 |
| Eddy Hadijanto, General Manager
VoIP Services Indosat |
Eddy Hadijanto, General Manager VoIP Services Indosat mengeluh
tentang sulitnya menembus benteng jaringan yang dimiliki oleh
PT. Telkom. Eddy sendiri melihat bahwa perluasan layanan VoIP
(Voice over Internet Protocol) Indosat di dalam negeri sangat
terbentur luasnya jaringan yang dimiliki Telkom. Menurut data
yang ada, jaringan yang dimiliki Telkom telah menjangkau hingga
61 persen kecamatan di Indonesia. Namun, dari segi populasi
jangkauan itu mencapai 76 persen penduduk.
Dengan jangkauan jaringan Telkom yang seluas itu, tak pelak
bila dikatakan jaringan ini merupakan benteng pertahanan yang
sangat efektif dalam menahan ekspansi kompetitornya. Mau tidak
mau, setiap kompetitor yang masuk akan berhadapan dengan kekuatan
Telkom yang bisa mendikte ataupun ‘membonsai’
mereka.
Ini bisa dilihat dari kenyataan yang ada di lapangan. “Di
atas kertas sih semua bagus-bagus saja, tapi begitu di lapangan
setiap kantor regional Telkom ternyata memiliki kebijakan
masing-masing”, katanya. Penyedia jasa VoIP dibebani
dengan berbagai biaya ekstra yang jauh lebih besar dibanding
dengan investasinya. “Sehingga jadi tidak masuk akal
biayanya,” lanjutnya. Akibatnya, keinginan Indosat untuk
berekspansi terhambat oleh kebijakan-kebijakan lokal semacam
itu, terutama untuk kawasan di luar Jawa.
Kepusingan semacam ini ternyata tidak dialami Eddy dan Indosat
sendirian. Bisa jadi penyedia jasa VoIP lainnya juga sedang
dipusingkan dengan masalah serupa. Itu sebabnya, Indosat telah
memulai pendayagunaan jaringan telepon selularnya untuk jasa
layanan ini. Menurut Eddy, pelanggan Indosat M3 dan Satelindo
dimungkinkan untuk menggunakan jasa layanan VoIP melalui telepon
selularnya. “Ini sekedar masalah aplikasi teknis yang
tidak rumit, dan di luar negeri sudah jamak dilakukan,”
jelasnya. Pengguna layanan VoIP Indosat bisa berhubungan dengan
telepon fixed line phone di luar negeri atau dengan sesama
penggunan telepon selular. Bahkan ia juga menyatakan bahwa
pelanggan selular Satelindo juga sudah bisa menggunakan layanan
serupa pada awal bulan Mei lalu.
Kepusingan penyedia jasa VoIP memang terletak pada tidak dimilikinya
jaringan yang meluas, seperti yang dimiliki Telkom. Boleh
jadi kepusingan mereka bertambah dengan ikut terjunnya Telkom
dalam bisnis jasa layanan VoIP sejak Oktober 2001 lalu. Menurut
Bambang Lusmiadi, General Manager VoIP Telkom, layanan ini
dikenal dengan nama Telkomsave dengan kode akses 17017. Telkomsave
merupakan layanan yang bersifat dua tahap panduan (double
stage).
Menurut Bambang, Telkomsave merupakan layanan VoIP paska bayar
dan bisa di-dial dari mana saja untuk tujuan internasional
sekalipun. Bahkan Telkomsave bisa ditagihkan ke satu nomor
telepon, sekalipun pelanggan memiliki sejumlah nomor. “Tentunya
harus di-register dulu,’ jelas Bambang.
Tahun 2002, Telkom meluncurkan produk Telkomglobal dengan
kode 017 yang merupakan layanan satu tahap panduan (single
stage). Layanan ini merupakan layanan premium VoIP. Disebut
premium karena kompresi yang digunakan dibatasi hingga 4 percakapan.
Umumnya, kompresi VoIP dilakukan hingga mencapai 6-8, atau
bahkan 12 buah per kanalnya. Karena itu Telkomglobal jelas
memiliki kualitas suara yang lebih baik dibandingkan dengan
mutu rata-rata layanan VoIP, seperti Telkomsave. Menurut Bambang,
dengan pembatasan itu gangguan seperti delay dan gaung juga
sudah jauh berkurang. Sehingga, “tidak terlalu dirasakan
oleh penggunanya,” jelasnya.
Pengguna atau pelanggan VoIP hanya merasakan perbedaan harga
yang cukup besar, sekitar 40 hingga 70 persen lebih murah.
Karena itu Bambang dengan tegas menyebutkan bahwa layanan
VoIP sebenarnya lebih ditujukan pada pengguna yang memang
price sensitive, namun tidak bisa menunda kebutuhan berkomunikasinya.
Pelanggan semacam inilah yang menjadi sasaran dari layanan
VoIP Telkom.
Bukan pelanggan semacam itu saja yang akan menjadi sasaran
VoIP Telkom di masa depan. Direncanakan VoIP Telkom akan menjangkau
pasar dengan kebutuhan spesifik, tapi tidak terjangkau dengan
teknologi yang ada saat ini. Bambang menunjuk pada pengadaan
conference call dan call center lewat Telkomsave. Namunc hal
itu tidak menjadi eksklusif untuk Telkom. Melsa dan Pacific
Link misalnya, juga sudah merencanakan untuk membidik pasar
yang sama. Hanya saja mereka terbentur pada persoalan administratif
yang menyekap gerak keduanya.
Kalau ditilik lebih dalam, sebenarnya basis pelanggan dari
produk layanan ini bisa dikatakan hampir sama. Hanya saja
dengan kehadiran produk semacam Telkomsave dan Telkomglobal
bisa menjadi opsi pilihan bagi pelanggan tersebut. Untuk pelanggan
telepon selular, baik pemegang Kartuhalo maupun XL bisa menggunakan
layanan Telkomglobal. Untuk menunjang produknya, Telkom memberikan
layanan nilai tambah misalnya bekerja sama dengan perusahaan
penerbit kartu kredit Visa. Nantinya, bahkan layanan ini direncanaan
bisa digunakan oleh para pemegang kartu ATM.
 |
| Bambang Lusmiadi, General Manager
VoIP Telkom |
Meluasnya jangkauan layanan ini juga ditunjukkan dengan kenaikan
drastis dari penghasilan layanan VoIP Telkom. Awal Mei lalu,
Telkom mengumumkan kenaikannya sebesar 1700 persen. Penerimaan
sebesar Rp 150 milyar itu hanya mencapai sekitar satu persen
dari penerimaan total Telkom, yang jumlahnya mencapai trilyunan
Rupiah.
Kondisi semacam ini bisa jadi disebabkan karena pelanggan
Telkom lebih mengenal baik layanan tradisionalnya. Apalagi
beberapa waktu belakangan, kualitas SLI dan SLJJ Telkom cukup
prima. Ini bukan hanya karena layanan tersebut dilakukan melalui
clear channel. Tapi juga, menurut Bambang, lebih dikarenakan
sifat dari teknologi yang digunakan merupakan hasil pendayagunaan
dan pemampatan IP (Internet Protocol) yang sudah tersedia.
“Pada dasarnya layanan ini connectionless, yang artinya
tidak selalu tersambung seperti layanan telepon tetap atau
fixed line phone,” kata Bambang. Itu sebabnya layanan
ini seringkali diidentikkan dengan layanan komunikasi yang
yang memiliki waktu sambung lebih lama, adanya delay time
dalam penyampaian percakapan, dan gaung yang terkadang cukup
mengganggu percakapan. Tidak jarang pula, komunikasi terputus
karena down-nya koneksi IP yang ada. Itu sebabnya, untuk pelanggan
yang tidak sensitif terhadap harga pilihan untuk menggunakan
fixed line phone masih sangat besar. Di samping pilihan akan
kualitas suara yang jernih dan jelas ada pada fixed line phone.
Apalagi bila kebutuhan berkomunikasinya bisa ditunda pada
jam-jam tidak sibuk di malam hari.
Di jam-jam tidak sibuk itulah, daya tarik untuk menggunakan
layanan VoIP justru menjadi sangat tidak berarti di mata pelanggan.
Menurut Wahyoe Prawoto, Director PT Jasa jejaring Wasantara,
tarif VoIP yang flat sekalipun tidak akan bisa bersaing dengan
diskon yang diberikan oleh Telkom. Wahyoe juga mengakui bahwa
kini point of presence dari operator VoIP di luar Telkom masih
sangatlah terbatas. “Paling jauh jumlahnya bisa mencapai
40 kota pada saat Kelompok 12 bergabung dengan Atlasat,”
lanjutnya.
Bandingkan ini dengan point of presence VoIP Telkom yang baru
mencapai 30 kota di Indonesia. Namun jangan dikira Telkom
tidak bisa meluaskannya dalam waktu singkat. “Bisa berkembang
di atas ratusan kota nantinya,” jelas Bambang. Ini dimungkinkan
karena selama ini infrastruktur dan jaringan IT Telkom masih
digunakan terbatas untuk keperluan layanan akses Internet.
Nantinya, direncanakan untuk mendayagunakan akses Internet,
sehingga cakupan wilayah VoIP Telkom sama persis dengan area
coverage-nya Telkomnet instan.
Dengan jangkauan wilayah semacam itu sudah pasti operator
VoIP lainnya bisa-bisa ‘terbonsai’ sebelum bertumbuh.
Apalagi untuk operator VoIP yang tidak memiliki backbone yang
mandiri. Kalaupun memiliki backbone, untuk bisa bersaing mereka
harus bisa memiliki cakupan wilayah paling tidak seluas Telkom.
Tanpa itu, mereka akan sulit bersaing secara bebas dengan
VoIP Telkom. Artinya bisa jadi stagnasi sudah harus menjadi
salah satu skenario terbaik bagi bisnis mereka mulai saat
ini.• |