|
Pernahkan
Anda ikut serta dalam sebuah seminar, workshop atau kongres
di sebuah hotel atau gedung pertemuan, namun tiba-tiba internet
sebagai sarana vital yang sangat dibutuhkan mengalami gangguan
koneksi? Itu belum seberapa, jika Anda sebagai pelaksana,
ketika akan mengadakan training atau workshop untuk beberapa
staf Anda, mendadak Anda harus ikut memboyong perangkat kerja
berupa komputer plus menyediakan jaringan internet agar kegiatan
dapat berjalan lancar.
Karenanya, biasanya, ada pertimbangan matang untuk mencari
tempat kegiatan semacam itu yang layak dan memenuhi persyaratan,
kalau tidak mau menghadapi masalah, yang bukan tidak mungkin
membuyarkan image kegiatan yang direncanakan sebelumnya.
Jika mengalami kondisi seperti itu, Polaris Technology Center
(PTC) bisa menjadi solusinya. Sesuai dengan namanya, PTC merupakan
pusat pertukaran informasi mengenai teknologi, baik baru maupun
lama. Tempat tersebut dikelola oleh PT Jaring Semesta Infosolusi
dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas kegiatan yang canggih,
yang cocok digunakan, antara lain, untuk kongres atau sekedar
workshop, konperensi pers, dan kegiatan bisnis lainnya yang
membutuhkan dukungan teknologi.
“Bisnis kami sangat simpel,” kata Henry Iswaratioso,
Executive Director JSI kepada eBizzAsia. Menurut Henry, bak
cerita anak yang biasa di tulis oleh penulis legendaris asal
Inggris Enid Blayton, kekompakkan dan kesetiakawanan sejak
kecil ternyata mampu mewujudkan sebuah cita-cita bersama.
Adalah enam sekawan, Henry bersama lima sahabatnya yang lain,
Raymon Yunarouw, Chairul Sugiharto, Andi Zein, Ramses Korompis,
dan Eddy Dharma berteman sejak mereka belum mengenal bangku
sekolah. Ketika mereka telah berhasil menyelesaikan sekolah
tinggi masing-masing, ternyata mereka memiliki pandangan yang
sama tentang satu hal.
“Kami bercita-cita dapat memberikan awareness kepada
masyarakat bagaimana perkembangan dan kemajuan teknologi,
baik di Indonesia maupun di dunia. Karena menurut pandangan
kami, teknologi sangat berguna bagi kemajuan usaha, lifestyle
dan berbagai bidang lainnya termasuk pendidikan. Sayangnya
teknologi di Indonesia berkembang dalam ruang lingkup kecil,
padahal jika bicara produk tidak ketinggalan. Tetapi, yang
mengerti tentang produk atau teknologi terbaru hanya orang-orang
tertentu saja. Jadi, pasarnya sangat kecil, padahal teknologi
seharusnya diketahui dan dimanfaatkan oleh orang banyak,”
ujar Henry memberikan latar belakang berdirinya PTC.
Alasan lainnya menurut Henry, penginformasian tentang produk
dan teknologi baru kepada masyarakat lewat seminar atau kongres
hanya membidik kalangan tertentu. Sehingga masyarakat kehilangan
kesempatan untuk dapat ikut serta dalam memperoleh informasi
tersebut. “Untuk itu kami membuat tempat seperti ini,
yang terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi setiap hari.
Dengan begitu, informasi teknologi baru yang datang dari manapun
dapat diperoleh dari tempat kami,” tambahnya.
Dengan bermodalkan uang sebesar Rp. 2 miliar, enam sekawan
pada bulan September lalu memperkenalkan bisnis baru yang
diklaim oleh Henry bahwa PTC adalah bisnis baru dan pertama
kali ada di dunia. “Kami bersyukur, ternyata PTC mendapatkan
tanggapan yang baik dari masyarakat,” tukas jebolan
SMA I Tarakanita Jakarta yang melanjutkan S1 di Amerika dan
menggaet gelar Master Bisnisnya di Tokyo, Jepang.
 |
| Henry Iswaratioso, Executive
Director JSI |
Meski tanggapan cukup positif, namun Henry dan kawan-kawan
sadar kondisi masyarakat di tanah air memiliki sifat wait
and see. Karena itu, manajemen PTC lebih bersikap agresif
dengan menerapkan sistem jemput bola. “Kami merangkul
vendor-vendor untuk mendukung bisnis kami. Sejauh ini PT Telkom,
Bhineka, Samsung dan Digital Studio telah memberikan dukungan
nyata pada kami.
Selain itu, kami juga mengajak vendor dan juga menawarkan
pada perusahaan-perusahaan untuk menyelenggarakan event di
tempat kami. Dan sejauh ini, dalam satu bulan sejak kami berdiri
minimal dua hingga tiga event besar bisa kami selenggarakan
di tempat ini,” kata Henry panjang lebar.
Salah satunya adalah workshop tentang on-line trading, merangkul
vendor yang memiliki software on-line trading, peserta yang
berminat dapat membeli undangan. Contoh lainnya adalah menggelar
workshop ketika Intel meluncurkan produk baru. PTC akan akan
menghubungi perusahaan-perusahaan yang memang membutuhkan
teknologi terbaru tersebut untuk ikut serta. Setelah pelaksanaan
workshop selesai, baru kemudian Polaris memberikan kesempatan
pada masyarakat luas untuk ikut serta mengetahui dan memahami
teknologi tersebut. Baik perusahaan maupun masyarakat memiliki
kesempatan yang sama untuk menggali teknologi tersebut sedalam-dalamnya,
karena produk atau teknologi baru yang diperkenalkan akan
disediakan di tempat itu.
Meskipun terbuka untuk umum, namun PTC menerapkan sistem membership.
Pihak manajemen tidak bersikap kaku mengingat Polaris baru
berkembang. “Setiap member dikenakan biaya mulai dari
Rp. 50.000,-, Rp. 100.000,- atau Rp. 200.000,- dan seterusnya.
Dengan uang tersebut mereka mendapatkan waktu tertentu. Jadi
menggunakan fasilitas, waktu yang terpakai akan memotong uang
yang didepositkan, seolah sistem prabayar.
Bagi non-member juga dapat menggunakan fasilitas yang tersedia.
Pengunjung kalangan ini biasanya datang dari luar Jakarta,
seperti Bandung misalnya. Untuk dapat menggunakan fasilitas,
mereka yang bukan member, dikenakan biaya Rp. 10.000,- setiap
jamnya. Fasilitas yang disediakan sama, baik member maupun
non-member. Tujuan membership ini lebih untuk membangun komunitas
Polaris di masa datang,” kata Henry menerangkan.
Fasilitas yang tersedia berupa 120 buah PC Pentium 4 dengan
monitor LCD (Liquid Crystal Digital), juga proyektor, multimedia
audio, dan jaringan internet dengan kapasitas 1,5 Mbps yang
disediakan Telkom. Dengan membership dan sekitar 20 oran non-member
yang menggunakan fasilitas, diperkirakan pengembalian modalnya
akan tercapai dalam 2 tahun.
Selain bersaing dengan hotel atau tempat-tempat pertemuan
lainnya, PTC juga sering dikesankan sebagai warnet. Sebenarnya
simpel saja, ujar Henry, sesuai namanya PTC merupakan pusat
teknologi dengan banyak komputer. Namun, gambaran yang ingin
ditampilkan adalah bahwa teknologi bukan sekedar produk, tapi
yang juga penting adalah content-nya. Karena, dewasa ini,
PC itu telah menjadi komoditi, sedang yang mengalami perubahan
cepat adalah content-nya. Content-nya yang sesungguhnya akan
berpengaruh besar.
“Seperti majalah yang sering menerima produk untuk di
test dan direview dalam bentuk tulisan, di sini test dan review
dilakukan langsung oleh masyarakat,” ujar Henry menambahkan.
•jl |