|
Rini (27 tahun), karyawati di sebuah perusahaan manufaktur
di kawasan Sudirman merasa resah ketika akhir bulan tiba.
Pasalnya, profesinya sebagai akuntan membuatnya harus bekerja
ekstra keras untuk membuat laporan keuangan akhir bulan.
Lebih dari itu, dari sekian laporan yang masuk, ia — bersama
rekan kerjanya — harus membuat laporan keuangan secara
manual, paling banter menggunakan Microsoft Excel sebagai
alat bantu hitung.
Namun, baru-baru ini, ketika ditemui usai makan siang, wajah
Rini tampak ceria. “Saya sudah tidak pusing lagi,” tuturnya
seraya mengatakan, perusahaannya telah memutuskan untuk menggunakan
software akuntansi guna mengatasi masalah akuntansi keuangannya.
Terang saja Rini riang, karena semasa kuliah, ia sudah terbiasa
menggunakan software akuntansi.
Kini memang banyak software atau perangkat lunak yang ditawarkan
untuk mengatasi sistem akuntansi di perusahaan. Sebut saja
program made in bule alias impor seperti DacEasy Accounting
(DAC), Quickbook, MYOB, Peachtree, Valauplus dan Oracle,
yang beken di luar negeri dan cukup populer juga di dalam
negeri.
Sementara untuk local content, misalnya, ada Dbs Solution,
Accurate, Zahir Accounting, ACCS, MAS Accounting, dan masih
banyak lagi. Namun masalahnya, apakah program-program itu,
baik lokal maupun impor, cukup sederhana dan aplikatif untuk
bisnis di Indonesia? Apakah hal itu juga sesuai dengan standar
akuntansi yang berlaku?
Dini Marlina, Sekretaris Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia mengatakan, kalau software akuntansi
itu ingin berkembang, maka dibuat berdasarkan standar akuntansi
di Indonesia. Soalnya, para developer itu tidak tahu standar
akuntansi keuangannya seperti apa.
“ Kesulitan kita kalau menggunakan software dari luar
itu tidak selalu sama dengan standar akuntansi di Amerika,
misalnya.
Karena itu, pada saat mengembangkan software, standar akuntansinya
harus sudah ada,” ujar Dini Marlina kepada eBizzAsia
beberapa waktu lalu di Kampus UI Depok.
Pada kesempatan yang sama, Yan Rahadian, Kepala Laboratorium
Akuntansi FE UI, menambahkan, software yang paling baik adalah
software akuntansi yang di develop sesuai dengan kebutuhan
perusahaan atau tailor made. “Kita tidak bisa menggunakan
software yang sudah jadi, karena biaya yang dikeluarkan juga
berbeda,” lanjutnya.
 |
| Dini Marlina, Sekretaris Jurusan
Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia |
Otomatisasi laporan
Software akuntansi memang dirancang untuk memudahkan perusahaan
dalam penghitungan keuangannya. Mulai dari biaya produksi,
operasional, hingga biaya distribusi. Jika sebelumnya dilakukan
secara manual, perusahaan terlebih dahulu harus membuat
jurnal, memosting ke buku besar, membuat neraca saldo,
membuat jurnal penyesuaian, hingga menjadi laporan keuangan.
“Kini dengan berkembangnya teknologi komputer
dan semakin kompleksnya transaksi-transaksi yang berhubungan
dengan akuntansi,
pencatatan secara manual sudah tidak memungkinkan lagi, sangat
tidak efisien”, tegas Dini Marlina.
Accurate, misalnya. Software yang diproduksi oleh PT. Cipta
Piranti Sejahtera (CPS Soft) ini sudah mengintegrasikan modul-modul
penting dalam akuntansi, seperti general ledger (GL), account
receivable (AR), account payable (AP) dan inventory.
Walau dirancang untuk memenuhi kebutuhan sektor usaha kecil
dan menengah (UKM), Accurate memiliki beberapa fitur penting
seperti kemampuan mencatat transaksi dalam berbagai mata
uang (multi currency), multi tax, multi user, dan multi company,
bahkan mengonsolidasikan laporan keuangan dari beberapa anak
perusahaan.
Darwin Tjoe, Marketing Head PT. Cipta Piranti Sejahtera (CPS
Soft), menjelaskan, pencatatan transaksi melalui Accurate
hanya dilakukan sekali saja. Software ini yang akan memosting,
menjurnal sendiri, sesuai dengan posting yang sudah dibuat. “Jadi
tools ini memudahkan pelaku bisnis untuk mengetahui kondisi
perusahaan, situasi keuangan secara tepat dan akurat,” jelasnya.
Hal yang sama juga diimplementasikan oleh Zahir Accounting.
Piranti lunak yang pernah mendapatkan APICTA (Asia Pacific
ICT Awards) ini membantu perusahaan dalam membuat laporan
keuangan secara otomatis. Dengan menggunakan software ini,
tidak ada lagi laporan akhir bulan untuk membuat laporan
aliran kas, faktur pajak dan lain-lain.
“ Software ini akan sangat membantu. Tidak ada lagi lembur.
Bahkan tidak perlu lagi penambahan orang untuk kegiatan akuntansinya.
Semua laporan sudah otomatis,” kata Fadil Fuad Basymeleh,
Director PT. Zahir Accounting kepada eBizzAsia belum lama
ini di ruang kerjanya.
Baik Accurate maupun Zahir Accounting memang dirancang sesederhana
mungkin agar pengunanya tidak di buat pusing. Lihat saja
tampilannya. Disajikan dengan bahasa yang mudah dimengerti,
tidak dengan bahasa akuntansi yang kadang njelimet.
