 |
| Richard Kartawijaya, CEO PT
Integrasi Teknologi Tbk. |
OUTSOURCING sebetulnya bukan hal baru di
Indonesia. Bentuknya pun macam-macam. Ada yang sederhana seperti
pengelolaan cleaning service atau yang amat rumit penyerahan
pengelolaan perusahaan. Tetapi, untuk outsourcing jasa TI
(teknologi informasi), di sini masih ketinggalan. Mengapa?
Menurut CEO PT Integrasi Teknologi Tbk. Richard Kartawijaya,
ini karena outsourcing bukan pekerjaan yang simpel dan memang
banyak miss-nya. Banyak orang mengatakan outsourcing TI itu
untuk cost saving atau penghematan biaya. Outsourcing TI juga
diharapkan adanya perubahan-perubahan mendasar dalam melakukan
bisnis, dan bisa melakukan bisnis dengan cara yang berbeda.
Tapi, kata Richard, real reason-nya bukan untuk cost saving,
tapi, yang pertama, cost relative reduction atau pengurangan
ongkos dari total bisnis. Outsourcing akan membuat pendapatan
naik. Misalnya, semula pendapatan cuma 500, dengan outsourcing
menjadi 700, dengan biaya TI yang naik dari 50 menjadi 60.
Jadi, pengaruhnya harus dilihat dari total pendapatan. Dengan
kenaikan itu, rasionya makin mengecil. Dengan demikian, revenue
juga akan naik. Dari sisi biaya, outsourcing memungkinkan
mengatur spending TI lebih baik.
Alasan kedua, adanya dorongan agar teknologi diubah. Akibatnya,
perusahaan kekurangan orang yang bisa mengaplikasikan teknologi
baru atau ada large scale business yang baru yang memerlukan
penggunaan TI. Outsourcing juga membuka peluang akses terhadap
new skill dan tidak harus me-retain orang. Memelihara karyawan
itu repot. Lagi pula, jika perusahaan harus investasi TI sendiri,
memerlukan biaya yang besar dan waktunya tidak bisa cepat.
Pendek kata, dengan outsourcing pengusaha bisa menggunakan
TI sesuai dengan strategi bisnis perusahaan.
Alasan ketiga, quality of service pada end user harus terus
membaik. Padahal TI yang ada sudah tidak cukup lagi karena
kualitasnya terbatas. Dengan outsourcing diharapkan kualitas
layanan bisa menjadi lebih baik. Alasan keempat, karena merger
dan akuisisi yang terus-menerus terjadi. Ini menyebabkan outsourcing
menjadi pilihan yang bijaksana karena tidak terlalu berisiko.
Alasan kelima, memungkinkan perubahan business process dalam
organisasi. Dan keenam, memungkinkan organisasi bisa fokus
pada core business. “Ini alasan mendasar orang beralih
dan menoleh ke outsourcing,” kata Richard.
Masalahnya, kata Richard, bagaimana strategic driver outsourcing.
Dalam konteks ini ada empat hal. Pertama, business driver.
Pada bagian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
(a) pemilik bisnis bisa fokus pada bisnisnya; (b) setelah
bisnis bisa fokus, TI harus diarahkan pada strategic business
perusahaan; (c) outsource akan memperbaiki service level ke
customer menuju world class service; dan (d) dengan cara ini,
pemilik bisnis akan bisa meng-improve overall business performance
company. Hal ini akan meningkatkan mutu dan kualitas pekerjaan.
Sebagai akibat tambahan, pemilik bisnis akan bisa mengurangi
risiko investasi. Ini akan mengurangi investasi secara keseluruhan.
Dulu, jika investasi TI bisa memakan dana 1000 misalnya, dengan
outsource pemakaian dana bisa diangsur.
Kedua, industry driver. Secara absolut, (a) outsourcing akan
memberikan opportunity baru dengan approach yang baru pula;
(b) memberikan perubahan secara menyeluruh apa yang disebut
dengan changing services criteria; dan (c) akan muncul bentuk
baru dalam kompetisi. Misalnya, industri farmasi. Dulu, karena
monopoli, informasi obat dilindungi dengan Undang-Undang.
Kini, informasi tentang obat itu tidak bisa dilindungi karena
informasi global sudah demikian terbuka. Karena biaya pengiriman
lebih murah dari harga obat, maka TI adalah kunci untuk menurunkan
biaya dan meningkatan produktivitas. Teori industri segmen
mengatakan bahwa TI tidak bisa bisa dihindari.
Ketiga, financial driver. Dengan outsourcing, biaya menjadi
clear. Besarnya biaya bahkan bisa fix, bukan lagi variabel.
Dalam sistem akuntansi, outsourcing ditaruh di kolom belanja,
bukan di kolom investasi yang setiap tahun mengalami depresiasi.
Keempat, IT driver. Ini akan (a) meningkatkan services level
TI; (b) meningkatkan efektivitas; dan (c) implementasinya
lebih cepat, tidak buang-buang waktu dan pemilik bisnis bisa
mempercepat go to market dengan IT partner. Knowledge IT partner
bisa dituntut habis-habisan karena dia memang harus lebih
tahu terlebih dahulu dari pada pemakai.
Dengan kondisi semacam ini, “Outsourcing sudah tidak
bisa dihindari,” kata Richard. Karena hal ini akan mempermudah
orang untuk melakukan bisnis. Untuk mengukurnya pun jelas.
Dalam jangka pendek, tidak mustahil outsourcing terasa lebih
mahal, tapi tidak dalam jangka panjang. Namun dampaknya terhadap
bisnis, sungguh luar biasa. Business owner bisa lebih profesional
karena new technology akan ter-up date terus-menerus. Business
owner juga tidak pusing-pusing memikirkan turn over tenaga
yang begitu tinggi di departemen TI. “Jika ditangani
sendiri, ketika IT manager atau programmer tidak ada, kita
bisa dibikin pusing tujuh keliling. Pokoknya minta ampun,”
kata Richard.
Lalu, bagian mana yang harus di-outsourcing. Menurut Richard,
dalam perusahaan ada dua bagian besar, yaitu strategic planning,
implementasi dan operasi. Pada bagian pertama, sebagian kecil
saja yang harus di-outsourcing. Sementara pada bagian kedua,
hampir seluruhnya harus di-outsourcing karena bagian inilah
yang sering membuat pusing pemilik bisnis. Pada bagian ini
biasanya diisi oleh anak-anak muda, yang masih suka berpetualang,
suka mencoba hal-hal baru dan selalu butuh new ideas secara
terus-menerus. Karakteristik demikian, membuat tenaga yang
ada di bagian ini sering tidak betah, sehingga turn over-nya
tinggi. Itulah sebabnya, departemen TI biasa disebut sebagai
big spender dan departemen training, karena tidak pernah menghasilkan.
Cuma investasi.
 |
| Urusan TI di rumah sakit pun sesungguhnya
juga bisa di-outsource |
Dengan outsourcing, jika business owner mengetahui strategi
bisnis, TI bisa digunakan untuk mendukung strategi bisnis
itu dengan benar untuk memberikan value yang tepat. Dengan
konsep demikian, jika TI tidak ada, otomatis strategi bisnis
tidak bisa diimplementasikan, dan bisnis akan menurun. “Jika
TI bisa diintegrasikan dengan strategi bisnis, manfaatnya
akan amat banyak,” kata Richard. Yang sering terjadi,
kata Richard, value dilihat, tapi TI ditaruh paling bawah.
Bahkan, jika pun TI tidak ada, tidak masalah. “Ini yang
salah,” kata Richard. Harusnya, jika mau bisnis maju,
TI juga mengikuti. Jika orang di dalam perusahaan tidak mungkin
untuk menunjang dan melakukannya secara terus-menerus, saat
itulah dibutuhkan outsourcing.
Contohnya, bisnis rumah sakit. Bisnis bidang ini harus fokus
pada dokter, teknologi kedokteran, teknologi mencari penyakit
dan penyembuhan. Belum lagi bagaimana harus mengatur dokter,
suster-suster dan tenaga paramedis, juga pasien yang keluar-masuk.
“Ini semua membuat pusing,” kata Richard. Di sisi
lain, rumah sakit juga harus mengatur data medis pasien (medical
record), data laboratorium, dan yang lain. Rumah sakit dituntut
untuk bisa mengintegrasikan semua itu, termasuk menyimpan
database pasien selama 80 hingga 90 tahun, karena rata-rata
umur manusia sekitar itu.
Padahal, teknologi kedokteran dan TI terus berkembang. Bagaimana
rumah sakit bisa mengurus keduanya? “Alangkah baiknya
jika urusan TI itu di-outsource-kan,” kata Richard.
Jika ditangani sendiri, akan rumit karena harus selalu di-up
grade, juga harus stabil selama 24 jam. Paling-paling yang
diperlukan rumah sakit adalah seorang CEO yang bisa memikirkan
strategic planning untuk menangani bisnis rumah sakit. Ini
amat mungkin dilakukan dengan membebankan biaya TI ke setiap
pasien.
continued to next page
|