Volume I Nomor 08 - Juni 2003
Call Center
 
 
SIDE BAR

Faktor yang Menyebabkan Kegagalan

 

Ancaman (threat) dan kerentanan keamanan (vulnerability) adalah dua istilah yang sering dipakai bersama-sama dalam pembicaraan masalah keamanan jaringan. Karena eratnya hubungan kedua terminologi ini, orang kadang keliru dalam penggunaannya. Sekedar klarifikasi, berikut ini merupakan contoh ancaman dan kerentanan. Pintu rumah yang tidak terkunci (kerentanan) akan mudah dimasuki pencuri (ancaman). Sistem akses yang mempergunakan password, yang terdiri atas kombinasi empat huruf (kerentanan) akan mudah ditebak orang dengan melakukan brute-force attack (ancaman) dalam tempo yang relatif singkat. Karyawan yang bertugas sebagai programmer dan sekaligus sebagai operator program yang dibuatnya (kerentanan) merupakan potensi malpraktik yang sangat mungkin dilakukan bagi kepentingan perorangan (ancaman).

Tulisan ini bukan ditujukan untuk membahas perbedaan terminologi tetapi lebih untuk menyikapi pertanyaan yang sering diajukan; yaitu berapa persen suatu teknologi sekuriti dapat mencegah atau mendeteksi suatu ancaman dan kerentanan keamanan jaringan ?
Ini adalah pertanyaan yang terus terang sulit dijawab. Pertama, dasar apa yang digunakan dalam menghitung persentase? Apakah jumlah hari dalam setahun dimana kita aman terhadap serangan, atau jumlah serangan atau macamnya serangan. Kedua, kalau kita menghitung persentase berdasarkan macam serangan/ancaman misalnya, kita tidak tahu secara pasti jumlah macam serangan/ancaman. Ketiga, dan ini merupakan yang terpenting yang perlu diperhatikan dan merupakan inti dari tulisan ini adalah teknologi tidak dapat berdiri sendiri tanpa dua faktor lainnya, yaitu sumber daya manusia dan proses.

Proses
Banyaknya informasi tentang kerentanan dan ancaman terhadap suatu jaringan membutuhkan penanganan yang serius. Sebagai gambaran ada 1090 jumlah kerentanan sistem komputer yang dilaporkan ke Carnegie Melon Computer Emergency Response Team (CERT) (http://www.cert.org/stats/cert_stats.html) pada tahun 2000, sedang untuk tahun 2001 dan 2002 berturut-turut sebanyak 2437 dan 4129. Kalau dirata-rata ada 16 kerentanan keamanan yang harus dicermati tiap hari kerjanya di tahun 2002; suatu pekerjaan yang cukup menyita waktu untuk menimbang, mengevaluasi tingkat risiko, serta dalam melakukan langkah perbaikan.

Secara garis besar ada empat tahapan yang dapat dilakukan dalam manajemen ancaman dan kerentanan keamanan sistem jaringan, yaitu :

1. Inventarisasi sistem. Mengetahui peralatan dan aplikasi apa saja yang ada dalam perusahaan sangat menentukan apakah informasi tentang ancaman dan kerentanan keamanan relevan bagi perusahaan tersebut.

2. Menentukan sumber informasi. Mendapatkan informasi kerentanan sistem bukan hal yang susah; dengan menggunakan search engine seperti Google, kita bisa mendapatkan puluhan web site yang jika ditotal berisikan ribuan halaman. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita mendapatkan informasi yang relevan bagi jaringan kita secara tepat waktu dan praktis. Beberapa situs yang dapat dijadikan acuan, antara lain CERT (www.cert.org), ISS (www.iss.net), dan SecurityFocus (www.securityfocus.com).

3. Mendeteksi kerentanan sistem dan memonitor ancaman. Langkah manual yang dapat dilakukan dalam mendeteksi kerentanan sistem adalah dengan memadankan sistem yang ada dengan informasi kerentanan yang didapat. Sedangkan untuk memonitor ancaman, hal yang umum dilakukan adalah dengan melihat log suatu sistem. Hasil yang diharapkan dari proses ini adalah berupa laporan tentang kerentanan keamanan dan ancaman terhadap jaringan yang ada. Dalam proses ini juga perlu ditetapkan prosedur distribusi laporan; siapa yang perlu diberikan, informasi apa saja yang perlu diberikan, kapan perlu diberikan. Dalam prakteknya langkah manual ini akan sangat menyita waktu. Untuk itu, teknologi sekuriti seperti Vulnerability Scanner dan Intrusion Detection System berperan dalam mempercepat proses.

4. Pemecahan masalah kerentanan dan respon terhadap ancaman. Proses ini dimulai dengan penetapan skala prioritas terhadap masalah kerentanan maupun ancaman. Selanjutnya diikuti dengan prosedur dalam melakukan perbaikan maupun dalam menetapkan tindakan yang perlu diambil terhadap suatu ancaman. Prosedur roll-back harus dimasukkan dalam proses ini untuk mengantisipasi seandainya proses perbaikan tidak berjalan sesuai rencana.

Sumber Daya Manusia
Tim yang terlibat dalam manajemen ini sebaiknya terdiri atas manajemen tingkat atas, perwakilan dari unit bisnis, internal auditor, staf teknik seperti administrator sistem dan jaringan, staf sekuriti, dan staf lain jika diperlukan, seperti staf dari bagian legal. Tugas dan tanggung jawab juga harus ditetapkan dalam tim ini seperti tugas melakukan pendeteksian, monitoring, perbaikan atas kerentanan, pengambilan keputusan dalam menetapkan tindakan yang diperlukan terhadap ancaman dan sebagainya. Selain itu perlu diidentifikasi keahlian (skill) yang dibutuhkan untuk menunjang proses manajemen.

Teknologi
Teknologi digunakan untuk mempercepat proses pendeteksian kerentanan dan monitoring ancaman secara lebih akurat. Teknologi Vulnerabilities Scanner misalnya digunakan untuk mendeteksi mulai dari sistem operasi, aplikasi-aplikasi yang terpasang serta kerentanan keamanan yang ada dari suatu mesin secara otomatis. Sedangkan teknologi Intrusion Detection System akan sangat membantu mendeteksi ancaman berdasarkan hasil monitoring trafik paket data maupun log suatu sistem. Laporan yang dihasilkan dari produk sekuriti ini biasanya juga dapat dengan mudah diklasifikasikan berdasarkan tingkat risiko, sistem operasi atau jenis kerentanan beserta cara perbaikannya.•


Agus Pracoyo •
channel manager / security consultant pada PT. Indokom Primanusa dengan alamat e-mail: pracoyo@ipnsecurity.com

© 2003 eBizzAsia. All rights reserved