Volume I Nomor 09 - Juli 2003
Call Center
Coba Anda bayangkan! Bagaimana rasanya bekerja secara profesional, memberikan jasa Anda dari rumah melalui Internet. Jasa yang dimaksud tentu bermacam-macam. Bisa berupa konsultasi, event organizer, menulis, bahkan mungkin melakukan transaksi perdagangan - tapi bukan membuka warung kelontong lho! Bagaimana Rasanya? Enak bukan! Tidak itu saja. Anda bebas dari keharusan pergi pagi ke kantor, bebas dari kemacetan lalu lintas, juga dari garangnya bos di kantor.
>>
 
ilustrasi foto:
Imagebank

>> Bahkan yang sangat terasa, Anda akan merasakan penggunaan waktu yang lebih berkualitas, terutama di pagi hari pada saat pikiran Anda masih fresh, karena tidak perlu lagi merasa jengkel di tengah hiruk-pikuknya kepadatan kota. Lebih dari itu, jika Anda mahir menangani pekerjaan dalam lingkup teknologi informasi (TI), misalnya menulis program, graphic design dan sebagainya, penghasilannya cukup menggiurkan asal mampu memberikan layanan kepada yang membutuhkan dengan baik dan bermutu tinggi.

Bagi sebagian besar profesional di Indonesia, fenomena itu mungkin hanya menjadi sebuah paradigma yang sulit untuk dihayati, bahkan dilakukan. Betapa tidak! Seorang profesional TI bekerja di rumah, tanpa memiliki perusahaan, tanpa bekerja di perusahaan manapun, tanpa bekerja pada siapapun - benar-benar sendiri saja. Namun, bagi Onno W. Purbo, ini merupakan tantangan. Setelah melepaskan jabatannya sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB), Onno - demikian ia biasa di sapa - mengikrarkan dirinya untuk bekerja di rumah.

“ Saya sudah lama bekerja di rumah, misalnya menulis buku, artikel, dan paper ke berbagai media, serta jurnal elektronik. Di samping memenuhi berbagai undangan presentasi seminar dan lain sebagainya. Tujuannya adalah sangat sederhana, karena saya berkeinginan agar masyarakat Indonesia pandai dan melek Internet selain meng-internet-kan masyarakat”, ujar Onno dalam surat pengunduran dirinya sebagai dosen ITB.

Menurut Doktor lulusan University of Waterloo, Ontario Canada ini, bekerja di rumah menjadi sangat mungkin karena adanya bantuan dari infrastruktur Internet yang relatif murah. Ketika masih menggunakan sambungan Internet dial-up, Onno mengaku bisa mengirit biaya sekitar 15-30 menit per hari. “Hasilnya lumayan. Untuk membayar akses ke Internet hanya menghabiskan sekitar Rp. 40-60.000/bulan, sedang untuk Telkom-nya menghabiskan sekitar Rp. 150-250.000/bulan”, tuturnya.

Selain itu, pria kelahiran kota Kembang Bandung ini juga sudah menginstalasi internet wireless kecepatan 11Mbps, berlangganan secara personal (bukan corporate) dengan biaya sekitar Rp. 330.000/bulan untuk 500Mbyte pertama. Lumayan murah untuk kelas rumahan, bahkan biaya yang dikeluarkan per bulan tidak berbeda jauh dengan pada saat menggunakan dial-up Telkom. “Saya juga memperoleh kecepatan yang jauh lebih tinggi dengan sambungan 24 jam/hari”, tambahnya.

Mudah, Murah dan Cepat
Apa yang lakukan Ono itu termasuk dalam kategori SOHO (Small Office Home Office), yang bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kantor kecil atau rumah yang dijadikan sebagai kantor. Hal ini dimungkinkan karena adanya sambungan Internet untuk mendapatkan informasi yang cepat. Internet memungkinkan aliran informasi dan pengetahuan bersifat interaktif yang sangat cepat.

Aliran cepat ini menjadikan kita sebagai pelaku di dalamnya, karena tidak perlu membuat struktur perusahaan yang sifatnya vertikal, tapi struktur yang horisontal. Bahkan sering kali sebuah badan usaha/entitas cukup direpresentasikan oleh satu orang saja dengan sebuah laptop/komputer yang terhubung ke Internet. Bentuk networking menjadi sangat penting, kerjasama antarorang menjadi lebih dominan.

