Mengapa
perlu menerapkan sistem kualitas?
Pada artikel saya sebelumnya, saya telah sedikit mengulas mengenai
bagaimana mengintegrasikan kualitas dalam kehidupan pekerjaan
kita sehari-hari. Dimana kalau kita berbicara mengenai suatu
kualitas dengan standar 99.99966% tanpa defect dalam 1 juta
kesempatan transaksi (Six Sigma), secara mendasar kita berbicara
bagaimana semua individu karyawan yang ada dalam organisasi
kerja di suatu perusahaan telah memiliki sikap berpikir untuk
selalu fokus pada pelanggan. Juga, bagaimana untuk selalu dapat
memenuhi atau bahkan melebihi harapan pelanggan, serta disiplin
untuk selalu melakukan improvement yang berkesinambungan dan
fokus pada proses kerja yang terutama terkait dengan pelanggan.
Dengan penekanan di atas terlihat bahwa kualitas sangat tergantung
pada semua individu yang ada, yang harus memiliki sikap berpikir
dan disiplin kualitas yang tinggi. Karenanya, kalau kita berbicara
mengenai implementasi kualitas, maka kita akan berbicara mengenai
bagaimana mengembangkan skill dan cara berpikir semua karyawan
di suatu perusahaan. “It’s about shifting the everyone
mindset and changing the way we think!”
Journey To Be A Six Sigma Company
Secara umum dan realistis, jangan pernah berpikir bahwa menjadikan
suatu perusahaan sebagai Six Sigma Company akan terjadi
dalam 1 malam, 1 bulan atau bahkan 1 tahun! Tidak! Karena,
dalam hal ini, kita akan sangat tergantung pada semua individu
karyawan yang ada di suatu perusahaan.
Secara mendasar dan berdasarkan pengamatan, serta beberapa
pengalaman nyata di beberapa perusahaan besar, implementasi
penerapan sistem mutu atau dengan kalimat yang lain “melakukan
pengembangan pola dan sikap berpikir kualitas Six Sigma” terhadap
semua karyawan dalam suatu perusahaan umumnya membutuhkan
waktu sekitar minimum 4 tahun hingga 6 tahun.
Untuk dapat lebih menggambarkan mengenai hal ini, saya akan
sedikit menjelaskan mengenai tahapan-tahapan tersebut, sebagai
berikut:
1. Membangun “Quality Awareness” kepada semua
karyawan pada tahun pertama.
•
Pada fase ini perusahaan mulai melakukan training untuk mengembangkan pengetahuan
tentang Six Sigma, mulai dari pola pikir hingga ke hal teknis yang terkait
dengan bagaimana semua karyawan dituntut untuk melakukan process improvement
secara struktural dan sistematis. Pelatihan ini, biasanya dilakukan untuk semua
karyawan, dengan standar minimum adalah untuk setiap department head di perusahaan
tersebut.
•
Di perusahaan yang sudah menerapkan konsep Six Sigma, seperti GE, dikenal istilah
Black Belt, yaitu bila seorang karyawan telah diberikan pelatihan yang sangat
komprehensif mengenai Six Sigma, mulai dari filosofi hingga ke masalah teknis
bagaimana melakukan improvement yang tepat dan efektif. Seorang Black Belt,
biasanya, difokuskan dalam proses pengembangan mutu di suatu perusahaan terlepas
dari pekerjaan rutin sehari-hari (tiada hari tanpa melakukan improvement untuk
perusahaan). Ada juga yang disebut Green Belt, yaitu seorang karyawan yang
juga telah dibekali pelatihan yang cukup komprehensif tentang Six Sigma, dan
diberi tanggung jawab hanya untuk melakukan continuous improvement di tempat
dia bertanggung jawab atau bekerja saja. Selain itu, ada yang disebut Master
Black Belt, yaitu seorang Black Belt yang telah mendapatkan pelatihan yang
sangat intensif, untuk kemudian dijadikan tempat bertanya (internal consultant)
bagi setiap Black Belt dan Green Belt, bila dirasakan adanya kekurangan-kekurangan
tertentu.
•
Untuk pembentukan Master Black Belt, Black Belt dan Green Belt ini digunakan
suatu standar, yaitu untuk setiap 20 orang karyawan harus memiliki 1 orang
Green Belt, untuk setiap 100 orang karyawan dibutuhkan 1 orang Black Belt dan
untuk setiap 30 Black Belt maka diperlukan minimum 1 orang Master Black Belt.
2. Melakukan “Quality Deployment” terhadap hasil
pelatihan dan praktisi yang telah dikembangkan
di fase Awareness pada tahun kedua.
•
Pada tahap ini, pihak manajemen perusahaan, melalui koordinasi dari semua jajaran
manajemen, melakukan secara sukarela atau di”push” untuk mengaplikasikan
skill yang sudah diterima dari training yang telah dilakukan. It’s Show
Time!
•
Semua karyawan diminta dan diwajibkan untuk menjadikan semua inisiatif kualitas
menjadi tindakan praktisi dan habit sehari-hari, tentu saja dengan dicontohkan
oleh jajaran manajemen. Di sisi lain, semua Black Belt fokus melakukan perbaikan
pada “existing process”, terutama yang terkait langsung dengan
pelanggan.
3. Di tahun ketiga, perusahaan sudah mulai memetik hasil
kualitas substansial yang sudah terukur. Fase ini biasa disebut
dengan fase “Quality Result”.
•
Pada fase ini sebenarnya perusahaan sudah mulai memetik hasil
dari pelatihan karyawan yang dilakukannya.
•
Semua karyawan melakukan “Quality Effort” yang
signifikan dalam process improvement di perusahaan, seperti
proyek untuk peningkatan kualitas customer satisfaction,
proyek untuk meningkatkan market share, proyek untuk meningkatkan
customer retention, proyek untuk meningkatkan produktivitas
dan pendapatan net income perusahaan.
“
Some people dream of worthy accomplishments, while others
stay awake and do them!”
Aditya Syahrizal •pengamat & praktisi
Total Quality Management, dan telah meraih Black Belt Certified.
|