SINGAPURA
StarHub Akan
Luncurkan
TV Digital di
Singapura
StarHub, perusahaan Singapura yang bergerak di layanan telekomunikasi
dan multimedia baru-baru ini mengumumkan akan meluncurkan
layanan TV digital pada akhir tahun ini. StarHub, yang kini
merupakan satu-satunya operator TV kabel di Singapura menyerahkan
kontrak kepada rekanan teknologi utamanya untuk membangun
sebuah sistem untuk layanan TV kabel digitalnya.
Menurut Sandie Lee, vice president programming StarHub, peluncuran
layanan ini bakal memperkaya pengalaman pelanggan dengan
menyediakan lebih banyak pilihan dan fleksibilitas pada layanan
TV kabelnya.
“ Teknologi TV kabel digital menjanjikan potensi besar
karena teknologi ini memungkinkan kapasitas saluran yang
lebih besar,
selain juga menawarkan aplikasi-aplikasi interaktif. Para
pemirsa TV kabel bisa berharap untuk menerima saluran TV
kabel yang lebih berkualitas, antara lain termasuk content
siaran yang bercirikan etnis, kualitas gambar dan suara yang
jauh lebih baik. Saluran ini juga mampu menyediakan layanan-layanan
TV interaktif seperti Electronic Programme Guide (EPG), dan
aplikasi-aplikasi TV masa depan lainnya seperti layanan e-mail,
chatting SMS dan games interaktif,” lanjut Lee.
Untuk menyediakan layanan ini, StarHub akan mengeluarkan
dana sekitar 16 juta dolar, untuk pengadaan peralatan dan
integrasi sistemnya. “Kami tidak mengeluarkan biaya
untuk pengadaan infrastrukturnya karena layanan ini akan
memanfaatkan jejaring kabel yang sudah ada,” tandas
Lee.
StarHub dikabarkan telah menunjuk Thomson Broadcast & Media
Solutions sebagai integrator sistem layanan kabel digitalnya.
Selain sebagai kontraktor utama untuk integrasi sistem secara
keseluruhan, Thomson juga menyediakan dukungan sistem back-endnya.
Rekanan-rekanan teknologi lain yang ditunjuk StarHub untuk
layanan TV kabel digital ini adalah Nagravision SA, Advanced
Digital Broadcast (ADB), and OpenTV.
Nagravision, sebuah perusahaan pemasok sistem open conditional
access menyediakan perangkat-perangkat yang dibutuhkan untuk
menyelenggarakan dan mengelola berbagai layanan pay TV. Sementara
ADB dalam proyek ini kebagian peran untuk menyediakan sistem
piranti lunak dan piranti keras untuk layanan TV kabel digital,
sedangkan OpenTV akan memastikan aplikasi-aplikasi yang dimiliki
StarHub akan kompatibel dengan set-top box yang akan digunakan.
StarHub kini memiliki sekitar 368.000 pelanggan TV kabel
atau baru menyerap sekitar 35 persen dari potensi pasar TV
kabel Singapura.•
THAILAND
Pinguin
Merambah
Rumah Sakit
Thailand
Linux,
sebagai suatu sistem operasi alternatif, kini tidak saja
populer diterapkan di berbagai perusahaan. Jasa layanan yang
khusus meladeni kesehatan seperti rumah sakit pun kini juga
melirik linux sebagai solusi alternatif murah untuk pengadaan
paltform sistem informasinya.
Di negeri gajah putih Thailand, solusi piranti lunak open
source ini ternyata bisa mengurangi beban anggaran TI dengan
mengurangi biaya lisensi piranti-piranti lunak komersial
yang relatif mahal. Hal ini diakui deputi direkur pengelola
Krungdhon Hospital, Jukkrapun Sukapunphotaram sambil menambahkan
bahwa pihaknya sudah mengimplementasikan sistem operasi Grand
Linux dari GrandLinux Solution untuk 180 PC client miliknya
sejak dua bulan lalu.
“ Selama ini kami mengembangkan sistem TI kami sendiri
berdasarkan sistem DOS selama 26 tahun. Ketika kami merencanakan
untuk
memperbarui sistem kami ke sistem yang berbasis teknologi
web, kami benar-benar harus memanfaatkan seoptimal mungkin
anggaran yang terbatas ini supaya proyek bisa tetap berjalan,” ujarnya.
Anggaran TI rumah sakit Krungdhon yang besarnya dua juta
baht itu sebagian besar digunakan untuk mengembangkan aplikasi
berbasis Microsoft SQL dan arsitektur .Net. “Sisa anggaran
yang tersedia untuk OS desktop sangat terbatas sehingga kami
pun memutuskan untuk menggunakan Linux,” jelas Jukkrapun.
Penggunaan arsitektur .Net ini memungkinkan pihak rumah sakit
menjalankan sekitar 50 buah aplikasi di dalam lingkungan
yang berbasis web.
“Teknologi web memungkinkan penggunanya berkonsentrasi
pada pekerjaannya, tanpa harus mempedulikan platform yang
digunakan,” lanjutnya.
Selain itu, menurut Jukkrapun, Grand Linux hanya membutuhkan
resources yang sedikit.
Jukkrapun juga mengungkapkan pihaknya juga akan mempertimbangkan
untuk menggunakan aplikasi office berbasis Linux seperti
Pladao atau OpenOffice.
“Kebijakan kami adalah untuk mencapai kondisi paperless
office, artinya setiap dokter nantinya memiliki sebuah PC.
Jika kami
tetap mempertahankan aplikasi berbasis Windows, kami akan
kewalahan menanggung license feenya,” tutup Jukkrapan.
Sistem operasi berbasis Linux ternyata juga diminati beberapa
rumah sakit di kawasan Asia Tenggara. Di tanah air misalnya,
khususnya di Jakarta, rumah sakit yang diketahui juga menerapkan
Linux adalah RS Pertamina Jaya. Bahkan menurut pengelolanya,
aplikasi-aplikasi yang dijalankan di atas platform open source
ini tergolong komplit, mulai dari billing system sampai pada
medical recordnya.•
Real Estate
Thailand
Tawarkan
Fasilitas Hi-Tech
Kalau Anda perhatikan, para pengembang properti di tanah
air dalam promosinya kalau tidak menawarkan bebas banjir,
ya bebas macet. Atau, menawarkan lingkungan alami jauh dari
keramaian namun dengan fasilitas lengkap, ada mal, bioskop,
sport center dan lain sebagainya. Jarang dijumpai pengembang
yang menawarkan fasilitas telekomunikasi yang lengkap, khususnya
internet broadband.
Lain pula yang ditawarkan para pengembang properti di Thailand,
khususnya di Bangkok, yang juga tenar akan kemacetan lalulintasnya.
SC Aset misalnya, perusahaan pengembang properti yang merupakan
anak perusahaan Shinawatra Group menyertakan infrastruktur
hi-tech sebagai selling point perumahan Bangkok Boulevard
yang tengah dibangun.
Dengan konsep rancangan rumah yang dinamakan iHome, SC Asset
bekerjasama dengan penyedia jasa telekomunikasi TOT Corp
akan menawarkan infrastruktur ISDN berkecepatan tinggi kepada
para calon penghuninya.
Menurut presiden SC Asset, Surathian Chakthranont, Bangkok
Boulevard akan menjadi proyek real estat pertama di Thailand
yang menyediakan infrastruktur komunikasi broadband 128 kbps.
Selain mendukung akses Internet kecepatan tinggi, jejaring
yang dibangun SC Asset juga akan mendukung fitur-fitur telepon
digital seperti caller ID.
Selain itu, menurut Surathian, penghuni juga bisa memantau
aktivitas perumahan melalui komputer di rumah melalui sistem
CCTV yang tersedia melalui Net. Penghuni pun bisa menikmati
movie on-demand yang juga tersedia melalui jejaring ini.
Tahap pertama dari proyek Bangkok Boulevard ini akan dibangun
300 unit rumah yang akan diselesaikan dalam kurun waktu tiga
tahun. 60 unit pertama yang akan selesai November tahun ini
akan ditawarkan dengan harga mulai dari empat sampai 17 juta
baht (800 juta sampai 3,4 milyar rupiah).
Perusahaan ini telah menginvestasikan sekitar 14 juta baht
(2,8 milyar rupiah) untuk peralatan jejaring, sementara TOT
akan menyediakan jejaring switching untuk ISDN-nya.
Menurut TOT, pihaknya menyediakan sekitar 350 saluran ISDN
128 kbps, 50 sambungan ADSL (asynchronous digital subscriber
line), dan sebuah leased line berkapasitas 2Mbps. Pembangunan
infrastruktur ini diharapkan akan selesai dalam waktu empat
bulan.
“Investasi untuk infrastruktur ini tidak akan membebani
penghuni karena mereka cuma dibebani biaya bulanan sekitar
200 baht
(sekitar 400 ribu rupiah),” ujar Surathian, sambil
menambahkan bahwa biaya infrastruktur ini hanya mencakup
1 persen dari keseluruhan biaya proyek.•
Go to next page |