|
>> Bahkan yang sangat terasa, Anda akan merasakan penggunaan
waktu yang lebih berkualitas, terutama di pagi hari pada
saat pikiran Anda masih fresh, karena tidak perlu lagi merasa
jengkel di tengah hiruk-pikuknya kepadatan kota. Lebih dari
itu, jika Anda mahir menangani pekerjaan dalam lingkup teknologi
informasi (TI), misalnya menulis program, graphic design
dan sebagainya, penghasilannya cukup menggiurkan asal mampu
memberikan layanan kepada yang membutuhkan dengan baik dan
bermutu tinggi.
Bagi sebagian besar profesional di Indonesia, fenomena itu
mungkin hanya menjadi sebuah paradigma yang sulit untuk dihayati,
bahkan dilakukan. Betapa tidak! Seorang profesional TI bekerja
di rumah, tanpa memiliki perusahaan, tanpa bekerja di perusahaan
manapun, tanpa bekerja pada siapapun - benar-benar sendiri
saja. Namun, bagi Onno W. Purbo, ini merupakan tantangan.
Setelah melepaskan jabatannya sebagai dosen di Institut Teknologi
Bandung (ITB), Onno - demikian ia biasa di sapa - mengikrarkan
dirinya untuk bekerja di rumah.
“
Saya sudah lama bekerja di rumah, misalnya menulis buku,
artikel, dan paper ke berbagai media, serta jurnal elektronik.
Di samping memenuhi berbagai undangan presentasi seminar
dan lain sebagainya. Tujuannya adalah sangat sederhana, karena
saya berkeinginan agar masyarakat Indonesia pandai dan melek
Internet selain meng-internet-kan masyarakat”, ujar
Onno dalam surat pengunduran dirinya sebagai dosen ITB.
Menurut Doktor lulusan University of Waterloo, Ontario Canada
ini, bekerja di rumah menjadi sangat mungkin karena adanya
bantuan dari infrastruktur Internet yang relatif murah. Ketika
masih menggunakan sambungan Internet dial-up, Onno mengaku
bisa mengirit biaya sekitar 15-30 menit per hari. “Hasilnya
lumayan. Untuk membayar akses ke Internet hanya menghabiskan
sekitar Rp. 40-60.000/bulan, sedang untuk Telkom-nya menghabiskan
sekitar Rp. 150-250.000/bulan”, tuturnya.
Selain itu, pria kelahiran kota Kembang Bandung ini juga sudah
menginstalasi internet wireless kecepatan 11Mbps, berlangganan
secara personal (bukan corporate) dengan biaya sekitar Rp.
330.000/bulan untuk 500Mbyte pertama. Lumayan murah untuk kelas
rumahan, bahkan biaya yang dikeluarkan per bulan tidak berbeda
jauh dengan pada saat menggunakan dial-up Telkom. “Saya
juga memperoleh kecepatan yang jauh lebih tinggi dengan sambungan
24 jam/hari”, tambahnya. Mudah, Murah dan Cepat
Apa yang lakukan Ono itu termasuk dalam kategori SOHO (Small
Office Home Office), yang bisa diterjemahkan secara bebas
sebagai kantor kecil atau rumah yang dijadikan sebagai
kantor. Hal ini dimungkinkan karena adanya sambungan Internet
untuk mendapatkan informasi yang cepat. Internet memungkinkan
aliran informasi dan pengetahuan bersifat interaktif yang
sangat cepat.
Aliran cepat ini menjadikan kita sebagai pelaku di dalamnya,
karena tidak perlu membuat struktur perusahaan yang sifatnya
vertikal, tapi struktur yang horisontal. Bahkan sering kali
sebuah badan usaha/entitas cukup direpresentasikan oleh satu
orang saja dengan sebuah laptop/komputer yang terhubung ke
Internet. Bentuk networking menjadi sangat penting, kerjasama
antarorang menjadi lebih dominan.
Media yang digunakan sebagai sarana pemasaran atau media
representatif bukanlah sebuah bangunan yang mewah ataupun
etalase yang cantik, tapi berupa web dan e-mail. Eksis di
tingkat global dan murahnya penyebaran serta akses informasi
menjadi alasan utama pemilihan media ini.
SOHO merupakan tren yang sangat normal di negara maju sejalan
dengan perkembangan pemanfaatan TI. Namun masalahnya, apakah
yang menyebabkan sebuah SOHO bisa survive? Memang harus diakui
tidak semua jenis usaha dapat di lakukan secara SOHO. Usaha
yang sifatnya fisik dan perdagangan biasanya membutuhkan
struktur yang lebih kompleks dan tidak bisa dilakukan secara
SOHO.
Namun, bagi mereka profesional di bidang TI (termasuk di
bidang-bidang lainnya), peluangnya masih terbuka lebar. Tapi,
syaratnya, harus mampu memberikan layanan yang baik dan bermutu
tinggi. Lebih dari itu, tentu komitmen pelayanan yang tinggi
sesuai dengan kebutuhan dan permintaan pengguna.
Dalam kaitan komitmen profesional dalam bekerja, dalam melayani
dengan dukungan keahlian yang dimiliki, serta didukung oleh
berbagai perangkat TI, merupakan faktor yang penting dan
harus dipenuhi. Tanpa hal itu, meski didukung berbagai perangkat
TI yang canggih sekalipun, pola bekerja secara SOHO ini tidak
akan berhasil baik.
Contoh yang paling real untuk kasus ini adalah Owo Sugiono
dari rab.co.id. Ketika melepaskan software billing system
WARNET miliknya ke masyarakat secara bebas, nama Owo menjadi
beken dan pekerjaannya pun tak perlu terlalu dirisaukan.
Bahkan, rekan-rekannya di Knowledge Management Research Group
(KMRG) ITB, yang di pimpin Ismail Fahmi, melakukan hal yang
sama. Akibatnya, dana bantuan penelitian dalam jumlah puluhan
ribuan dolar AS bisa diperoleh dengan mudah dari Kanada.
Pada tingkat yang lebih tinggi sebagai software developer,
ini mungkin sulit untuk memperoleh pekerjaan di Indonesia
yang tingkat industrinya masih berupa industri jasa untuk
instalasi dan servis. Walaupun sudah ada beberapa profesional
TI di Indonesia yang sudah mampu menangani jasa outsourcing
software house luar negeri dan mengerjakannya di Indonesia.
Gde Raka, misalnya. Salah seorang mantan mahasiswa Onno W.
Purbo ini sekarang menjadi outsourcer perusahaan software
di Silicon Valley US. Gde Raka mengerjakan pekerjaan pemrogramannya
dengan santai di Bali. Ia tak perlu harus ke Amerika, melainkan
cukup dengan bantuan Internet hasil pekerjaannya bisa langsung
dikirim. Menarik bukan? Gaya Hidup Cyber
Menurut Onno, sebagai karyawan di era ini, kita tidak perlu
secara fisik untuk duduk di kantor berjam-jam. Pasalnya,
telecommuting sudah merupakan hal yang lazim, dimana dengan
cellphone dan notebook kita bisa mengakses data, e-mail,
fax, voice mail di mana pun kita berada. Bahkan di beberapa
perusahaan, staff cukup berkumpul sekali atau dua kali
dalam seminggu untuk mengkuti status meeting atau meeting
penting lainnya. Selain itu, pertemuan juga dapat dilakukan
secara jarak jauh, misalnya melalui conference call multi
party dengan harga yang terjangkau.
“ lni merupakan aspek bisnis nilai tambah untuk perusahaan
telekomunikasi dengan memberikan fasilitas tersebut. Selain
conference call, penusahaan telekomunikasi juga bisa memberikan
jasa voicemail atau fax mail yang bisa di alihkan ke e-mail
inbox kita”, papar Ono lagi.
Selain itu, belanja di mall akan menemukan titik keseimbangan
dengan tumbuhnya layanan business to consumer (B2C). Meski
di Indonesia sendiri hal ini masih tergolong langka, kecuali
untuk produk-produk tertentu, misalnya pembelian buku, bunga,
parsel dan sebagainya, yang boleh dikata sudah banyak juga
dilakukan. Begitu juga, yang mulai berkembang adalah pembelian
tiket pesawat terbang, kereta api dan lain sebagainya.
lngin mencari peluang kerja, juga bisa dilakukan, misalnya
melalui online job search. Anda dapat memilih peluang kerja
yang tepat, yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Pekerjaan
untuk menyusun resume, kemudian mengirimkannya melalui pos,
dan menunggu balasan surat untuk interview waktunya bisa
menjadi minim dengan adanya e-mail.
Selain itu, membaca berita di surat kabar atau mencari artikel
yang sesuai dengan selera setiap pagi kini bisa dilakukan
melalui langganan portal tertentu dimana kita bisa meng-kustomisasi
web page agar berita yang menjadi prioritas akan selalu di
halaman pertama di web page tersebut. Akankah online newspaper
ini menggantikan sepenuhnya surat kabar konvensional?
Diakui bahwa online newspaper lebih merupakan tambahan kanal
terhadap surat kabar yang ada sekarang ini. Pembaca online
newspaper di Amerika menurut data statistik dan Newspaper
Association of America, cukup tinggi. Sekitar 67% pelanggan
internet membaca daily online newspaper dan 74% membaca surat
kabar minggu. Menurut survei yang sama, pembaca online newspaper
tidak mengurangi waktu untuk membaca surat kabar tradisional,
kanena dianggap sebagai pelengkap.
Bagaimana dengan urusan perbankan, pembelian grocery, akses
materi untuk dunia pendidikan, advis untuk kesehatan, maupun
horoskop yang selalu up-to-date di pagi hari? Hal itu pun
kini bisa dilakukan dengan Internet Banking, online grocery
shopping, akses library yang mungkin sudah terkoneksi dengan
beberapa perpustakaan lainnya maupun toko buku, yang mungkin
mempunyai stock untuk kebutuhan tersebut.
Medical Advice online pun kini tersedia, yang dapat memberikan
advis mengenai gejala darah tinggi, kencing manis, obat yang
tersedia dan efek sampingannya. Untuk pelajar yang mempunyai
akses ke web, mereka pun bisa mendapatkan berbagai informasi
yang dibutuhkan, maupun sumber-sumber akademis di luar sekolah
atau perguruan tinggi mereka.
Pendidikan berbasis komputer, kini tidak selalu berarti kampus
atau sekolah yang mentereng, melainkan lingkungan rumah yang
mungkin lebih nyaman dengan suasana yang lebih kondusif untuk
mencari dan mempelajari ilmu pengetahuan. Ibu-ibu rumah tangga
pun kini dapat mencari resep masakan dari penjuru dunia,
tanpa harus membeli buku masak yang kemungkinan besar harus
diimpor.
Dengan Search Engine di website yang tersedia, Anda bisa
mencari resep Boston Brownie, Clam Chowder, Spagghetti Marinara,
hanya dalam beberapa menit. Namun, tentunya juga membutukan
printer untuk bisa mem-print out resep tersebut, mengingat
masih sulitnya jika membawa notebook atau PC ke dapur dan
harus online terus menerus selama melakukan gourmet experiment.
Namun, tak berapa lama lagi, hal itu akan dapat dilakukan
dengan mudah, karena telah tersedia lemari es canggih yang
dapat digunakan untuk mengakses Internet, mendengarkan musik,
menonton film dan mengingatkan Anda mengenai bahan belanjaan
yang telah habis, yang disimpan di lemari es tersebut.
Gaya hidup yang bersifat “search, point, click and
get, while you are online” di Internet tidak bisa dibendung,
demikian juga dengan pesatnya teknologi telekomunikasi selular,
yang memungkinkan berkomunikasi dari mana dan kapan saja.
Juga dapat mengirim dan menerima fax, voicemail, videomail
dan e-mail . Apakah ini akan mengubah karakter manusia? Jawabannya,
belum tentu.
Dalam beberapa hal, gaya hidup cyber Onno, misalnya sempat
juga membuat bingung dirinya sendiri ketika ia datang atau
menelepon ke kantor lain dan di tanya “Anda dari perusahaan
mana?” Atau mengisi daftar absensi dalam sebuah meeting
di situ ada kolom perusahaan. Nah lho, bingung kan isinya
apa?
“ Seorang wartawan sempat kebingungan tidak habis pikir
pas saya katakan bahwa saya bukan seorang eksekutif dan tidak
kerja di kantoran”, ujarnya. Fenomena bekerja secara
SOHO mungkin akan semakin banyak terjadi di sini, dan tak
hanya monopoli negara-negara maju. •rf
|