Asia
Pasifik merupakan kawasan yang dinamis. Bahkan, sebagai sebuah
blok perdagangan, kawasan ini cukup diperhitungkan. Cuma,
secara ekonomis ada perbedaan yang mencolok di antara anggota-anggotanya.
Perbedaan inilah yang antara lain mempengaruhi perkembangan
adopsi sebuah negara terhadap call center. Menurut Director
Portfolio Management Enterprise Voice over IP Asia Pasific,
Chris Luxford, perkembangan call center di sebuah negara tidak
bisa dilepaskan dari kematangan pasarnya. Pada pasar yang
sudah matang, call center-nya akan berbeda pada pasar yang
muda.
Menurut Luxford, kematangan atau kedewasaan pasar (mature
market) menjadi salah satu syarat penting adopsi solusi yang
berhubungan dengan pelanggan ini. Berdasarkan kematangan pasar
tersebut, Luxford membagi perkembangan call center negara-negara
di Asia Pasific menjadi tiga. Pertama, adalah pasar yang baru
muncul (emerging market). Kedua, pasar yang masih muda (early
adopting market). Dan ketiga, pasar yang sudah dewasa atau
matang (mature market).
Negara-negara yang kondisi ekonominya bagus, seperti Jepang,
Hong Kong, Singapura dan Australia pasarnya tegolong sudah
dewasa. Sementara India dan Filipina merupakan saudara kembar
yang tergolong emerging market. Sedangkan Korea, Malaysia,
Taiwan, Cina, India, Thailand dan Indonesia termasuk kategori
yang lain. Di antara negara-negara kategori terakhir, Cina
patut mendapatkan perhatian. Sejak negeri Tirai Bambu itu
menjadi anggota WTO (world trade organization/organisasi perdagangan
dunia) awal tahun 2002, di sana terjadi perubahan besar dalam
bisnis.
Pemerintah Cina memotong pajak dan cukai, yang memudahkan
untuk mendapatkan peralatan dan sumber daya, baik domestik
maupun dari luar Cina. Kemudahan-kemudahan ini akan membuat
pasar menjadi booming. Banyak sekali lembaga yang memanfaatkan
fasilitas ini dan fasilitas lainnya untuk masuk ke Cina. Ini
merupakan modal dasar sebelum Cina mulai melakukan ekspansi
pelayanan jasanya. Sementara di Malaysia, Thailand dan pada
taraf tertentu di Indonesia, contact center-nya masih tradisional
dan biasa-biasa saja. Korea masuk kategori ini, tapi di sana
banyak sekali industri contact center. Yang jelas, negara-negara
tadi target pasarnya sedang tumbuh. Sementara New Zealand
tergolong agak lebih baik lagi.
Di India dan Filipina kini pasarnya baru mulai tumbuh. Di
kedua pasar negara itu ada dua tipe contact center. Di India
adalah produksi lokal, sedangkan di Filipina merupakan internasional
outsourcers. Sekarang, contact center lokal sedang memimpin
di India, sementara di Filipina mereka tengah membangun toko-toko.
Yang perlu dipahami, contact center yang sedang mereka bangun
tidaklah sama dengan yang dibangun di Amerika Utara atau di
pasar-pasar yang sudah dewasa di Asia Pasifik.
Yang paling penting adalah bagaimana mereka memiliki infrastruktur,
seperti koneksi internasional. Ini penting bagi contact center
karena buruknya infrastruktur internasional akan menyebabkan
delay. Infrastruktur yang baik tak hanya menjamin panggilan
ke contact center, tapi di waktu yang sama, juga kiriman sampai
pada waktu yang tepat. Menurut Luxford, tingkat pendidikan
di India dan Filipina tergolong bagus dibandingkan negara-negera
lain. Di beberapa tempat, orang-orang India punya gelar bermacam-macam.
Mereka amat teredukasi, fasih berbahasa Inggris dan sumberdayanya
amat powerful untuk mencapai itu.
Tren sekarang, mereka sedang menjadi outsourcer internasional
untuk membangun contact center yang amat besar - 5000, 2000
dan 1000 seats - yang biasanya bertempat di pusat-pusat kapital,
seperti di Delhi, Bangalore (India) atau Manila (Filipina).
Infrastruktur di wilayah-wilayah itu cukup memadai untuk meng-handle-nya.
Cuma, tantangannya, bagaimana para outsourcer ini mempertahankan
dan memelihara hubungan mereka dengan langganannya di Amerika
Utara dan Eropa. Tantangan klasik lainnya adalah bagaimana
mereka men-deliver tingkat layanan dan memecahkan hambatan
lama penerbangan.
Yang pasti, salah satu trend besar di India sekarang adalah
bagaimana mereka memulai, terutama sekali sejak April lalu,
menderegulasi pasar telekomunikasinya. Sekarang, India mampu
menjalankan VoIP (Voice over Internet Protocol) di jaringan
PSTN (public switched telecommunication network) untuk publik.
