Volume I Nomor 08 - Juni 2003
Call Center
Telkom dan sejumlah mitra tengah
mengembangkan pilot proyek
pembangunan MCT di sejumlah daerah. Selain enjembatani ketimpangan digital, juga akan
bermanfaat ekonomis.
 
sumber gambar:
Divisi Multimedia (eBusiness) TELKOM

MCT (Multipurpose Community Telecenters) merupakan tempat dimana masyarakat bisa memperoleh dukungan teknologi komunikasi dan informasi (ICT-Information and Communication Technology) untuk mengakses berbagai layanan secara aman. MCT ini diharapkan akan dapat melayani berbagai kebutuhan masyarakat, antara lain: e-government (e-public service, layanan publik), e-learning (distance/open learning – layanan pendidikan), e-commerce (SME-center, untuk jaringan bisnis UKM), dan lain sebagainya.

Indonesia, kalau dilihat secara geografis, terbentang sangat luas dengan ribuan pulau dan memiliki komoditas yang bermacam-macam. Sebetulnya, secara potensial banyak potensi unggulan yang dimiliki masing-masing daerah tersebut dan dengan tingkat keunggulan yang berbeda-beda, baik skala, jenis maupun nilai ekonomisnya.

Di sisi lain, pengakuan kita akan berbagai kekayaan alam dan keunggulan yang dimiliki, tidak pada saat yang sama, mendorong kita untuk mengoptimalkan potensi itu menjadi suatu skala ekonomis yang amat sangat besar, sehingga bukan saja menjadi differensiasi melainkan menjadi nilai unggul persaingan di mancanegara.

Inisiatif pengembangan MCT, justru hadir agar bagaimana aktivitas-aktivitas yang berupa simpul-simpul kegiatan ekonomi masyarakat (UKM-usaha kecil dan menengah) yang tersebar itu bisa disambungkan, sehingga membentuk suatu jalinan industri yang bernilai tambah mulai dari bahan mentah, bahan setengah jadi, bahan jadi dan seterusnya produk jadi yang bisa diekspor.

Runtutan kegiatan yang membentuk jalinan rantai nilai (value added chain network) sebaiknya terjadi di dalam negeri, sehingga jalinan nilai tambah itu terjadi dengan jaringan ekonomi ini yang dibantu oleh penerapan teknologi informasi (TI). Jalinan keterhubungan ini biasa juga disebut sebagai Ekonomi Jaringan Domestik atau “Domestic Marketplace”.

Selain ditujukan untuk peningkatan nilai ekonomis, MCT juga sekaligus menjadi pusat interaktivitas masyarakat dalam suatu komunitas tertentu, khususnya juga sebagai upaya menjembatani kesenjangan digital (digital divide) yang terjadi. Semakin banyak MCT ini terbangun, maka akan semakin banyak anggota masyarakat yang akan terlibat dan terkait dengan aktivitas dan interaktivitas kegiatan yang dikembangkan di masing-masing MCT.

Seperti diungkapkan Kristiono, Direktur Utama, PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk., (Telkom), bahwa inisiatif pengembangan MCT ini tidak semata-mata hanya terkait dengan PT Telkom, melainkan ia akan bersifat terbuka. “Artinya, siapa saja yang memiliki concern dalam pengembangan MCT ini diharapkan akan ikut terlibat. Semakin banyak, semakin baik,” tambahnya.

Bagi Telkom, pengembangan MCT akan terkait dengan aksesibilitas dan itu persoalan penetrasi, sedang penetrasi tidak hanya di sisi komersial, melainkan juga nonkomersial, terutama berupa layanan masyarakat (USO-universal service obligation). Diakui oleh Kristiono bahwa dengan pendekatan komunitas semacam ini aksesibilitas justru bisa menjangkau masyarakat secara lebih luas dan dengan skala biaya dan efisiensi yang bisa dijaga.

Tentunya, ujar Kristiono lagi, hal itu juga harus menjadi kegiatan masyarakat itu sendiri. Jadi kalau dilihat dari pola komunikasi, Telkom sebagai mitra bisnis mereka dan mereka juga menjadi mitra bisnis Telkom. Begitu juga dengan pihak-pihak lain yang ikut terlibat dalam pengembangan MCT ini.

Telkom percaya bahwa pertumbuhannya karena orang lain juga tumbuh. Artinya Telkom tumbuh karena masyarakat juga tumbuh. Karenanya, dengan semakin banyak titik-titik yang interconnected, nggak peduli punya siapa, tapi hal itu akan menjadi bagian dari driver pertumbuhan yang akan memberikan manfaat pada banyak orang.

KRISTIONO, Direktur Utama, PT Telkom Tbk.:

"BANGUN SINERGI"

Pembangunan MCT, sebenarnya sama saja dengan pengembangan Wartel/Warnet, yang berkembang sedemikian rupa di kalangan masyarakat karena dapat memberi manfaat ekonomis. Karenanya, bagaimana mendorong masyarakat untuk juga berpikir bahwa ada alternatif pembangunan komunitas yang bermanfaat ekonomis, selain juga ada manfaat sosialnya.

Ibaratnya, sebagaimana dinyatakan dalam agama bahwa kalau Anda menghasilkan sesuatu, sebagiannya itu kan milik orang lain. Kalau Anda memiliki bisnis dan menghasilkan, wajar yang sebagaiannya itu digunakan untuk kebutuhan orang lain. Sehingga kalau MCT berhasil, ya gunakan 10-20% penghasilannya untuk kegiatan-kegiatan nonbisnis.

Namun, yang diharapkan adalah munculnya investor-investor lokal, baik pribadi maupun secara bersama, atau dari kalangan UKM yang akan mengambil manfaat luas dari adanya MCT ini, yang siap mengembangkannya.

Pengembangannya terbuka dan Telkom sebagai mitra dan penyedia konektivitasnya. Apakah bangunannya dalam bentuk konsorsium itu bisa saja. Begitu juga pembiayaannya.

Yang paling gampang, sekarang ini, saya kira bekerjasama dengan pemerintah daerah, khususnya dalam rangka otonomi daerah. Mereka memiliki power dan juga resource di daerah itu, yang dapat diagregat untuk mendorong klegiatan-kegiatan ekonomis dan pemerintah daerah juga terlibat.

Kalau mau, ada lagi akses yang lebih cepat. Bekerjasama dengan PLN, itu bagus. PLN punya pelanggan 40 juta, itu berarti akses yang sudah ada at least di rumah-rumah yang kalau diidukung dengan teknologi, itu sudah hebat.

Berarti, itu kan bisa merupakan sinergi antara Telkom, PLN, Pemda dan investor. Yang paling strategis adalah bagaimana empowering dengan Pemda. Pemda memfasilitasi, regulasi bahkan mungkin rmenyediakan resources dan sebagainya.

MCT ini diharapkan akan menjadi kepemilikan masyarakat yang akan mengambil manfaat ekonomis, sedang aksesibilItasnya bisa saja difasilitasi oleh berbagai pihak, baik Telkom atau yang lainnya, serta didukung oleh pihak-pihak lainnya yang memiliki concern dalam pembangunan ekonomi masyarakat, khususnya UKM.•

Untuk menyiasati perkembangannya, sebagaimana diungkapkan oleh Indra M. Utoyo, General Manager eBusiness, Divisi Mutimedia PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk., bahwa pengembangan MCT akan dikonsentrasikan pada basis pengembangan UKM, tentunya yang secara potensial akan berperan penting dalam mendukung keberhasilannya melalui dukungan MCT ini.

“Untuk memulainya, kita tentu mendorong dari yang paling potensial, yang siap dulu. Yang menjadi sasaran adalah para enterpreneur, agen-agen yang bisa melakukan interaksi di pasar yang mampu disuplai,” ujar Indra menambahkan. Ujung-ujungnya yang pembentukan marketplace.

Dengan menjalin komunitas atau UKM yang potensial secara ekonomis, diharapkan hal itu akan menjadi contoh yang menarik bagi siapapun yang akan terlibat dalam pengembangan MCT ini. Karena, MCT nantinya akan dikembangkan, dikelola dan diperuntukkan bagi masyarakat, terutama yang berada dalam suatu komunitas tertentu. Potensi, tidak saja ekonomis, melainkan juga kepedulian dan kesadaran masyarakat akan komunitasnya lah yang diperkirakan akan sangat mendorong perkembangan dan keberhasilan MCT ini.

Untuk itu, Telkom melalui kerjasamanya dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan sejumlah mitra lainnya telah mengembangkan sejumlah pilot proyek berupa pembangunan SME-Centers di sembilan kota, yakni Padang, Jakarta, Cirebon, Jepara, Yogya, Sidoarjo, Denpasar, Makasar, dan Balikpapan. Diakui Indra, bahwa tahun 2003 ini pengembangannya telah dilakukan di 43 sentra dimulai dari kota-kota atau simpul-simpul ekonomi yang aktivitasnya sudah luas. Setelah itu, diharapkan hal yang sama dapat dikembangkan hingga ke tingkat kecamatan.

Upaya ini diharapkan akan semakin mendorong terbentuknya model-model bisnis yang nantinya dapat dikembangkan oleh masyarakat sebagai contoh pengembangan yang bukan saja memiliki nilai tambah, melainkan potensial untuk memberikan hasil yang diinginkan, baik komunitas maupun ekonomis.

Pengembangan MCT ini, diakui Kristiono, tentu memiliki dampak terhadap Telkom. “Saya kira ini tak sekedar obigasi, pasti ada dampaknya juga terhadap Telkom. Karena, jika mereka tersambung dengan konetivitas global, mereka juga akan menarik manfaat. Bagi Telkom juga akan bermanfaat, karena mereka sebagai traffic generator. Sebagai komunitas, nantinya, mereka juga akan menjadi pusat-pusat bisnis yang akan mendorong pertumbuhan dan perkembangan binis melalui konektivitas yang lebih luas,” ujar Kristiono menambahkan.

Jadi, dalam pengembangannya, kuncinya adalah manfaat ekonomis. Karena tanpa hal itu, nggak akan bisa sustain. Apa pun model bisnisnya, pertumbuhannya tetap harus dijaga. Siapapun yang terlibat tentunya dia harus memperoleh manfaat ekonomis. Nah, persoalannya bagaimana manfaat ekonomis itu bisa dipelihara. Diharapkan, nantinya ini akan menjadi aktivitas ekonomis yang bisa menopang.

Untuk keberlangsungannya, tampaknya Telkom tak berpikir untuk menjadi driver. Justru, yang harus dilakukan bagaimana menciptakan orang lain untuk men-drive hal itu. “Telkom menempatkan diri sebagai mitra bisnis yang diharapkan hal ini akan meningkat. Kita nggak akan menangani, dan mengelola sendiri,” tambah Kristiono.

Kalau dilihat lebih jeli, sebenarnya MCT itu kan sama dengan misalnya Wartel, atau Warnet. Mereka kan nggak ada yang me-maintain, tetapi lebih sebagai suatu model bisnis yang dapat memberi manfaat ekonomis. Kalau itu besar lebih karena ia bisa memberi manfaat ekonomis. Kalau nggak ada manfaat ekonomis, ya nggak akan menarik orang untuk mengembangkan dan berinvestasi di situ.

Jadi, bottom line-nya adalah bagaimana membuat manfaat eknomis, dan itu yang justru bisa membuat MCT itu sustain. “Karenanya”, sebagaimana diakui Kristiono, “untuk memulainya yang justru di kembangkan di situ jelas harus yang menghasilkan uang, jangan yang tidak menghasilkan uang. Biar berjalan dahulu, baru kemudian dikembangkan.”

Yang juga penting menjadi perhatian dalam pengembangan MCT adalah tidak hanya aksesibilitas, melainkan juga SDM dan skema pembiaya (micro finance), yang akan sangat banyak membantu secara operasional di lapangan. Siapapun boleh saja terlibat dalam pengembangan MCT ini, namun yang akan sangat kuat mendukungnya tentunya komunitas di mana MCT itu di bangun. Investornya, diharapkan muncul dari kalangan masyarakat, baik dalam bentuk konsorsium maupun kepedulian pemerintah daerah sejalan dengan misi pengembangan otonomi daerah sekarang ini. •TI

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved