Volume I Nomor 10 - Agustus-September 2003
Call Center
Penerapan teknologi informasi di lingkungan perbankan berjalan sangat intensif dan membutuhkan investasi yang tidak kecil. Bagaimana mereka melakukannya dan apa keuntungannya bagi nasabah?
 
SIDE BAR

Teknologi One Stop Shopping
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing

Potret Perbankan Indonesia memang belum secerah langit Jakarta. Namun, dibalik mendungnya kondisi perbankan nasional, ada secercah cahaya biru. Indikator perbankan boleh saja menurun, tapi tidak teknologinya. Berbagai inovasi baru terus saja dilakukan kendati harus menanamkan investasi yang lumayan besar. Tak peduli apakah itu bank pemerintah atau swasta. Tujuannya adalah memudahkan dan memuaskan nasabah melalui penerapan teknologi paling gress.

Lihat saja, misalnya Bank Negara Indonesia (BNI). Untuk memudahkan pelayanan bagi nasabahnya, berbagai layanan baru diterapkannya, misalnya phone banking. Dengan layanan tersebut, nasabah tidak perlu repot-repot lagi ngantri di teller untuk mengirimkan sejumlah uang. Cukup melalui telepon.

Tidak itu saja. Produk lain seperti Tabungan, ATM dan Mobile Banking pun sudah tersedia. Bahkan, untuk menampung keluhan nasabah, BNI meluncurkan situs www.bnimendengarkan.com.

Seolah tak mau ketinggalan, Bank Niaga yang memiliki slogan “akses tanpa batas” pun berlomba merebut nasabah dengan produk-produk online-nya. Lihat saja, misalnya, produk terbarunya Niaga Ponsel Access, yang sekaligus melengkapi serangkaian layanan electronic banking, seperti Niaga Access 14041 (phone banking) dan Niaga Global Acces (Internet Banking). Bahkan sejak tahun 1987, bank ini telah memotori penggunaan ATM online di Indonesia.

Lain lagi dengan BRI. Bank plat merah ini juga telah memiliki 580 mesin ATM sendiri. Selain itu, juga bergabung dengan jaringan ‘ATM Link dan Bersama’ yang memiliki tak kurang dari 7500 ATM yang tersebar di seluruh Indonesia.

Mengingat bahwa bank komersial dituntut dalam persoalan produk yang bersifat massal dan kecepatan layanan yang tinggi, BRI lebih memokuskan pada pengembangan electronic delivery channel (eDC), sekalipun tidak melupakan branch delivery channel-nya.

Beberapa waktu lalu, BRI juga telah menyediakan fasilitas callBRI. Ini merupakan fasilitas call center. Untuk menangkap peluang, BRI juga berencana akan meluncurkan mobile banking awal tahun depan. “Pengguna telepon selular tercatat antara 7-8 juta orang,” jelas Abing Rabani, Deputy General Manager IT BRI.

Bank yang kini memiliki 326 cabang, 146 sub cabang dan 3800 mikro outlet ditambah 12 kantor wilayah, 12 kantor audit dan 6 pusat pendidikan dan pelatihan ini, juga berencana meluncurkan layanan kartu kredit elektronik dan cash management. Untuk layanan net banking baru akan diluncurkan pada tahun 2005 mengingat jumlah pelanggan internet masih jauh dibawah pengguna mobile phone.

Bank Internasional Indonesia (BII), sebagaimana diungkapkan oleh Sigit Pramono, Presiden Direktur BII juga tak mau kalah dengan meluncurkan layanan kartu kredit BII Combo Card, BII Platinum Access, termasuk BII Syariah Platinum Access yang dapat diterima di jutaan lokasi di seluruh dunia. BII juga telah mengembangkan produk EduPlan BII dan Bancassurance bekerja sama dengan 4 perusahaan asuransi, dan layanan internet banking dan phone banking.

PermataBank juga menyediakan beberapa fasilitas, seperti call center, phone banking dan Internet banking. Dengan beragamnya fasilitas yang ada, ini akan memudahkan nasabah menikmati jasa-jasa layanan bank sesuai selera masing-masing. Jika nasabah tidak comfortable dengan fasilitas Internet banking, ia bisa memanfaatkan jasa PermataMobile dengan SMS, call center atau phone banking. “Prinsipnya kami ingin memberikan beragam kemudahan kepada nasabah,” kata Y.B. Hariantono, GM Teknologi Informasi PermataBank.

Sigit Pramono, Presiden Direktur BII

Efisiensi dan Kemudahan
Penerapan TI ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasi dan meminimalisasi risiko operasi, meningkatkan produktivitas, ketepatan dan keamanan operasi perbankan. Selain itu TI digunakan sebagai piranti analisis dan instrumen pemasaran.

Bagi BII, penerapan TI harus mampu memberikan kemudahan dan kenyamanan pada nasabah dalam melakukan transaksinya. Karenanya, selain TI, faktor sumber daya manusia harus menjadi perhatian penting dalam mendukung setiap layanan yang diberikan. Sehingga, sumberdaya manusia yang handal didukung oleh teknologi yang relevan akan mampu memberikan optimalisasi pelayanan dan variasi produk yang dibutuhkan nasabah.

“Nasabah harus bisa memperoleh nilai tambah,” ujar Sigit Pramono menjelaskan. Selain itu, TI tidak akan menjadi peningkat daya saing dengan sendirinya, karena bank mana saja bisa membelinya. Yang justru sangat penting mendukung penerapan TI dan sekaligus pembeda dibandingkan bank-bank lain adalah kualitas layanannya, baik itu kecepatan, ketepatan, kemudahan dan kenyamanannya.

“Karenanya, kita mendukung upaya-upaya peningkatan kualitas SDM, misalnya dilakukan melalui pelatihan in-house dan pendidikan jenjang yang lebih tinggi (S2), baik di dalam maupun di luar negeri. Sedang untuk investasi penerapan TI-nya tak kurang disediakan investasi sebesar 50 miliar per tahun. Harapannya, BII akan tetap dapat meng-update kebutuhan TI-nya secara lebih baik dan siap bersaing dengan bank-bank lainnya.

Begitu juga yang diharapkan BRI, bahwa penerapan TI harus mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi nasabah dengan menyediakan service delivery channel yang terintegrasi melalui kapabilitas TI. Juga, meningkatkan daya saing, dan memperoleh return on investment (ROI) yang optimal.

Untuk itu, tegas Abing Rabani, penggelaran TI harus terkontrol. BRI sendiri melakukannya melalui penetapan indikator kinerja kunci (KPI-key performance indicator). Secara internal kinerja diukur dari kecepatan respon pelayanan, terutama transaksi perdetik, kualitas dengan ketersediaan dan kesinambungan operasi, biaya per transaksi, dan kecepatan delivery produk.

Secara eksternal, kinerja diukur melalui perbandingan dengan best practices pihak ketiga. Faktor-faktor pembandingnya adalah integritas dan variasi service delivery channel; kualitas MIS (management information system) berdasarkan akurasi, validitas dan waktu; aplikasi fungsionalitas dan fitur; serta integrasi data atas data-data pelanggan.

Meski diakui Abing bahwa divisi TI dari setiap bank lebih mirip dengan cost center. Dengan adanya KPI, diharapkan divisi TI BRI, khususnya, akan lebih bisa mirip dan diperlakukan sebagaimana unit bisnis pada umumnya.

“Kami mencoba mengubah dari cost center menjadi virtual profit center,” tambahnya. Untuk itu harus bisa terukur secara kuantitatif, seperti berapa biaya per transaksinya dan itu pun harus bisa dikomparasi dengan provider lainnya. Jika menjadi cost center, divisi TI malah tidak terkontrol dan tidak transparan.

Gumirlang S. Indroyono, GM IT Division, PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk

New Core Banking system
Dalam mengimplementasikan TI, BNI membentuk suatu tim yang disebut tim New Core Banking, yang terdiri dari 150 orang pegawai langsung berada dibawah naungan direksi. “Tapi tim ini tidak hanya tim teknologi, melainkan tim bisnis juga ada. Kini sudah saatnya kita melakukan business re-engeneering,” ungkap Gumirlang, yang membawahi sekitar 250 orang TI.

Namun, dalam melakukan itu semua, BNI tidak sendiri. Bank milik pemerintah ini menggunakan tenaga konsultan, yang terdiri dari konsultan teknis, proyek dan bisnis. Bank pemerintah ini juga menggunakan vendor, seperti IBM untuk hardware-nya, Hewlett-Packard untuk switching mesin, Lintas Artha dan Citra Sari Makmur (CSM) untuk provider komunikasi, dan juga PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom).

Tidak tanggung-tanggung memang. Untuk mengaplikasi TI BNI menanamkan investasi sebesar 800 miliar untuk jangka waktu lima tahun. Pada awal tahun 2004, misalnya, sebagian investasinya akan digunakan untuk mengimplementasikan sistem yang tersentralisasi.

“Sekarang ini arsitektur kami masih terdistribusi, dimana masing-masing cabang memiliki database sendiri-sendiri. Nah, nantinya akan terpusat menjadi satu. Fungsinya untuk menggantikan aplikasi yang ada sekarang agar terintegrasi menjadi satu untuk peningkatan mutu pelayanan dan kemudahan nasabah,” jelas Gumirlang.

Sementara itu, BRI menempuh pendekatan dengan menggunakan hub spoke yang langsung berhubungan dengan 12 kantor wilayah di seluruh Indonesia. Pendekatan ini menjadikan kantor-kantor cabang BRI di seluruh Indonesia lebih fokus pada persoalan-persoalan pamasaran dan pelayanan. Sementara untuk urusan back office ditarik ke kantor-kantor wilayah.

Pengelolaan fix asset dan financial information system yang tadinya berada di cabang-cabang, juga ditarik ke kantor wilayah. Ini menyebabkan kantor- kantor cabang menjadi lebih ramping dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Sehingga, biaya per outlet-nya menjadi lebih kecil atau kurang dari sebelumnya.

Hal itu sangat mempengaruhi biaya pengelolaan bank, karena dengan semakin efisiennya biaya operasional, maka biaya per transaksi pun bisa ditekan lebih rendah. “Ini perlu upaya re-engineering dalam operasional dengan sistem tersentralisasi dan sasarannya adalah sistemnya dapat ditingkatkan (scalable) dan sekaligus mendorong produktivitas,” jelas Abing.

Saat ini, sistem tersentralisasi ini sudah melakukan migrasi data dari sistem lama ke sistem baru. Migrasi data yang sudah dilakukan hingga bulan Juli lalu adalah sebanyak 11 juta account dari 38,7 juta account. Uniknya, migrasi data ini dilakukan hanya dalam dua hari di akhir minggu. “Kantor cabanglah yang melakukannya sendiri dengan supervisi dari Divisi TI BRI,” ujarnya.

Sudah tentu itu tidak dilakukan secara mendadak, tapi telah melalui perencanaan, persiapan dan uji coba selama 2 bulan sebelum eksekusi migrasi dilakukan. “Sehingga pada hari Senin berikutnya, kantor cabang tetap dapat melakukan aktivitasnya seperti biasa padahal baru saja melakukan migrasi data,” tambahnya.

Security system
Penerapan TI di bank memang mempunyai potensi kegagalan atau dampak negatif yang justru akan menyebabkan kerugian. Sisi negatif tersebut bisa didefinisikan sebagai risiko penerapan TI, yang kualitas dan kuantitas risikonya tergantung seberapa besar ancaman yang mungkin dihadapi. Juga, bagaimana kesiapan internal bank tersebut menghadapi setiap ancaman, serta seberapa besar dampaknya terhadap kinerja atau operasional bank.

Mengingat posisi perbankan nasional yang strategis dalam mata rantai perekonomian, intensitas risiko tersebut memerlukan penanganan yang tepat dengan tujuan untuk menjaga validitas, integritas, dan kerahasiaan data atau informasi yang diolah dan disajikan.

Risiko kegagalan TI sebenarnya sudah diantisipasi oleh teknologi itu sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan tersedianya fasilitas security system untuk setiap jenis teknologi dan sistem informasi, baik perangkat keras maupun perangkat lunak.

Masalahnya adalah bahwa pengguna fasilitas tersebut adalah orang atau organisasi, yang bisa jadi merupakan sumber potensi kegagalan dalam penerapan TI. Integrasi fungsi antara teknologi, sumber daya manusia, dan organisasi inilah yang menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko penerapan TI di perbankan. Salah satu bentuk kegiatan yang dapat mengetahui seberapa jauh fungsi masing-masing itu baik adalah melalui kegiatan pemeriksaan TI (audit TI).

Karena itu, selain security system yang ada di setiap aplikasi TI, security policy pun menjadi acuan bagi para pegawai. Pengamanan sistem informasi, seperti disebutkan Agus Pracoyo, seorang praktisi IT security harus diartikan secara luas tidak hanya menyangkut misalnya pengamanan terhadap akses informasi oleh orang yang tidak berwewenang.

Menurut Federal Financial Institutions Examination Council (FFIEC) obyektif sistem pengamanan informasi adalah untuk memastikan ketersediaan (availability), integritas, kerahasiaan (confidentiality), akuntabilitas (accountability) dan jaminan (assurance) sistem informasi dalam menunjang kegiatan perusahaan.

Dalam menjawab kebutuhan tersebut, BNI membaginya menjadi dua bagian, yaitu fisik dan nonfisik. Menurut Gumirlang, security policy ini dilandasi oleh aspek otomasi. Jadi yang penting bukan firewall atau password-nya, namun konsep security yang diterapkan. Security fisik itu ibarat orang masuk harus menggunakan syarat tertentu, sementara nonfisik tidak hanya masalah password, tapi lebih dari itu.

“ Kesulitan kita dalam security ini adalah mendidik orang yang mempunyai sense of security. Misalnya, meninggalkan PC terbuka, itu tidak boleh. Apalagi kalau sudah log-in. Security itu mencakup hingga pembahasan masalah penempatan komputer. Sense of security ini merupakan 50 persen dari kunci keberhasilan aspek security,” jelasnya.

Untuk keamanan transaksinya PermataBank menerapkan konfigurasi sistem pengamanan secara berlapis-lapis. Lapis pertama, register nomor telepon seluler nasabah lewat ATM itu pun sudah ada PIN (personal identification number) sebagai pengaman. Pengamanan lewat PIN ini masih dilapisi lagi dengan enam digit nomor TIN (telephone identification number).

Lapis kedua, untuk beberapa produk transaksi ada limitnya. Limitasi itu biasanya dalam bentuk jumlah uang, transfer atau penarikan tunai, dalam sehari. Dan lapis ketiga, sistem keamanannya menggunakan secure socket layer (SSL) 128 bit.

Andreas Tedja, Vice President PT. Bank Niaga Tbk.

Dual Data Centre
Selain security policy, BNI juga memiliki fasilitas disaster recovery center (DRC). Sesuai aturan Bank Indonesia, DRC harus ditempat setidak-tidaknya 65 km dari sentral komputer. Hal ini dimaksudkan agar jika terjadi sesuatu terhadap kegiatan operasional, misalnya terbakar atau gempa, kegiatan perbankan tetap dapat dijalankan, karena sistem recovery -nya tidak terkena.

Dalam penerapannya, untuk masing-masing cabang memiliki server-nya sendiri-sendiri, dan selalu di up-date back-up server-nya. Selain itu, back-up juga dilakukan terhadap komputer yang menghubungkan satu cabang dengan cabang lainnya. “Jadi, yang sifatnya memberikan layanan pada nasabah itu harus ada backup-nya”, tegas Gumirlang. Pihaknya juga akan menambah lokasi baru bekerja sama dengan pihak ketiga.

Lain halnya dengan Bank Niaga. Untuk memperbaiki kualitas pelayanan dan jaminan kepada nasabah, pada tahun 1994 Bank Niaga menerapkan konsep Dual Data Centre, yang beroperasi secara bergantian. Dengan cara itu, kegiatan operasional bank akan berjalan, baik di sistem utamanya maupun di sistem backup-nya. Keberhasilan menjalankan sistem dual data center ini, yang akhirnya pada Maret 2003 Bank Niaga mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000 untuk Information Technology Operation.

Tidak itu saja. Konsep Dual Data Center yang diimplementasikannya untuk menjamin keamanan transaksi nasabah juga mendapatkan penghargaan dari IBM Indonesia sebagai “The Best Availability Implementation on IBM eServer in Indonesia”.

“Kita melihat disaster recovery dari sisi bisnis, yakni bahwa kita mememberikan jaminan layanan ke nasabah. Kalau kita bilang “akses tanpa batas,” layanannya juga tanpa batas. Jadi tidak ada ganguan-gangguan. Tujuannya adalah kita memberikan jaminan kepada nasabah. Layanan itu akan tetap ada untuk nasabah bertransaksi,” tegas Andreas Tedja.

Untuk mencapai itu memang tidak gampang, dan tidak semata-mata pertimbangan teknologi semata. Kepentingan bisnis dalam membuat produk baru memang lebih didahulukan ketimbang mengaplikasikan teknologi baru. Dari sisi teknologi, Bank Niaga sangat men-support peluncuran produk-produk baru itu.

TI hanya salah satu komponen keberhasilan bank dalam meningkatkan kinerja dan daya saingnya. Karenanya, betapapun bagusnya pengelolaan bisnis perbankan, jika tidak didukung oleh aplikasi TI yang sesuai dengan kepentingan bisnis itu, sulit diharapkan mampu bersaing dengan bank-bank lainnya.
Emir Wiraatmaja/Rully Ferdian

RELATED ARTICLES:

Implementasi TI: Taruhan Besar Perbankan
Dari Back-Office ke Front-Office
Pentingnya Standarisasi TI
Integrasi Sistem Demi Efisiensi
Infrastrukturnya Banyak Yang Belum Memadai


© 2003 eBizzAsia. All rights reserved