Volume I Nomor 10 - Agustus-September 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Arsitektur Generik Teknologi Perbankan

 

Dalam perjalanan berlibur ke Cambodia pertengahan Juli 2003 lalu, ketika mencoba beberapa bank lokal untuk membebankan penarikan tunai atas kartu kredit keluaran bank tempat Penulis bekerja, ditemui beberapa hal menarik. Di kota Siem Reap, yang letaknya dekat Angkor Wat, tidak ditemui satupun Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Sejumlah kantor cabang bank yang dapat melayani transaksi valuta asing mengaku beroperasi secara on-line. Karena semua transaksi yang terjadi ketika Penulis berada di lokasi-lokasi tersebut dilakukan oleh nasabah walk-in, tidak ditemui indikasi bahwa layanan mereka didukung oleh kemampuan berjejaring yang mutakhir.

Inovasi muncul dalam bentuk yang nyaris primordial. Sebuah bank lokal mencuat dan tampak menonjol dalam meramu produk dan layanannya. Melalui lima lokasi di Siem Reap, bank tersebut menawarkan layanan 24x7 (24 jam sehari, 7 hari seminggu) untuk penukaran valuta asing termasuk traveller cheques, penarikan tunai dari kartu kredit dan pengiriman uang melalui Western Union. Teknologi yang mereka gunakan sederhana saja, dan sebenarnya dapat digunakan oleh bank-bank pesaingnya yang lain. Adalah faktor inovasi di aspek produk dan layanan itulah yang menyebabkan bank tersebut menonjol.

Di negara dimana mata-uang Dollar AS diakui sebagai alat pembayaran yang syah, di samping mata-uang Rial Cambodia, mereka dengan cepat menyadari bahwa sebagai bank devisa, bersaing dalam aspek nilai-tukar saja tidak cukup. Memanfaatkan teknologi perbankan yang ada secara inovatif dan meraciknya ke dalam rangkuman produk dan layanan yang ciamik, itulah yang membuat mereka berbeda. Dalam lesunya ekonomi Cambodia, lumayan juga fee base income yang diperoleh dari layanan sederhana ini.

Ketika seminggu kemudian singgah di Thailand, fenomena yang serupa ditemui kembali, hanya saja dalam lingkup dan peringkat yang berbeda. Ledakan jumlah lokasi layanan perbankan dalam 10 tahun terakhir di Bangkok bukan alang-kepalang. Praktis di setiap pojok jalan ada beberapa ATM dari berbagai bank. Hampir seluruhnya melayani penarikan tunai antar-bank manca-negara melalui beberapa kerjasama jejaring ATM. Di tengah service clutter yang begitu pekat, tampak jelas satu-dua bank yang prevalensi kehadiran ATM-nya relatif dominan.

Persaingan antar-bank disini ditandai oleh beberapa faktor pokok: himpunan produk dan layanan yang ditawarkan kepada para nasabah, dan lokasi layanan, baik dalam bentuk kantor cabang & kas atau ATM saja. Teknologi yang digunakan tidak terlalu berpengaruh langsung pada persaingan ini karena, seperti juga kasus yang ditengarai di Cambodia, perangkat-perangkat yang diperlukan dapat dibeli oleh setiap bank. Masalahnya, di kawasan ini, harga terpasang sebuah ATM, komputer atau perangkat teknologi perbankan lainnya, tidak berbeda secara signifikan. Tambahan pula, besarnya investasi dan biaya rutin untuk sebuah lokasi layanan ATM didominasi oleh pengeluaran untuk perangkat teknologinya. Harga sebuah ATM di Siem Reap tidak banyak berbeda dengan harga perangkat serupa di Bangkok atau Jakarta. Kalaupun ada perbedaan, itu disebabkan oleh bea masuk, pajak dan komponen-komponen biaya non-teknologi lainnya.

Keadaan yang ditemui Penulis di Singapura juga tidak banyak berbeda dengan Bangkok. Akan halnya negara pulau ini, tampak benar tingkat kejenuhan layanan yang ditawarkan bank-bank di sini. Pengembangan lokasi layanan nyaris sudah tidak mungkin, penambahan produk baru juga tidak akan beranjak jauh dari inovasi sekitar mobile-banking dan ekstensifikasi layanan private banking, yang semula diarahkan ke nasabah-nasabah kelas kakap saja. Layanan financial planning yang semula sangat terbatas, kini semakin marak dan dimungkinkan dengan terbukanya peluang untuk memadukan produk-produk asuransi, pasar-modal dan dana-pensiun ke dalam layanan perbankan. Teknologi yang diperlukan sifatnya menjadi sangat individual dan tergantung pada profil dan kebutuhan masing-masing nasabah. Yang penting adalah bahwa perkembangan di Singapura ini menunjukkan bahwa layanan jasa-keuangan di dunia sedang bergerak ke arah konvergensi di antara keempat jenis produk tersebut.

Lalu, bagaimana penerapan teknologi informasi untuk kebutuhan seperti ini? Tidak mungkin melakukan integrasi dari semua sistem aplikasi yang terkait, karena masing-masing aplikasi hampir pasti dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan yang berbeda. Beberapa bank tampak mengoperasikan service desk terpisah untuk masing-masing jenis layanan jasa keuangan. Insurance desk misalnya, ada di sudut khusus untuk jenis layanan itu. Capital market instruments relatip lebih mudah diintegrasikan ke dalam layanan jasa perbankan, itupun kalau konfigurasi produknya simpel-simpel saja. Pola ini primordial sifatnya dan sudah dilakukan lebih dari 10 tahun yang lalu. Tantangannya adalah dukungan teknologi perbankan di meja service representative yang dapat digunakan untuk memadukan semua layanan jasa perbankan ini dan meraciknya secara individual untuk para nasabah yang memerlukan.

Berbagai kasus di atas membantu menunjukkan bahwa teknologi yang diterapkan dengan baik memberikan competitive advantage kepada sebuah bank. Setiap bank mempunyai akses yang sama atas teknologi yang ada, namun yang mampu memanfaatkannya dengan benar adalah mereka yang berhasil meraciknya ke dalam sebuah konfigurasi yang fungsional dan efisien, yang diimplementasikan dengan seksama, yang mendukung produk dan layanan yang ciamik serta dioperasikan dengan tepat-guna. Membeli teknologi adalah kegiatan yang paling mudah dan tidak memerlukan keahlian tinggi. Namun pola tata-pamong teknologi yang baik, Good IT Governance, memerlukan perancangan, penerapan dan operasi yang berhati-hati.•

Jos Luhukay •Pengamat dan Praktisi Ekonomi Baru.

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved