Volume I Nomor 08 - Juni 2003
Call Center
 
 

Anto, mahasiswa sebuah sekolah tinggi komputer di Yogya baru saja datang ke rumahnya, Muntilan, Magelang, kota kecil di dekat Candi Borobudur. Dia baru saja libur semesteran. Ayahnya adalah pengusaha pemahat patung batu kali. Batu-batu ini asalnya dari Gunung Merapi. Berdasar catatan sejarah, bahan bangunan Borobudur berasal dari gunung berapi yang terkategori paling aktif di dunia. Orang tua Anto mempunyai 10 karyawan yang setiap hari memahat patung-patung batu pesanan instansi dan perorangan di seluruh Indonesia.

Terkadang pesanan berupa pembuatan miniatur stupa Borobudur. Tidak ada yang tahu mengapa penduduk sekitar Borobudur mahir memahat batu kali yang keras itu. Mungkin merekalah pewaris pemahat Borobudur di jaman Raja Smaratungga di kala membangun candi itu.

Sudah tiga bulan ini Anto membaca segala macam uraian tentang e-Business, e-Commerce dan hal terkait lainnya. Ia berpikir, semestinya usaha bapaknya bisa menerapkan teknologi ini. Bukankah kata para ahli, teknologi ini bisa mensejajarkan perusahaan kecil dengan perusahaan besar?

Begitu dia membeberkan rencananya, bapaknya langsung setuju. Ayahnya yakin kalau anaknya yang paling pintar di desanya itu pasti punya perhitungan yang matang. Jika tidak, toh buat apa dia sekolah tinggi-tinggi.

Proyekpun dimulai. Patung-patung mulai diatur, dan diambil gambarnya. Untunglah dia dipinjami temannya yang kaya, sebuah kamera digital yang bisa merekam gambar patung-patung yang dibuat Bapaknya itu. Gambar-gambar berformat .avi atau .jpg telah ia susun di komputernya.

Sebelum menyusun web, ia harus menyusun dulu RPD (respon yang paling diinginkan). RPD web itu berupa orang yang melihat dan berminat dapat memesan patung melalui web yang dia buat.

Akhirnya dia mulai membuat web. Dia telah mengamati yahoo.com, google.com, bahwa yang penting bukan grafik, tapi teks. Dia tahu bahwa yang bisa menjual teks bukannya grafik. Oleh karenanya, walau yang dia jual adalah patung, tapi dia sangat sedikit mencantumkan gambar patung. Yang dia muat lebih banyak informasi tentang sejarah pembuatan patung, riwayat Borobudur, bahan patung, keistimewaan patung Muntilan dibanding daerah lainnya.

Satu hal yang merisaukan, bagaimana meyakinkan calon pembeli agar mereka yakin bahwa web-nya benar-benar akan mengirim barang sesuai pesanan, dan bukannya web yang hanya mencuri nomor kartu kredit.

Dia mendapat akal. Diperiksanya catatan para pembeli patung yang ada. Dia menelpon lima orang. Anto menginginkan adanya kesaksian pembeli patung tentang kepuasan mereka membeli patung dari perusahaan Bapaknya. Mereka setuju, dan memperbolehkan komentar mereka dimuat di web-nya. Masih kurang meyakinkan, nanti jangan-jangan calon pembeli menyangka kesaksian mereka dibuat-buat. Akhirnya atas persetujuan mereka di web itu dicantumkan alamat lengkap dan nomor telpon. Sebagai imbalannya, Anto membuat program komputer sederhana untuk mencatat inventori barang pelanggan itu.

Masih kurang meyakinkan. Tidak lupa dia mencantumkan nama dan alamat lengkap perusahaan bapaknya, lengkap dengan No fax, dan kodepos. Masih kurang meyakinkan, Anto akhirnya ke kantor Kabupaten Magelang agar Dinas Kebudayaan dan Dinas Industri dan Perdagangan memberikan surat penguat. Akhirnya didapatlah surat dari dua instansi itu. surat itu kemudian di-scan di warnet, dan dicantumkan di web.

Web-nya didaftarkan ke Network Solutions (www.netsol.com) agar mendapat domain. Domain yang didapat adalah www.borobudur-heritage.com. Web sudah selesai, namun masih berbahasa Indonesia. Dia inginnya yang ‘go global’, berarti harus berbahasa Inggris. Celakanya dia tidak mahir bahasa itu, maka dia datang ke tetangganya yang kebetulan guru kursus bahasa Inggris. Guru itu setuju untuk menerjemahkan web-nya. “Nggak usah bayar, nanti saja kalau sudah sukses baru bayar. Toh saya sudah ikut gagah, tulisan saya dilihat orang seluruh dunia, “ kata pak Guru itu.

Segera dia memesan web space untuk menampung web-nya. Setelah searching cukup lama, akhirnya ditemukan perusahaan di Kanada yang menyediakan ruang untuk web, dan sekalian sarana pembayaran melalui kartu kredit. Perusahaan itu memungut 7% dari harga barang yang terjual. “No problem,” pikirnya, toh dia tidak repot lagi mengurus sarana pembayaran pakai kartu kredit itu. Dia sendiri juga tidak tahu harus ke bank mana di Indonesia jika ingin web-nya bisa menerima kartu kredit. Perusahaan di Kanada itu akan mengirim sebulan dua kali uang hasil penjualan patungnya.

Dia menyadari bahwa web-nya tidak berarti apa-apa jika tidak diketahui orang. Maka ia segera mendaftarkan web-nya ke beberapa search engine, mulai dari yahoo.com, google.com, altavista.com. Dia sudah menyiapkan keyword yaitu kata-kata yang mungkin ditemukan oleh pengguna internet melalui search engines tersebut. Inilah keyword-nya, “statue,” “borobudur,” “Indonesia,” tourism,” “stone-carved,” “art.”

Tidak lupa dia membuat lima artikel tentang patung dan Borobudur. Tanpa kesulitan ia mampu membuat lima buah artikel itu. Tidak heran, toh tiap hari dia bergaul dengan patung-patung itu. Sekali lagi dia meminta guru bahasa Inggris untuk menerjemahkan. Setelah selesai, dia mulai mengirimkan artikel-artikel itu pada newsletter tentang pariwisata dan seni. Dengan google.com, mudah sekali menemukan newsletter semacam ini. Ia tahu kalau penyedia newsletter sangat menunggu artikel. Mereka tidak akan memberi imbalan kepada penulis. Sebagai imbalannya, mereka membolehkan sedikit iklan di akhir artikel. Inilah yang dia tulis di akhir di akhir tiap artikel. “Author: Anto Setiono, CEO www.borobudur-heritage.com, The Most Artistic and Original Stone-Carved from the Wonder of Borobudur.”

Dia berharap para pembaca newsletter itu akan membaca artikelnya, dan biasanya pembaca akan membaca siapa pengarangnya. Setelah diketahui pengarangnya, dia mengharapkan pembaca akan mengklik web-nya.

Anto tahu kalau promosi harus integrated, gabungan antara online dan offline. Maka dia membuat kartu nama, dan brosur yang ia desain sendiri. Di sore hari, ia menyuruh para pemahat membagikan brosur ini kepada para turis yang berkunjung di Borobudur.

Liburan berakhir Anto harus kembali ke Yogyakarta. Di sana, ia mendaftarkan web-nya pada dinas pariwisata propinsi DIY. Tidak lupa ia singgah ke hotel Ambarukmo dan Hotel Garuda untuk menyebarkan brosur ke tamu-tamu hotel.

Dengan berdebar-debar dia menunggu e-mail pesanan. Seminggu, dua minggu, satu bulan tidak ada pesanan. Tiba-tiba ada e-mail dari perusahaan Kanada tempat ia meletakkan web-nya. Ia mendapat ORDER, 5 buah patung miniatur stupa dari orang Austria. Orang ini pernah ke Indonesia tapi tidak sempat beli. Ia sangat berterima kasih ada orang Indonesia yang menjual patung batu ini.

Singkat cerita, ia berhasil mengirim patung-patung itu ke Austria dengan selamat. Tidak lupa ia memberi bonus berupa patung ganesha mini. Inilah “kisah” hipotetis sebuah usaha kecil yang ingin memanfaatkan e-Business dalam memajukan bisnisnya.

Dwi Suryanto
• Praktisi dan Pengamat New Economy tinggal di Bandung

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved