Potret
Perbankan Indonesia memang belum secerah langit Jakarta.
Namun, dibalik mendungnya kondisi perbankan nasional, ada
secercah cahaya biru. Indikator perbankan boleh saja menurun,
tapi tidak teknologinya. Berbagai inovasi baru terus saja
dilakukan kendati harus menanamkan investasi yang lumayan
besar. Tak peduli apakah itu bank pemerintah atau swasta.
Tujuannya adalah memudahkan dan memuaskan nasabah melalui
penerapan teknologi paling gress.
Lihat saja, misalnya Bank Negara Indonesia (BNI). Untuk memudahkan
pelayanan bagi nasabahnya, berbagai layanan baru diterapkannya,
misalnya phone banking. Dengan layanan tersebut, nasabah tidak
perlu repot-repot lagi ngantri di teller untuk mengirimkan
sejumlah uang. Cukup melalui telepon.
Tidak itu saja. Produk lain seperti Tabungan, ATM dan Mobile
Banking pun sudah tersedia. Bahkan, untuk menampung keluhan
nasabah, BNI meluncurkan situs www.bnimendengarkan.com.
Seolah tak mau ketinggalan, Bank Niaga yang memiliki slogan “akses
tanpa batas” pun berlomba merebut nasabah dengan produk-produk
online-nya. Lihat saja, misalnya, produk terbarunya Niaga Ponsel
Access, yang sekaligus melengkapi serangkaian layanan electronic
banking, seperti Niaga Access 14041 (phone banking) dan Niaga
Global Acces (Internet Banking). Bahkan sejak tahun 1987, bank
ini telah memotori penggunaan ATM online di Indonesia.
Lain lagi dengan BRI. Bank plat merah ini juga telah memiliki
580 mesin ATM sendiri. Selain itu, juga bergabung dengan jaringan ‘ATM
Link dan Bersama’ yang memiliki tak kurang dari 7500
ATM yang tersebar di seluruh Indonesia.
Mengingat bahwa bank komersial dituntut dalam persoalan produk
yang bersifat massal dan kecepatan layanan yang tinggi, BRI
lebih memokuskan pada pengembangan electronic delivery channel
(eDC), sekalipun tidak melupakan branch delivery channel-nya.
Beberapa waktu lalu, BRI juga telah menyediakan fasilitas callBRI.
Ini merupakan fasilitas call center. Untuk menangkap peluang,
BRI juga berencana akan meluncurkan mobile banking awal tahun
depan. “Pengguna telepon selular tercatat antara 7-8
juta orang,” jelas Abing Rabani, Deputy General Manager
IT BRI.
Bank yang kini memiliki 326 cabang, 146 sub cabang dan 3800
mikro outlet ditambah 12 kantor wilayah, 12 kantor audit dan
6 pusat pendidikan dan pelatihan ini, juga berencana meluncurkan
layanan kartu kredit elektronik dan cash management. Untuk
layanan net banking baru akan diluncurkan pada tahun 2005 mengingat
jumlah pelanggan internet masih jauh dibawah pengguna mobile
phone.
Bank Internasional Indonesia (BII), sebagaimana diungkapkan
oleh Sigit Pramono, Presiden Direktur BII juga tak mau kalah
dengan meluncurkan layanan kartu kredit BII Combo Card, BII
Platinum Access, termasuk BII Syariah Platinum Access yang
dapat diterima di jutaan lokasi di seluruh dunia. BII juga
telah mengembangkan produk EduPlan BII dan Bancassurance bekerja
sama dengan 4 perusahaan asuransi, dan layanan internet banking
dan phone banking.
PermataBank juga menyediakan beberapa fasilitas, seperti call
center, phone banking dan Internet banking. Dengan beragamnya
fasilitas yang ada, ini akan memudahkan nasabah menikmati jasa-jasa
layanan bank sesuai selera masing-masing. Jika nasabah tidak
comfortable dengan fasilitas Internet banking, ia bisa memanfaatkan
jasa PermataMobile dengan SMS, call center atau phone banking. “Prinsipnya
kami ingin memberikan beragam kemudahan kepada nasabah,” kata
Y.B. Hariantono, GM Teknologi Informasi PermataBank.
 |
| Sigit Pramono, Presiden Direktur
BII |
Efisiensi dan Kemudahan
Penerapan TI ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasi
dan meminimalisasi risiko operasi, meningkatkan produktivitas,
ketepatan dan keamanan operasi perbankan. Selain itu TI digunakan
sebagai piranti analisis dan instrumen pemasaran.