Ini signifikan sekali dalam mengurangi biaya panggilan. Nilai
tambah lain yang diberikan India, mereka juga menyediakan
keamanan dan menjamin panggilan melalui contact center yang
tepat.
Di Filipina agak sedikit berbeda. Jika dibandingkan dengan
India, infrastruktur di Filipina agak sedikit maju. Berbeda
dengan India, isu terbesar di Filipina saat ini adalah di
mana mereka membangun contact center-nya. Jika Filipina ingin
berkompetisi di pasar outsource global, mereka harus memastikan
bahwa ongkosnya lebih murah dari India.
Meski kini sedang tumbuh, sebenarnya pasar contact center
di India dan Filipina masih amat kecil. Jika dibandingkan
dengan pasar Asia Pasifik, dari Jepang hingga New Zealand,
rata-rata contact center-nya mencapai 35 buah. Jelas pasar
di India dan Filipina bukanlah pasar yang besar, kira-kira
hanya 20 persen dari contact center di Asia yang mencapai
250 buah. Dibandingkan dengan pasar-pasar top ini amat kecil.
Yang jelas, India dan Filipina merupakan dua pasar yang tengah
tumbuh. Faktor sosial-ekonomi India memang menentukan. Di
negeri itu, tingkat ekonomi warganya amat beragam. Tapi rata-rata
berada di tingkat bawah dan mereka juga agak kurang sehat.
Tingkat inilah yang jumlahnya signifikan, sekitar 300 juta
jiwa. Meskipun demikian, dinamisnya pasar AS turut berperan
besar di India, dibandingkan dengan pasar-pasar lain di Asia
Pasifik.
Kini di Filipina tengah tumbuh industri utama call center
di sektor telekomunikasi dan penerbangan. Dari kedua pasar
vertikal sektor inilah industri call center digerakkan. Di
industri telekomunikasi mereka mulai menawarkan outsource
call center. Bahkan, salah satu pelaku telekomunikasi di sana
tengah membangun 500 buah call center buat jasa pasarnya.
Mereka melihat inilah cara memperluas dan men-deliver layanan.
Trend yang terjadi, mereka tak hanya membangun pasar call
center-nya, tetapi juga mengenali peluang-peluang yang ada.
Sementara di pasar-pasar yang sudah dewasa seperti di AS dan
Kanada, saat ini isu yang berkembang adalah bagaimana teknologi
bisa mendorong efisiensi dan efektivitas, mencari keuntungan
yang lebih besar dengan melayani customer dan mencoba pengelolaan
yang lebih baik dalam berhubungan dengan customer. “Mungkin
banyak yang tidak setuju, tapi saya yakin mereka berjuang
bagaimana tetap bisa memegang penuh dan meraih keuntungan
yang dimungkinkan oleh teknologi,” kata Chris Luxford.
Hong Kong juga sama. Kini, yang menarik adalah Hong Kong dibawah
kontrol Cina. Mereka mulai mendorong Hong Kong menjadi multi-bahasa.
Salah satu trend unik saat ini adalah mereka memerlukan segala
sesuatu yang bisa dioperasikan dalam bahasan Inggris dan bahasa
Cina. Kebanyakan vendor-vendor teknologi di sana tidak bisa
memenuhinya. Rata-rata mereka menyediakan teknologi berbahasa
Inggris atau berbahasa Cina, tapi tidak keduanya. Sedangkan
Jepang tetap dominan dalam bahasa Jepang, tapi masalah ini
bukanlah isu utama dalam perspektif teknologi mereka.
Australia dan Hong Kong, keduanya merupakan pasar yang canggih.
Mereka tengah memasuki semacam contact center multimedia.
Software kualitas manajemen, monitoring kualitas dan manajemen
workforce, di Australia dan di Hong Kong semuanya ada di call
center.
Contoh
lain yang sudah terintegrasi penuh ada di Jepang. Perusahaannya
ada di Australia, tapi contact center-nya ada di Hong Kong
dan Australia. Contact center mereka terintegrasi penuh dengan
sistem back-end legacy tak ubahnya sistem CRM (customer relationship
management), IVR (interactive voice response), contact center
ACD, sistem workforce management dan sistem pemantauan kualitas.
Semuanya bisa dilakukan dengan amat unik sebagaimana mereka
meng-handle e-mail sebagai salah satu cara menghubungi pelanggan.
Saat ini, teknologi VoIP mereka gunakan untuk menjadi salah
satu organisasi terdepan. Untuk perayaan Natal, mereka memerlukan
penambahan contact center hingga 168 buah. Mereka mengadaptasikannya
pada teknologi baru dan mewujudkan keuntungan yang bisa mereka
dapat dari teknologi itu. Perusahaan semacam inilah yang riil
bakal leading dalam aplikasi baru dan inovatif.
