|
“Best
practices” merujuk pada praktik bisnis yang dilakukan
dengan sangat baik melebihi apa yang dapat dilakukan perusahaan
lain dalam suatu industri tertentu. Dengan kata lain, tak
ada perusahaan lain yang melakukannya lebih baik. Best practices
dapat diraih melalui inovasi di dalam perusahaan. Namun, kalau
kita perhatikan akan ada banyak sekali inovasi yang dilakukan
dan diterapkan oleh banyak perusahaan di mana saja.
Karenanya untuk mencapai best practices di Call Center Anda,
sebaiknya Anda melihat ke luar dinding perusahaan Anda untuk
melaihat apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Benchmarking
merupakan salah satu metodologi yang membantu Anda untuk melakukan
seperti itu. Anda harus menyadari bahwa melakukan benchmarking
dengan mitra yang kualitasnya lebih rendah dari yang terbaik
di kelasnya mungkin saja meningkatkan kinerja Anda, tetapi
Anda tidak akan pernah mencapai kinerja tingkat tertinggi
yang mungkin dicapai.
Dari semua metoda melakukan benchmarking, dua yang sangat
banyak dilakukan adalah “competitive benchmarking”
dan “process benchmarking”. Jika Anda ingin menempatkan
tingkat kinerja perusahaan Anda dalam lingkungan indusri Anda
berada, competitive benchmarking merupakan pilihan yang tepat.
Dengan competitive benchmarking Anda mengukur kinerja Call
Center Anda langsung berhadapan dengan kompetitor Anda.
Sebaliknya, process benchmarking, mengukur proses atau praktik
yang sangat penting bagi peningkatan kinerja Call Center Anda,
dan melakukan hal itu di seluruh industri. Tipe benchmarking
ini menhgidentifikasi best practices yang digunakan, lepas
dari posisi Anda di dalam industri, dan selanjutnya mempelajari
dengan sungguh-sungguh proses tersebut dan menerapkan proses
terbaik itu di Call Center Anda.
Benchmarking bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dilakukan.
Pengalaman beberapa perusahaan menunjukkan hanya kalau direncanakan
dan dilakukan dengan baik, ia dapat berhasil membuka perusahaan
terhadap metode dan ide-ide baru.
Meski, Anda dapat menggunakan konsultan yang mahal untuk melakukannya,
namun tak mungkin Anda melakukannya sendiri. Jika Anda yakin
suatu peningkatan nyata dapat Anda lakukan terhadap suatu
layanan, proses atau praktik tertentu, tetapi Anda tidak tahu
perubahan-perubahan apa yang akan dilakukan, benchmarking
merupakan cara mencari tahu mengenai hal itu.
Menyiapkan benchmark terhadap suatau layanan, proses dan praktik
menghendaki perusahaan Anda untuk memeriksa secara hati-hati
prosesnya sendiri sebelum melakukan kegiatan benchmarking.
10 Langkah Benchmarking
Sebelum melakukan seluruh prosedur benchmarking, perusahaan
Anda harus membangun suatu tim yang terdiri dari 5 hingga
10 orang yang akan melaksanakan benchmark. Seorang pimpinan
harus ditentukan terlebih dahulu yang akan bertanggungjawab
terhadap proyek tersebut, dan juga komunikasi di antara anggota
tim dengan manajemen. Anda harus sadar bahwa suatu benchmark
dapat berlangsung dari 5 hingga 12 bulan, dan hasil terbaik
akan diperoleh hanya jika Anda melakukannya terus menerus.
Berikut ini, Robert Camp, yang selama bertahun-tahun menjabat
sebagai manajer benchmarking competency di perusahaan yang
memelopori benchmarking, Xerox Corporation, menawarkan sejumlah
langkah penting dalam melakukan benchmarking. Langkah-langkah
ini, setidaknya berdasarkan pada pengalaman yang diperolehnya
selama ini.
Langkah 1
Identifikasi dan dokumentasikan proses, praktik atau layanan
yang akan di-benchmark.
Pertama kali sangat penting memastikan bahwa fokus utama Anda
dalam melakukan benchmark. Kesalahan umum dalam melakukan
benchmarking adalah mempelajari begitu banyak faktor dan parameter
pada waktu yang sama, yang berakibat terkumpulnya banyak data
tanpa hasil yang dapat dikerjakan. Jika mungkin, batasi cakupan
benchmarking hanya dalam lingkup yang mungkin diselesaikan
hanya dalam 90 hari. Perhatian kalangan eksekutif cukup sempit,
dan karenanya hasil-hasil yang terukur akan menjadi kemestian
untuk dibiayai guna mencapai hasil yang diinginkan.
Langkah 2
Identifikasi perusahaan atau sekelompok perusahaan yang akan
menjadi sasaran benchmark Anda terhadap sejumlah proses tertentu.
Ini merupakan proses pencarian dan anggota tim Anda harus
membuat daftar perusahaan potensial yang akan di-benchmark.
Penyelidikan yang intensif perlu dilakukan terhadap perusahaan
tersebut agar daftar yang dibuat dapat lebih fokus, sehingga
Anda pun akan semakin tertantang untuk memilih mana yang benar-benar
tepat. Anda mungkin tidak ingin atau dapat mem-benchmark kompetitor
langsung Anda. Sebaliknya, Anda mungkin menyukai mem-benchmark
perusahaan yang “serupa”. Misalnya sebuah perusahaan
pembuat mesin mobil akan melakukan benchmark ke perusahaan
pembuat “chip”, karena masing-masing membuat dan
memasarkan “mesin” yang beroperasi di dalam produk-produk
perusahaan lainnya.
Langkah 3
Kumpulkan dan simpan data mengenai perusahaan-perusahaan yang
akan di benchmark.
Robert Camp merekomendasikan bahwa proses ini harus dilakukan
baik secara internal maupun eksternal. Penggunan “business
databases” yang menyediakan Anda dengan competitive
intelligence, sejarah perusahaan, pengembangan produk dan
informasi industri sangat diusulkan.
Langkah 4
Analisis data.
Dengan menganalisa data Anda akan mengetahui jurang (gaps)
antara praktik perusahaan Anda dengan praktik-praktik terbaik
yang dilakukan perusahaan-perusahaan lain dalam lingkungan
industri Anda.
Langkah 5
Kinerja mendatang proyek Anda.
Kompetisi tak berdiam diri, melainkan terus meningkat, yang
semakin mendorong Anda untuk terus mengikuti perkembangannya.
Karenanya, hal ini membutuhkan analisis dan pemahaman mengenai
tren industri untuk melihat seberapa cepat Anda dan kompetitor
Anda berubah. Langkah ini akan menjaga hasil yang akan Anda
dapatkan tidak mudah bertahan alias kadaluarsa.
Langkah 6
Komunikasikan hasilnya dan diterima di lingkungan perusahaan
Anda.
Mendapat tanggapan dari anggota tim yang kritis
merupakan suatu tantangan. Dengan mengokunikasikan hasilnya,
Anda meningkatkan kemungkinan untuk diterima oleh kalangan
manajemen senior, dan yang lebih penting oleh karyawan yang
diharapkan untuk melakukan perubahan dan peningkatan.
Langkah 7
Buat tujuan yang akan dicapai.
Setelah menetapkan pencarian dan strategi mencarinya, tim
harus menyampaikan rekomendasi akhirnya mengenai sasaran dan
bagaimana organisasi harus berubah untuk mencapai tingkat
kinerja yang baru.
Langkah 8
Bangun “action plan” untuk masing-masing tujuan.
Rencana tersebut harus merinci tugas-tugas yang terkait, termasuk
nama-nama spesifik dan tanggal-tanggal yang terkait dengan
tugas masing-masing. Setiap orang bertanggungjawab untuk setiap
proses harus terlibat dalam membangun rencana-rencana perubahan
tersebut.
Langkah 9
Implementasikan dan pantau hasilnya.
Langkah ini, yang biasanya dilakukan oleh suatu kelompok pengimplementasi
dan para manajer mereka, sangat penting. Itu termasuk mengumpulkan
data pada tataran kinerja yang baru, menggunakan tim problem-solving
untuk menyelidiki isu-isu tertentu, dan menyesuaikan proses
peningkatannya jika sasarannya belum tercapai.
Langkah 10
Mulai prosesnya sekali lagi, selangkah demi selangkah.
Sepanjang perusahaan Anda, industri Anda dan pelanggan Anda
terus berubah, langkah ini sangat penting. Seberapa sering
Anda harus memulai proses itu akan tergantung seberapa cepat
lingkungan Anda berubah.
Bidang-bidang yang biasanya di-benchmark adalah:
1. Biaya pengoperasian Call Center (center costs),
2. Metriks Kinerja (performance metrics),
3. Kepuasan Pelanggan (caller satisfaction),
4. Pusat Strategis (center strategy),
5. Sumber daya manusia (human resources),
6. Proses aliran kerja (call flow work processes),
7. Pengetahuan pelanggan dan agen (caller knowledge and agent
knowledge),
8. Integrasi teknologi (technology integration),
9. Fasilitas (facilities). ••
|