Volume I Nomor 10 - Agustus-September 2003

SINGAPURA

StarHub Akan Luncurkan TV Digital di Singapura


StarHub, perusahaan Singapura yang bergerak di layanan telekomunikasi dan multimedia baru-baru ini mengumumkan akan meluncurkan layanan TV digital pada akhir tahun ini. StarHub, yang kini merupakan satu-satunya operator TV kabel di Singapura menyerahkan kontrak kepada rekanan teknologi utamanya untuk membangun sebuah sistem untuk layanan TV kabel digitalnya.
Menurut Sandie Lee, vice president programming StarHub, peluncuran layanan ini bakal memperkaya pengalaman pelanggan dengan menyediakan lebih banyak pilihan dan fleksibilitas pada layanan TV kabelnya.

“ Teknologi TV kabel digital menjanjikan potensi besar karena teknologi ini memungkinkan kapasitas saluran yang lebih besar, selain juga menawarkan aplikasi-aplikasi interaktif. Para pemirsa TV kabel bisa berharap untuk menerima saluran TV kabel yang lebih berkualitas, antara lain termasuk content siaran yang bercirikan etnis, kualitas gambar dan suara yang jauh lebih baik. Saluran ini juga mampu menyediakan layanan-layanan TV interaktif seperti Electronic Programme Guide (EPG), dan aplikasi-aplikasi TV masa depan lainnya seperti layanan e-mail, chatting SMS dan games interaktif,” lanjut Lee.

Untuk menyediakan layanan ini, StarHub akan mengeluarkan dana sekitar 16 juta dolar, untuk pengadaan peralatan dan integrasi sistemnya. “Kami tidak mengeluarkan biaya untuk pengadaan infrastrukturnya karena layanan ini akan memanfaatkan jejaring kabel yang sudah ada,” tandas Lee.

StarHub dikabarkan telah menunjuk Thomson Broadcast & Media Solutions sebagai integrator sistem layanan kabel digitalnya. Selain sebagai kontraktor utama untuk integrasi sistem secara keseluruhan, Thomson juga menyediakan dukungan sistem back-endnya.
Rekanan-rekanan teknologi lain yang ditunjuk StarHub untuk layanan TV kabel digital ini adalah Nagravision SA, Advanced Digital Broadcast (ADB), and OpenTV.

Nagravision, sebuah perusahaan pemasok sistem open conditional access menyediakan perangkat-perangkat yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan mengelola berbagai layanan pay TV. Sementara ADB dalam proyek ini kebagian peran untuk menyediakan sistem piranti lunak dan piranti keras untuk layanan TV kabel digital, sedangkan OpenTV akan memastikan aplikasi-aplikasi yang dimiliki StarHub akan kompatibel dengan set-top box yang akan digunakan.

StarHub kini memiliki sekitar 368.000 pelanggan TV kabel atau baru menyerap sekitar 35 persen dari potensi pasar TV kabel Singapura.•


THAILAND

Pinguin Merambah Rumah Sakit Thailand

Linux, sebagai suatu sistem operasi alternatif, kini tidak saja populer diterapkan di berbagai perusahaan. Jasa layanan yang khusus meladeni kesehatan seperti rumah sakit pun kini juga melirik linux sebagai solusi alternatif murah untuk pengadaan paltform sistem informasinya.

Di negeri gajah putih Thailand, solusi piranti lunak open source ini ternyata bisa mengurangi beban anggaran TI dengan mengurangi biaya lisensi piranti-piranti lunak komersial yang relatif mahal. Hal ini diakui deputi direkur pengelola Krungdhon Hospital, Jukkrapun Sukapunphotaram sambil menambahkan bahwa pihaknya sudah mengimplementasikan sistem operasi Grand Linux dari GrandLinux Solution untuk 180 PC client miliknya sejak dua bulan lalu.

“ Selama ini kami mengembangkan sistem TI kami sendiri berdasarkan sistem DOS selama 26 tahun. Ketika kami merencanakan untuk memperbarui sistem kami ke sistem yang berbasis teknologi web, kami benar-benar harus memanfaatkan seoptimal mungkin anggaran yang terbatas ini supaya proyek bisa tetap berjalan,” ujarnya.

Anggaran TI rumah sakit Krungdhon yang besarnya dua juta baht itu sebagian besar digunakan untuk mengembangkan aplikasi berbasis Microsoft SQL dan arsitektur .Net. “Sisa anggaran yang tersedia untuk OS desktop sangat terbatas sehingga kami pun memutuskan untuk menggunakan Linux,” jelas Jukkrapun.

