MCT
(Multipurpose Community Telecenters) merupakan tempat dimana
masyarakat bisa memperoleh dukungan teknologi komunikasi dan
informasi (ICT-Information and Communication Technology) untuk
mengakses berbagai layanan secara aman. MCT ini diharapkan
akan dapat melayani berbagai kebutuhan masyarakat, antara
lain: e-government (e-public service, layanan publik), e-learning
(distance/open learning – layanan pendidikan), e-commerce
(SME-center, untuk jaringan bisnis UKM), dan lain sebagainya.
Indonesia, kalau dilihat secara geografis, terbentang sangat
luas dengan ribuan pulau dan memiliki komoditas yang bermacam-macam.
Sebetulnya, secara potensial banyak potensi unggulan yang
dimiliki masing-masing daerah tersebut dan dengan tingkat
keunggulan yang berbeda-beda, baik skala, jenis maupun nilai
ekonomisnya.
Di sisi lain, pengakuan kita akan berbagai kekayaan alam dan
keunggulan yang dimiliki, tidak pada saat yang sama, mendorong
kita untuk mengoptimalkan potensi itu menjadi suatu skala
ekonomis yang amat sangat besar, sehingga bukan saja menjadi
differensiasi melainkan menjadi nilai unggul persaingan di
mancanegara.
Inisiatif pengembangan MCT, justru hadir agar bagaimana aktivitas-aktivitas
yang berupa simpul-simpul kegiatan ekonomi masyarakat (UKM-usaha
kecil dan menengah) yang tersebar itu bisa disambungkan, sehingga
membentuk suatu jalinan industri yang bernilai tambah mulai
dari bahan mentah, bahan setengah jadi, bahan jadi dan seterusnya
produk jadi yang bisa diekspor.
Runtutan kegiatan yang membentuk jalinan rantai nilai (value
added chain network) sebaiknya terjadi di dalam negeri, sehingga
jalinan nilai tambah itu terjadi dengan jaringan ekonomi ini
yang dibantu oleh penerapan teknologi informasi (TI). Jalinan
keterhubungan ini biasa juga disebut sebagai Ekonomi Jaringan
Domestik atau “Domestic Marketplace”.
Selain ditujukan untuk peningkatan nilai ekonomis, MCT juga
sekaligus menjadi pusat interaktivitas masyarakat dalam suatu
komunitas tertentu, khususnya juga sebagai upaya menjembatani
kesenjangan digital (digital divide) yang terjadi. Semakin
banyak MCT ini terbangun, maka akan semakin banyak anggota
masyarakat yang akan terlibat dan terkait dengan aktivitas
dan interaktivitas kegiatan yang dikembangkan di masing-masing
MCT.
Seperti
diungkapkan Kristiono, Direktur Utama, PT. Telekomunikasi
Indonesia, Tbk., (Telkom), bahwa inisiatif pengembangan MCT
ini tidak semata-mata hanya terkait dengan PT Telkom, melainkan
ia akan bersifat terbuka. “Artinya, siapa saja yang
memiliki concern dalam pengembangan MCT ini diharapkan akan
ikut terlibat. Semakin banyak, semakin baik,” tambahnya.
Bagi Telkom, pengembangan MCT akan terkait dengan aksesibilitas
dan itu persoalan penetrasi, sedang penetrasi tidak hanya
di sisi komersial, melainkan juga nonkomersial, terutama berupa
layanan masyarakat (USO-universal service obligation). Diakui
oleh Kristiono bahwa dengan pendekatan komunitas semacam ini
aksesibilitas justru bisa menjangkau masyarakat secara lebih
luas dan dengan skala biaya dan efisiensi yang bisa dijaga.
Tentunya, ujar Kristiono lagi, hal itu juga harus menjadi
kegiatan masyarakat itu sendiri. Jadi kalau dilihat dari pola
komunikasi, Telkom sebagai mitra bisnis mereka dan mereka
juga menjadi mitra bisnis Telkom. Begitu juga dengan pihak-pihak
lain yang ikut terlibat dalam pengembangan MCT ini.
Telkom percaya bahwa pertumbuhannya karena orang lain juga
tumbuh. Artinya Telkom tumbuh karena masyarakat juga tumbuh.
Karenanya, dengan semakin banyak titik-titik yang interconnected,
nggak peduli punya siapa, tapi hal itu akan menjadi bagian
dari driver pertumbuhan yang akan memberikan manfaat pada
banyak orang.
KRISTIONO, Direktur Utama,
PT Telkom Tbk.:
"BANGUN SINERGI"
Pembangunan MCT, sebenarnya sama saja dengan pengembangan
Wartel/Warnet, yang berkembang sedemikian rupa di kalangan
masyarakat karena dapat memberi manfaat ekonomis. Karenanya,
bagaimana mendorong masyarakat untuk juga berpikir bahwa
ada alternatif pembangunan komunitas yang bermanfaat ekonomis,
selain juga ada manfaat sosialnya.
Ibaratnya, sebagaimana dinyatakan dalam agama bahwa kalau
Anda menghasilkan sesuatu, sebagiannya itu kan milik orang
lain. Kalau Anda memiliki bisnis dan menghasilkan, wajar
yang sebagaiannya itu digunakan untuk kebutuhan orang
lain. Sehingga kalau MCT berhasil, ya gunakan 10-20% penghasilannya
untuk kegiatan-kegiatan nonbisnis.
Namun, yang diharapkan adalah munculnya investor-investor
lokal, baik pribadi maupun secara bersama, atau dari kalangan
UKM yang akan mengambil manfaat luas dari adanya MCT ini,
yang siap mengembangkannya.
Pengembangannya terbuka dan Telkom sebagai mitra dan penyedia
konektivitasnya. Apakah bangunannya dalam bentuk konsorsium
itu bisa saja. Begitu juga pembiayaannya.
Yang paling gampang, sekarang ini, saya kira bekerjasama
dengan pemerintah daerah, khususnya dalam rangka otonomi
daerah. Mereka memiliki power dan juga resource di daerah
itu, yang dapat diagregat untuk mendorong klegiatan-kegiatan
ekonomis dan pemerintah daerah juga terlibat.
Kalau mau, ada lagi akses yang lebih cepat. Bekerjasama
dengan PLN, itu bagus. PLN punya pelanggan 40 juta, itu
berarti akses yang sudah ada at least di rumah-rumah yang
kalau diidukung dengan teknologi, itu sudah hebat.
Berarti, itu kan bisa merupakan sinergi antara Telkom,
PLN, Pemda dan investor. Yang paling strategis adalah
bagaimana empowering dengan Pemda. Pemda memfasilitasi,
regulasi bahkan mungkin rmenyediakan resources dan sebagainya.
MCT ini diharapkan akan menjadi kepemilikan masyarakat
yang akan mengambil manfaat ekonomis, sedang aksesibilItasnya
bisa saja difasilitasi oleh berbagai pihak, baik Telkom
atau yang lainnya, serta didukung oleh pihak-pihak lainnya
yang memiliki concern dalam pembangunan ekonomi masyarakat,
khususnya UKM.• |
Untuk menyiasati perkembangannya, sebagaimana diungkapkan
oleh Indra M. Utoyo, General Manager eBusiness, Divisi Mutimedia
PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk., bahwa pengembangan MCT
akan dikonsentrasikan pada basis pengembangan UKM, tentunya
yang secara potensial akan berperan penting dalam mendukung
keberhasilannya melalui dukungan MCT ini.
“Untuk memulainya, kita tentu mendorong dari yang paling
potensial, yang siap dulu. Yang menjadi sasaran adalah para
enterpreneur, agen-agen yang bisa melakukan interaksi di pasar
yang mampu disuplai,” ujar Indra menambahkan. Ujung-ujungnya
yang pembentukan marketplace.
Dengan menjalin komunitas atau UKM yang potensial secara ekonomis,
diharapkan hal itu akan menjadi contoh yang menarik bagi siapapun
yang akan terlibat dalam pengembangan MCT ini. Karena, MCT
nantinya akan dikembangkan, dikelola dan diperuntukkan bagi
masyarakat, terutama yang berada dalam suatu komunitas tertentu.
Potensi, tidak saja ekonomis, melainkan juga kepedulian dan
kesadaran masyarakat akan komunitasnya lah yang diperkirakan
akan sangat mendorong perkembangan dan keberhasilan MCT ini.
Untuk itu, Telkom melalui kerjasamanya dengan Bank Rakyat
Indonesia (BRI) dan sejumlah mitra lainnya telah mengembangkan
sejumlah pilot proyek berupa pembangunan SME-Centers di sembilan
kota, yakni Padang, Jakarta, Cirebon, Jepara, Yogya, Sidoarjo,
Denpasar, Makasar, dan Balikpapan. Diakui Indra, bahwa tahun
2003 ini pengembangannya telah dilakukan di 43 sentra dimulai
dari kota-kota atau simpul-simpul ekonomi yang aktivitasnya
sudah luas. Setelah itu, diharapkan hal yang sama dapat dikembangkan
hingga ke tingkat kecamatan.
Upaya ini diharapkan akan semakin mendorong terbentuknya model-model
bisnis yang nantinya dapat dikembangkan oleh masyarakat sebagai
contoh pengembangan yang bukan saja memiliki nilai tambah,
melainkan potensial untuk memberikan hasil yang diinginkan,
baik komunitas maupun ekonomis.
Pengembangan MCT ini, diakui Kristiono, tentu memiliki dampak
terhadap Telkom. “Saya kira ini tak sekedar obigasi,
pasti ada dampaknya juga terhadap Telkom. Karena, jika mereka
tersambung dengan konetivitas global, mereka juga akan menarik
manfaat. Bagi Telkom juga akan bermanfaat, karena mereka sebagai
traffic generator. Sebagai komunitas, nantinya, mereka juga
akan menjadi pusat-pusat bisnis yang akan mendorong pertumbuhan
dan perkembangan binis melalui konektivitas yang lebih luas,”
ujar Kristiono menambahkan.
Jadi, dalam pengembangannya, kuncinya adalah manfaat ekonomis.
Karena tanpa hal itu, nggak akan bisa sustain. Apa pun model
bisnisnya, pertumbuhannya tetap harus dijaga. Siapapun yang
terlibat tentunya dia harus memperoleh manfaat ekonomis. Nah,
persoalannya bagaimana manfaat ekonomis itu bisa dipelihara.
Diharapkan, nantinya ini akan menjadi aktivitas ekonomis yang
bisa menopang.
Untuk keberlangsungannya, tampaknya Telkom tak berpikir untuk
menjadi driver. Justru, yang harus dilakukan bagaimana menciptakan
orang lain untuk men-drive hal itu. “Telkom menempatkan
diri sebagai mitra bisnis yang diharapkan hal ini akan meningkat.
Kita nggak akan menangani, dan mengelola sendiri,” tambah
Kristiono.
Kalau dilihat lebih jeli, sebenarnya MCT itu kan sama dengan
misalnya Wartel, atau Warnet. Mereka kan nggak ada yang me-maintain,
tetapi lebih sebagai suatu model bisnis yang dapat memberi
manfaat ekonomis. Kalau itu besar lebih karena ia bisa memberi
manfaat ekonomis. Kalau nggak ada manfaat ekonomis, ya nggak
akan menarik orang untuk mengembangkan dan berinvestasi di
situ.
Jadi, bottom line-nya adalah bagaimana membuat manfaat eknomis,
dan itu yang justru bisa membuat MCT itu sustain. “Karenanya”,
sebagaimana diakui Kristiono, “untuk memulainya yang
justru di kembangkan di situ jelas harus yang menghasilkan
uang, jangan yang tidak menghasilkan uang. Biar berjalan dahulu,
baru kemudian dikembangkan.”
Yang juga penting menjadi perhatian dalam pengembangan MCT
adalah tidak hanya aksesibilitas, melainkan juga SDM dan skema
pembiaya (micro finance), yang akan sangat banyak membantu
secara operasional di lapangan. Siapapun boleh saja terlibat
dalam pengembangan MCT ini, namun yang akan sangat kuat mendukungnya
tentunya komunitas di mana MCT itu di bangun. Investornya,
diharapkan muncul dari kalangan masyarakat, baik dalam bentuk
konsorsium maupun kepedulian pemerintah daerah sejalan dengan
misi pengembangan otonomi daerah sekarang ini. •TI |