“ Pada prinsipnya, kalau perusahaan mau menerapkan Zahir
Accounting, tidak perlu ada training, karena bahasanya gampang.
Struktur
programnya sederhana, dan transaksinya juga seperti mengisi
nota-nota transaksi saja,” terang Fadil menyarankan.
Sementara Accurate, dengan kecepatan 32 bit dapat dioperasikan
dengan sistem operasi Windows 95, Windows 98, Windows NT,
dan Windows 2000. Produk ini dilengkapi dengan tampilan grafis
(graphic user interface) yang mudah dipahami, bahkan untuk
orang yang baru pertama kali menggunakannya.
 |
| Fadil Fuad Basymeleh, Director
PT. Zahir Accounting |
Jika dibandingkan dengan software buatan luar negeri, ada
beberapa keunggulan produk lokal yang tidak dimiliki oleh
software asing. Accurate dan Zahir Accounting, misalnya,
bisa mencatat pajak penjualan (PPn) sebagaimana yang diterapkan
di Indonesia. Bahkan, Zahir Accounting boleh dikatakan satu-satunya
software akuntansi yang menggunakan giro mundur. Transaksinya
juga bisa mencapai 15 digit atau setara dengan 920 triliun.
Bandingkan dengan produk impor yang menggunakan dollar AS
dalam transaksinya. Hal ini pula yang menjadi acuan para
programmer Accurate dan Zahir Accounting untuk menggunakan
standar akuntansi yang berlaku di Indonesia.
Untuk masalah keamanan, karena menggunakan operating system
Windows, database-nya pun menyesuikan dengan sistem yang
digunakan oleh Microsoft. Bahkan Accurate menggunakan database
yang berbasis klien server.
“ Mungkin Accurate yang pertama menggunakan database klien
server untuk aplikasi UKM. Biasanya database yang menggunakan
klien server ini adalah aplikasi yang skala besar untuk kelas
enterprise yang harganya sangat mahal,” ujar Darwin
Tjoe. Solusi bisnis yang terintegrasi
Namun demikian, dari survai yang dilakukan eBizzAsia, beberapa
produk software akuntansi ini memang memiliki kelebihannya
masing-masing. Tidak hanya produk lokal, produk asing pun,
kendati memerlukan biaya yang relatif besar, manfaat yang
bisa di dapat perusahaan juga setimpal.
Lihat saja, misalnya, Oracle Software Accounting. Software
ini tidak hanya menampilkan transaksi-transaksi bisnis untuk
kemudian dilaporkan sebagai laporan keuangan. Namun, lebih
dari itu. Oracle menyiapkan solusi bisnis yang terintegrasi
untuk semua bisnis di perusahaan.
Soalnya, di perusahaan-perusahaan biasanya terdapat fungsi
dasar, seperti keuangan dan akuntansi, pemasaran dan penjualan,
produksi dan distribusi, general administration, dan human
resource. Fungsi-fungsi tersebut, apapun perusahaannya, tentu
saling terintegrasi. Misalnya, keuangan dan penjualan, human
resource dan produksi.
“
Karena terintegrasi inilah kami menyebutnya suite. Kata
yang populer di dunia teknologi informasi (TI) disebutnya Enterprise
Resources Planing (ERP). Nah, ERP inilah sistem yang terintegrasi.
Accounting software merupakan salah satu fungsi dari perusahaan,
kami menyebutnya Oracle eBusiness Suite,” demikian
Felix Sugianto, Manager eBusiness Solutions, PT. Oracle Indonesia
kepada eBizzAsia beberapa waktu lalu di kantornya di bilangan
Senayan.
Menurut Felix, software akuntansi dan keuangan adalah software
yang paling mature. Kita tidak lihat mereknya apa. Namun,
perkembangan dari software akuntansi ini, di dunia aplikasi,
itu yang paling mature jika dibandingkan dengan sistem produksi,
maintenance peralatan, dan sistem distribusi.
 |
| Felix Sugianto, Manager eBusiness
Solutions, PT. Oracle Indonesia |
“ Yang membedakan dengan Oracle Software Accounting, kita
tidak hanya mengakomodasi dari fungsi-fungsi perusahaan, tetapi
ada lagi yang namanya fungsi treasure. Apa bedanya fungsi
treasure ini dengan kas? Managemen kas ini adalah salah satu
fungsi dari treasure di perusahaan. Kita sebagai karyawan,
juga bagian dari fungsi treasure,” jelasnya.
Untuk mengaplikasikan perangkat ini, ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan. Pertama, harus sesuai dengan visi perusahaan.
Visi ini bersifat masa depan untuk kemudian dijabarkan strateginya
sesuai dengan visi tersebut. Kedua, harus ada pembenahan
pada sistem. Ketiga, harus mendevelop sumber daya manusianya.
“ Jadi, kalau perusahaan sudah mencapai omzet 20 juta
dolar AS, ya itu sudah boleh menggunakan software ini,” tegas
Felix seraya menyediakan pula skema bagi Small and Medium
Business (SMB). “Karena untuk kelas SMB di Indonesia
jumlahnya luar biasa banyak,” lanjutnya.
Sebagai perusahaan eBusiness, Oracle berprinsip bahwa dengan
menerapkan knowledge economy, perusahaan akan tumbuh dengan
baik. Karena itu, Oracle selalu menyediakan solusi bisnis
dengan menggunakan produk sendiri.
Hingga kini, Oracle memiliki lebih dari 80 klien di Indonesia.
Sebut saja di antaranya adalah PT. Sampurna, Bimantara
Group, Indosat, Telkomsel, dan Badan Keuangan Nasional
(Bakun).
Dalam operasionalnya, mereka menggunakan software Oracle
untuk sistem keuangannya. •Rully Ferdian |