Penggunaan arsitektur .Net ini memungkinkan pihak rumah sakit menjalankan sekitar 50 buah aplikasi di dalam lingkungan yang berbasis web.

“Teknologi web memungkinkan penggunanya berkonsentrasi pada pekerjaannya, tanpa harus mempedulikan platform yang digunakan,” lanjutnya. Selain itu, menurut Jukkrapun, Grand Linux hanya membutuhkan resources yang sedikit.

Jukkrapun juga mengungkapkan pihaknya juga akan mempertimbangkan untuk menggunakan aplikasi office berbasis Linux seperti Pladao atau OpenOffice.

“Kebijakan kami adalah untuk mencapai kondisi paperless office, artinya setiap dokter nantinya memiliki sebuah PC. Jika kami tetap mempertahankan aplikasi berbasis Windows, kami akan kewalahan menanggung license feenya,” tutup Jukkrapan.

Sistem operasi berbasis Linux ternyata juga diminati beberapa rumah sakit di kawasan Asia Tenggara. Di tanah air misalnya, khususnya di Jakarta, rumah sakit yang diketahui juga menerapkan Linux adalah RS Pertamina Jaya. Bahkan menurut pengelolanya, aplikasi-aplikasi yang dijalankan di atas platform open source ini tergolong komplit, mulai dari billing system sampai pada medical recordnya.•

Real Estate Thailand Tawarkan Fasilitas Hi-Tech


Kalau Anda perhatikan, para pengembang properti di tanah air dalam promosinya kalau tidak menawarkan bebas banjir, ya bebas macet. Atau, menawarkan lingkungan alami jauh dari keramaian namun dengan fasilitas lengkap, ada mal, bioskop, sport center dan lain sebagainya. Jarang dijumpai pengembang yang menawarkan fasilitas telekomunikasi yang lengkap, khususnya internet broadband.

Lain pula yang ditawarkan para pengembang properti di Thailand, khususnya di Bangkok, yang juga tenar akan kemacetan lalulintasnya. SC Aset misalnya, perusahaan pengembang properti yang merupakan anak perusahaan Shinawatra Group menyertakan infrastruktur hi-tech sebagai selling point perumahan Bangkok Boulevard yang tengah dibangun.

Dengan konsep rancangan rumah yang dinamakan iHome, SC Asset bekerjasama dengan penyedia jasa telekomunikasi TOT Corp akan menawarkan infrastruktur ISDN berkecepatan tinggi kepada para calon penghuninya.

Menurut presiden SC Asset, Surathian Chakthranont, Bangkok Boulevard akan menjadi proyek real estat pertama di Thailand yang menyediakan infrastruktur komunikasi broadband 128 kbps. Selain mendukung akses Internet kecepatan tinggi, jejaring yang dibangun SC Asset juga akan mendukung fitur-fitur telepon digital seperti caller ID.

Selain itu, menurut Surathian, penghuni juga bisa memantau aktivitas perumahan melalui komputer di rumah melalui sistem CCTV yang tersedia melalui Net. Penghuni pun bisa menikmati movie on-demand yang juga tersedia melalui jejaring ini.

Tahap pertama dari proyek Bangkok Boulevard ini akan dibangun 300 unit rumah yang akan diselesaikan dalam kurun waktu tiga tahun. 60 unit pertama yang akan selesai November tahun ini akan ditawarkan dengan harga mulai dari empat sampai 17 juta baht (800 juta sampai 3,4 milyar rupiah).

Perusahaan ini telah menginvestasikan sekitar 14 juta baht (2,8 milyar rupiah) untuk peralatan jejaring, sementara TOT akan menyediakan jejaring switching untuk ISDN-nya.

Menurut TOT, pihaknya menyediakan sekitar 350 saluran ISDN 128 kbps, 50 sambungan ADSL (asynchronous digital subscriber line), dan sebuah leased line berkapasitas 2Mbps. Pembangunan infrastruktur ini diharapkan akan selesai dalam waktu empat bulan.

“Investasi untuk infrastruktur ini tidak akan membebani penghuni karena mereka cuma dibebani biaya bulanan sekitar 200 baht (sekitar 400 ribu rupiah),” ujar Surathian, sambil menambahkan bahwa biaya infrastruktur ini hanya mencakup 1 persen dari keseluruhan biaya proyek.•

Go to next page

 
 
© 2003 eBizzAsia. All rights reserved