 |
| Wellianto Halim, Head of Information
Technology LippoBank |
Dalam pemanfaatan teknologi informasi
(TI), boleh dibilang industri jasa keuangan dewasa ini merupakan
yang terdepan. Perbankan misalnya, membutuhkan TI sebagai driver
untuk mendukung proses bisnis, kegiatan operasi, dan customer
service.
Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan nasabah, yang umumnya
sangat membutuhkan layanan yang convenience, yakni tersedianya
channel access yang banyak, aman, nyaman dan layanan 24 jam
sehari, 7 hari dalam seminggu sepanjang tahun.
Kalau pertengahan 80-an teknologi perbankan yang digelar umumnya
berupa otomatisasi administrasi back office dan pemrosesan
transaksinya bertujuan cost saving dan high transaction volume
handling, maka di era 90-an penggelaran TI lebih ditujukan
untuk mendekati customer. Ini dilakukan dengan menambah jumlah
channel access yang bisa berupa cabang maupun ATM (automated
teller machine), Internet banking dan phone banking yang semuanya
memanjakan customer, sehingga dapat melakukan transaksi perbankan
di mana saja dan kapan saja.
Dewasa ini, penggelaran teknologi lebih ditujukan untuk membantu
para eksekutif bank untuk membuat keputusan yang lebih akurat
dan cepat. Tentunya hal ini membutuhkan penerapan Management
Information System (MIS) dan Risk Management System yang handal.
Selain itu, TI juga digunakan untuk meningkatkan kualitas dan
kuantitas relasi dengan para nasabah, misalnya dalam bentuk
Customer Relationship Management (CRM) maupun Contact Center.
Bagaimana di Indonesia?
Di Indonesia, kondisinya juga tidak jauh berbeda. Jika diperhatikan,
penggelaran TI perbankan sangat terkait dengan penyediaan infrastruktur
komunikasinya. Misalnya LippoBank, ketika pertama kali melakukan
komputerisasi cabang-cabang tahun 1985, infrastruktur komunikasi
yang tersedia waktu itu boleh dibilang masih payah.
“ Memperoleh leased line 1200 bit sampai 2400 bit dari
Telkom ketika itu orang bisa ketawa, itu pun nggak semua daerah
punya,” ujar
Wellianto Halim, Head of Information Technology LippoBank.
Namun sejalan dengan membaiknya infrastruktur telekomunikasi,
LippoBank beralih menggunakan mini sistem IBM AS/400, dan ketika
itulah cabang-cabang sudah bisa online. Hanya saja, ketika
itu online-nya baru bersifat regional, dengan data center yang
regionalized.
Misalnya, data center di Surabaya khusus menangani cabang-cabang
yang berada di Jawa Timur. Bahkan menurut Halim, saat itu untuk
wilayah Jawa Tengah data center-nya ada dua, di Semarang dan
Solo. Kemudian di Jakarta ditempatkan switching dengan menggunakan
perangkat keras Stratus, yang ketika itu juga mulai digunakan
untuk menangani ATM.
Setelah tren regionalized data center, dan melihat infrastruktur
telekomunikasi dari Telkom juga semakin baik, pada tahun 1999
bank milik Grup Lippo ini akhirnya menerapkan centralized data
center, dimana seluruh data center regional ditarik ke Jakarta.
“ Kalau dulu kami memiliki 7 data center, maka sejak tahun
1999 tinggal dua, satu di Menara Asia sebagai production, sedang
satunya lagi di Gatot Subroto sebagai disaster recovery center
(DRC). Keduanya dihubungkan dengan fiber optic,” ujar
Halim menjelaskan.
Di sisi lain, bank BNI juga merencanakan suatu sistem yang
tersentralisasi. “Sekarang ini arsitektur kami masih
terdistribusi, dimana masing-masing cabang memiliki database
sendiri-sendiri. Nah, nantinya akan terpusat menjadi satu.
Fungsinya untuk menggantikan aplikasi yang ada sekarang dari
terdistribusi menjadi terintegrasi untuk memudahkan pelayanan
terhadap nasabah,” jelas Gumirlang S. Indroyono, General
Manager Information Technology Division BNI.
Kecenderungan untuk mengintegrasikan sistem, juga dilakukan
oleh BRI. Penerapan TI, sebagaimana diungkapkan Abing Rabani,
Deputy General Manager IT BRI, harus mampu memberikan manfaat
sebesar-besarnya bagi nasabah melalui penyediaan service delivery
channel yang terintegrasi. Juga, diharapkan akan mampu meningkatkan
daya saing, dan memperoleh return on investment (ROI) yang
optimal.
Sementara itu, untuk infrastruktur komunikasinya, terutama
dari sekitar 382 kantor cabangnya yang tersebar menuju kantor
pusat, LippoBank melirik VSAT (very small aperture terminal),
yang menurut Halim masih belum murah, namun relatif sudah terjangkau.
Dipilihnya VSAT selain untuk meningkatkan kualitas, juga untuk
menjamin ketersediaan atau availability jejaring komunikasi
sampai 99 persen, yang menurut Halim kalau hanya mengandalkan
jaringan telekomunikasi leased line dari Telkom agak sulit
tercapai. “Kini, hampir seluruh komunikasi dari seluruh
cabang ke pusat sudah menggunakan VSAT, bahkan untuk kantor
kas sekalipun,” ujar Halim.
Kemandirian, keamanan dan efisiensi sebagai prioritas tertinggi
menjadi alasan BRI menggunakan VSAT. Abing Rabani, menunjuk
bahwa penggelaran broadband VSAT dikarenakan BRI tidak ingin
tergantung pada infrastruktur publik yang memang sangat rawan
dan kualitasnya tidak menentu. Jaringan broadband VSAT yang
digunakan BRI memiliki kapasitas down-link sebesar 6 Mbps dan
up-link sebesar 256 Kbps. Jaringan ini tidak hanya digunakan
untuk komunikasi data, melainkan juga komunikasi suara antar
outlet.
LippoBank, menurut Halim, tengah mempertimbangkan penggunaan
teknologi MPLS (multi protocol layer switch) berbasis IP (internet
protocol) yang ditawarkan Telkom. “Kemungkinan kami akan
menerapkannya di cabang-cabang besar, karena biasanya cabang-cabang
ini berlokasi di tempat yang relatif baik dan Telkom pun sudah
ready di sana, selain juga membutuhkan bandwidth yang besar.”
Jadi dengan teknologi ini, paling tidak ketika VSAT kena, tidak
seluruh jaringan juga kena. Jaringan telekomunikasi ini di
luar kontrol kami, sehingga kami pikir ada baiknya jika kami
memiliki dua provider yang berbeda. Jika hanya salah satu saja
yang kena, kami masih bisa beroperasi seperti biasa,” lanjut
Halim.
 |
| Kemudahan transaksi melalui ATM:
Ujung dari integrasi core banking. |
Integrasi legacy system
Sebagai institusi yang sudah cukup lama memanfaatkan teknologi
informasi, LippoBank pun memiliki legacy system. Makanya
tidak heran, selain membenahi infrastruktur komunikasinya,
bank ini juga tengah fokus melakukan integrasi sistem aplikasi-aplikasi
yang ada. Ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasi
perbankan dan sekaligus meletakkan fondasi penggelaran aplikasi-aplikasi
masa datang.
Aplikasi core banking misalnya, dulu saat melakukan komputerisasi
cabang-cabang, masing-masing proses masih dilakukan sendiri-sendiri.
Tabungan ada teller tersendiri, giro memiliki teller tersendiri,
begitu juga halnya dengan loan.
“Ketika kami mulai menggunakan mini systems (IBM
AS/400, dsb), proses-proses itu semua sudah kami integrasikan.
Tabungan,
giro serta loan sudah bisa diproses dari satu teller. Kalau
dulu kan tergantung departemen atau seksinya, jadi butuh SDM
yang banyak. Kalau sekarang, kami cukup menambah sedikit SDM,
cabangnya kami kembangkan. Prinsipnya, komputerisasi bukan
untuk rasionalisasi, tetapi untuk meningkatkan produktivitas,” tegas
Halim.