Bagi BII, penerapan TI harus mampu memberikan kemudahan dan
kenyamanan pada nasabah dalam melakukan transaksinya. Karenanya,
selain TI, faktor sumber daya manusia harus menjadi perhatian
penting dalam mendukung setiap layanan yang diberikan. Sehingga,
sumberdaya manusia yang handal didukung oleh teknologi yang
relevan akan mampu memberikan optimalisasi pelayanan dan variasi
produk yang dibutuhkan nasabah.
“Nasabah harus bisa memperoleh nilai tambah,” ujar Sigit
Pramono menjelaskan. Selain itu, TI tidak akan menjadi peningkat
daya saing dengan sendirinya, karena bank mana saja bisa
membelinya. Yang justru sangat penting mendukung penerapan
TI dan sekaligus
pembeda dibandingkan bank-bank lain adalah kualitas layanannya,
baik itu kecepatan, ketepatan, kemudahan dan kenyamanannya.
“Karenanya, kita mendukung upaya-upaya peningkatan kualitas
SDM, misalnya dilakukan melalui pelatihan in-house dan pendidikan
jenjang yang lebih tinggi (S2), baik di dalam maupun di luar
negeri. Sedang untuk investasi penerapan TI-nya tak kurang
disediakan investasi sebesar 50 miliar per tahun. Harapannya,
BII akan tetap dapat meng-update kebutuhan TI-nya secara
lebih baik dan siap bersaing dengan bank-bank lainnya.
Begitu juga yang diharapkan BRI, bahwa penerapan TI harus mampu
memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi nasabah dengan menyediakan
service delivery channel yang terintegrasi melalui kapabilitas
TI. Juga, meningkatkan daya saing, dan memperoleh return on
investment (ROI) yang optimal.
Untuk itu, tegas Abing Rabani, penggelaran TI harus terkontrol.
BRI sendiri melakukannya melalui penetapan indikator kinerja
kunci (KPI-key performance indicator). Secara internal kinerja
diukur dari kecepatan respon pelayanan, terutama transaksi
perdetik, kualitas dengan ketersediaan dan kesinambungan operasi,
biaya per transaksi, dan kecepatan delivery produk.
Secara eksternal, kinerja diukur melalui perbandingan dengan
best practices pihak ketiga. Faktor-faktor pembandingnya adalah
integritas dan variasi service delivery channel; kualitas MIS
(management information system) berdasarkan akurasi, validitas
dan waktu; aplikasi fungsionalitas dan fitur; serta integrasi
data atas data-data pelanggan.
Meski diakui Abing bahwa divisi TI dari setiap bank lebih mirip
dengan cost center. Dengan adanya KPI, diharapkan divisi TI
BRI, khususnya, akan lebih bisa mirip dan diperlakukan sebagaimana
unit bisnis pada umumnya.
“Kami mencoba mengubah dari cost center menjadi virtual
profit center,” tambahnya. Untuk itu harus bisa terukur
secara kuantitatif, seperti berapa biaya per transaksinya
dan itu
pun harus bisa dikomparasi dengan provider lainnya. Jika
menjadi cost center, divisi TI malah tidak terkontrol dan
tidak transparan.
 |
| Gumirlang S. Indroyono,
GM IT Division, PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk |
New Core Banking system
Dalam mengimplementasikan TI, BNI membentuk suatu tim yang
disebut tim New Core Banking, yang terdiri dari 150 orang
pegawai langsung berada dibawah naungan direksi. “Tapi
tim ini tidak hanya tim teknologi, melainkan tim bisnis
juga ada. Kini sudah saatnya kita melakukan business re-engeneering,” ungkap
Gumirlang, yang membawahi sekitar 250
orang TI.
Namun, dalam melakukan itu semua, BNI tidak sendiri. Bank
milik pemerintah ini menggunakan tenaga konsultan, yang terdiri
dari konsultan teknis, proyek dan bisnis. Bank pemerintah
ini juga menggunakan vendor, seperti IBM untuk hardware-nya,
Hewlett-Packard untuk switching mesin, Lintas Artha dan Citra
Sari Makmur (CSM) untuk provider komunikasi, dan juga PT.
Telekomunikasi Indonesia (Telkom).
Tidak tanggung-tanggung memang. Untuk mengaplikasi TI BNI
menanamkan investasi sebesar 800 miliar untuk jangka waktu
lima tahun. Pada awal tahun 2004, misalnya, sebagian investasinya
akan digunakan untuk mengimplementasikan sistem yang tersentralisasi.
“Sekarang ini arsitektur kami masih terdistribusi,
dimana masing-masing cabang memiliki database sendiri-sendiri.
Nah,
nantinya akan terpusat menjadi satu. Fungsinya untuk menggantikan
aplikasi yang ada sekarang agar terintegrasi menjadi satu
untuk peningkatan mutu pelayanan dan kemudahan nasabah,” jelas
Gumirlang.
Sementara itu, BRI menempuh pendekatan dengan menggunakan
hub spoke yang langsung berhubungan dengan 12 kantor wilayah
di seluruh Indonesia. Pendekatan ini menjadikan kantor-kantor
cabang BRI di seluruh Indonesia lebih fokus pada persoalan-persoalan
pamasaran dan pelayanan. Sementara untuk urusan back office
ditarik ke kantor-kantor wilayah.
Pengelolaan fix asset dan financial information system yang
tadinya berada di cabang-cabang, juga ditarik ke kantor wilayah.
Ini menyebabkan kantor- kantor cabang menjadi lebih ramping
dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Sehingga, biaya per
outlet-nya menjadi lebih kecil atau kurang dari sebelumnya.
Hal itu sangat mempengaruhi biaya pengelolaan bank, karena
dengan semakin efisiennya biaya operasional, maka biaya per
transaksi pun bisa ditekan lebih rendah. “Ini perlu
upaya re-engineering dalam operasional dengan sistem tersentralisasi
dan sasarannya adalah sistemnya dapat ditingkatkan (scalable)
dan sekaligus mendorong produktivitas,” jelas Abing.
Saat ini, sistem tersentralisasi ini sudah melakukan migrasi
data dari sistem lama ke sistem baru. Migrasi data yang sudah
dilakukan hingga bulan Juli lalu adalah sebanyak 11 juta
account dari 38,7 juta account. Uniknya, migrasi data ini
dilakukan hanya dalam dua hari di akhir minggu. “Kantor
cabanglah yang melakukannya sendiri dengan supervisi dari
Divisi TI BRI,” ujarnya.
Sudah tentu itu tidak dilakukan secara mendadak, tapi telah
melalui perencanaan, persiapan dan uji coba selama 2 bulan
sebelum eksekusi migrasi dilakukan. “Sehingga pada
hari Senin berikutnya, kantor cabang tetap dapat melakukan
aktivitasnya seperti biasa padahal baru saja melakukan migrasi
data,” tambahnya. Security system
Penerapan TI di bank memang mempunyai potensi kegagalan atau
dampak negatif yang justru akan menyebabkan kerugian. Sisi
negatif tersebut bisa didefinisikan sebagai risiko penerapan
TI, yang kualitas dan kuantitas risikonya tergantung seberapa
besar ancaman yang mungkin dihadapi. Juga, bagaimana kesiapan
internal bank tersebut menghadapi setiap ancaman, serta
seberapa besar dampaknya terhadap kinerja atau operasional
bank.
Mengingat posisi perbankan nasional yang strategis dalam
mata rantai perekonomian, intensitas risiko tersebut memerlukan
penanganan yang tepat dengan tujuan untuk menjaga validitas,
integritas, dan kerahasiaan data atau informasi yang diolah
dan disajikan.
Risiko kegagalan TI sebenarnya sudah diantisipasi oleh teknologi
itu sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan tersedianya fasilitas
security system untuk setiap jenis teknologi dan sistem informasi,
baik perangkat keras maupun perangkat lunak.
Masalahnya adalah bahwa pengguna fasilitas tersebut adalah
orang atau organisasi, yang bisa jadi merupakan sumber potensi
kegagalan dalam penerapan TI. Integrasi fungsi antara teknologi,
sumber daya manusia, dan organisasi inilah yang menjadi faktor
penting dalam mengurangi risiko penerapan TI di perbankan.
Salah satu bentuk kegiatan yang dapat mengetahui seberapa
jauh fungsi masing-masing itu baik adalah melalui kegiatan
pemeriksaan TI (audit TI).
Karena itu, selain security system yang ada di setiap aplikasi
TI, security policy pun menjadi acuan bagi para pegawai.
Pengamanan sistem informasi, seperti disebutkan Agus Pracoyo,
seorang praktisi IT security harus diartikan secara luas
tidak hanya menyangkut misalnya pengamanan terhadap akses
informasi oleh orang yang tidak berwewenang.
Menurut Federal Financial Institutions Examination Council (FFIEC) obyektif sistem pengamanan informasi adalah untuk
memastikan ketersediaan (availability), integritas, kerahasiaan
(confidentiality), akuntabilitas (accountability) dan jaminan
(assurance) sistem informasi dalam menunjang kegiatan perusahaan.
Dalam menjawab kebutuhan tersebut, BNI membaginya menjadi
dua bagian, yaitu fisik dan nonfisik. Menurut Gumirlang,
security policy ini dilandasi oleh aspek otomasi. Jadi yang
penting bukan firewall atau password-nya, namun konsep security
yang diterapkan. Security fisik itu ibarat orang masuk harus
menggunakan syarat tertentu, sementara nonfisik tidak hanya
masalah password, tapi lebih dari itu.
“ Kesulitan kita dalam security ini adalah mendidik orang
yang mempunyai sense of security. Misalnya, meninggalkan PC
terbuka,
itu tidak boleh. Apalagi kalau sudah log-in. Security itu
mencakup hingga pembahasan masalah penempatan komputer. Sense
of security ini merupakan 50 persen dari kunci keberhasilan
aspek security,” jelasnya.
Untuk keamanan transaksinya PermataBank menerapkan konfigurasi
sistem pengamanan secara berlapis-lapis. Lapis pertama, register
nomor telepon seluler nasabah lewat ATM itu pun sudah ada
PIN (personal identification number) sebagai pengaman. Pengamanan
lewat PIN ini masih dilapisi lagi dengan enam digit nomor
TIN (telephone identification number).
Lapis kedua, untuk beberapa produk transaksi ada limitnya.
Limitasi itu biasanya dalam bentuk jumlah uang, transfer
atau penarikan tunai, dalam sehari. Dan lapis ketiga, sistem
keamanannya menggunakan secure socket layer (SSL) 128 bit.
 |
| Andreas Tedja, Vice President PT. Bank Niaga Tbk. |
Dual Data Centre
Selain security policy, BNI juga memiliki fasilitas disaster
recovery center (DRC). Sesuai aturan Bank Indonesia, DRC
harus ditempat setidak-tidaknya 65 km dari sentral komputer.
Hal ini dimaksudkan agar jika terjadi sesuatu terhadap
kegiatan operasional, misalnya terbakar atau gempa, kegiatan
perbankan tetap dapat dijalankan, karena sistem recovery
-nya tidak terkena.
Dalam penerapannya, untuk masing-masing cabang memiliki server-nya
sendiri-sendiri, dan selalu di up-date back-up server-nya.
Selain itu, back-up juga dilakukan terhadap komputer yang
menghubungkan satu cabang dengan cabang lainnya. “Jadi,
yang sifatnya memberikan layanan pada nasabah itu harus ada
backup-nya”, tegas Gumirlang. Pihaknya juga akan menambah
lokasi baru bekerja sama dengan pihak ketiga.
Lain halnya dengan Bank Niaga. Untuk memperbaiki kualitas
pelayanan dan jaminan kepada nasabah, pada tahun 1994 Bank
Niaga menerapkan konsep Dual Data Centre, yang beroperasi
secara bergantian. Dengan cara itu, kegiatan operasional
bank akan berjalan, baik di sistem utamanya maupun di sistem
backup-nya. Keberhasilan menjalankan sistem dual data center
ini, yang akhirnya pada Maret 2003 Bank Niaga mendapatkan
sertifikasi ISO 9001:2000 untuk Information Technology Operation.
Tidak itu saja. Konsep Dual Data Center yang diimplementasikannya
untuk menjamin keamanan transaksi nasabah juga mendapatkan
penghargaan dari IBM Indonesia sebagai “The Best Availability
Implementation on IBM eServer in Indonesia”.
“Kita melihat disaster recovery dari sisi bisnis,
yakni bahwa kita mememberikan jaminan layanan ke nasabah.
Kalau kita
bilang “akses tanpa batas,” layanannya juga tanpa
batas. Jadi tidak ada ganguan-gangguan. Tujuannya adalah
kita memberikan jaminan kepada nasabah. Layanan itu akan
tetap ada untuk nasabah bertransaksi,” tegas Andreas
Tedja.
Untuk mencapai itu memang tidak gampang, dan tidak semata-mata
pertimbangan teknologi semata. Kepentingan bisnis dalam membuat
produk baru memang lebih didahulukan ketimbang mengaplikasikan
teknologi baru. Dari sisi teknologi, Bank Niaga sangat men-support
peluncuran produk-produk baru itu.
TI hanya salah satu komponen keberhasilan bank dalam meningkatkan
kinerja dan daya saingnya. Karenanya, betapapun bagusnya
pengelolaan bisnis perbankan, jika tidak didukung oleh aplikasi
TI yang sesuai dengan kepentingan bisnis itu, sulit diharapkan
mampu bersaing dengan bank-bank lainnya.
•
Emir Wiraatmaja/Rully Ferdian
RELATED ARTICLES:
Implementasi TI: Taruhan Besar Perbankan
Dari Back-Office ke Front-Office
Pentingnya Standarisasi TI
Integrasi Sistem Demi Efisiensi
Infrastrukturnya Banyak Yang Belum Memadai
|