Di
dunia bisnis yang semakin kompetitif seperti saat ini, menemukan
suatu produk unggulan yang benar-benar tepat sasaran adalah
suatu cara yang efektif dalam mendapatkan pangsa pasar yang
ideal. Kunci keberhasilan dari kemampuan suatu produk dalam
melakukan penetrasi market adalah bagaimana produk tersebut
dirancang sesuai dengan kebutuhan dan perilaku calon pembelinya.
Sehingga produk tersebut akan mampu lebih cepat dan lebih
banyak dapat dijual.
Memperhatikan perilaku dan keinginan pelanggan bisa dilihat
dari aspek tingkat kepuasan mereka dalam memakai atau menggunakan
suatu produk/jasa dan juga dilihat dari sisi teknis fungsi
dari produk/jasa tersebut. Semakin tinggi tingkat utilitas
atau kegunaan suatu produk/jasa, akan semakin membuat pelanggan
lebih memilih produk/jasa tersebut, apalagi bila dirancang
sesuai dengan kebutuhan mereka.
Di mata pelanggan ada beberapa hal yang memang merupakan suatu
keharusan (must) yang harus ada dalam suatu produk/jasa, suatu
hal yang akan menyenangkan (delighter) apabila produk/jasa
tersebut memiliki tingkat kegunaan yang semakin tinggi. Yang
menarik ada pula yang tidak berbeda (indifferent) di mata pelanggan
dalam melihat suatu produk/jasa, khususnya bila produk/jasa
tersebut tidak memiliki hal yang signifikan di mata pelanggan.
Atau, bahkan bisa membuat mereka menjadi berlawanan (reverse)
terhadap produk/jasa tersebut. Menarik bukan? Mengenai hal
ini lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel “Kano Theory”.
Dalam mengenali kebutuhan pelanggan memang bukan suatu hal
yang mudah dan sederhana. Setelah menemukan apa yang menjadi
keinginan pelanggan tersebut, langkah berikutnya adalah bagaimana
meniadakan variasi yang terjadi dari proses delivery produk/jasa
kita ke pelanggan. (lihat: “Mengelola Pelanggan Berarti
Mengelola Profitabilitas”, Aditya Syahrizal, eBizzAsia
edisi 8, Juni 2003, hal. 50-51)
Kalau boleh sedikit saya ulas kembali, yang saya maksudkan
dengan variasi di sini adalah perbedaan yang terjadi antara
keinginan pelanggan yang sudah ditentukan dengan bagaimana
kemampuan kita men-deliver produk/jasa kepada mereka.
Setiap terjadi variasi antara permintaan pelanggan dengan proses
delivery produk/jasa kita, maka disebut dengan defect.
Kalau kita gambarkan pada distribusi normal, acuan sederhananya
adalah semua titik proses delivery produk/jasa kita yang semakin
runcing dan mendekati angka rata-rata. Hal ini akan membuat
produk kita semakin baik di mata pelanggan, yang artinya produk
tersebut akan laku dijual di pasaran.
Salah satu pertanyaannya di sini adalah bagaimana kita dapat
mencegah terjadinya variasi? Jawabannya sederhana tetapi tidak
mudah, yaitu kita harus mampu:
•
Memahami dan mengomunikasikan karakteristik dari variasi itu
sendiri.
•
Memahami faktor-faktor penyebab dari variasi yang terjadi.
•
Mengambil tindakan perbaikan untuk dapat mengontrol variasi
yang terjadi tersebut.
Penggunaan teknologi yang selain mampu mempercepat proses,
meningkatkan produktivitas kerja dan mengurangi cost perusahaan,
juga merupakan kontributor terhadap pengurangan defect atau
variasi di mata pelanggan.
Semakin standar suatu proses akan membuat variasi yang terjadi
semakin minim. Sehingga akan berdampak positif terhadap kemampuan
proses produk/jasa dalam memenuhi janjinya kepada para pelanggan.
Inovasi yang fokus pada pelanggan
Membuat berbagai invovasi yang berorientasi pada pelanggan
dapat menjadi kunci keberhasilan dalam pembuatan suatu
produk/jasa yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. Dengan
inovasi, setiap produk/jasa yang kita kembangkan akan dapat
memenuhi kebutuhan pelanggan yang juga bervariasi dan berubah-ubah.
Sebaliknya, “Bila kita selalu bekerja dengan cara yang
sama seperti apa yang biasa kita lakukan, maka kita akan
mendapatkan apa yang biasa kita dapatkan juga...”
Pernyataan menarik di atas mencerminkan bahwa kualitas suatu
proses setara dengan kualitas produk. Jadi, bila tidak terdapat
peningkatan kualitas cara kerja kita dalam proses delivery
pembuatan suatu produk/jasa, maka kualitas produk /jasa yang
dihasilkannya pun tentu tidak akan pernah lebih baik.
Untuk dapat meningkatkan kualitas cara kerja yang baik diawali
dengan menemukan cara kerja yang baik. Langkah awal untuk
menemukan hal tersebut adalah dengan memulai berpikir secara
kreatif dalam koridor kacamata pelanggan.
Kalau boleh saya berpendapat dan mengambil suatu contoh mengenai
hal ini, yaitu inovasi yang dilakukan Toyota Indonesia terhadap
salah satu produk unggulannya, yaitu Toyota Kijang. Kijang
adalah salah satu contoh perjalanan inovasi yang fokus pada
pelanggan. Toyota dapat dengan baik mengidentifikasi siapa
pelanggannya dan secara kontinu mampu melakukan perbaikan
produk berdasarkan voice of customer. Perjalanan Kijang kotak
hingga ke bentuk yang saat ini masih tetap popular di mata
pelanggan, merupakan suatu inovasi bertahap yang dengan sabar
mereka lakukan. Kalau dilihat dari kenyataan pasar, hingga
kini, Toyota Kijang masih memegang pangsa pasar terbesar
untuk jenis kendaraan di kelasnya. Perubahan Kijang tetap
ditunggu oleh para pelanggannya. Mengapa? Karena mereka menunggu
realisasi dari permintaan mereka sendiri. Menarik sekali
bukan? Sehingga sudah pasti Toyota Kijang akan selalu ditunggu
dan siap untuk dibeli oleh para pelanggannya.•
Aditya Syahrizal •pengamat & praktisi
Total Quality Management, dan telah meraih Black Belt Certified.
|