Volume I Nomor 08 - Juni 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

VoIP pun Menggerogoti Indosat
 
foto-foto:
Dahlan Rebo Paing
Eddy Hadijanto, General Manager VoIP Services Indosat

Eddy Hadijanto, General Manager VoIP Services Indosat mengeluh tentang sulitnya menembus benteng jaringan yang dimiliki oleh PT. Telkom. Eddy sendiri melihat bahwa perluasan layanan VoIP (Voice over Internet Protocol) Indosat di dalam negeri sangat terbentur luasnya jaringan yang dimiliki Telkom. Menurut data yang ada, jaringan yang dimiliki Telkom telah menjangkau hingga 61 persen kecamatan di Indonesia. Namun, dari segi populasi jangkauan itu mencapai 76 persen penduduk.

Dengan jangkauan jaringan Telkom yang seluas itu, tak pelak bila dikatakan jaringan ini merupakan benteng pertahanan yang sangat efektif dalam menahan ekspansi kompetitornya. Mau tidak mau, setiap kompetitor yang masuk akan berhadapan dengan kekuatan Telkom yang bisa mendikte ataupun ‘membonsai’ mereka.

Ini bisa dilihat dari kenyataan yang ada di lapangan. “Di atas kertas sih semua bagus-bagus saja, tapi begitu di lapangan setiap kantor regional Telkom ternyata memiliki kebijakan masing-masing”, katanya. Penyedia jasa VoIP dibebani dengan berbagai biaya ekstra yang jauh lebih besar dibanding dengan investasinya. “Sehingga jadi tidak masuk akal biayanya,” lanjutnya. Akibatnya, keinginan Indosat untuk berekspansi terhambat oleh kebijakan-kebijakan lokal semacam itu, terutama untuk kawasan di luar Jawa.

Kepusingan semacam ini ternyata tidak dialami Eddy dan Indosat sendirian. Bisa jadi penyedia jasa VoIP lainnya juga sedang dipusingkan dengan masalah serupa. Itu sebabnya, Indosat telah memulai pendayagunaan jaringan telepon selularnya untuk jasa layanan ini. Menurut Eddy, pelanggan Indosat M3 dan Satelindo dimungkinkan untuk menggunakan jasa layanan VoIP melalui telepon selularnya. “Ini sekedar masalah aplikasi teknis yang tidak rumit, dan di luar negeri sudah jamak dilakukan,” jelasnya. Pengguna layanan VoIP Indosat bisa berhubungan dengan telepon fixed line phone di luar negeri atau dengan sesama penggunan telepon selular. Bahkan ia juga menyatakan bahwa pelanggan selular Satelindo juga sudah bisa menggunakan layanan serupa pada awal bulan Mei lalu.

Kepusingan penyedia jasa VoIP memang terletak pada tidak dimilikinya jaringan yang meluas, seperti yang dimiliki Telkom. Boleh jadi kepusingan mereka bertambah dengan ikut terjunnya Telkom dalam bisnis jasa layanan VoIP sejak Oktober 2001 lalu. Menurut Bambang Lusmiadi, General Manager VoIP Telkom, layanan ini dikenal dengan nama Telkomsave dengan kode akses 17017. Telkomsave merupakan layanan yang bersifat dua tahap panduan (double stage).

Menurut Bambang, Telkomsave merupakan layanan VoIP paska bayar dan bisa di-dial dari mana saja untuk tujuan internasional sekalipun. Bahkan Telkomsave bisa ditagihkan ke satu nomor telepon, sekalipun pelanggan memiliki sejumlah nomor. “Tentunya harus di-register dulu,’ jelas Bambang.

Tahun 2002, Telkom meluncurkan produk Telkomglobal dengan kode 017 yang merupakan layanan satu tahap panduan (single stage). Layanan ini merupakan layanan premium VoIP. Disebut premium karena kompresi yang digunakan dibatasi hingga 4 percakapan. Umumnya, kompresi VoIP dilakukan hingga mencapai 6-8, atau bahkan 12 buah per kanalnya. Karena itu Telkomglobal jelas memiliki kualitas suara yang lebih baik dibandingkan dengan mutu rata-rata layanan VoIP, seperti Telkomsave. Menurut Bambang, dengan pembatasan itu gangguan seperti delay dan gaung juga sudah jauh berkurang. Sehingga, “tidak terlalu dirasakan oleh penggunanya,” jelasnya.

Pengguna atau pelanggan VoIP hanya merasakan perbedaan harga yang cukup besar, sekitar 40 hingga 70 persen lebih murah. Karena itu Bambang dengan tegas menyebutkan bahwa layanan VoIP sebenarnya lebih ditujukan pada pengguna yang memang price sensitive, namun tidak bisa menunda kebutuhan berkomunikasinya. Pelanggan semacam inilah yang menjadi sasaran dari layanan VoIP Telkom.

Bukan pelanggan semacam itu saja yang akan menjadi sasaran VoIP Telkom di masa depan. Direncanakan VoIP Telkom akan menjangkau pasar dengan kebutuhan spesifik, tapi tidak terjangkau dengan teknologi yang ada saat ini. Bambang menunjuk pada pengadaan conference call dan call center lewat Telkomsave. Namunc hal itu tidak menjadi eksklusif untuk Telkom. Melsa dan Pacific Link misalnya, juga sudah merencanakan untuk membidik pasar yang sama. Hanya saja mereka terbentur pada persoalan administratif yang menyekap gerak keduanya.

Kalau ditilik lebih dalam, sebenarnya basis pelanggan dari produk layanan ini bisa dikatakan hampir sama. Hanya saja dengan kehadiran produk semacam Telkomsave dan Telkomglobal bisa menjadi opsi pilihan bagi pelanggan tersebut. Untuk pelanggan telepon selular, baik pemegang Kartuhalo maupun XL bisa menggunakan layanan Telkomglobal. Untuk menunjang produknya, Telkom memberikan layanan nilai tambah misalnya bekerja sama dengan perusahaan penerbit kartu kredit Visa. Nantinya, bahkan layanan ini direncanaan bisa digunakan oleh para pemegang kartu ATM.

Bambang Lusmiadi, General Manager VoIP Telkom

Meluasnya jangkauan layanan ini juga ditunjukkan dengan kenaikan drastis dari penghasilan layanan VoIP Telkom. Awal Mei lalu, Telkom mengumumkan kenaikannya sebesar 1700 persen. Penerimaan sebesar Rp 150 milyar itu hanya mencapai sekitar satu persen dari penerimaan total Telkom, yang jumlahnya mencapai trilyunan Rupiah.

Kondisi semacam ini bisa jadi disebabkan karena pelanggan Telkom lebih mengenal baik layanan tradisionalnya. Apalagi beberapa waktu belakangan, kualitas SLI dan SLJJ Telkom cukup prima. Ini bukan hanya karena layanan tersebut dilakukan melalui clear channel. Tapi juga, menurut Bambang, lebih dikarenakan sifat dari teknologi yang digunakan merupakan hasil pendayagunaan dan pemampatan IP (Internet Protocol) yang sudah tersedia.

“Pada dasarnya layanan ini connectionless, yang artinya tidak selalu tersambung seperti layanan telepon tetap atau fixed line phone,” kata Bambang. Itu sebabnya layanan ini seringkali diidentikkan dengan layanan komunikasi yang yang memiliki waktu sambung lebih lama, adanya delay time dalam penyampaian percakapan, dan gaung yang terkadang cukup mengganggu percakapan. Tidak jarang pula, komunikasi terputus karena down-nya koneksi IP yang ada. Itu sebabnya, untuk pelanggan yang tidak sensitif terhadap harga pilihan untuk menggunakan fixed line phone masih sangat besar. Di samping pilihan akan kualitas suara yang jernih dan jelas ada pada fixed line phone. Apalagi bila kebutuhan berkomunikasinya bisa ditunda pada jam-jam tidak sibuk di malam hari.

Di jam-jam tidak sibuk itulah, daya tarik untuk menggunakan layanan VoIP justru menjadi sangat tidak berarti di mata pelanggan. Menurut Wahyoe Prawoto, Director PT Jasa jejaring Wasantara, tarif VoIP yang flat sekalipun tidak akan bisa bersaing dengan diskon yang diberikan oleh Telkom. Wahyoe juga mengakui bahwa kini point of presence dari operator VoIP di luar Telkom masih sangatlah terbatas. “Paling jauh jumlahnya bisa mencapai 40 kota pada saat Kelompok 12 bergabung dengan Atlasat,” lanjutnya.

Bandingkan ini dengan point of presence VoIP Telkom yang baru mencapai 30 kota di Indonesia. Namun jangan dikira Telkom tidak bisa meluaskannya dalam waktu singkat. “Bisa berkembang di atas ratusan kota nantinya,” jelas Bambang. Ini dimungkinkan karena selama ini infrastruktur dan jaringan IT Telkom masih digunakan terbatas untuk keperluan layanan akses Internet. Nantinya, direncanakan untuk mendayagunakan akses Internet, sehingga cakupan wilayah VoIP Telkom sama persis dengan area coverage-nya Telkomnet instan.

Dengan jangkauan wilayah semacam itu sudah pasti operator VoIP lainnya bisa-bisa ‘terbonsai’ sebelum bertumbuh. Apalagi untuk operator VoIP yang tidak memiliki backbone yang mandiri. Kalaupun memiliki backbone, untuk bisa bersaing mereka harus bisa memiliki cakupan wilayah paling tidak seluas Telkom. Tanpa itu, mereka akan sulit bersaing secara bebas dengan VoIP Telkom. Artinya bisa jadi stagnasi sudah harus menjadi salah satu skenario terbaik bagi bisnis mereka mulai saat ini.•

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved