|
Kebutuhan terhadap tersedianya layanan Call Center, saat
ini, bukan lagi sesuatu yang asing, melainkan sudah jamak
diinginkan kalangan bisnis. Hal ini dimaksudkan untuk lebih
memberikan layanan kepada berbagai kalangan di luar, terutama
pelanggan dan yang terkait dengan bisnis dan layanan yang
diberikan oleh suatu perusahaan, lembaga atau institusi bisnis
lainnya.
Namun, yang terutama banyak memanfaatkan dan mengaplikasikan
Call Center adalah kalangan bisnis, lebih spesifik lagi yang
terkait langsung dengan pelanggan, misalnya saja industri
perbankan. Karena, Call Center diharapkan akan mampu menjembatani
antara perusahaan dengan pelanggan, sehingga akan terjadi
interaksi yang positif, baik terkait dengan informasi perusahaan
atau produk, peningkatan layanan, promosi dan pemasaran maupun
dalam mengatasi permasalahan yang mungkin dihadapi pelanggan.
Karenanya, Call Center tidak semata-mata hanya menerima telepon
dari pelanggan, menuntaskan pesanan pelanggan, atau menjawab
pertanyaan pelanggan atau calon pelanggan. Tetapi, lebih jauh
dari itu, Call Center lebih pada upaya menghubungkan perusahaan
dengan pelanggan, yang berarti menjadi jembatan terhadap berbagai
informasi yang tersedia, baik di perusahaan maupun yang disampaikan
oleh pelanggan. Keluhan, komplen dan bahkan kritik yang disampaikan
oleh pelanggan, tentunya melalui Call Center, akan merupakan
interaksi yang positif bagi perusahaan dan sekaligus mensolusi
persoalan-persoalan yang mungkin timbul.
Di sisi lain, kehadiran Call Center dalam suatu perusahaan
juga dapat menjadi saluran yang lebih terbuka (unlimited access)
bagi pelanggan atau calon pelanggan. Karena Call Center merupakan
layanan yang dapat diakses 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu
sepajang tahun.
Tetapi, sejalan dengan berkembangnya teknologi komunikasi
dan informasi, khususnya lagi teknologi Internet, Call Center
meningkat menjadi Contact Center dengan pengertian yang jauh
lebih luas dari sekadar berkomunikasi melalui suara (telepon),
melainkan mencakup komunikasi melalui e-mail, Web dan kanal
komunikasi lainnya. Contac Center lebih menunjukkan suatu
komunikasi yang lebih luas, baik dari cara maupun jenis layanan
yang diberikannya, terutama untuk membuat pelanggan semakin
dekat dan loyal kepada perusahaan.
Menyadari pentingnya melayani pelanggan secara lebih baik,
dewasa ini, banyak perusahaan-perusahaan Indonesia yang telah
mulai menerapkan Call Center. Boleh dibilang, kalangan industri
perbankan merupakan salah satu sektor bisnis yang paling antusias
dan agresif dalam menerapkan layanan Call Center. Hanya saja
yang berbeda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya
adalah lebih pada intensitas penerapannya; apakah sekadar
ada karena mengikuti tren atau sungguh-sungguh menerapkannya
karena memang memberikan dampak positif bagi perkembangan
dan kemajuan perusahaan.
Di sejumlah negara, kehadiran Call Center tidak lagi sebatas
kebutuhan, melainkan suatu keharusan, terutama jika perusahaan
ingin mempertahankan daya saingnya. Karena, peranan Call Center
bukan saja penting, tetapi sangat strategis dan lebih luas
dari sekadar komunikasi pelanggan tetapi juga pemasaran dan
penjualan.
Di Bank Seoul, Korea, misalnya, lebih dari 52 persen kontak
pelanggan dilakukan melalui Call Center, sehingga memungkinkan
cabang-cabang lebih berkonsentrasi pada nilai-nilai transaksi
yang penting.
Di Indonesia sendiri, misalnya saja Bank Niaga, peran Call
Center-nya cukup besar dan strategis. “Call center yang
kami sebut dengan Niaga Access sangat penting bagi kami, karena
ia berfungsi sebagai salah satu delivery channel e-Banking
kami. Jadi, bukan saja sebagai media untuk melakukan inquiry
ataupun transaksi, melainkan juga sebagai front liners dalam
menangani permintaan ataupun keluhan-keluhan nasabah,”
ujar Dina Sutadi, Corporate Communication Manager, Bank Niaga.
Call Center Bank Niaga bahkan merupakan salah satu layanan
Call Center terbaik di Indonesia (berdasarkan hasil survai
MRI dan MARS).
Bank Danamon juga merasakan pentingnya kehadiran Call Center
ini. Seperti diungkapkan Bernhard Sumbayak, Vice President
Division Head, Bank Danamon, meski DAC (Danamon Access Center)
diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi nasabah, namun
tak dapat dipungkiri, bank Danamon juga turut menuai keuntungan
dari DAC.
“Terus terang, dengan adanya DAC, bank dapat melayani
nasabah lebih baik. Karena, di samping telah memiliki hampir
800 ATM dan 500 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia,
dengan DAC kami bisa melayani nasabah melalui telepon. Dengan
begitu, loyalitas nasabah terhadap bank dirasakan semakin
meningkat.
Namun, di balik semua keuntungan adanya Call Center atau Contact
Center sebagai kanal pelayanan pelanggan, yang tak kalah pentingnya
adalah pertanyaan: “perlukah kita memiliki sendiri layanan
Call Center atau justru sebaliknya akan menguntungkan jika
dialihdayakan (outsource) ke perusahaan lain yang lebih profesional
dalam menanganinya?”
Faktanya ada pandangan yang berbeda dalam melihat hal ini.
Sebagian merasa sangat penting membangun dan mengelola sendiri
Call Center, karena terkait menjaga tingkat mutu layanan yang
diberikan ke pelanggan atau nasabah.
Sebaliknya, mengapa harus susah-susah membangun dan mengelola
sendiri, padahal itu bukan core competency perusahaan. Dengan
mengalihdayakan, justru terbuka kesempatan yang luas bagi
perusahaan untuk konsentrasi terhadap binis inti perusahaan
dan tak perlu direpotkan dengan mengurusi Call Center.
“Pengelolaan sendiri memang sudah menjadi pilihan untuk
mengoperasikan DAC. Pertimbangan kami, unit layanan ini sangat
strategis. Jadi, kami merasa lebih comfortable jika DAC kami
tangani sendiri. Karena, call center bukan sekedar pusat informasi,
tetapi juga menjadi unit layanan yang lebih terpadu,”
tambah Bernhard.
Begitu juga dengan Bank Mandiri. Dalam mengoperasikan Call
Center-nya, bank Mandiri memilih untuk melakukan pengelolaan
sendiri. “Kami bank yang cukup besar, karena itu kami
memutuskan untuk mengelola sendiri layanan Call Center,”
ujar Kostaman Thayib, Group Head Consumer Banking, Bank Mandiri.
Pilihan dan Karakteristik
Memilih antara meng-outsource atau membangun dan mengelola
sendiri Call Center, memang tidak mudah. Ada banyak pertimbangan
yang perlu dengan sungguh-sungguh diperhatikan agar penerapan
Call Center benar-benar akan memberi dampak positif bagi perkembangan
perusahaan.
Untuk itu, kiranya perlu diperhatikan masing-masing karakteristik
dari masing-masing pilihan yang akan dilakukan, baik In-house,
Outsource maupun menyewa aplikasi melalui ASP (Application
Service Provider). Dengan diketahui lebih rinci karakteristik
(baca: box Karakteristik) dari masing-masing pilihan ini,
maka secara internal maupun eksternal akan diketahui dimana
kekuatan dan kesiapan dukungan, baik sistem, sumber daya manusia,
maupun keuangannya.
Yang lebih penting lagi adalah sampai sejauhmana komitmen
pimpinan puncak terhadap penerapan Call Center tersebut. Komitmen
ini menjadi penting, karena hal itu, nantinya, akan terkait
dengan strategi bisnis, pembiayaan dan dukungan dari seluruh
karyawan terhadap keberadaan Call Center ini.
Outsource atau Memiliki Sendiri?
Pilihan akan melakukan outsource atau memiliki sendiri Call
Center terkadang cukup memusingkan. Karena, masing-masing
pilihan akan memiliki konsekuensinya sendiri-sendiri, baik
keuntungan maupun kerugian. Karenanya perlu kehati-hatian
dan pembahasan yang mendalam agar jangan sampai pilihan yang
dibuat justru tidak mendukung pencapaian keinginan dan harapan
yang telah ditetapkan semula.
| PILIHAN
KARAKTERISTIK |
| In-house |
• Call
center adalah bagian dari core competency. •
Ingin mengendalikan sumberdaya dan aplikasi untuk mendukung
kebutuhan customer. • Memiliki infrastruktur
besar yang bisa dimanfaatkan dan bersedia menambah apa
yang dibutuhkan. • Memiliki SDM yang dibutuhkan
– CSR, teknisi, HR, pelatihan, dsb. •
Memperoleh pengalaman manajemen dan administrasi di lingkungan
yang sangat dinamis. • Lebih memilih investasi
modal dibanding biaya operasional jangka panjang.
• Tidak memiliki jadwal ketat untuk implementasi
dan peluncuran • Jam pengoperasian Call Center
yang sekarang sesuai dengan kebutuhan eSupport (atau dapat
diperpanjang untuk memenuhi kebutuhan). • Volume
dan beban puncaknya bisa dikelola oleh sumberdaya yang
tersedia di dalam perusahaan. |
| Outsource |
• Call center bukanlah
core competency atau fokus. • Lebih fokus ke
bidang lain sambil memanfaatkan mitra yang lebih kompeten
untuk dukungan pelanggan. • Perlu bergerak cepat.
• Persyaratan berubah cepat. • Pertumbuhan,
puncak atau variasi dalam hal volume diperkirakan besar.
• Menginginkan solusi eSupport sementara sampai
kapabilitas in-house bisa dibangun. • Lebih
menyukai model operating cost daripada capital cost.
• Tidak memiliki SDM yang cukup untuk melayani kontak
pelanggan dalam volume besar atau untuk menerapkan kapabilitas
baru. • Memerlukan dukungan 24x7 untuk web,
namun sekarang ini belum meyediakan (atau menginginkan)
dukungan 24x7 dalam Call Center. |
| ASP |
• Memiliki orang untuk
layanan kontak pelanggan, namun tidak mampu atau tertarik
dalam mengelola atau membeli teknologi baru. •
Perlu berpindah cepat. • Perlu memperkenalkan
media dan aplikasi baru, dan menginginkan perangkat canggih
untuk dukungan customer. • Staf teknologi memiliki
keterbatasan waktu untuk proyek-proyek tambahan. •
Lebih menyukai model operating cost daripada capital cost.
• Percaya bahwa teknologi akan terus berevolusi
dengan cepat dan ingin memanfaatkan kapabilitas baru dengan
cepat begitu teknologi ini tersedia. |
Sumber:Lori Blocklund, Call Center Practice Manager, Vanguard
Communications |
Jika yang dipilih adalah outsource, maka Anda dapat lebih
berkonsentrasi terhadap bisnis inti, sehingga akan meningkatkan
produktivitas. Karena Anda tak perlu merekrut, melatih dan
memelihara karyawan untuk menangani Call Center; mengurangi
terjadinya ketidakefisienan akibat potensi terjadinya downtime
atau konflik penjadualan; dan karena layanan yang diberikan
lebih bernilai ekonomis, maka Anda dapat mengurangi biaya
yang semestinya dikeluarkan.
Kehadiran perusahaan outsourcer dianggap sebagai perpanjangan
bisnis Anda, karena mereka berbagi risiko dan penghargaan
dengan Anda. Yang menarik, karena mereka memiliki kemampuan
dan keahlian dalam bidangnya, sehingga mampu memberikan pelayanan
yang lebih baik dan sekaligus akses terhadap teknologi yang
lebih maju dan perangkat yang canggih.
Umumnya para outsourcer menyediakan sistem pemantauan jarak
jauh, sehingga Anda dapat mengontrol apakah mereka memberikan
pelayanan sebagaimana yang diharapkan. Mereka juga menyediakan
laporan panggilan harian. Dengan outsourcing memungkinkan
Anda meningkatkan jam operasi (business hours) karena layanan
yang diberikan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu sepanjang
tahun.
Namun, outsourcing juga punya kelemahan. Anda harus menyediakan
waktu untuk mengevaluasi dan menangani program outsource,
sehingga diperlukan orang yang memiliki kemampuan untuk menanganinya.
Outsourcer Anda juga membutuhkan masukan yang positif dan
korektif segera agar kesalahan, misalnya, dapat diperbaiki
secepatnya.
Dengan outsourcing, karena adanya perbedaan budaya, mungkin
saja sulit menyelaraskan tujuan perusahaan Anda dengan metodologi
Call Center. Juga tidak mudah mengontrol kualitas Call Center,
karena boleh jadi jaraknya sangat berjauhan. Kerahasiaan dan
keterbukaan informasi tidak terjamin. Informasi yang dibagi
yang memang secara alami itu penting.
Agar kerahasiaan informasi optimal, maka perusahaan Anda perlu
menyesuaikan database informasi untuk kebutuhan Call Center,
dan hal ini membutuhkan waktu untuk menyiapkannya. Selain
itu, loyalitas agen tidak kepada perusahaan Anda, melainkan
ke perusahaan Call Center.
Sebaliknya, jika Anda memilih memiliki dan mengelola sendiri
Call Center, apa pula keuntungannya. Kualitas layanan Call
Center atau Customer Relationship management (CRM) dapat dengan
mudah dipantau dan dikendalikan. Kerahasiaan dan tranparansi
informasi dapat lebih terjamin perusahaan dapat merancang
dan membuka informasinya untuk Call Center sedemikian rupa
sehingga semakin mudah menegakkan information governance.
Karena tidak ada data atau informasi dibagi ke pihak lain,
risiko potensi kehilangan terhindari. Divisi Call Center dapat
menggunakan database yang sama yang digunakan oleh perusahaan
guna memastikan kualitas dan integriras layanan. Semakin lengkap
database akan semakin mudah perusahaan menangani permasalahan
yang dihadapi. Pembaruan dan pemeliharaan informasi terbaru
mengenai pelanggan dapat dilakukan dengan biaya yang lebih
murah. Karena kalau database perusahaan terbarui begitu juga
database untuk Call Center.
Kerugiannya, untuk membangun dan menjalan Call Center yang
memiliki fungsionalitas lengkap membutuhkan investasi yang
mahal. Misalnya saja harus membeli software dan hardware tersendiri.
Begitu juga merekrut, memelihara dan medidik sendiri karyawan
yang dibutuhkan, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama
sebelum Call Center tersebut dapat dijalankan.
Kalau kebutuhannya memuncak, maka perusahaan harus mencari
pekerja sementara untuk menanganinya, sedang kalau tidak,
pekerja yang ada justru menjadi sumber ketidakefisienan perusahaan.
Begitu juga tak mudah mendapat karyawan yang top level, karena
boleh jadi sudah dipekerjakan di perusahaan Call Center.
Karenanya, pertimbangkan dengan baik-baik sebelum menyediakan
layanan Call Center, karena pilihan manapun yang diambil akan
memberikan konsekuensi tersendiri dan hal itu akan sangat
terkait dengan berbagai aspek, baik di dalam maupun di luar
perusahaan. •TI/Aa |