Media yang digunakan sebagai sarana pemasaran atau media representatif bukanlah sebuah bangunan yang mewah ataupun etalase yang cantik, tapi berupa web dan e-mail. Eksis di tingkat global dan murahnya penyebaran serta akses informasi menjadi alasan utama pemilihan media ini.

SOHO merupakan tren yang sangat normal di negara maju sejalan dengan perkembangan pemanfaatan TI. Namun masalahnya, apakah yang menyebabkan sebuah SOHO bisa survive? Memang harus diakui tidak semua jenis usaha dapat di lakukan secara SOHO. Usaha yang sifatnya fisik dan perdagangan biasanya membutuhkan struktur yang lebih kompleks dan tidak bisa dilakukan secara SOHO.

Namun, bagi mereka profesional di bidang TI (termasuk di bidang-bidang lainnya), peluangnya masih terbuka lebar. Tapi, syaratnya, harus mampu memberikan layanan yang baik dan bermutu tinggi. Lebih dari itu, tentu komitmen pelayanan yang tinggi sesuai dengan kebutuhan dan permintaan pengguna.

Dalam kaitan komitmen profesional dalam bekerja, dalam melayani dengan dukungan keahlian yang dimiliki, serta didukung oleh berbagai perangkat TI, merupakan faktor yang penting dan harus dipenuhi. Tanpa hal itu, meski didukung berbagai perangkat TI yang canggih sekalipun, pola bekerja secara SOHO ini tidak akan berhasil baik.

Contoh yang paling real untuk kasus ini adalah Owo Sugiono dari rab.co.id. Ketika melepaskan software billing system WARNET miliknya ke masyarakat secara bebas, nama Owo menjadi beken dan pekerjaannya pun tak perlu terlalu dirisaukan. Bahkan, rekan-rekannya di Knowledge Management Research Group (KMRG) ITB, yang di pimpin Ismail Fahmi, melakukan hal yang sama. Akibatnya, dana bantuan penelitian dalam jumlah puluhan ribuan dolar AS bisa diperoleh dengan mudah dari Kanada.

Pada tingkat yang lebih tinggi sebagai software developer, ini mungkin sulit untuk memperoleh pekerjaan di Indonesia yang tingkat industrinya masih berupa industri jasa untuk instalasi dan servis. Walaupun sudah ada beberapa profesional TI di Indonesia yang sudah mampu menangani jasa outsourcing software house luar negeri dan mengerjakannya di Indonesia. Gde Raka, misalnya. Salah seorang mantan mahasiswa Onno W. Purbo ini sekarang menjadi outsourcer perusahaan software di Silicon Valley US. Gde Raka mengerjakan pekerjaan pemrogramannya dengan santai di Bali. Ia tak perlu harus ke Amerika, melainkan cukup dengan bantuan Internet hasil pekerjaannya bisa langsung dikirim. Menarik bukan?

Gaya Hidup Cyber
Menurut Onno, sebagai karyawan di era ini, kita tidak perlu secara fisik untuk duduk di kantor berjam-jam. Pasalnya, telecommuting sudah merupakan hal yang lazim, dimana dengan cellphone dan notebook kita bisa mengakses data, e-mail, fax, voice mail di mana pun kita berada. Bahkan di beberapa perusahaan, staff cukup berkumpul sekali atau dua kali dalam seminggu untuk mengkuti status meeting atau meeting penting lainnya. Selain itu, pertemuan juga dapat dilakukan secara jarak jauh, misalnya melalui conference call multi party dengan harga yang terjangkau.

“ lni merupakan aspek bisnis nilai tambah untuk perusahaan telekomunikasi dengan memberikan fasilitas tersebut. Selain conference call, penusahaan telekomunikasi juga bisa memberikan jasa voicemail atau fax mail yang bisa di alihkan ke e-mail inbox kita”, papar Ono lagi.

Selain itu, belanja di mall akan menemukan titik keseimbangan dengan tumbuhnya layanan business to consumer (B2C). Meski di Indonesia sendiri hal ini masih tergolong langka, kecuali untuk produk-produk tertentu, misalnya pembelian buku, bunga, parsel dan sebagainya, yang boleh dikata sudah banyak juga dilakukan. Begitu juga, yang mulai berkembang adalah pembelian tiket pesawat terbang, kereta api dan lain sebagainya.

lngin mencari peluang kerja, juga bisa dilakukan, misalnya melalui online job search. Anda dapat memilih peluang kerja yang tepat, yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Pekerjaan untuk menyusun resume, kemudian mengirimkannya melalui pos, dan menunggu balasan surat untuk interview waktunya bisa menjadi minim dengan adanya e-mail.

