebagai disaster recovery center (DRC). Keduanya dihubungkan dengan fiber optic,” ujar Halim menjelaskan.

Di sisi lain, bank BNI juga merencanakan suatu sistem yang tersentralisasi. “Sekarang ini arsitektur kami masih terdistribusi, dimana masing-masing cabang memiliki database sendiri-sendiri. Nah, nantinya akan terpusat menjadi satu. Fungsinya untuk menggantikan aplikasi yang ada sekarang dari terdistribusi menjadi terintegrasi untuk memudahkan pelayanan terhadap nasabah,” jelas Gumirlang S. Indroyono, General Manager Information Technology Division BNI.

Kecenderungan untuk mengintegrasikan sistem, juga dilakukan oleh BRI. Penerapan TI, sebagaimana diungkapkan Abing Rabani, Deputy General Manager IT BRI, harus mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi nasabah melalui penyediaan service delivery channel yang terintegrasi. Juga, diharapkan akan mampu meningkatkan daya saing, dan memperoleh return on investment (ROI) yang optimal.

Sementara itu, untuk infrastruktur komunikasinya, terutama dari sekitar 382 kantor cabangnya yang tersebar menuju kantor pusat, LippoBank melirik VSAT (very small aperture terminal), yang menurut Halim masih belum murah, namun relatif sudah terjangkau.

Dipilihnya VSAT selain untuk meningkatkan kualitas, juga untuk menjamin ketersediaan atau availability jejaring komunikasi sampai 99 persen, yang menurut Halim kalau hanya mengandalkan jaringan telekomunikasi leased line dari Telkom agak sulit tercapai. “Kini, hampir seluruh komunikasi dari seluruh cabang ke pusat sudah menggunakan VSAT, bahkan untuk kantor kas sekalipun,” ujar Halim.

Kemandirian, keamanan dan efisiensi sebagai prioritas tertinggi menjadi alasan BRI menggunakan VSAT. Abing Rabani, menunjuk bahwa penggelaran broadband VSAT dikarenakan BRI tidak ingin tergantung pada infrastruktur publik yang memang sangat rawan dan kualitasnya tidak menentu. Jaringan broadband VSAT yang digunakan BRI memiliki kapasitas down-link sebesar 6 Mbps dan up-link sebesar 256 Kbps. Jaringan ini tidak hanya digunakan untuk komunikasi data, melainkan juga komunikasi suara antar outlet.

LippoBank, menurut Halim, tengah mempertimbangkan penggunaan teknologi MPLS (multi protocol layer switch) berbasis IP (internet protocol) yang ditawarkan Telkom. “Kemungkinan kami akan menerapkannya di cabang-cabang besar, karena biasanya cabang-cabang ini berlokasi di tempat yang relatif baik dan Telkom pun sudah ready di sana, selain juga membutuhkan bandwidth yang besar.”

Jadi dengan teknologi ini, paling tidak ketika VSAT kena, tidak seluruh jaringan juga kena. Jaringan telekomunikasi ini di luar kontrol kami, sehingga kami pikir ada baiknya jika kami memiliki dua provider yang berbeda. Jika hanya salah satu saja yang kena, kami masih bisa beroperasi seperti biasa,” lanjut Halim.

Kemudahan transaksi melalui ATM: Ujung dari integrasi core banking.

Integrasi legacy system
Sebagai institusi yang sudah cukup lama memanfaatkan teknologi informasi, LippoBank pun memiliki legacy system. Makanya tidak heran, selain membenahi infrastruktur komunikasinya, bank ini juga tengah fokus melakukan integrasi sistem aplikasi-aplikasi yang ada. Ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasi perbankan dan sekaligus meletakkan fondasi penggelaran aplikasi-aplikasi masa datang.

Aplikasi core banking misalnya, dulu saat melakukan komputerisasi cabang-cabang, masing-masing proses masih dilakukan sendiri-sendiri. Tabungan ada teller tersendiri, giro memiliki teller tersendiri, begitu juga halnya dengan loan.

