Volume I Nomor 08 - Juni 2003
Jepara memang telah lama
dikenal sebagai pusat kerajinan kayu ukiran.
Ketersohoran itu tidak hanya di tingkat nasional dan regional,
tapi juga
internasional.
 
Kota kecil yang terletak di propinsi Jawa Tengah ini ternyata tidak hanya dikenal memiliki tokoh perintis semacam RA Kartini. Sejak lama, kota ini dikenal sebagai pusat ukir-ukiran kayu (woodworking) yang berkualitas tinggi. Bahkan menurut, Otto Schuch, Technical Advisor PT Satin Abadi, para pengrajin kayu Jepara bukan hanya terkenal ahli dan terampil, tapi juga mahal. “Semuanya di Jepara lebih mahal, bahkan dibanding dengan Semarang sekalipun,” jelasnya.

Ketersohoran Jepara sendiri tidak datang dan jadi begitu saja. Ketersohoran itu sendiri berangkat dari upaya sejumlah perusahaan di Jepara yang aktif memasuki pasar internasional sejak berapa dekade lalu. Dengan orientasi ekspor yang sangat kuat, perusahaan-perusahaan produsen mebel dan furnitur sekaligus eksportir membangun citra ukiran kayu asal Jepara di pasar internasional.

Berebut ke Pasar Ekspor
Tengok saja misalnya PT. Kotajati, PT Satin Abadi dan CV Maniac Furniture. Dua perusahaan yang terakhir merupakan produsen mebel dan furnitur sekaligus eksportir yang pangsa pasar ekspornya seratus persen. Sementara, Kotajati mungkin hanya menyediakan pangsa yang tidak spesifik untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. “Itu pun merupakan pesanan yang customized,” kata Yusak Setiawan, pemilik PT Kotajati.

Menurut Schuch, masa booming ekspor produk ukiran Jepara terjadi pada tahun 1998 hingga 2000 lalu. Bisa dikatakan, saat itu, bermunculan puluhan bahkan ratusan perusahaan baru yang terjun menikmati booming tersebut. Saat itu, total ekspor bisa mencapai 1300 kontainer perbulannya. Jumlah yang sangat fantastis untuk kota kecil semacam Jepara. Setelah itu, ekspor tersebut melorot secara drastis akibat gagalnya para pengrajin memenuhi kualitas dan spesifikasi yang diterapkan oleh para buyer internasional. Akibatnya, kini total ekspor tersebut terpangkas sebanyak 75 persen.

Otto Schuch, Technical Advisor PT Satin Abadi

Dalam situasi yang sedemikian ketat dan penuh persaingan, buyer bisa dikatakan sangat dominan dalam menentukan harga. Untuk bisa meraih dan memperluas pasar ekspornya, ketiga perusahaan tersebut sejak telah menggunakan Internet sebagai sarana e-Commerce. Implementasi tersebut sebenarnya sangat menakjubkan bila dikatakan untuk ukuran kota semacam Jepara. Namun di Jepara, implementasi tersebut justru menjadi hal yang biasa karena banyak perusahaan serupa yang berorientasi pada pasar ekspor. Sehingga kebutuhan untuk mengimplementasikan e-Commerce, terutama untuk pemasaran menjadi sangat besar.

Nah, bandingkan ini dengan kondisi yang ada untuk infrastruktur telekomunikasinya. Bayangkan untuk memasang sebuah sambungan telepon baru saja, CV Maniac Furniture telah menunggu lebih dari setahun dan belum ada realisasinya. ‘Padahal kebutuhan tersebut sudah sangat mendesak,’ jelas Choen, General Manager, Maniac Furniture. Dengan hanya 2 saluran telepon dan satu satu faksimili, mau tidak mau kebutuhan komunikasi menjadi sangat terbatas.

Padahal menurutnya, kebutuhan tersebut sudah sangat mendesak. Apalagi bila pembeli asing datang dan berkunjung ke tempatnya, sudah pasti saluran telepon dan faksimili yang sudah terbatas itu dikorbankan untuk digunakan pembeli dalam berkomunikasi dengan kantornya di luar negeri. Tentu, hal ini sangat menggangu beban komunikasi yang sudah cukup padat.

Solusi yang ditawarkan Telkom adalah menarik kabel sepanjang kurang lebih 6 kilometer, atau menggunakan jaringan wireless, seperti yang pernah ditawarkan oleh sebuah perusahaan. Pilihan terakhir ini masih dalam pertimbangan perusahaannya, mengingat tingginya beban investasi yang dapat mempengaruhi arus keuangan perusahaan.

