Volume I Nomor 10 - Agustus-September 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Yang Diperlukan: Inovasi

 

Seperti biasa saya berolah raga pagi sebelum ke kantor. Saya pernah diajarkan bahwa jika kita melihat segala sesuatu dengan perhatian yang cermat, niscaya kita akan menemukan sesuatu yang baru.

Benar, tanpa sengaja pagi itu saya perhatikan pohon labu yang tumbuh merambat di tembok belakang. Pohon itu sebenarnya tidak berdaya apa-apa jika ia tidak merambat memanfaatkan apa saja yang ada, termasuk merambat di antara kawat berduri pagar itu. Dengan model tumbuh seperti itu, pohon itu mampu menghasilkan buah labu yang beratnya lebih dari seperempat kilogram.

Terpikir oleh saya, jika bisnis bisa memanfaatkan filosofi labu itu, kemungkinan suksesnya pasti akan lebih besar. Mengapa? Karena dia hanya memanfaatkan apa saja yang sudah ada di sekitar kita, dan bukannya mengadakan segala sesuatunya sendiri. Marilah kita perhatikan apa yang terjadi di sekeliling kita. Masing-masing perusahaan berusaha membangun jaringannya sendiri-sendiri. Bank besar membangun private network-nya sendiri. Perusahaan telekomunikasi membangun jaringannya sendiri. Jarang yang secara jernih memanfaatkan potensi yang sudah ada. Dengan dalih keamanan, keandalan, dan alasan lain, mereka membangun jaringan mereka sendiri.

Jika itu perusahaan besar, maka tidak ada masalah karena modal mereka yang memang besar. Tetapi jika itu perusahaan kecil misalnya bank lokal atau BPR, bagaimanakah cara mereka bisa meningkatkan kinerja bisnisnya memanfaatkan teknologi infokom yang ada ini.

Tulisan ini mencoba menawarkan gagasan bagaimana bank lokal atau BPR bisa meningkatkan daya saingnya dengan pemanfaatan infokom. Tulisan ini dilandasi oleh dalil di Internet, “manfaatkan internet termasuk eBusiness, niscaya bisnis Anda akan unggul.”

Persoalan yang dihadapi oleh bank kecil atau BPR bukan hanya kecukupan modal (capital adequacy ratio-CAR), pembentukan brand yang kuat, SDM yang handal, tapi juga akses teknologi yang terbatas. Dengan keterbatasan itu, tentu terpikir bagaimana mencari sarana yang memungkinkan mereka bersaing setara, syukur lebih baik dibanding bank besar lainnya.

Memperluas pangsa pasar adalah dambaan setiap bisnis termasuk bank kecil. Persoalannya, selama ini yang diketahui dalam memperluas pangsa pasar adalah dengan cara membuka cabang lebih banyak. Tapi membuka cabang lebih banyak, biayanya juga sangat besar.

Sebaiknya di sini pakailah filosofi labu. Lihatlah di sekeliling kita, apakah ada lembaga/instansi yang sudah menyediakan fasilitas untuk memperluas bisnis kita.

Dengan teknologi internet yang sudah ada di mana-mana, persoalan data yang bisa diakses di mana-mana merupakan persoalan yang mudah. Data bank, terutama bank kecil masih bersifat sentralistik, di mana pusat data ada di kantor pusat. Dengan model web browser sederhana, data tadi bisa diakses oleh kantor-kantor cabang di mana saja. Keamanan data sudah pasti menjadi pertimbangan utama. Jadi, prinsipnya adalah kemudahan akses terhadap data yang sudah ada.

Jika kita ingin membuka cabang baru, persoalan konektivitas data tidak lagi menjadi persoalan yang berat jika kantor cabang itu mempunyai jaringan data, termasuk Internet. Akses data tidak masalah, tapi bagaimana dengan gedung, SDM, manajemen, promosi dsb. Menghadapi masalah yang pelik ini banyak bank yang sangat selektif dalam mengembangkan cabang.

Marilah kita tengok di sekitar kita, adakah lembaga yang sudah menyediakan koneksi sehingga kita bisa memperluas jangkauan layanan kita tanpa perlu harus membuka cabang? Ada. Anda mungkin bisa menebaknya…Pos Indonesia.

