Jika
Anda pernah menonton film Minority Report, yang dibintangi
superstar Tom Cruise dan si jelita Samantha Marton, tentu
Anda masih ingat adegan di mana John Anderton (Tom Cruise),
masuk ke dalam sebuah toko pakaian, tiba-tiba terpampang sebuah
iklan layar lebar dan muncul gambar seorang wanita. Tak lama
kemudian terdengar sapaan yang sangat akrab untuk memberikan
informasi khusus kepada Anderton bahwa di toko tersebut tersedia
produk baru yang menarik, yang modelnya pernah dibeli sebelumnya.
Salah satu adegan film garapan sutradara Steven Spielberg
itu menunjukkan aplikasi teknologi LBS (Location Based Services),
dimana teknologi ini mampu menggabungkan suatu layanan (content),
misalnya, hotel, tempat ibadah, rumah sakit, restoran, dengan
mendeteksi lokasi terakhir penggunanya.
Menariknya, LBS ini bisa memberikan kemudahan bagi para penggunanya
untuk mengakses melalui SMS (Short Message Services) dengan
mengetik satu pesan pendek (short code) diikuti oleh informasi
yang diinginkan kemudian lokasi atau obyek terdekat yang dapat
diketahui. Semuanya bisa dijalankan cukup melalui ponsel,
sehingga bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.
Saat ini, jika ingin berperan layaknya Tom Cruise dalam film
Minority Report, Anda pun bisa melakukannya. Namun, tidak
persis sama tentunya. Soalnya, teknologi yang digunakan berbeda,
meski manfaatnya sama. Alat itu kini bisa memantau ke mana
pun Anda pergi, karena ia memanfaatkan teknologi berbasis
satelit untuk pemantauan posisi yang terjangkau secara global
atau yang sering dikenal dengan GPS (Global Positioning System).
Untuk menggunakan teknologi ini, diperlukan peralatan yang
disebut GPS receiver. Piranti ini mempunyai kemampuan untuk
menentukan koordinat kecepatan dan history (rute yang telah
dilalui) atau yang membawanya.
Selain itu, ada juga teknologi GSM (Global System for Mobile
Communications) seperti yang digunakan pada telepon seluler
(ponsel). Teknologi ini memungkingkan terciptanya telepon
yang mudah dibawa-bawa atau mobile. Perpaduan dua perangkat
ini yang kemudian memungkinkan penggunaan sistem pelacakan
navigasi yang canggih ini.
GPS Tracking System
Saat ini, kedua perangkat teknologi itu dikembangkan menjadi
tracking system navigator bagi para pemilik kendaraan. Adalah
PT Garasindo Inter Global (Garasindo), perusahaan yang bergerak
di bidang jasa industri otomotif, yang kini memiliki perangkat
yang dapat memantau, mencegah tindak kejahatan, sebagai alat
komunikasi, pemandu arah jalan dan layanan informasi serta
fasilitas umum.
Untuk meluncurkan produk ini, Garasindo bekerjasama dengan
4 perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi.
Di antaranya adalah Indosat M3 yang men-support untuk jejaring
GSM, Eneren Technology yang mengembangkan sistem, dan Media
Altas Indonesia yang fokus pada pengembangan petanya.
Alat yang disebut Vehicle Interactive Tracking System (Vi-Track)
ini merupakan perangkat teknologi navigasi dengan menggunakan
satelit GPS dan GSM. Perangkat yang muatan teknologinya 60
persen local content dan 40 persen dari luar negeri ini terdiri
dari GSM engine, GPS, locker system, antena dual band, Microphone,
voice button dan panic button, lampu serta speakers.
 |
| Turia Fitriano Helmy, General
Manager PT Garasindo Inter Global |
Produk ini kemudian disambungkan ke dalam aki mobil untuk
dipantau oleh satelit GPS. Dengan menggunakan alat ini, maka
para pengguna mobil bisa mengetahui posisi kendaraannya tengah
ada di mana.
Salah satu layanannya adalah memantau posisi dan kecepatan
kendaraan, baik secara real time maupun history (waktu lampau)
melalui ponsel atau Internet kapan dan di mana saja.
Turia Fitriano Helmy, General Manager PT Garasindo Inter Global,
mengatakan, jika dikategorikan dari sisi features-nya dalam
Vi-Track Community, sebenarnya ada empat fungsi utama dari
perangkat ini. Pertama, pemantauan. Kedua, komunikasi. Ketiga,
security. Keempat, layanan operator.
“Berdasarkan hasil survai, yang dominan dilakukan adalah
antara pemantauan dan security. Dan ini tidak jauh berbeda.
Mengapa lebih dominan? Karena dengan pemantauan ini kita bisa
mengetahui posisi mobil sedang ada di mana”, ujar Fitriano
kepada eBizzAsia.
Lebih lanjut, pria lulusan STEKPI ini menjelaskan, kalau security
itu kita bisa membantu dari segi teknologi. Jadi kita punya
teknologi yang bisa mematikan mesin. Namun masalahnya, seberapa
luas asistensi kita terhadap masalah security ini. Soalnya,
alat ini tidak dimaksudkan bahwa dengan menggunakan Vi-Track,
jika mobil hilang pasti ketemu.
“Ilustrasinya begini. Sama saja saya menggunakan alarm
mobil, tapi tetap saja hilang. Tapi kita berusaha mengantisipasi
tindak kejahatan”, tegas Fitriano seraya mencontohkan
jika aki mobilnya dipotong, maka alat ini akan mengirimkan
sinyal kepada pemilik mobil melalui handphone dan juga kepada
operator.
Jika pemilik kendaraan tidak menghubungi operator, maka operator
yang akan menghubungi dan mengatakan bahwa mobil dalam keadaan
running on batrey. Hal ini bisa terjadi jika aki mobil dipotong
atau air aki yang sudah drop. Bahkan, jika alat ini dirusak
sekalipun, kita bisa mengetahui last position dari keberadaan
mobil ini.
Namun, tidak sembarang orang bisa memasang produk ini. Pasalnya,
yang mengetahui posisi alat ini di mobil hanya pemilik mobil
saja, dan tentu sepengetahuan kru Garasindo yang jadi montirnya.
Di samping itu, dia juga harus memiliki user ID, PIN (personal
identification number) dan password untuk bisa log-in ke Internet.
Soalnya, kalau mobil hilang, pemilik mobil pasti akan menghubungi
operator, dan operator akan request sembari menanyakan user
ID dan data pendukung lainnya kepada pemilik mobil. Bahkan,
pada saat pembicaraan dengan operator pun, suara kita akan
direkam layaknya Internet Banking.
Tracking untuk eBusiness
Selain Vi-Track, PT Infoasia Teknologi Global Tbk, yang bergerak
di bidang Innovative Technology and Communication, ini juga
memiliki produk yang sama, yaitu Infotrack. Alat ini memberikan
informasi operasional dari kendaraan ataupun sarana bergerak
lainnya untuk diketahui statusnya dengan menggunakan perpaduan
antara satelit GPS sebagai media untuk mendapatkan data, arah
serta kecepatan kendaraan.
“Untuk melacak keberadaan mobil bisa menggunakan monitor,
laptop, PDA (alat bantu digital personal), dan handphone.
Kita juga bisa memanggil mobil dengan menggunakan data yang
dihubungkan dengan monitor yang ada di Infoasia”, ujar
Handoyo Suparmo, VP & GM Operations PT Infoasia Teknologi
Global Tbk.
 |
| Handoyo Suparmo, VP & GM Operations
PT Infoasia Teknologi Global Tbk. |
Bedanya hanya pangsa pasar. Infotrack ditujukan bagi perusahaan
logistik dan distiribusi, jasa transportasi seperti Taksi,
bus, penyewa truk, atau kereta api. Karenanya, alat komunikasinya
pun terhubung ke Pusat Kontrol Perusahaan, antara lain dengan
menggunakan sarana jejaring Inmarsat-C Satelit, GSM, Radio
UHF/VHF dan Geo Spatial System Technology serta Smartrack
software asset management, yang dipadukan dengan sistem Pemetaan
Digital.
Kepada eBizzAsia Handoyo menjelaskan, penerapan teknologi
GPS bagi perusahaan ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas
kinerja perusahaan. Soalnya, teknologi ini dapat memperkecil
kebocoran-kebocoran secara lebih dini. “Vi-Track itu
bukan kompetitor kita, karena market-nya berbeda. Kita lebih
banyak ke corporate. Karena kemampuan alat ini tidak hanya
untuk tracking, tapi lebih ke eBusiness”, tambahnya.
Handoyo mencontohkan, sebelum perusahaan mengimplementasikan
sistem GPS, pemilik perusahaan tidak dapat memonitor kendaraan
mereka di jalan. Tetapi, dengan diterapkannya tracking system
ini, maka pemilik perusahaan bisa memonitor seluruh kendaraan
yang mereka miliki, termasuk memonitor kebiasaan seorang supir,
bahan-bakar, dan kondisi kendaraan.
Untuk mengimplementasikan produk ini, Infoasia menggandeng
penyelenggara jasa telekomunikasi selular dan teknologi informasi
terkemuka maupun satelit serta software development dan Smart
modem provider baik di Indonesia maupun di dunia secara real
time. Di antaranya adalah Indosat Multi Media Mobile - IM3
(Indonesia), Lockheed Martin (USA), Xiantic Satellite Services
(Australia), Telenor Satellit Services Inc (Norway), Absolute
Communications (New Zealand) dan Falcom (Germany).
Masalah security, semuanya ditanggung oleh perusahaan. Pasalnya,
database alat ini dipegang oleh perusahaan. Namun jangan khawatir,
security-nya cukup canggih, seperti untuk IP-base telecommunication.
Infoasia sendiri menempatkan diri sebagai sarana untuk meneruskan
data yang harus diterima oleh perusahaan, seperti password.
“Kita tidak bisa mengubah sistem, karena kalau diubah
satu sistem maka akan mengubah semuanya. Hanya klien saja
yang tahu. Seperti di perbankan, hanya nasabah yang tahu”,
jelas Handoyo seraya menambahkan jika ada gangguan software
bisa diatasi. Tetapi jika alat itu rusak, misalnya karena
tabrakan, maka tidak bisa diperbaiki lagi. • rf
|