Masih Dominan untuk Komunikasi
Menurut Choen, penggunaan Internet di lingkungan perusahaannya lebih didominasi untuk keperluan komunikasi yang murah dan efisien. Menurut pengakuannya, komunikasi via e-mail tidak hanya terjalin dengan buyer lama, tetapi juga berhasil menjaring calon buyer potensial di luar pasar tradisional untuk produk mebel dan funitur.

Selama ini, pasar tradisional terdiri dari Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Jepang. Belum lama berselang, Choen mengakui bahwa perusahaannya bisa menjaring buyer dari Timur Tengah, yaitu Uni Emirat Arab melalui Internet. “Bahkan mereka telah melakukan repeat order tanpa pernah bertemu sekalipun seperti kebanyakan pelanggan kami, ”  jelasnya. Tidak hanya urusan pemesanan online bisa dilakukan via e-Commerce. Urusan menanggapi komplain pelanggan pun dilakukan dengan sarana yang sama, yaitu Internet.

Selain untuk berkomunikasi, peggunaan Internet lainnya adalah untuk berpromosi lewat situs perusahaan. Lihat saja situsnya di www.maniacfurn.com, yang memuat begitu banyak produk dalam sejumlah kategori. Sebagian di antaranya bahkan dilengkapi dengan harga jualnya, terutama untuk produk-produk terbaru.

Hingga saat ini, implementasi e-Commerce di perusahaan ini baru terbatas pada sisi pelanggan. Menurut Choen, implementasi dan aplikasi yang lebih meluas masih harus ditunda seusai pembangunan factory baru di Desa Sukodono. Ia menyebutkan bila nantinya, pembangunan pabrik baru tersebut selesai maka akan segera dilakukan integrasi sistem dari tiga lokasi yang tersebar.

Choen, General Manager, Maniac Furniture.

Dengan mengintegrasikan sistem, diharapkan Maniac tidak hanya bisa memanfaatkan Internet untuk keperluan customer relations, tapi juga untuk kepentingan sumberdaya perusahaan, mulai dari keuangan, produksi, pemasaran dan penjualan, serta tenaga kerja. Di samping untuk pemenuhan logisitik bagi produksinya. Ia mengakui juga bahwa persoalan ini lebih rumit, karena sebagian besar dari 110 pemasok material produksinya tidak memiliki akses Internet. Kalau pun memiliki belum tentu mereka aktif menggunakannya. Hal lain yang juga menjadi kendala adalah sebagian dari produknya datang dari produsen pemasok yang juga tidak memiliki akses Internet dan e-Commerce.

Apa yang diungkapkan Choen serupa dengan temuan dalam survei yang dilakukan Castle Asia pada tahun 2002 lalu, yang memperlihatkan 96 persen dari 147 perusahaan skala kecil dan menengah di Indonesia menggunakan Internet sebagai sarana komunikasi. Sedang 96% di antaranya menggunakan Internet untuk ber-email dengan buyer, tapi hanya 48% di antara mereka yang menggunakan e-mail dalam berkomunikasi dengan pemasoknya. Sebanyak 90% dari mereka menggunakan komunikasi e-mail setiap harinya, 66% di antaranya menyebutkan e-mail sebagai sangat penting dan 16% lagi menyebutkan e-mail sebagai hal yang penting.

Menuju e-Commerce
Ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Kotajati. Menurut Yusak, Kotajati memiliki pabrik tersebar di Desa Suwawal, Desa Kecapi dan Desa Ngabul di Jepara, serta satu lagi di Semarang sedang dalam tahap pengimplementasian integrasi sistem. Sebelumnya, keempat pabrik ini sudah mengimplementasikan Local Area Network (LAN) di masing-masing lokasi. Untuk memudahkan pengelolaan dan pengoordinasiannya, keempatnya direncanakan diintegrasikan dalam tahun mendatang. Yang mungkin menjadi kendala adalah jaringan infrastruktur komunikasi, terutama untuk pabrik yang tersebar di remote area Jepara.

Kendala infrastruktur dan jaringan komunikasi bisa dikatakan menjadi hambatan, mengingat Kabupaten Jepara cukup luas dan sejumlah pabrik berada di remote area, semacam Desa Suwawal dan Kecapi. Namun, tentu masih ada opsi komunikasi lain yang dapat diimplementasikan untuk menunjang komunikasi internal Kotajati. Apalagi perusahaan ini cukup besar, sehingga benefit yang diterima dipastikan lebih besar daripada investasi dan biaya yang dikeluarkan untuk mengimplementasikannya. Itu sebabnya, Yusak berani mengimplementasikan integrasi sistem secara luas di perusahaannya.