Abing pun melihat hal yang sama. Artinya penerapan TI, selain
dapat meningkatkan kemudahan dan kelancaran operasi, sehingga
mampu memberikan layanan yang bermutu tinggi kepada nasabah,
juga secara internal semakin mendorong peningkatan produktivitas
kerja.
Untuk itu, selain mengintegrasikan core banking, LippoBank
juga mengintegrasikan back office atau general ledger-nya,
sekaligus Customer Information System (CIS)-nya, meski masih
terbatas untuk core banking. Sistem consumer banking yang menangani
transaksi melalui ATM, POS (point of sale) maupun kartu kredit
juga tidak luput dari pengintegrasian ini. Setelah consumer
banking dan core banking terintegrasi, pembayaran tagihan kartu
kredit misalnya, dapat secara langsung dengan mendebit rekening
tabungan melalui ATM.
Approach yang dilakukan LippoBank dalam mengintegrasikan sistemnya
dilakukan dengan sangat hati-hati, dalam arti benar-benar dipilih
sesuai kebutuhan. “Sekarang banyak orang mengatakan untuk
integrasi sistem pasang saja middleware. Input dari channel
di depan masuk ke middleware dulu, nanti middleware ini yang
akan bagi-bagi. Cuma, sekarang middleware itu tidak ada yang
murah. Tapi kalau diperhatikan, dengan aplikasi yang sekarang
ini, yakni core banking, credit banking, trade banking, dan
treasury, rasanya sih belum perlu menggunakan middleware,” tutur
Halim panjang lebar.
Menurut Halim, kalau sudah ada 20 link aplikasi, mungkin barulah
saatnya untuk invest di middleware. “Tapi kalau kurang
dari itu, lebih baik digabung masing-masing, karena toh sekarang
sudah ada teknologi IP based. Jadi antara sistem-sistem ini
sudah kami IP-kan. Teller misalnya, sudah connect ke AS/400.
Ketika mau update data yang di credit card (yang menggunakan
S/390), tinggal kasih tahu, selanjutnya AS/400 yang men-switch
ke sana,” jelas Halim.
Bagi mesin-mesin yang berbeda ini, untuk “saling berbicara
satu sama lainnya” pun tidak masalah, karena menurut
Halim, messaging-nya sudah distandarkan dengan menerapkan ISO8583,
yaitu standar messaging untuk financial transaction. “Jadi
masing-masing aplikasi sudah ready dengan ISO, dan link di
dalam data center sudah secured, sehingga beberapa sistem yang
terpisah-pisah ini seakan-akan sudah menjadi satu,” lanjut
Halim.
Kalaupun nantinya akan menambah delivery channel baru, menurut
Halim sudah tidak ada masalah. “Kalau kami mau tambahkan
mobile banking misalnya, itu tidak terlalu masalah. Kami bisa
fungsikan salah satu sistem menjadi semacam middleware. Toh
sudah ada beberapa e-channel yang masuk ke sini, antara lain
ATM, POS, dan juga internet banking”, tambahnya.
Selain pembenahan infrastruktur TI dan manajemen sistem prosesnya,
Halim pun menyoroti perlunya pembenahan organisasi TI-nya. “Kalau
dahulu paradigmanya TI hanya sebagai support, sekarang menjadi
service oriented organization. Dengan begitu, TI tidak saja
sebagai pendukung, melainkan juga mendampingi orang bisnis
dalam melakukan kegiatan bisnisnya sehari-hari. Ini adalah
transformasi yang harus kami lakukan,” tutup Halim. •Aa/EW
RELATED ARTICLES:
Implementasi TI: Taruhan Besar Perbankan
Dengan Teknologi Menggaet Nasabah
Dari Back Office ke Front Office
Pentingnya Standarisasi TI
Infrastrukturnya Banyak Yang Belum Memadai
|