Adalah menarik membandingkan pasar Asia dengan pasar Amerika
Utara pada tahun 1995/1996. Pada waktu itu, di Amerika Utara
95 persen dalam bentuk call, sisanya memanfaatkan e-mail.
Sementara tingkat teledensitas (jumlah telepon per 100 orang)
di Asia amat bervariasi, dari yang rendah hanya 11 hingga
90 di negara-negara maju. Di Cina misalnya, akses telepon
hanya 11 dari 100 orang. Jelas ini memerlukan keajaiban untuk
menjadikan contact center sebagai bagian dari budaya telepon.
Jadi, contact center di pasar-pasar Asia masih dominan dalam
bentuk panggilan, dan sebagian kecil via e-mail. Sedikit pelanggan
menyukai hubungan dengan e-mail, cuma mereka mulai menghendaki
cara interaksi baru dalam bisnis. Hasilnya, banyak bisnis
di negara-negara itu menggunakan akses yang terbatas pada
sumber-sumber finansial untuk pembangunan. Mereka menilai
teknologi semacam VoIP merupakan cara untuk mengurangi biaya,
dan software CRM sebagai cara memperbaiki hubungan dengan
pelanggan. Tetapi, pengambilan keputusan terhadap adopsi ini
lebih banyak didorong oleh masalah biaya daripada memperbaiki
kepuasaan dan hubungan pelanggan. “Ini adalah hasil
dari iklim ekonomi saat ini,” kata Luxford.
Pada pasar yang dewasa, di Jepang, Australia dan - dalam derajat
tertentu - di New Zealand dan Singapura, contact center merupakan
teknologi yang amat cerdas. Di Australia, masyarakat tidak
memiliki problem penggunaan IVR. Mereka lebih suka memanfaatkan
IVR dari pada berbicara ketika berhubungan dengan agen.
Akan tetapi, di kawasan Asia ada sejumlah tipe teknologi lain
yang berperan signifikan, yaitu SMS (short message service).
“Saya tidak yakin benar ada vendor yang bisa meng-handle
teknologi ini,” Luxford pesimistis. Maraknya pemakaian
SMS bisa dilihat di Filipina, misalnya. Jika Anda berada dalam
sebuah ruang pertemuan, pasti Anda terganggu oleh bunyi SMS.
Mereka memanfaatkan SMS sehingga kecepatannya menakjubkan.
Jumlahnya amat besar di Filipina, juga di pasar lain, karena
jauh lebih murah mengirim dan berbicara lewat SMS dari pada
menggunakan panggilan telepon. Di Asia, panggilan telepon
mobile masih mahal. Karena ini, SMS menjadi cara baru dalam
berinteraksi. Anda bisa mengirim SMS ke contact center, lalu
mereka akan menghubungi Anda kembali. Mereka amat tertarik
pada SMS yang dianggap sebagai medium komunikasi baru.
Yang menarik adalah adanya perubahan dari teknologi lama ke
teknologi baru. Dari sisi tantangan organisasi, pada pasar
yang sudah dewasa adalah bagaimana menggeser contact center
menjadi bagian dari strategi bisnis. Perusahaan-perusahaan
sekarang mulai melihat contact center sebagai profit center,
yakni bagaimana meng-improve bottom line dan memberikan kepuasan
pelanggan.
Pendek kata, di Asia industri contact center memang booming.
“Setiap saya mengunjungi perusahaan di Asia, mereka
ingin membicarakan tentang call center,” kata Luxford.
Pada emerging market, contact center merupakan mesin pendorong
pertumbuhan, baik ekonomi maupun kemampuan menyediakan peluang
kerja. Pada pasar yang sudah dewasa, isu yang dihadapi lebih
kurang sama dengan di AS, yakni bagaimana perubahan ini memberikan
kekuatan penuh dan keuntungan bisnis yang berbeda. Jadi, pendekatan
bisnis.
Keragaman dari Asia Pasifik berarti inovasi. Kondisi ini memaksa
untuk berpikir kreatif tentang bagaimana menangani pelanggan
dan mendapatkan nilai lebih besar dari kemampuan yang Anda
miliki. Di banyak negara, lebih murah memperkerjakan 100 orang
untuk menangani call center dari pada membeli teknologinya.
Secara keseluruhan, daerah Asia Pasifik adalah pasar yang
unik, tergantung negaranya.
Pada pasar dewasa, Anda bisa berbicara tentang perubahan investasi,
perubahan hubungan dan mengelola hubungan pelanggan. Ketika
Anda pergi ke pasar yang kurang dewasa, Anda dapat berbicara
tentang call center 101, dan, bagaimana meng-handle panggilan
secara efektif. Ini merupakan tantangan sekaligus kesempatan
yang besar.•ki
|