Itu sebabnya, ia memilih berkonsentrasi pada frontline dan internal perusahaan dalam proses tersebut. Sementara untuk hubungan dengan para pemasok, Yusak mengungkapkan hal yang senada dengan Choen. Menurutnya, hubungan dengan pemasok akan lebih banyak bersifat manual, karena keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki para pemasok. Namun, ia juga berharap dengan implementasi tersebut, pemasok bisa mengetahui secara pasti rencana kerja perusahaannya. “Paling tidak untuk satu semester mendatang,” jelasnya. Dengan demikian, ini bisa menghindarkan pabriknya dari kekosongan salah satu materi produksi, terutama pada saat banyak permintaan (peak season).

Mulai dari Basis Data
Mungkin yang paling berada di muka adalah Satin Abadi. Perusahaan yang beroperasi sejak 1985 ini telah melakukan komputerisasi sejak akhir tahun delapan puluhan lalu. Pilihan untuk melakukan hal tersebut dimulai dengan pertimbangan sederhana, yaitu sebagai manufaktur maka ketersediaan basis data desain dan rancang bangun sangatlah penting.

Menurut Otto, hingga saat ini Satin Abadi telah memproduksi lebih dari 18.000 item produk. Adanya basis data tersebut, tidak hanya memudahkan perusahaan melakukan simulasi rancang bangun dan desain secara cepat dan tepat. Ini juga berguna untuk pelanggan yang memiliki keperluan serupa. Biasanya para pelanggan telah memiliki desain masing-masing, namun untuk bisa memproduksinya diperlukan proses rancang bangun model tersebut, termasuk pula membubuhkan sejumlah ornamen relief yang dikehendakinya. Hanya dengan komputerisasi dan sistem basis data yang komprehensif percepatan proses rancang bangun bisa dilakukan.

Produk-produk furniture Jepara: Akan dipasarkan dengan cara e-commerce

Pengembangan ke arah e-Commerce sendiri dilakukan pada awal dekade lalu. Ini pun masih harus terbentur dengan masalah jaringan komunikasi yang ada di kota Jepara, terutama akses Internetnya. Berbeda dengan kota-kota besar lainnya yang sudah dikepung oleh ISP (Internet Service Provider ), maka Jepara saat itu justru tidak terlalu menjadi perhitungan para ISP. Baru pada akhir dekade lalu ketika bisnis perkayuan mengalami booming, ISP pun mulai berebut masuk ke kota ini. Tujuan mengimplementasikan e-Commerce adalah membuka peluang pasar lebih luas dari sebelumnya. Sekaligus mempermudah komunikasi dengan pelanggan yang telah ada.

Pelanggan, baik yang baru maupun lama, tidak perlu berkunjung secara fisik ke Jepara untuk mencari-cari komoditas yang diinginkan. Menurut pengamatan di lapangan, umumnya pelanggan hanya datang pada saat barang pesanannya siap dipetikemaskan. Ini dilakukan sekaligus melakukan kontrol kualitas terakhir kalinya sebelum dikirimkan.

Untuk pelanggan lama bahkan dilengkapi dengan PIN dan Password untuk log-on ke situs. Mereka cukup membuka situs Satin Abadi, melihat model-model yang diinginkan dan bila perlu meminta dilakukan simulasi model. Hingga melakukan pemesanan secara online. Bahkan situs Satin Abadi (www.satinabadi.com) juga dilengkapi dengan business terms, termasuk pembayaran dalam mata uang Eropa. Ini tentu sangat menunjang proses bisnis dan transaksi yang terjadi di antara mereka.

Tidak Sekadar memangkas Biaya
Manfaat dari implementasi e-Commerce, diakui ketiganya juga telah membantu mereka mengurangi biaya-biaya operasional dan promosi secara nyata. Ketiganya melihat bahwa dalam masa-masa sulit, setelah berakhirnya masa booming di akhir abad lalu, e-Commerce juga membantu mereka membuka peluang pasar ekspornya. Bahkan lebih besar dari yang diharapkan. Tentu itu tidak berlaku secara ajeg, karena bergantung pada permintaan di pasar yang dituju. Misalnya, menjelang musim semi dan panas, furnitur dan mebel untuk keperluan luar ruang (outdoor) banyak dipesan oleh buyer.

Ini dilakukan tanpa harus membuka jaringan pemasaran yang bila dilakukan secara manual akan menelan banyak biaya di setiap negara tujuan. Investasi inilah yang berhasil dipangkas dengan kehadiran e-Commerce via Internet. Bisa dikatakan hanya sebagiannya dialihkan untuk diinvestasikan ke dalam pembangunan dan pemeliharaan situs. Sebagian lagi digunakan untuk menyewa gudang di kawasan pasar yang sangat strategis secara geografis guna menjangkau pasar secara cepat. Hal ini tentu amat menolong karena di sisi lain, seusai booming itu, buyerlah yang mendominasi penentuan harga. Di samping, menurut Schuch, resesi perekonomian dunia sudah kian pekat membayangi situasi pasar global saat ini.•ew

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved