Kota
kecil yang terletak di propinsi Jawa Tengah ini ternyata tidak
hanya dikenal memiliki tokoh perintis semacam RA Kartini. Sejak
lama, kota ini dikenal sebagai pusat ukir-ukiran kayu (woodworking)
yang berkualitas tinggi. Bahkan menurut, Otto Schuch, Technical
Advisor PT Satin Abadi, para pengrajin kayu Jepara bukan hanya
terkenal ahli dan terampil, tapi juga mahal. “Semuanya
di Jepara lebih mahal, bahkan dibanding dengan Semarang sekalipun,”
jelasnya.
Ketersohoran Jepara sendiri tidak datang dan jadi begitu saja.
Ketersohoran itu sendiri berangkat dari upaya sejumlah perusahaan
di Jepara yang aktif memasuki pasar internasional sejak berapa
dekade lalu. Dengan orientasi ekspor yang sangat kuat, perusahaan-perusahaan
produsen mebel dan furnitur sekaligus eksportir membangun citra
ukiran kayu asal Jepara di pasar internasional. Berebut
ke Pasar Ekspor
Tengok saja misalnya PT. Kotajati, PT Satin Abadi dan CV Maniac
Furniture. Dua perusahaan yang terakhir merupakan produsen
mebel dan furnitur sekaligus eksportir yang pangsa pasar ekspornya
seratus persen. Sementara, Kotajati mungkin hanya menyediakan
pangsa yang tidak spesifik untuk memenuhi kebutuhan pasar
domestik. “Itu pun merupakan pesanan yang customized,”
kata Yusak Setiawan, pemilik PT Kotajati.
Menurut Schuch, masa booming ekspor produk ukiran Jepara terjadi
pada tahun 1998 hingga 2000 lalu. Bisa dikatakan, saat itu,
bermunculan puluhan bahkan ratusan perusahaan baru yang terjun
menikmati booming tersebut. Saat itu, total ekspor bisa mencapai
1300 kontainer perbulannya. Jumlah yang sangat fantastis untuk
kota kecil semacam Jepara. Setelah itu, ekspor tersebut melorot
secara drastis akibat gagalnya para pengrajin memenuhi kualitas
dan spesifikasi yang diterapkan oleh para buyer internasional.
Akibatnya, kini total ekspor tersebut terpangkas sebanyak
75 persen.
 |
| Otto Schuch, Technical Advisor
PT Satin Abadi |
Dalam situasi yang sedemikian ketat dan penuh persaingan,
buyer bisa dikatakan sangat dominan dalam menentukan harga.
Untuk bisa meraih dan memperluas pasar ekspornya, ketiga perusahaan
tersebut sejak telah menggunakan Internet sebagai sarana e-Commerce.
Implementasi tersebut sebenarnya sangat menakjubkan bila dikatakan
untuk ukuran kota semacam Jepara. Namun di Jepara, implementasi
tersebut justru menjadi hal yang biasa karena banyak perusahaan
serupa yang berorientasi pada pasar ekspor. Sehingga kebutuhan
untuk mengimplementasikan e-Commerce, terutama untuk pemasaran
menjadi sangat besar.
Nah, bandingkan ini dengan kondisi yang ada untuk infrastruktur
telekomunikasinya. Bayangkan untuk memasang sebuah sambungan
telepon baru saja, CV Maniac Furniture telah menunggu lebih
dari setahun dan belum ada realisasinya. ‘Padahal kebutuhan
tersebut sudah sangat mendesak,’ jelas Choen, General
Manager, Maniac Furniture. Dengan hanya 2 saluran telepon
dan satu satu faksimili, mau tidak mau kebutuhan komunikasi
menjadi sangat terbatas.
Padahal menurutnya, kebutuhan tersebut sudah sangat mendesak.
Apalagi bila pembeli asing datang dan berkunjung ke tempatnya,
sudah pasti saluran telepon dan faksimili yang sudah terbatas
itu dikorbankan untuk digunakan pembeli dalam berkomunikasi
dengan kantornya di luar negeri. Tentu, hal ini sangat menggangu
beban komunikasi yang sudah cukup padat.
Solusi yang ditawarkan Telkom adalah menarik kabel sepanjang
kurang lebih 6 kilometer, atau menggunakan jaringan wireless,
seperti yang pernah ditawarkan oleh sebuah perusahaan. Pilihan
terakhir ini masih dalam pertimbangan perusahaannya, mengingat
tingginya beban investasi yang dapat mempengaruhi arus keuangan
perusahaan.
Masih Dominan untuk Komunikasi
Menurut Choen, penggunaan Internet di lingkungan perusahaannya
lebih didominasi untuk keperluan komunikasi yang murah dan
efisien. Menurut pengakuannya, komunikasi via e-mail tidak
hanya terjalin dengan buyer lama, tetapi juga berhasil menjaring
calon buyer potensial di luar pasar tradisional untuk produk
mebel dan funitur.
Selama ini, pasar tradisional terdiri dari Amerika Serikat,
Eropa, Australia dan Jepang. Belum lama berselang, Choen mengakui
bahwa perusahaannya bisa menjaring buyer dari Timur Tengah,
yaitu Uni Emirat Arab melalui Internet. “Bahkan mereka
telah melakukan repeat order tanpa pernah bertemu sekalipun
seperti kebanyakan pelanggan kami, ” jelasnya.
Tidak hanya urusan pemesanan online bisa dilakukan via e-Commerce.
Urusan menanggapi komplain pelanggan pun dilakukan dengan
sarana yang sama, yaitu Internet.
Selain untuk berkomunikasi, peggunaan Internet lainnya adalah
untuk berpromosi lewat situs perusahaan. Lihat saja situsnya
di www.maniacfurn.com, yang memuat begitu banyak produk dalam
sejumlah kategori. Sebagian di antaranya bahkan dilengkapi
dengan harga jualnya, terutama untuk produk-produk terbaru.
Hingga saat ini, implementasi e-Commerce di perusahaan ini
baru terbatas pada sisi pelanggan. Menurut Choen, implementasi
dan aplikasi yang lebih meluas masih harus ditunda seusai
pembangunan factory baru di Desa Sukodono. Ia menyebutkan
bila nantinya, pembangunan pabrik baru tersebut selesai maka
akan segera dilakukan integrasi sistem dari tiga lokasi yang
tersebar.
 |
| Choen, General Manager, Maniac
Furniture. |
Dengan mengintegrasikan sistem, diharapkan Maniac tidak hanya
bisa memanfaatkan Internet untuk keperluan customer relations,
tapi juga untuk kepentingan sumberdaya perusahaan, mulai dari
keuangan, produksi, pemasaran dan penjualan, serta tenaga
kerja. Di samping untuk pemenuhan logisitik bagi produksinya.
Ia mengakui juga bahwa persoalan ini lebih rumit, karena sebagian
besar dari 110 pemasok material produksinya tidak memiliki
akses Internet. Kalau pun memiliki belum tentu mereka aktif
menggunakannya. Hal lain yang juga menjadi kendala adalah
sebagian dari produknya datang dari produsen pemasok yang
juga tidak memiliki akses Internet dan e-Commerce.
Apa yang diungkapkan Choen serupa dengan temuan dalam survei
yang dilakukan Castle Asia pada tahun 2002 lalu, yang memperlihatkan
96 persen dari 147 perusahaan skala kecil dan menengah di
Indonesia menggunakan Internet sebagai sarana komunikasi.
Sedang 96% di antaranya menggunakan Internet untuk ber-email
dengan buyer, tapi hanya 48% di antara mereka yang menggunakan
e-mail dalam berkomunikasi dengan pemasoknya. Sebanyak 90%
dari mereka menggunakan komunikasi e-mail setiap harinya,
66% di antaranya menyebutkan e-mail sebagai sangat penting
dan 16% lagi menyebutkan e-mail sebagai hal yang penting.
Menuju e-Commerce
Ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Kotajati. Menurut
Yusak, Kotajati memiliki pabrik tersebar di Desa Suwawal,
Desa Kecapi dan Desa Ngabul di Jepara, serta satu lagi di
Semarang sedang dalam tahap pengimplementasian integrasi sistem.
Sebelumnya, keempat pabrik ini sudah mengimplementasikan Local
Area Network (LAN) di masing-masing lokasi. Untuk memudahkan
pengelolaan dan pengoordinasiannya, keempatnya direncanakan
diintegrasikan dalam tahun mendatang. Yang mungkin menjadi
kendala adalah jaringan infrastruktur komunikasi, terutama
untuk pabrik yang tersebar di remote area Jepara.
Kendala infrastruktur dan jaringan komunikasi bisa dikatakan
menjadi hambatan, mengingat Kabupaten Jepara cukup luas dan
sejumlah pabrik berada di remote area, semacam Desa Suwawal
dan Kecapi. Namun, tentu masih ada opsi komunikasi lain yang
dapat diimplementasikan untuk menunjang komunikasi internal
Kotajati. Apalagi perusahaan ini cukup besar, sehingga benefit
yang diterima dipastikan lebih besar daripada investasi dan
biaya yang dikeluarkan untuk mengimplementasikannya. Itu sebabnya,
Yusak berani mengimplementasikan integrasi sistem secara luas
di perusahaannya.
Itu sebabnya, ia memilih berkonsentrasi pada frontline dan
internal perusahaan dalam proses tersebut. Sementara untuk
hubungan dengan para pemasok, Yusak mengungkapkan hal yang
senada dengan Choen. Menurutnya, hubungan dengan pemasok akan
lebih banyak bersifat manual, karena keterbatasan-keterbatasan
yang dimiliki para pemasok. Namun, ia juga berharap dengan
implementasi tersebut, pemasok bisa mengetahui secara pasti
rencana kerja perusahaannya. “Paling tidak untuk satu
semester mendatang,” jelasnya. Dengan demikian, ini
bisa menghindarkan pabriknya dari kekosongan salah satu materi
produksi, terutama pada saat banyak permintaan (peak season).
Mulai dari Basis Data
Mungkin yang paling berada di muka adalah Satin Abadi. Perusahaan
yang beroperasi sejak 1985 ini telah melakukan komputerisasi
sejak akhir tahun delapan puluhan lalu. Pilihan untuk melakukan
hal tersebut dimulai dengan pertimbangan sederhana, yaitu
sebagai manufaktur maka ketersediaan basis data desain dan
rancang bangun sangatlah penting.
Menurut Otto, hingga saat ini Satin Abadi telah memproduksi
lebih dari 18.000 item produk. Adanya basis data tersebut,
tidak hanya memudahkan perusahaan melakukan simulasi rancang
bangun dan desain secara cepat dan tepat. Ini juga berguna
untuk pelanggan yang memiliki keperluan serupa. Biasanya para
pelanggan telah memiliki desain masing-masing, namun untuk
bisa memproduksinya diperlukan proses rancang bangun model
tersebut, termasuk pula membubuhkan sejumlah ornamen relief
yang dikehendakinya. Hanya dengan komputerisasi dan sistem
basis data yang komprehensif percepatan proses rancang bangun
bisa dilakukan.
 |
| Produk-produk furniture Jepara:
Akan dipasarkan dengan cara e-commerce |
Pengembangan ke arah e-Commerce sendiri dilakukan pada awal
dekade lalu. Ini pun masih harus terbentur dengan masalah
jaringan komunikasi yang ada di kota Jepara, terutama akses
Internetnya. Berbeda dengan kota-kota besar lainnya yang sudah
dikepung oleh ISP (Internet Service Provider ), maka Jepara
saat itu justru tidak terlalu menjadi perhitungan para ISP.
Baru pada akhir dekade lalu ketika bisnis perkayuan mengalami
booming, ISP pun mulai berebut masuk ke kota ini. Tujuan mengimplementasikan
e-Commerce adalah membuka peluang pasar lebih luas dari sebelumnya.
Sekaligus mempermudah komunikasi dengan pelanggan yang telah
ada.
Pelanggan, baik yang baru maupun lama, tidak perlu berkunjung
secara fisik ke Jepara untuk mencari-cari komoditas yang diinginkan.
Menurut pengamatan di lapangan, umumnya pelanggan hanya datang
pada saat barang pesanannya siap dipetikemaskan. Ini dilakukan
sekaligus melakukan kontrol kualitas terakhir kalinya sebelum
dikirimkan.
Untuk pelanggan lama bahkan dilengkapi dengan PIN dan Password
untuk log-on ke situs. Mereka cukup membuka situs Satin Abadi,
melihat model-model yang diinginkan dan bila perlu meminta
dilakukan simulasi model. Hingga melakukan pemesanan secara
online. Bahkan situs Satin Abadi (www.satinabadi.com) juga
dilengkapi dengan business terms, termasuk pembayaran dalam
mata uang Eropa. Ini tentu sangat menunjang proses bisnis
dan transaksi yang terjadi di antara mereka.
Tidak Sekadar memangkas Biaya
Manfaat dari implementasi e-Commerce, diakui ketiganya juga
telah membantu mereka mengurangi biaya-biaya operasional dan
promosi secara nyata. Ketiganya melihat bahwa dalam masa-masa
sulit, setelah berakhirnya masa booming di akhir abad lalu,
e-Commerce juga membantu mereka membuka peluang pasar ekspornya.
Bahkan lebih besar dari yang diharapkan. Tentu itu tidak berlaku
secara ajeg, karena bergantung pada permintaan di pasar yang
dituju. Misalnya, menjelang musim semi dan panas, furnitur
dan mebel untuk keperluan luar ruang (outdoor) banyak dipesan
oleh buyer.
Ini dilakukan tanpa harus membuka jaringan pemasaran yang
bila dilakukan secara manual akan menelan banyak biaya di
setiap negara tujuan. Investasi inilah yang berhasil dipangkas
dengan kehadiran e-Commerce via Internet. Bisa dikatakan hanya
sebagiannya dialihkan untuk diinvestasikan ke dalam pembangunan
dan pemeliharaan situs. Sebagian lagi digunakan untuk menyewa
gudang di kawasan pasar yang sangat strategis secara geografis
guna menjangkau pasar secara cepat. Hal ini tentu amat menolong
karena di sisi lain, seusai booming itu, buyerlah yang mendominasi
penentuan harga. Di samping, menurut Schuch, resesi perekonomian
dunia sudah kian pekat membayangi situasi pasar global saat
ini.•ew |