Mungkin
judul artikel ini tak berlebihan dalam menggambarkan keberanian
dan ke’pionir’an kalangan perbankan nasional
dalam memicu daya saingnya melalui implementasi teknologi
informasi (TI) yang dinilai sangat intensif dan maju. Betapa
tidak, selain nilai investasinya yang cukup besar, penyediaan
sumberdaya manusia yang meningkat, produk-produk baru yang
semakin banyak, juga, pada saat yang sama, mereka pun dihantui
dengan kegagalan.
Kegagalan bisa saja terjadi di dua situasi. Yakni, kegagalan
dalam implementasinya, karena kurangnya perhatian dan dukungan
seluruh personal yang ada. Bisa juga akibat pilihan teknologi
yang kurang tepat atau sudah ketinggalan jaman dan implementasi
yang kurang strategis.
Di sisi lain, kegagalan yang terjadi setelah implementasi,
karena kurang terdukung sistem pengamanan (security system)
yang memadai dan belum tersedianya sistem pemulihan (Disaster
Recovery System) karena masih dianggap sebagai cost sehingga
ditinggalkan atau belum menjadi perhatian penting oleh manajemen.
Namun, dari situasi itu, setidaknya apa yang saat ini dikembangkan
oleh kalangan perbankan nasional, sebagaimana terlihat dari
berbagai kemudahan, kecepatan dan ketepatan, serta variasi
produk dan banyaknya tersedia layanan perbankan, kita mungkin
boleh optimis bahwa pemulihan perbankan nasional akan sekaligus
disertai dengan peningkatan daya saing.
Sebenarnya, teknologi yang canggih saja belum cukup, ungkap
Sigit Pramono, Presiden Direktur BII. Lebih dari itu, kalau
hanya teknologi, semua bank bisa membelinya. Jadi, yang mendukung
persaingan itu adalah peningkatan pelayanan karena didukung
oleh SDM yang handal dan terampil.
Hanya saja, saat ini, kita perlu menyadari sungguh-sungguh
bahwa kalangan perbankan kita tak hanya berhadapan dengan lingkungan
di dalam negeri, melainkan juga mancanegara. Keberhasilan suatu
bank menangani implementasi dan aplikasi TI-nya, yang kemudian
mampu memberikan kemudahan dan kecepatan pelayanan terhadap
nasabah dan, pada saat yang sama, memungkinkan bank tersebut
berhubungan dengan bank manapun di dunia. Misalnya, dalam penyediaan
kartu kredit dengan jaringan internasional dan transaksi perbankan
lainnya di luar negeri.
Karenanya, tantangan penerapan TI di lingkungan perbankan nasional,
tak hanya masalah teknologi, melainkan juga kesiapan manajemen
dan personal dalam menjalankan sistem yang diimplementasikan
tersebut. Pertaruhannya menjadi sangat kritikal ketika implementasinya
tak dapat dengan baik menjawab kebutuhan terhadap peningkatan
mutu pelayanan yang diberikan kepada para nasabahnya. Artinya,
besarnya nilai investasi yang ditanamkan tidak dengan sendirinya
menjadi jaminan bahwa mutu pelayanan dan variasi produknya
juga meningkat.
Pilihan-pilihan strategis, kecermatan dan kejelian manajemen
dan tim implementasi TI yang dibentuk dalam memilih teknologi,
prioritas dan tahapan implementasi, dan berbagai aspek lainnya
yang terkait akan sangat menentukan keberhasilan penerapannya
dan dampaknya terhadap peningkatan mutu pelayanannya.
Melihat strategis dan pentingnya nilai implementasi itu, baik
dari sisi investasi maupun teknologi dan prioritas penerapannya,
eBizzAsia menampilkannya dalam bentuk liputan utama dalam edisi
10 ini. Harapan kami para pembaca yang budiman dapat melihat
lebih dalam bagaimana kalangan perbankan melakukan implementasi
dengan taruhan investasi yang besar dan persaingan yang semakin
kompetitif, baik dalam lingkungan nasional maupun mancanegara. •TI
RELATED ARTICLES:
Dengan Teknologi Menggaet Nasabah
Dari Back-Office ke Front-Office
Pentingnya Standarisasi TI
Integrasi Sistem Demi Efisiensi
Infrastrukturnya Banyak Yang Belum Memadai
|