Pengengelolaan
bisnis, sejauh ini, masih lebih memusatkan perhatiannya pada
pertumbuhan pendapatan, efisiensi biaya, dan perbaikan produktivitas.
Karenanya, jika kita berbicara mengenai teknologi informasi
(TI), maka fokus perhatiannya lebih pada peningkatan produktivitas,
yaitu meningkatkan efisiensi output (produksi) dan menurunkan
biaya produksi.
Berbagai inovasi produktivitas memang bisa mendongkrak output
perusahaan pada saat permintaan sedang lesu. Sebaliknya, saat
permintaan tinggi, peningkatan produktivitas saja tidak lagi
memadai. Perusahaan akan membutuhkan tambahan kapasitas alat
produksi, kanal baru, dan pegawai tambahan untuk menghasilkan
pertumbuhan. Yang pasti, keunggulan kompetitif dibangun dengan
menekan biaya serendah mungkin (cost leadership) dan menjual
dengan nilai tambah sebanyak mungkin dibanding pesaing (product
differentiation).
Sejauh ini, perusahaan global mampu menunjukkan keunggulannya
pada cost leadership dengan membangun jalur pasokan yang paling
efisien dan menghasilkan produk yang unggul dan kompetitif.
Produktivitas bisa dihasilkan dengan mempercepat aktivitas
kunci melalui simplifikasi proses, mengeliminasi aktivitas
yang tidak perlu, menghemat waktu perjalanan fisik, dan menekan
waktu pelayanan. Aktivitas produktif tersebut dilakukan dengan
penggunaan material sehemat mungkin dan biaya yang lebih rendah.
Dalam penerapan TI untuk meningkatkan produktivitas dan cost
leadership, ada beberapa prinsip yang perlu kita pedomani,
yaitu:
a. Inovasi teknologi dan bisnis berjalan seiring.
Konsep bisnis yang kokoh harus menjadi kemudi kereta bisnis,
sementara teknologi menjadi rodanya untuk mempercepat lajunya
kereta bisnis. Dengan demikian TI bukan sekedar alat pendukung,
tetapi sudah menjadi senjata strategis untuk kelangsungan
bisnis.
b. Fokus penerapan TI pada aspek reduksi interaksi
manusia dan administratif.
Pengurangan biaya interaksi dan administratif khususnya yang
menghabiskan waktu karyawan 40-60%, harus menjadi prioritas
investasi. Dengan demikian kinerja bisnis akan bisa dijaga
bermutu tinggi, dan terukur, meminimalkan kesalahan manusia,
duplikasi data, keterlambatan, dan biaya.
c. Pengembangan ditujukan pada aplikasi pemicu produktivitas
secara spesifik.
Banyak perusahaan menghabiskan biaya besar di teknologi tetapi
tidak mendapat keuntungan yang diharapkan, karena pengembangan
berdasarkan sasaran yang tidak terukur. Peningkatan produktivitas
intinya adalah meningkatkan profit yang dapat dilakukan dari
beberapa pendekatan, yaitu memaksimalkan output terhadap input-nya.
d. Aplikasi dikembangkan dengan urutan yang logis
sejalan dengan kesiapan budaya dan kapabilitas perusahaan.
Tidak ada implementasi yang melompat. Penerapan cara
baru dengan aplikasi TI, 90% persoalan adalah masalah manajemen
perubahan budaya. Sedangkan, teknologi hanya 10% dari isu
perubahan. Aplikasi TI harus diterapkan dalam fase-fase transformasi
dengan urutan logis, dimulai dari prioritas ‘bad news’
yang memberi dampak terbesar bagi perusahaan. Kemudian, secara
bertahap diperluas dan diperkaya manfaatnya dengan tetap menekankan
pada simplifikasi, efisiensi, standarisasi, dan penyempurnaan
model bisnis.
e. Proses-proses bisnis terus diperkuat dengan memaksimalkan
infrastruktur yang telah tergelar.
Kita perlu terus menyempurnakan sistem dan proses bisnis agar
mampu memanfatkan maksimal kapabilitas infrastruktur TI yang
telah tergelar. Jebakannya adalah pada konsistensi. Kita sering
terpukau pada tawaran baru teknologi, tetapi lupa memaksimalkan
yang sudah kita miliki.
e-Auction pemicu cost leadership
Dengan berpedoman pada lima prinsip di atas, kita dapat memulai
efisiensi biaya sebagai pemicu awal dari produktivitas. Bagi
perusahaan skala besar (enterprise), mengelola biaya belanja
untuk operasi perusahaan merupakan salah satu fokus efiesiensi
yang paling konkrit. Secara teoritis, penghematan biaya produksi
5 % akan meningkatkan keuntungan lebih dari 5%. Belanja perusahaan
yang dapat dihemat adalah belanja operasi dan modal. Belanja
operasi misalnya biaya perjalanan, barang peralatan kantor,
jasa-jasa, TI, material, suku cadang dan lain sebagainya.
Belanja modal antara lain pengadaan alat produksi dan bahan
baku produksi.
Penerapan TI pada sistem pengadaan atau e-procurement memiliki
pendekatan komprehensif dalam mengelola belanja perusahaan.
Secara tipikal, sistem e-procurement terdiri dari kapabilitas
registrasi dan pengelolaan pemasok, kebutuhan dan katalog
material, pengelolaan proses tender termasuk di dalamnya lelang
on-line (e-auction), manejemen kontrak dengan pemasok, pengelolaan
pesanan ke/dari pemasok, dan terakhir pembayaran kepada pemasok.
Manfaat penerapan sistem ini sangat besar dalam meningkatkan
kualitas perencanaan belanja, pengelolaan arus kas, penurunan
biaya, dan yang paling sulit adalah transparansi sebagai implementasi
semangat good corporate governance (GCG) ditengah nuansa KKN.
Penerapan e-procurement memerlukan waktu dan proses bertahap,
karena perubahan kebiasaan kerja yang fundamental serta kesiapan
integrasi kepada sistem ERP (Enterprise Resource Planning)-nya.
Oleh karena itu, urutan logis dari penerapan e-procurement,
dimulai dari aktivitas yang dampak efisiensinya paling besar,
namun mudah pelaksanaannya, yaitu pada aktivitas tender, melalui
penerapan lelang on-line atau e-auction. Penerapannya tidak
memerlukan perubahan proses bisnis, kecuali sedikit aspek
kebijakan perusahaan.
Manfaat e-auction sebagai pemicu produktivitas adalah mereduksi
interaksi manusia dan waktu pada proses negosiasi harga, transparansi
bagi semua peserta, serta harga yang paling efisien. Mekanisme
lelang on-line bagi pembeli (buyer) mengadop pola reverse
auction, yaitu mencari harga terendah. Untuk pengadaan barang
atau jasa yang bersifat paket atau solusi, kriteria pemenang
e-auction dapat memadukan antara harga dengan kriteria evaluasi
lain, seperti nilai pemenuhan aspek teknis.•
Indra M. Utoyo
• General Manager eBusiness, Divisi
Multimedia PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
|