“Ketika kami mulai menggunakan mini systems (IBM AS/400, dsb), proses-proses itu semua sudah kami integrasikan. Tabungan, giro serta loan sudah bisa diproses dari satu teller. Kalau dulu kan tergantung departemen atau seksinya, jadi butuh SDM yang banyak. Kalau sekarang, kami cukup menambah sedikit SDM, cabangnya kami kembangkan. Prinsipnya, komputerisasi bukan untuk rasionalisasi, tetapi untuk meningkatkan produktivitas,” tegas Halim.

Abing pun melihat hal yang sama. Artinya penerapan TI, selain dapat meningkatkan kemudahan dan kelancaran operasi, sehingga mampu memberikan layanan yang bermutu tinggi kepada nasabah, juga secara internal semakin mendorong peningkatan produktivitas kerja.

Untuk itu, selain mengintegrasikan core banking, LippoBank juga mengintegrasikan back office atau general ledger-nya, sekaligus Customer Information System (CIS)-nya, meski masih terbatas untuk core banking. Sistem consumer banking yang menangani transaksi melalui ATM, POS (point of sale) maupun kartu kredit juga tidak luput dari pengintegrasian ini. Setelah consumer banking dan core banking terintegrasi, pembayaran tagihan kartu kredit misalnya, dapat secara langsung dengan mendebit rekening tabungan melalui ATM.

Approach yang dilakukan LippoBank dalam mengintegrasikan sistemnya dilakukan dengan sangat hati-hati, dalam arti benar-benar dipilih sesuai kebutuhan. “Sekarang banyak orang mengatakan untuk integrasi sistem pasang saja middleware. Input dari channel di depan masuk ke middleware dulu, nanti middleware ini yang akan bagi-bagi. Cuma, sekarang middleware itu tidak ada yang murah. Tapi kalau diperhatikan, dengan aplikasi yang sekarang ini, yakni core banking, credit banking, trade banking, dan treasury, rasanya sih belum perlu menggunakan middleware,” tutur Halim panjang lebar.

Menurut Halim, kalau sudah ada 20 link aplikasi, mungkin barulah saatnya untuk invest di middleware. “Tapi kalau kurang dari itu, lebih baik digabung masing-masing, karena toh sekarang sudah ada teknologi IP based. Jadi antara sistem-sistem ini sudah kami IP-kan. Teller misalnya, sudah connect ke AS/400. Ketika mau update data yang di credit card (yang menggunakan S/390), tinggal kasih tahu, selanjutnya AS/400 yang men-switch ke sana,” jelas Halim.

Bagi mesin-mesin yang berbeda ini, untuk “saling berbicara satu sama lainnya” pun tidak masalah, karena menurut Halim, messaging-nya sudah distandarkan dengan menerapkan ISO8583, yaitu standar messaging untuk financial transaction. “Jadi masing-masing aplikasi sudah ready dengan ISO, dan link di dalam data center sudah secured, sehingga beberapa sistem yang terpisah-pisah ini seakan-akan sudah menjadi satu,” lanjut Halim.

Kalaupun nantinya akan menambah delivery channel baru, menurut Halim sudah tidak ada masalah. “Kalau kami mau tambahkan mobile banking misalnya, itu tidak terlalu masalah. Kami bisa fungsikan salah satu sistem menjadi semacam middleware. Toh sudah ada beberapa e-channel yang masuk ke sini, antara lain ATM, POS, dan juga internet banking”, tambahnya.

Selain pembenahan infrastruktur TI dan manajemen sistem prosesnya, Halim pun menyoroti perlunya pembenahan organisasi TI-nya. “Kalau dahulu paradigmanya TI hanya sebagai support, sekarang menjadi service oriented organization. Dengan begitu, TI tidak saja sebagai pendukung, melainkan juga mendampingi orang bisnis dalam melakukan kegiatan bisnisnya sehari-hari. Ini adalah transformasi yang harus kami lakukan,” tutup Halim. •Aa/EW


RELATED ARTICLES:

Implementasi TI: Taruhan Besar Perbankan
Dengan Teknologi Menggaet Nasabah
Dari Back Office ke Front Office
Pentingnya Standarisasi TI
Infrastrukturnya Banyak Yang Belum Memadai


© 2003 eBizzAsia. All rights reserved