Selain itu, membaca berita di surat kabar atau mencari artikel yang sesuai dengan selera setiap pagi kini bisa dilakukan melalui langganan portal tertentu dimana kita bisa meng-kustomisasi web page agar berita yang menjadi prioritas akan selalu di halaman pertama di web page tersebut. Akankah online newspaper ini menggantikan sepenuhnya surat kabar konvensional?

Diakui bahwa online newspaper lebih merupakan tambahan kanal terhadap surat kabar yang ada sekarang ini. Pembaca online newspaper di Amerika menurut data statistik dan Newspaper Association of America, cukup tinggi. Sekitar 67% pelanggan internet membaca daily online newspaper dan 74% membaca surat kabar minggu. Menurut survei yang sama, pembaca online newspaper tidak mengurangi waktu untuk membaca surat kabar tradisional, kanena dianggap sebagai pelengkap.

Bagaimana dengan urusan perbankan, pembelian grocery, akses materi untuk dunia pendidikan, advis untuk kesehatan, maupun horoskop yang selalu up-to-date di pagi hari? Hal itu pun kini bisa dilakukan dengan Internet Banking, online grocery shopping, akses library yang mungkin sudah terkoneksi dengan beberapa perpustakaan lainnya maupun toko buku, yang mungkin mempunyai stock untuk kebutuhan tersebut.

Medical Advice online pun kini tersedia, yang dapat memberikan advis mengenai gejala darah tinggi, kencing manis, obat yang tersedia dan efek sampingannya. Untuk pelajar yang mempunyai akses ke web, mereka pun bisa mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan, maupun sumber-sumber akademis di luar sekolah atau perguruan tinggi mereka.

Pendidikan berbasis komputer, kini tidak selalu berarti kampus atau sekolah yang mentereng, melainkan lingkungan rumah yang mungkin lebih nyaman dengan suasana yang lebih kondusif untuk mencari dan mempelajari ilmu pengetahuan. Ibu-ibu rumah tangga pun kini dapat mencari resep masakan dari penjuru dunia, tanpa harus membeli buku masak yang kemungkinan besar harus diimpor.

Dengan Search Engine di website yang tersedia, Anda bisa mencari resep Boston Brownie, Clam Chowder, Spagghetti Marinara, hanya dalam beberapa menit. Namun, tentunya juga membutukan printer untuk bisa mem-print out resep tersebut, mengingat masih sulitnya jika membawa notebook atau PC ke dapur dan harus online terus menerus selama melakukan gourmet experiment.

Namun, tak berapa lama lagi, hal itu akan dapat dilakukan dengan mudah, karena telah tersedia lemari es canggih yang dapat digunakan untuk mengakses Internet, mendengarkan musik, menonton film dan mengingatkan Anda mengenai bahan belanjaan yang telah habis, yang disimpan di lemari es tersebut.

Gaya hidup yang bersifat “search, point, click and get, while you are online” di Internet tidak bisa dibendung, demikian juga dengan pesatnya teknologi telekomunikasi selular, yang memungkinkan berkomunikasi dari mana dan kapan saja. Juga dapat mengirim dan menerima fax, voicemail, videomail dan e-mail . Apakah ini akan mengubah karakter manusia? Jawabannya, belum tentu.

Dalam beberapa hal, gaya hidup cyber Onno, misalnya sempat juga membuat bingung dirinya sendiri ketika ia datang atau menelepon ke kantor lain dan di tanya “Anda dari perusahaan mana?” Atau mengisi daftar absensi dalam sebuah meeting di situ ada kolom perusahaan. Nah lho, bingung kan isinya apa?

“ Seorang wartawan sempat kebingungan tidak habis pikir pas saya katakan bahwa saya bukan seorang eksekutif dan tidak kerja di kantoran”, ujarnya. Fenomena bekerja secara SOHO mungkin akan semakin banyak terjadi di sini, dan tak hanya monopoli negara-negara maju. •rf

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved