Seperti
biasa saya berolah raga pagi sebelum ke kantor. Saya pernah
diajarkan bahwa jika kita melihat segala sesuatu dengan perhatian
yang cermat, niscaya kita akan menemukan sesuatu yang baru.
Benar, tanpa sengaja pagi itu saya perhatikan pohon labu yang
tumbuh merambat di tembok belakang. Pohon itu sebenarnya tidak
berdaya apa-apa jika ia tidak merambat memanfaatkan apa saja
yang ada, termasuk merambat di antara kawat berduri pagar itu.
Dengan model tumbuh seperti itu, pohon itu mampu menghasilkan
buah labu yang beratnya lebih dari seperempat kilogram.
Terpikir oleh saya, jika bisnis bisa memanfaatkan filosofi
labu itu, kemungkinan suksesnya pasti akan lebih besar. Mengapa?
Karena dia hanya memanfaatkan apa saja yang sudah ada di sekitar
kita, dan bukannya mengadakan segala sesuatunya sendiri. Marilah
kita perhatikan apa yang terjadi di sekeliling kita. Masing-masing
perusahaan berusaha membangun jaringannya sendiri-sendiri.
Bank besar membangun private network-nya sendiri. Perusahaan
telekomunikasi membangun jaringannya sendiri. Jarang yang secara
jernih memanfaatkan potensi yang sudah ada. Dengan dalih keamanan,
keandalan, dan alasan lain, mereka membangun jaringan mereka
sendiri.
Jika itu perusahaan besar, maka tidak ada masalah karena modal
mereka yang memang besar. Tetapi jika itu perusahaan kecil
misalnya bank lokal atau BPR, bagaimanakah cara mereka bisa
meningkatkan kinerja bisnisnya memanfaatkan teknologi infokom
yang ada ini.
Tulisan ini mencoba menawarkan gagasan bagaimana bank lokal
atau BPR bisa meningkatkan daya saingnya dengan pemanfaatan
infokom. Tulisan ini dilandasi oleh dalil di Internet, “manfaatkan
internet termasuk eBusiness, niscaya bisnis Anda akan unggul.”
Persoalan yang dihadapi oleh bank kecil atau BPR bukan hanya
kecukupan modal (capital adequacy ratio-CAR), pembentukan brand
yang kuat, SDM yang handal, tapi juga akses teknologi yang
terbatas. Dengan keterbatasan itu, tentu terpikir bagaimana
mencari sarana yang memungkinkan mereka bersaing setara, syukur
lebih baik dibanding bank besar lainnya.
Memperluas pangsa pasar adalah dambaan setiap bisnis termasuk
bank kecil. Persoalannya, selama ini yang diketahui dalam memperluas
pangsa pasar adalah dengan cara membuka cabang lebih banyak.
Tapi membuka cabang lebih banyak, biayanya juga sangat besar.
Sebaiknya di sini pakailah filosofi labu. Lihatlah di sekeliling
kita, apakah ada lembaga/instansi yang sudah menyediakan fasilitas
untuk memperluas bisnis kita.
Dengan teknologi internet yang sudah ada di mana-mana, persoalan
data yang bisa diakses di mana-mana merupakan persoalan yang
mudah. Data bank, terutama bank kecil masih bersifat sentralistik,
di mana pusat data ada di kantor pusat. Dengan model web browser
sederhana, data tadi bisa diakses oleh kantor-kantor cabang
di mana saja. Keamanan data sudah pasti menjadi pertimbangan
utama. Jadi, prinsipnya adalah kemudahan akses terhadap data
yang sudah ada.
Jika kita ingin membuka cabang baru, persoalan konektivitas
data tidak lagi menjadi persoalan yang berat jika kantor cabang
itu mempunyai jaringan data, termasuk Internet. Akses data
tidak masalah, tapi bagaimana dengan gedung, SDM, manajemen,
promosi dsb. Menghadapi masalah yang pelik ini banyak bank
yang sangat selektif dalam mengembangkan cabang.
Marilah kita tengok di sekitar kita, adakah lembaga yang sudah
menyediakan koneksi sehingga kita bisa memperluas jangkauan
layanan kita tanpa perlu harus membuka cabang? Ada. Anda mungkin
bisa menebaknya…Pos Indonesia.
Mengapa Pos Indonesia? Karena perusahaan itu telah terhubung
secara online lebih dari 125 kantor pos di seluruh Indonesia.
Bahkan secara jaringan fisik, BUMN ini memiliki lebih dari
5.000 fasilitas pelayanan di seluruh Indonesia. Skenario yang
mungkin sebagai berikut.
Bank Kecil A akan bekerja sama dengan Pos. Kerjasama ini berujud
pemanfaatan loket-loket di 125 kantor pos sebagai perluasan
layanan Bank A. Pada database dan system di Bank A, telah dibuat
semacam interface atau bisa juga switching yang aman di mana
transaksi online di kantor pos akan dapat mengakses database
itu.
Di loket-loket kantor pos telah dipasang interface untuk mengakses
database Bank A. Interface itu dapat berupa web browser atau
aplikasi thin client. Pada waktu nasabah akan melakukan transaksi
misalnya penabungan, petugas loket kantor pos akan membuka
aplikasi Bank A, dan setelah terjadi otorisasi petugas ini
oleh Bank A secara online, petugas tersebut akan segera memproses
tabungan itu. Prosesnya sama seperti di bank biasa, penabung
menyerahkan uangnya, petugas memproses, dan menyerahkan tabungan
kepada nasabah. Uang yang diterima dari nasabah akan disimpan
di kantor pos yang setiap waktu dapat segera dikonsolidasikan
dengan Bank A.
Kegiatan pengambilan uang juga sama prinsipnya, di mana Pos
akan membayar lebih dahulu dan setelah itu dilakukan konsolidasi
sesuai dengan perjanjian antara kedua perusahaan itu. Dengan
bekerja sama seperti ini, secara teori, hanya kurang dari satu
tahun, Bank A ini akan mempunyai cabang lebih dari 125 buah.
Bandingkan dengan bank-bank papan atas saat ini.
Pasti terpikir oleh bank bahwa untuk transaksi, maka hal seperti
di atas bisa-bisa saja. Tapi bagaimanakah dengan cara melempar
kredit? Sekedar info, kantor pos adalah instansi pembayar pensiunan
pegawai negeri dan militer, yang jumlahnya ratusan ribu. Apakah
mereka bukan pasar yang besar? Baik, mereka mungkin daya belinya
tidak tinggi, tapi jumlah yang banyak itu tidak dapat kita
remehkan begitu saja. Bahkan dengan kerjasama dengan Pos, penagihan
utang akan amat efektif. Mengapa? Karena Pos yang membayar
pensiunan mereka, yang berarti Bank A dapat kerjasama agar
hutangnya dapat ditagihkan lebih dahulu sebelum uang pensiun
itu dibayarkan. Jika hal itu dilakukan, maka potensi kredit
macet akan sangat kecil. Saya yakin Pos akan sangat menyambut
kerja sama seperti itu.
Apalagi yang bisa dilakukan Bank A agar makin kompetitif? Masih
terkait dengan kantor pos, nasabah-nasabah baru itu berikan
kode akses tertentu agar mereka bisa mengakses web Bank A.
Lakukan layanan-layanan yang sifatnya personal kepada mereka.
Nasabah ingin membayar listrik, telpon, air, uang SPP mahasiswa?
Mengapa mereka tidak bisa memanfaatkan rekening mereka yang
bisa diakses melalui web untuk melakukan transaksinya?
Begitu kantor pos di masing-masing kota membuka rekening di
Bank A, maka pembayaran listrik dsb hanya merupakan transfer
antar rekening di Bank A itu saja. Pada web Bank A, dapat diberikan
kode khusus jika ingin membayar listrik melalui kantor pos
memanfaatkan Bank A. Prinsipnya adalah kantor pos saat ini
menerima pembayaran mulai dari pajak, listrik, air, telpon,
dan masih banyak lagi.
Apa yang dilakukan oleh Bank A ini adalah kondisi ideal yang
bisa mereka lakukan. Jelas mereka tidak mampu menyediakan ATM
di mana-mana. ATMnya berupa kantor-kantor pos di lebih dari
125 kantor.
Memadukan dua dunia, fisik dan virtual (online) merupakan strategi
yang amat ampuh sebagaimana disuarakan oleh para pakar di seluruh
dunia. Dan untuk memulainya, ternyata tidaklah terlalu sulit.
Mungkin inilah “Dharma” dari teknologi, mempermudah
kehidupan manusia termasuk dunia bisnis.•
Dwi Suryanto •Praktisi
dan Pengamat New Economy tinggal di Bandung.
|