Mengapa Pos Indonesia? Karena perusahaan itu telah terhubung secara online lebih dari 125 kantor pos di seluruh Indonesia. Bahkan secara jaringan fisik, BUMN ini memiliki lebih dari 5.000 fasilitas pelayanan di seluruh Indonesia. Skenario yang mungkin sebagai berikut.

Bank Kecil A akan bekerja sama dengan Pos. Kerjasama ini berujud pemanfaatan loket-loket di 125 kantor pos sebagai perluasan layanan Bank A. Pada database dan system di Bank A, telah dibuat semacam interface atau bisa juga switching yang aman di mana transaksi online di kantor pos akan dapat mengakses database itu.

Di loket-loket kantor pos telah dipasang interface untuk mengakses database Bank A. Interface itu dapat berupa web browser atau aplikasi thin client. Pada waktu nasabah akan melakukan transaksi misalnya penabungan, petugas loket kantor pos akan membuka aplikasi Bank A, dan setelah terjadi otorisasi petugas ini oleh Bank A secara online, petugas tersebut akan segera memproses tabungan itu. Prosesnya sama seperti di bank biasa, penabung menyerahkan uangnya, petugas memproses, dan menyerahkan tabungan kepada nasabah. Uang yang diterima dari nasabah akan disimpan di kantor pos yang setiap waktu dapat segera dikonsolidasikan dengan Bank A.

Kegiatan pengambilan uang juga sama prinsipnya, di mana Pos akan membayar lebih dahulu dan setelah itu dilakukan konsolidasi sesuai dengan perjanjian antara kedua perusahaan itu. Dengan bekerja sama seperti ini, secara teori, hanya kurang dari satu tahun, Bank A ini akan mempunyai cabang lebih dari 125 buah. Bandingkan dengan bank-bank papan atas saat ini.

Pasti terpikir oleh bank bahwa untuk transaksi, maka hal seperti di atas bisa-bisa saja. Tapi bagaimanakah dengan cara melempar kredit? Sekedar info, kantor pos adalah instansi pembayar pensiunan pegawai negeri dan militer, yang jumlahnya ratusan ribu. Apakah mereka bukan pasar yang besar? Baik, mereka mungkin daya belinya tidak tinggi, tapi jumlah yang banyak itu tidak dapat kita remehkan begitu saja. Bahkan dengan kerjasama dengan Pos, penagihan utang akan amat efektif. Mengapa? Karena Pos yang membayar pensiunan mereka, yang berarti Bank A dapat kerjasama agar hutangnya dapat ditagihkan lebih dahulu sebelum uang pensiun itu dibayarkan. Jika hal itu dilakukan, maka potensi kredit macet akan sangat kecil. Saya yakin Pos akan sangat menyambut kerja sama seperti itu.

Apalagi yang bisa dilakukan Bank A agar makin kompetitif? Masih terkait dengan kantor pos, nasabah-nasabah baru itu berikan kode akses tertentu agar mereka bisa mengakses web Bank A. Lakukan layanan-layanan yang sifatnya personal kepada mereka. Nasabah ingin membayar listrik, telpon, air, uang SPP mahasiswa? Mengapa mereka tidak bisa memanfaatkan rekening mereka yang bisa diakses melalui web untuk melakukan transaksinya?

Begitu kantor pos di masing-masing kota membuka rekening di Bank A, maka pembayaran listrik dsb hanya merupakan transfer antar rekening di Bank A itu saja. Pada web Bank A, dapat diberikan kode khusus jika ingin membayar listrik melalui kantor pos memanfaatkan Bank A. Prinsipnya adalah kantor pos saat ini menerima pembayaran mulai dari pajak, listrik, air, telpon, dan masih banyak lagi.

Apa yang dilakukan oleh Bank A ini adalah kondisi ideal yang bisa mereka lakukan. Jelas mereka tidak mampu menyediakan ATM di mana-mana. ATMnya berupa kantor-kantor pos di lebih dari 125 kantor.

Memadukan dua dunia, fisik dan virtual (online) merupakan strategi yang amat ampuh sebagaimana disuarakan oleh para pakar di seluruh dunia. Dan untuk memulainya, ternyata tidaklah terlalu sulit. Mungkin inilah “Dharma” dari teknologi, mempermudah kehidupan manusia termasuk dunia bisnis.•

Dwi Suryanto
•Praktisi dan Pengamat New Economy tinggal di Bandung.

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved